29th June 2007

Suci (Plaza)

Oleh Darma Putra

Pertokoan Suci Plaza yang terletak di sudut perempatan Jl Diponegoro-Hasanudin-Sumatra dulunya adalah pasar senggol, pompa bensin, dan terminal. Anehnya, selang satu setengah dekade, ciri senggol itu kembali muncul walau dalam ukuran kecil.

Sebelum berubah wajah menjadi jejeran toko emas dan parkir bawah tanah sejak akhir 1980-an, tempat ini sejak lama menjadi pusat kehidupan malam kota Denpasar. Di Suci-lah istilah nasi jinggo muncul. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Jalan-Jalan, Kuliner, Denpasar Before & After, Budaya | Kontributor : Darma Putra | 1 Komentar | 237 Views

28th June 2007

Es Campur Bikin Kesandung

Oleh Luh De Suriyani

Es campur sederhana yang elegan. Daluman dari sari daun daluman, kelapa parut kasar, dan santan gula kental. Gurih dan bercita rasa tegas.

Kebanyakan es campur tak memiliki rasa yang dominan. Biasanya karena bahan-bahan yang dicampur terlalu banyak jadi terasa setengah-setengah. Nah, dimana kita cari es campur yang tidak setengah-setengah rasa itu?

Salah satu tujuan wisata kuliner yang tidak boleh dilewatkan adalah Pasar Badung. Lokasinya di sekitar Jalan Gajah Mada Denpasar. Pasar berlantai empat ini paling sibuk di Bali. Buka 24 jam, jadi bisa berwisata 24 jam pula. Tapi, untuk es campur yang kita ulas ini, kita mesti datang ke pasar pada pukul sembilan pagi hingga empat sore.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Kuliner | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 1 Komentar | 217 Views

26th June 2007

Ketika Pecandu Menutut Perlindungan HAM

Oleh Anton Muhajir

Tanggal 14 Desember 2006 menjadi hari bersejarah bagi gerakan pecandu di Bali. Sebab itulah saat pertama pecandu narkoba berani menunjukkan diri sebagai pecandu dengan melakukan demonstrasi ke Pengadilan Negeri Denpasar dan Kejaksaan Negeri Denpasar. Demonstrasi itu memang bukan hanya pecandu aktif, tapi ada juga yang sudah pulih dari ketergantungannya pada narkoba. Namun tetap saja sebagian besar masih aktif memakai narkoba.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Kabar Anyar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 1 Komentar | 207 Views

26th June 2007

Rehabilitasi sebagai Solusi Penyalahgunaan Narkoba

Oleh Anton Muhajir

Dengan tubuh kurus, dada terbuka, dan leher berkalung tulisan HIV, Alex keluar dari tali rafia yang diibaratkan sebagai penjara. Dia bertemu Mega, istrinya, di luar. Namun ketika tahu bahwa Alex sudah tertular HIV, Mega menceraikan mantan pengguna narkoba itu. Tidak siap menghadapi kondisi tersebut, Alex kembali menggunakan narkoba lalu masuk penjara lagi. Tapi bukannya berhenti, Alex malah makin bebas menggunakan narkoba di penjara. Sebab peredaran narkoba di penjara justru lebih banyak dibanding di luar.

“Penjara sebagai pemberi efek jera telah gagal. Karena itu sudah seharusnya pemerintah memikirkan ulang vonis penjara sebagai hukuman bagi pecandu narkoba. Pecandu seharusnya masuk rehabilitasi, bukan penjara,” teriak Wahyu, sang narator, melalui pengeras suara.

Adegan Alex bersama Mega adalah bagian dari aksi teatrikal Ikatan Korban Napza (IKON) Bali pada Minggu (24/6) sore lalu di Lapangan Renon Denpasar. Selain aksi teatrikal, sekitar 50 pecandu aktif maupun mantan pecandu itu juga melakukan aksi bersih lingkungan dan pameran ratusan surat seruan pecandu. Menurut Koordinator IKON Bali IGN Wahyunda, aksi tersebut sebagai bagian dari upaya untuk menuntut diterapkannya vonis rehabilitasi bagi pecandu.

