29th June 2007

Suci (Plaza)

Oleh Darma Putra

Pertokoan Suci Plaza yang terletak di sudut perempatan Jl Diponegoro-Hasanudin-Sumatra dulunya adalah pasar senggol, pompa bensin, dan terminal. Anehnya, selang satu setengah dekade, ciri senggol itu kembali muncul walau dalam ukuran kecil.

Sebelum berubah wajah menjadi jejeran toko emas dan parkir bawah tanah sejak akhir 1980-an, tempat ini sejak lama menjadi pusat kehidupan malam kota Denpasar. Di Suci-lah istilah nasi jinggo muncul. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Jalan-Jalan, Kuliner, Denpasar Before & After, Budaya | Kontributor : Darma Putra | 1 Komentar | 327 Views

28th June 2007

Es Campur Bikin Kesandung

Oleh Luh De Suriyani

Es campur sederhana yang elegan. Daluman dari sari daun daluman, kelapa parut kasar, dan santan gula kental. Gurih dan bercita rasa tegas.

Kebanyakan es campur tak memiliki rasa yang dominan. Biasanya karena bahan-bahan yang dicampur terlalu banyak jadi terasa setengah-setengah. Nah, dimana kita cari es campur yang tidak setengah-setengah rasa itu?

Salah satu tujuan wisata kuliner yang tidak boleh dilewatkan adalah Pasar Badung. Lokasinya di sekitar Jalan Gajah Mada Denpasar. Pasar berlantai empat ini paling sibuk di Bali. Buka 24 jam, jadi bisa berwisata 24 jam pula. Tapi, untuk es campur yang kita ulas ini, kita mesti datang ke pasar pada pukul sembilan pagi hingga empat sore.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Kuliner | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 1 Komentar | 303 Views

26th June 2007

Ketika Pecandu Menutut Perlindungan HAM

Oleh Anton Muhajir

Tanggal 14 Desember 2006 menjadi hari bersejarah bagi gerakan pecandu di Bali. Sebab itulah saat pertama pecandu narkoba berani menunjukkan diri sebagai pecandu dengan melakukan demonstrasi ke Pengadilan Negeri Denpasar dan Kejaksaan Negeri Denpasar. Demonstrasi itu memang bukan hanya pecandu aktif, tapi ada juga yang sudah pulih dari ketergantungannya pada narkoba. Namun tetap saja sebagian besar masih aktif memakai narkoba.

Aksi dalam rangka peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia itu merupakan aksi pertama yang digelar Ikatan Korban Napza (IKON) Bali. Dalam tuntutannya mereka minta agar jaksa dan hakim mau menerapkan vonis rehabilitasi pada pecandu narkoba.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Kabar Anyar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 1 Komentar | 281 Views

26th June 2007

Rehabilitasi sebagai Solusi Penyalahgunaan Narkoba

Oleh Anton Muhajir

Dengan tubuh kurus, dada terbuka, dan leher berkalung tulisan HIV, Alex keluar dari tali rafia yang diibaratkan sebagai penjara. Dia bertemu Mega, istrinya, di luar. Namun ketika tahu bahwa Alex sudah tertular HIV, Mega menceraikan mantan pengguna narkoba itu. Tidak siap menghadapi kondisi tersebut, Alex kembali menggunakan narkoba lalu masuk penjara lagi. Tapi bukannya berhenti, Alex malah makin bebas menggunakan narkoba di penjara. Sebab peredaran narkoba di penjara justru lebih banyak dibanding di luar.

“Penjara sebagai pemberi efek jera telah gagal. Karena itu sudah seharusnya pemerintah memikirkan ulang vonis penjara sebagai hukuman bagi pecandu narkoba. Pecandu seharusnya masuk rehabilitasi, bukan penjara,” teriak Wahyu, sang narator, melalui pengeras suara.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Kabar Anyar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 984 Views

26th June 2007

Merayakan Galungan dengan Jotan

Oleh Anton Muhajir

Saya baru selesai sholat maghrib ketika pintu gerbang rumah seperti digeser orang. Kamar tempat saya sholat sekitar 10 meter dari pintu dari besi itu. Jadi saya bisa mendengar jelas ketika ada orang masuk rumah.

Saya keluar kamar. Dadong Devita mengetuk pintu. Dadong adalah sebutan untuk nenek di Bali. Devita mengacu pada nama cucunya.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 244 Views

25th June 2007

Di Mana Branding Bali Berada?

Oleh Arief Budiman 

Ketika membayangkan Bali memiliki sebuah branding, saya langsung membayangkan yang harus dilakukan Bali dalam brandingnya menggunakan benchmark “country branding”, bukan city branding atau island branding. Visi branding Bali harus sama dengan cara sebuah negara melakukan destination branding seperti Malaysia, Singapura, India dan negara lain. Alasan mendasar bagi saya memikirkan hal tersebut adalah peluang Bali yang sangat memungkinkan melakukan itu. Reputasi Bali, potensi yang dimiliki, positioning Bali di masa datang, juga sekaligus menjadi semacam inisiatif atas belum terselenggaranya branding Indonesia yang komprehensif. Namun untuk menentukan itu pun sebuah proses studi dan riset harus dilalui dulu.