Memperingati Hari Anti Narkoba Internasional pada 26 Juni ini, salah satu wacana yang mengemuka di Bali memang tentang perlunya vonis rehabilitasi bagi pecandu narkoba. Wacana ini gencar dikampanyekan IKON, kelompok yang terdiri dari pecandu maupun mantan pecandu narkoba di Bali sejak Desember 2006 lalu.

Menurut Wahyunda, tuntutan agar pemerintah segera menerapkan vonis rehabilitasi berdasarkan pada fakta bahwa penjara tidak bisa lagi menanggulangai peredaran gelap narkoba. “Sudah jadi rahasia bahwa penjara merupakan tempat peredaran gelap narkoba paling bebas dan aman. Makanya ada anekdot bahwa maling ayam dipenjara pun bisa berubah jadi junkie (sebutan lain untuk pecandu narkoba),” kata Wahyu yang juga pernah masuk penjara itu.

Tudingan Wahyu itu dibenarkan beberapa pecandu narkoba yang pernah masuk penjara. Tidak hanya menggunakan, sebagian di antara mereka juga menjual narkoba, terutama heroin di dalam Lapas Kerobokan Denpasar.

Lapas Kerobokan merupakan penjara terbesar di Bali. Kapasitas Lapas Klas IIA ini adalah 320 orang. Namun menurut data Lapas Kerobokan, saat ini terjadi overkapasitas hampir 300 persen. Dari jumlah tersebut, 60 persen adalah kasus narkoba.

Mudahnya pemakaian narkoba ini tidak didukung ketersediaan alat untuk menggunakan narkoba, terutama jenis heroin, yaitu jarum suntik. Terjadilah pemakaian jarum suntik secara bergantian di antara sesama pengguna narkoba di penjara. Tidak heran jika human immunodeficiancy virus (HIV), virus penyebab acquired immune deficiency syndrome (AIDS) atau sindrom menurunnya sistem kekebalan tubuh, pun dengan mudah menular dari satu pecandu ke pecandu lain di penjara.

“Pengguna narkoba terutama yang menggunakan jarum suntik cenderung berisiko tertular atau menularkan penyakit melalui darah seperti HIV/AIDS dan hepatitis C,” kata dr AA Gede Hartawan, dokter di Lapas Kerobokan. Pada tahun 2000 lalu, tes darah acak (sero survey) yang dilakukan Dinas Kesehatan Bali di Lapas Kerobokan memperlihatkan hasil adanya 35 penghuni Lapas Kerobokan yang positif HIV. Pada 2007 ini hanya ditemukan 7 orang positif HIV dari 203 orang yang dites darahnya secara acak.

Di Bali sendiri, hingga Maret 2007 lalu, jumlah kasus HIV/AIDS di Bali sebanyak 1400 kasus. Dari jumlah tersebut, 46 persen dari kalangan heteroseksual, 40 persen dari kalangan pecandu narkoba, 8 persen dari homoseksual, 6 persen tidak diketahui, dan 0,9 persen dari kelahiran. Artinya pecandu narkoba masih jadi penyumbang terbesar kedua setelah penularan melalui heteroseksual.

Kondisi inilah yang membuat Wahyu dan ribuan pecandu di Bali kini meminta agar vonis rehabilitasi bisa diterapkan. Apalagi berdasarkan survey mini IKON Bali pada Desember 2006 lalu 77 persen pecandu narkoba mengaku tidak lebih baik setelah dipenjara. Meski begitu mereka sebagian besar dipenjara lebih dari sekali akibat pemakaian narkoba.

Memperjuangkan Vonis Rehabilitasi
Menurut Wahyu hukuman penjara berawal dari perspektif bahwa pecandu narkoba adalah pelaku tindak kriminal. Padahal, lanjutnya, pecandu narkoba hanyalah korban dari peredaran gelap narkoba. “Kami tidak mendapat keuntungan apapun ketika menggunakan narkoba. Para bandarlah yang untung. Lalu kenapa harus selalu disalahkan?” tanya bapak satu anak ini.

Tuntutan vonis rehabilitasi itu sendiri sebenarnya tidak terlalu muluk. Sebab Undang-undang No 22 tahun 1997 tentang Narkotika sebenarnya sudah memungkinkan adanya vonis rehabilitasi bagi pecandu narkoba seperti disebut Pasal 45 serta Pasal 47 ayat a dan ayat b. Kedua pasal itu menyebut bahwa hakim berhak menjatuhkan vonis rehabilitasi jika seorang tersangka kasus narkoba terbukti sebagai pecandu.

Namun meski sudah ada UU yang mengatur, nyatanya belum ada yurisprudensi hukuman rehabilitasi bagi pecandu narkoba. “Hampir semua vonis bagi pecandu narkoba adalah hukuman penjara bukan hukuman rehabilitasi,” kata Wahyu.

Karena itu IKON Bali masih terus memperjuangkan agar vonis rehabilitasi itu bisa segera diterapkan. Dalam beberapa kali aksinya, termasuk ketika memperingati Hari HAM Sedunia 10 Desember lalu, IKON Bali juga melakukan aksi damai ke Pegadilan Negeri Denpasar dan Kejaksaan Negeri Denpasar. Tuntutannya selalu sama, mewujudkan segera vonis rehabilitasi.

Selain melalui aksi damai, semiloka pun sudah pernah dilakukan untuk membahas teknis vonis rehabilitasi tersebut. Semiloka itu melibatkan hakim, psikiater, dokter, pecandu, dan pihak pemerintah. Sayangnya belum ada hasil jelas dari semiloka tersebut. “Salah satu kendala yang dihadapi hakim adalah karena belum adanya tempat rehabilitasi yang representatif bagi pecandu narkoba yang divonis untuk mengikuti rehabilitasi,” ujar Wahyu.

Karena itu, lanjutnya, perjuangan mewujudkan vonis rehabilitasi itu masih panjang. [+++]

Kategori berita : Kabar Anyar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 686 Views

26th June 2007

Merayakan Galungan dengan Jotan

Oleh Anton Muhajir

Saya baru selesai sholat maghrib ketika pintu gerbang rumah seperti digeser orang. Kamar tempat saya sholat sekitar 10 meter dari pintu dari besi itu. Jadi saya bisa mendengar jelas ketika ada orang masuk rumah.

Saya keluar kamar. Dadong Devita mengetuk pintu. Dadong adalah sebutan untuk nenek di Bali. Devita mengacu pada nama cucunya.

Saya membuka pintu. Dadong masuk membawa sekeranjang buah dan kue. Ada apel, pir, pisang, jeruk, dan rambutan. Kuenya ada begina semacam kerupuk, jaja uli, tape ketan, dan krupuk melinjo.

Sekitar 15 menit sebelumnya, Gede, Bu Wayan, dan Made membawa kue dan buah yang sama. Buah dan kue di meja makan kami semakin penuh ketika Bu Mega juga membawa roti ke rumah malam itu.

Rumah kami di gang kecil pinggiran Denpasar utara. Sepanjang sekitar 50 meter gang itu tinggal aneka rupa keluarga dan berbeda agama.

Di ujung gang, persis di pinggir sungai, Bu Jeani dan Pak Anton tinggal bersama tiga anak mereka Jeani, William, dan Andrew. Pasangan ini beda agama. Bu Jeani muslim asli Padang. Pak Anton Katolik asli Timor Timur, yang kemudian jadi Timor Leste, dan kini warga Denpasar.

Keluarga saya sendiri muslim. Kami sekuler. Tidak ada tanda apa pun yang identik dengan agama apa pun di rumah kami. Bagi kami agama biarlah jadi urusan kami. Bukan untuk diperlihatkan pada orang lain. Istri saya orang Bali dan jadi muallaf ketika menikah dengan saya. Cerita ini sama dengan tetangga kami, Pak Sutir dan Bu Risma, yang kini punya dua anak.