Pengertian destination branding atau place branding seyogianya dipahami juga oleh kita secara utuh karena ia adalah sebuah strategi yang akan menghabiskan biaya dan waktu. Jika kurang tepat dan cermat mengeksekusinya maka kita akan kehilangan biaya dan waktu dengan sia-sia. Pijakan branding sebuah tempat atau destination branding juga dilakukan tidak hanya untuk atau melalui pariwisata saja. Dalam strategi destination branding di banyak tempat setidaknya ada enam elemen penting pembentuk destination branding atau prasyarat terciptanya destinasi yang baik. Pariwisata adalah salah satu komponennya selain people, governance, export, investment/immigration, culture and heritage.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 262 Views

23rd June 2007

Memilih Tempat Makan Enak di Denpasar

Oleh Luh De Suriyani

Sebagai kota urban, Denpasar itu jadi tempat aneka rupa makanan dijualbelikan. Ada makanan yang bener-bener khas Denpasar, tapi lebih banyak lagi yang khas daerah lain. Ada misalnya nasi padang –ini sih pasti di tiap jalan-, soto karangasem, bakso solo, sari laut lamongan, babi guling gianyar, dan seterusnya. Karena itu tidak usah risau kalau urusan makan di Denpasar. Tinggal sesuaikan dengan selera, kantong, dan tingkat keimanan Anda. Soal selera dan kantong sih jelas, tapi kalau bingung soal terakhir itu, tunggu nanti di bagian belakang.

Pertama soal selera. Ini sih pasti. Kalau seleranya tidak jelas alias suka makan campur-campur, biasanya sih tempat makannya di warung nasi pecel madiun atau warung jawa. Banyak pilihan menu yang diperlihatkan di rak kaca tembus pandang. Ada kare ayam, pecel, ikan laut, sup, sayur bening, dan seterusnya. Anda tinggal menyesuaikan dengan selera. Mencari makanan campur seperti ini tidak susah. Di tiap jalan sekunder Denpasar hampir selalu ada. Paling gampang ya cari di sekitar pasar. Pasti ada. Kalau tidak ada juga ya ganti saja dengan makanan lain yang ada di situ. :)) Warung seperti ini biasanya buka dari pagi sampai petang. Jarang yang buka malam.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Jalan-Jalan, Kuliner | Kontributor : Luh De Suriyani | 0 Komentar | 631 Views

21st June 2007

Awas Tertipu Warung Lembongan

Oleh Anton Muhajir

Ketika keluar dari kantor di daerah Yangbatu, Denpasar, saya sebenarnya berpikir untuk makan soto ayam di Jl Teuku Umar. Lama tidak makan di sana. Mendung dan sesekali gerimis sejak pagi membuat saya ingin menikmati makan siang dengan kuah hangat. Hmm, sepertinya pas untuk mengusir dingin.

Tapi begitu keluar dari Jl Letda Kajeng masuk Jl Cok Agung Tresna, saya mulai merasa terlalu jauh makan di Jl Teuku Umar. Otak saya bergerak. “Makan apa ya yang kira-kira berkuah hangat, ada di daerah Renon, dan bisa dinikmati dengan cepat?” Baca selengkapnya »

Kategori berita : Kuliner | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 252 Views

18th June 2007

Kumbasari

Oleh Darma Putra

Pasar Kumbasari di sisi barat Tukad Badung pernah menjadi ikon modern kota Denpasar walau dalam masa yang relatif pendek, antara akhir 1970-an hingga awal 1980-an. Antara tahun itu, Pasar Kumbasari lebih populer dengan sebutan Pertokoan Kumbasari. Arti ‘pasar’ dan ‘toko’ jelaslah bedanya!

Pertokoan atau Pasar Kumbasari yang dilalap si jago merah awal Mei 2007 ini dulunya disebut dengan Peken Payuk (Pasar Periuk). Pasar Payuk ini di bawah kekuasaan Kabupaten Badung, sebelum daerah ini dipecah menjadi Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Jalan-Jalan, Denpasar Before & After, Budaya | Kontributor : Darma Putra | 0 Komentar | 370 Views

17th June 2007

Buku Soal Pariwisata Bali dan Terorisme

Sumber: http://www.balipost.com/BaliPostcetak/2007/6/17/bud2.html

Setelah 15 Tahun, Terbit di London

SEBUAH buku tentang pariwisata Bali baru saja terbit di London. Buku berjudul “Tourism, Development and Terrorism in Bali” ditulis bersama oleh Prof Michael Hitchcock dari London Metropolitan University dan Dr. I Nyoman Darma Putra dari Fakultas Sastra Unud. Penerbit Ashgate mengklasifikasikan buku ini dalam seri terbitannya “voices in development management”.

————- 

Fokus buku ini adalah pengalaman Bali dalam mengelola krisis kepariwisataan (tourism crisis management) dalam 10 tahun terakhir. Dalam kajiannya, kedua penulis menggarisbawahi ketahanan budaya masyarakat Bali dalam menghadapi berbagai tekanan arus globalisasi yang masuk lewat sektor pariwisata dan terorisme global.

Uraian dimulai dengan dampak dari krisis moneter Asia, krisis sosial politik yang menimbulkan berbagai kerusuhan sosial, sampai dengan krisis akibat serangan terorisme 2002 dan 2005 di Kuta dan Jimbaran. “Kami juga membahas wacana perdebatan penolakan nominasi Pura Besakih sebagai warisan budaya dunia,” ujar Darma kepada Bali Post baru-baru ini.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Buku | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 3 Komentar | 441 Views

eXTReMe Tracker