Selebihnya, selain tiga keluarga itu, delapan keluarga lain beragama Hindu. Dan, besok tetangga-tetangga kami ini merayakan Galungan. Tapi, meski tidak beragama Hindu, kami ikut merayakan. Ya, lewat buah dan kue yang dibawa ke rumah kami petang tadi. 

Tradisi membawa kue dan buah menjelang hari raya itu disebut ngejot. Tidak hanya menjelang Galungan tapi juga pada upacara lain seperti pernikahan, otonan (peringatan hari lahir), dan seterusnya. Ngejot sebenarnya biasa dilakukan pada tiap tetangga tanpa melihat agama atau suku apa pun. Namun karena tetangga yang Hindu juga merayakan, dan berarti punya buah dan kue yang sama, jadilah ngejot ini lebih banyak untuk yang beragama lain.

Tapi ini tidak mutlak. Kadang-kadang yang sama-sama merayakan Galungan pun berbagi kue atau buah terutama kue yang tidak mereka punyai. Misalnya memberi kue bolu pada tetangga yang tidak punya.

Ngejot, bagi saya, adalah wujud dari toleransi antar-tetangga. Bhinneka Tunggal Ika, kata Mpu Prapanca. Ini kalau dilihat dari perspektif agama. Tapi ngejot bisa juga adalah praktik dari sosialisme. Bukan sosialisme ideologis yang agak berat ala Hugo Chavez, Evo Morales, dan seterusnya, tapi cukup sosialisme sebagai praktik bertetangga, saling membagi apa yang kami punya.

Karena itu ngejot tidak melulu milik orang Hindu. Ketika merayakan lebaran Oktober tahun lalu, kami pun ngejot dengan membagi kue lebaran. Tidak hanya pada tetangga tapi juga pada keluarga di Padangsambian, Oongan, Jl Kenyeri, dan tentu saja mertua di Jl Banteng.

Ketika Natal pun kami mendapat jotan berupa nasi kotak dari Pak Anton, tetangga kami yang juga pegawai negeri tersebut.

Bagi sebagian orang mungkin ini terlalu romantik. Memang ada ketegangan-ketegangan hubungan antar warga akibat perbedaan itu. Namun ngejot bisa jadi salah satu upaya untuk mengingatkan warga bahwa kami bisa saling menghargai dan mengormati di antara perbedaan itu. Ngejot juga perlu terus dibiasakan karena ini soal perut juga. Kalau sudah tentang makanan kan paling gampang untuk mengajak orang.

Selain itu ngejot juga perlu diajarkan pada anak-anak. Biar mereka tidak salah paham lalu bilang, “Awas ada suster ngejot..” Eh, itu suster ngesot ya. he.he [+++]

Kategori berita : Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 196 Views

25th June 2007

Di Mana Branding Bali Berada?

Oleh Arief Budiman 

Ketika membayangkan Bali memiliki sebuah branding, saya langsung membayangkan yang harus dilakukan Bali dalam brandingnya menggunakan benchmark “country branding”, bukan city branding atau island branding. Visi branding Bali harus sama dengan cara sebuah negara melakukan destination branding seperti Malaysia, Singapura, India dan negara lain. Alasan mendasar bagi saya memikirkan hal tersebut adalah peluang Bali yang sangat memungkinkan melakukan itu. Reputasi Bali, potensi yang dimiliki, positioning Bali di masa datang, juga sekaligus menjadi semacam inisiatif atas belum terselenggaranya branding Indonesia yang komprehensif. Namun untuk menentukan itu pun sebuah proses studi dan riset harus dilalui dulu.

Pengertian destination branding atau place branding seyogianya dipahami juga oleh kita secara utuh karena ia adalah sebuah strategi yang akan menghabiskan biaya dan waktu. Jika kurang tepat dan cermat mengeksekusinya maka kita akan kehilangan biaya dan waktu dengan sia-sia. Pijakan branding sebuah tempat atau destination branding juga dilakukan tidak hanya untuk atau melalui pariwisata saja. Dalam strategi destination branding di banyak tempat setidaknya ada enam elemen penting pembentuk destination branding atau prasyarat terciptanya destinasi yang baik. Pariwisata adalah salah satu komponennya selain people, governance, export, investment/immigration, culture and heritage.

Sebuah konsep destination branding, didasari oleh passion dan identitas menarik yang saling berhubungan dengan berbagai hal untuk memudahkan orang memiliki asosiasi dengan tempat tersebut. Destination branding harus memiliki kekuatan untuk mengubah presepsi dan cara pandang seseorang terhadap suatu tempat, termasuk melihat perbedaan sebuah tempat dengan tempat lainnya untuk dipilih sebagai tujuan.

Belum lama rasanya Bali memiliki branding dengan tagline “Bali is My Life” yang belum teruji kesuksesannya dan belum terasa benar dampak kampanye branding tersebut.  Namun ketika membuka Pesta Kesenian Bali ke-29 pada 16 Juni lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono RI telah melaunching branding Bali yang baru, “Bali. Santhi Santhi Santhiâ”. Pijakan utama branding tersebut salah satunya adalah keinginan responden masyarakat Bali asli sejumlah 900 orang yang prosentase terbesarnya mengharapkan bahwa penggambaran Bali yang paling baik adalah paradise dengan pendekatan spiritual yang divisualkan dengan pura.

Branding Bali yang baru divisualisasikan dengan gambar segi tiga bertuliskan Bali Shanti Shanti Shanti yang merupakan semangat dari Tri Murti dan Tri Hitakarana. Shanti yang berarti damai tertulis tiga kali berarti mengalir semangat kedamaian dan keharmonisan. Tapi jangan mencoba mengamati tulisan BALI yang digambarkan di sana mengesankan tulisan Arab karena barangkali ada alasan lain yang melatarinya.

Tidak diragukan lagi bahwa Bali dalam sejarahnya memiliki karakteristik dan keunikan yang tiada duanya kombinasi antara alam, seni, budaya dan spiritualitas. Hingga muncul tagline “Island of the Gods” yang sangat legendaris. Namun pertanyaannya, haruskah gagasan spiritual yang disampaikan responden branding Bali ini dieksekusi secara vulgar menjadi ikon Santhi Santhi Santhi? Menurut saya perlu extra effort bagi pihak eksternal memahami dan menangkap makna simbolik itu sebagai komunikasi pencitraan Bali sebagaimana sebuah simbol branding memiliki fungsi awareness.

Pentingnya branding yang dilambangkan dengan logo atau simbol adalah memvisualkan gagasan dan cita-cita menjadi sebuah ikon yang mampu “mengimajinasikan” atau “menggambarkan” cita-cita tersebut. Simbol atau ikon ini akan berfungsi sebagai “awareness campaign” yang memiliki asosiasi positip, imajinatif dan mudah dipahami. Sebagai contoh The Incredible India campaign yang dimulai December 2002 difokuskan pada gagasan yoga, Ayurveda dan konsep spiritual lain yang asli dari India.

Seperti disampaikan oleh Lavanya Anirudh, account director Ogilvy and Mather India pada Dow Jones & Company, “Yoga, we own it but have never flaunted it, Bali, and also other Asian country, are flaunting yoga and meditation with their spas. But we have had it for centuries and centuries. And the real Ayurveda is in India. We decided to showcase all of that and we layered the entire campaign with spirituality.”

Kata “Incredible” dipakai untuk mewakili spiritualitas dimaksud karena memiliki sound atau makna luas yang dipahami banyak pihak eksternal sebagai “sesuatu yang luar biasa”. Ketika dia bertanya pada masyarakat apa yang mereka pikirkan dengan kampanye “Incredible India”, dia mengatakan, “I just keep hearing that incredible is absolutely the apt word to describe India. The country isn’t perfect; everything isn’t laid out for you on a platter. Yes, we have cows on the narrow streets, but this is mixed with some amazing stuff. A big reason is that India Ministry of  Tourism, with its subtle and charming Incredible India campaign, is pushing the great Indian story effectively.

Setelah India secara konsisten membawakan kampanye Incredible India tersebut selama hampir lima tahun resultnya sangat menggembirakan bagi perekonomian dan pariwisata India, termasuk juga komentar pakar branding dunia. I’m surprised by India’s exclusion from the rising star category as perceptions are changing with the country moving up from a spiritual order to a new energy tech-oriented sphere,” kata Santosh Desai, seorang brand analyst di The Future Group. Dalam 10 Top Country Brand Ranking 2006 oleh Future Brand, India menempati urutan ke-10 dan merupakan negara Asia satu-satunya yang masuk 10 terbaik.

Success story selalu menarik buat saya. Ia menjadi semacam cermin dan motivasi untuk menuju yang lebih baik. Maka ketika kita mengetahui begitu lazimnya kini destination branding dipakai sebagai strategi destination management, telah banyak success story yang dapat kita cermati sebagai benchmark. Keuntungan lain jika kita sukses menerapkan model destination branding adalah kesempatan mempresentasikan konsepnya di berbagai negara pada forum-forum mengenai destination branding ataupun sustainable tourism sebagai model yang sukses. Seperti yang dilakukan World Tourism Organization dengan mengundang Malaysia untuk mempresentasikan Malaysia, Truly Asia yang sukses itu di berbagai negara dan hal itu menjadi promosi sebuah tempat yang elegan.

Menjembatani identitas Bali yang telah sangat dikenal (alam, seni, budaya dan spiritualitas) dengan kekinian yang merupakan dinamika waktu menjadi sebuah visi dalam destination branding Bali memang bukan perkara mudah. Diperlukan studi mendalam dan pemikiran lintas sektoral dan perencanaan kampanye yang memiliki orientasi internal (untuk masyarakat di Bali sendiri) juga eksternal (untuk masyarakat luar) secara bersama serta proyeksi kedepan yang berkesinambungan. Sehingga terbentuk sebuah kesadaran bahwa peran setiap orang menjadi penting dalam kampanye branding Bali. Harus diingat pula arti “kampanye” itu sendiri adalah untuk mendapat simpati dan “to win the heart” of people. Siapapun dia.

Tulisan ini ada karena sebuah proses memahami destination branding semenjak empat tahun lalu yang sangat menarik dan ternyata terus berkembang secara dinamis. Dari hasil pengamatan jelas bahwa destination branding dari statusnya sebagai sebuah pilihan menjadi sebuah keharusan dikarenakan manfaatnya. Jika kita masih berpikir sulit dan mahal tentang destination branding diperbandingkan dengan dampaknya yang luar biasa seharusnya kita melakukan siasat dengan bersinergi. Bahwa destination branding harus dibaca bukan hanya tugas pemerintah saja namun private sector dan seluruh lapisan masyarakat sehingga keterlibatannya dalam membentuk dan menjadi bagian branding campaign sangat penting. Ketika Jogja pertamakali meluncurkan ikon Jogja Never Ending Asia peran private sector melalui komunitas masyarkata non-Jogja yang disebut alumni Jogja yaitu mereka yang pernah bersekolah dan menjadi pejabat di Jogja sangat penting dengan turut memberikan funding bagi terciptanya destination branding Jogja.

Bagi saya, implementasi branding Bali yang ideal tidak harus tergesa, mungkin dua tahun lagi, mungkin lima tahun lagi, tetapi dipersiapkan secara matang dan terstruktur sehingga lebih mantap dan efektif setidaknya diproyeksikan untuk sepuluh tahun kedepan. [+++]

Arief Budiman, Bekerja di Matamera Communication, Ketua Perhimpunan Perusahaan Periklanan Indonesia Cabang Bali, dan aktif di berbagai kegiatan desain di Bali.

 

Tulisan ini juga termuat di http://ayipbali.com

Kategori berita : Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 192 Views

23rd June 2007

Memilih Tempat Makan Enak di Denpasar

Oleh Luh De Suriyani

Sebagai kota urban, Denpasar itu jadi tempat aneka rupa makanan dijualbelikan. Ada makanan yang bener-bener khas Denpasar, tapi lebih banyak lagi yang khas daerah lain. Ada misalnya nasi padang –ini sih pasti di tiap jalan-, soto karangasem, bakso solo, sari laut lamongan, babi guling gianyar, dan seterusnya. Karena itu tidak usah risau kalau urusan makan di Denpasar. Tinggal sesuaikan dengan selera, kantong, dan tingkat keimanan Anda. Soal selera dan kantong sih jelas, tapi kalau bingung soal terakhir itu, tunggu nanti di bagian belakang.

Pertama soal selera. Ini sih pasti. Kalau seleranya tidak jelas alias suka makan campur-campur, biasanya sih tempat makannya di warung nasi pecel madiun atau warung jawa. Banyak pilihan menu yang diperlihatkan di rak kaca tembus pandang. Ada kare ayam, pecel, ikan laut, sup, sayur bening, dan seterusnya. Anda tinggal menyesuaikan dengan selera. Mencari makanan campur seperti ini tidak susah. Di tiap jalan sekunder Denpasar hampir selalu ada. Paling gampang ya cari di sekitar pasar. Pasti ada. Kalau tidak ada juga ya ganti saja dengan makanan lain yang ada di situ. :)) Warung seperti ini biasanya buka dari pagi sampai petang. Jarang yang buka malam.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Jalan-Jalan, Kuliner | Kontributor : Luh De Suriyani | 0 Komentar | 428 Views

21st June 2007

Awas Tertipu Warung Lembongan

Oleh Anton Muhajir

Ketika keluar dari kantor di daerah Yangbatu, Denpasar, saya sebenarnya berpikir untuk makan soto ayam di Jl Teuku Umar. Lama tidak makan di sana. Mendung dan sesekali gerimis sejak pagi membuat saya ingin menikmati makan siang dengan kuah hangat. Hmm, sepertinya pas untuk mengusir dingin.

Tapi begitu keluar dari Jl Letda Kajeng masuk Jl Cok Agung Tresna, saya mulai merasa terlalu jauh makan di Jl Teuku Umar. Otak saya bergerak. “Makan apa ya yang kira-kira berkuah hangat, ada di daerah Renon, dan bisa dinikmati dengan cepat?” Baca selengkapnya »

Kategori berita : Kuliner | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 195 Views

18th June 2007

Kumbasari

Oleh Darma Putra

Pasar Kumbasari di sisi barat Tukad Badung pernah menjadi ikon modern kota Denpasar walau dalam masa yang relatif pendek, antara akhir 1970-an hingga awal 1980-an. Antara tahun itu, Pasar Kumbasari lebih populer dengan sebutan Pertokoan Kumbasari. Arti ‘pasar’ dan ‘toko’ jelaslah bedanya!

Pertokoan atau Pasar Kumbasari yang dilalap si jago merah awal Mei 2007 ini dulunya disebut dengan Peken Payuk (Pasar Periuk). Pasar Payuk ini di bawah kekuasaan Kabupaten Badung, sebelum daerah ini dipecah menjadi Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Jalan-Jalan, Denpasar Before & After, Budaya | Kontributor : Darma Putra | 0 Komentar | 262 Views

17th June 2007

Buku Soal Pariwisata Bali dan Terorisme

Sumber: http://www.balipost.com/BaliPostcetak/2007/6/17/bud2.html

Setelah 15 Tahun, Terbit di London

SEBUAH buku tentang pariwisata Bali baru saja terbit di London. Buku berjudul “Tourism, Development and Terrorism in Bali” ditulis bersama oleh Prof Michael Hitchcock dari London Metropolitan University dan Dr. I Nyoman Darma Putra dari Fakultas Sastra Unud. Penerbit Ashgate mengklasifikasikan buku ini dalam seri terbitannya “voices in development management”.

————- 

Fokus buku ini adalah pengalaman Bali dalam mengelola krisis kepariwisataan (tourism crisis management) dalam 10 tahun terakhir. Dalam kajiannya, kedua penulis menggarisbawahi ketahanan budaya masyarakat Bali dalam menghadapi berbagai tekanan arus globalisasi yang masuk lewat sektor pariwisata dan terorisme global.

Uraian dimulai dengan dampak dari krisis moneter Asia, krisis sosial politik yang menimbulkan berbagai kerusuhan sosial, sampai dengan krisis akibat serangan terorisme 2002 dan 2005 di Kuta dan Jimbaran. “Kami juga membahas wacana perdebatan penolakan nominasi Pura Besakih sebagai warisan budaya dunia,” ujar Darma kepada Bali Post baru-baru ini.

Ahli pariwisata Richard Butler dan Adrian Vickers memberikan komentar dalam buku ini. Menurut Butler, buku ini penting karena secara menarik membahas hubungan kebertahanan budaya Bali dengan globalisasi lewat pariwisata. Sementara Adrian Vickers menulis bahwa buku ini merupakan kajian komprehensif tentang Bali sejak 15 tahun terakhir, dan yang pertama pasca-bom Bali.

Buku ini ditujukan bagi kalangan mahasiswa, akademik, pengusaha, dan pengambil keputusan pembangunan pariwisata. Isinya diharapkan dapat memperkenalkan kepada dunia luas pengalaman Bali dalam mengembangkan pariwisata, khususnya dalam mengelola krisis kepariwisataan, di tengah-tengah dampak positif dan negatif dari globalisasi.

Jarang Ditulis
Topik pariwisata Bali banyak dibahas dalam berbagai seminar dan dialog bisnis, namun penulisan buku yang lebih menyeluruh jarang terjadi. Buku serius dan mendalam tentang pariwisata Bali, menurut Darma, terbit tahun 1992 (1996) karya Michel Picard dari Paris, berjudul “Bali, Cultural Tourism and Touristic Culture”.
“Setelah lima belas tahun, barulah ada buku tentang pariwisata Bali terbit,” jelas Darma yang kini tengah menjadi peneliti tamu di School of Languages and Comparative Cultural Studies, University of Queensland, Australia.

Tampil merah mencolok, kulit buku ini dihiasi foto dari kompleks Pura Besakih dan monumen bom Bali di London. Monumen London diresmikan oleh Pangeran Charles pada Oktober 2006. Ilustrasi kulit buku mencerminkan bahwa penulis buku ini berasal dari Bali dan London.

Gagasan awal menulis buku ini sudah disepakati sejak 2003 ketika Darma dan Michael melakukan riset bersama di Bali. Saat itu, Michael juga sempat mengikuti sidang-sidang kasus bom Bali di Nari Graha. Kegiatan penulisan baru dimulai 2004, ketika Darma diundang ke London sebagai peneliti atas biaya Sutasoma Trust hasil perjuangan Michael dan Prof IB Adnyana Manuaba lewat program kerja sama universitas.

Michael adalah antropolog yang mendalami pariwisata dan kebudayaan Indonesia. Dia sering tampil sebagai komentator TV/Radio BBC London untuk masalah Indonesia. Michael baru saja menerbitkan buku tentang batik sebagai desain interior yang diprakarsai oleh mantan Menteri Pariwisata Joop Ave.

Sedangkan Darma adalah dosen Fakultas Sastra Unud yang pernah menjadi wartawan pariwisata. Riset untuk buku ini dilakukan di sela-sela kegiatannya menjadi penerjemah untuk televisi ABC Australia dalam liputan sidang bom Bali. (tin)

Kategori berita : Buku | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 2 Komentar | 304 Views

eXTReMe Tracker