17th June 2007

Bali Shanti Shanti Shanti

Pemerintah Bali meluncurkan brand yang terlalu konservatif.

Oleh Anton Muhajir 

Di lapangan rumput Renon Denpasar, dengan cahaya temaram ketika gelap merayap, sekitar pukul 18.30 Wita, Kepala Dinas Pariwisata Bali Gede Nurjaya menjelaskan peluncuran merk dagang –bahasa kerennya brand, yang artinya sama saja: merk- pada wartawan. Nurjaya berdiri sambil sesekali menunjuk ke layar putih memperlihatkan merk dagang baru itu. Di samping mantan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemprov Bali itu berdiri sebagian anggota tim yang merumuskan merk tersebut. 

Wartawan duduk lesehan melihat agak mendongak bergantian, ke Nurjaya, ke layar putih itu. Puluhan pengunjung lapangan Renon petang itu berdiri di belakang wartawan ikut melihat bagaimana merk baru yang dikerjakan sejak akhir 2006 tersebut.

Sebelumnya, sekitar pukul 15.30 Wita, bersamaan dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-29 Sabtu (16/6) lalu Gubernur Bali Dewa Made Beratha meluncurkan merk dagang Bali sebagai tempat tujuan pariwisata. Merk dagang Bali itu berupa tulisan Bali dalam dengan latar belakang ukiran Bali berbentuk segi tiga. Di bawah tulisan Bali itu berisi tulisan Shanti Shanti Shanti.

Peluncuran oleh Gubernur Bali itu disaksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang hari itu juga membuka PKB dengan pukulan kulkul lalu diikuti tepuk tangan ribuan orang di Jl Raya Puputan Renon Denpasar.

Dalam penjelasannya Gede Nurjaya mengatakan bahwa merk dagang Bali itu akhirnya dibuat secara resmi setelah selama ini julukan pada Bali lebih banyak diberikan oleh orang luar, terutama turis. Misalnya sebutan Bali oleh Jawahral Nehru sebagai tempat matahari terbit –atau semacam itulah- atau Bali sebagai Pulau Seribu Ruko –eh, Seribu Pura-, atau Bali Island of Gods dan seterusnya. “Brand kali ini adalah yang resmi dibuat oleh pemerintah Bali,” kata Nurjaya.

Meski tidak tersurat, merk dagang baru itu mungkin dibuat untuk menandingi gencarnya pesaing Bali sebagai tempat pariwisata mengidentifikasi diri seperti Malaysia menyebut diri sebagai Truly Asia atau Singapura dengan Uniqely Singapore dan seterusnya.

Merk dagang Bali itu sendiri konsepnya menekankan pada tradisi, budaya, dan agama Hindu yang begitu melekat pada Bali. Maka nuansa tradisi, budaya, dan agama itu sangat terasa mulai dari warna, desain, hingga motifnya. Merk itu didominasi merah dengan paduan hitam dan putih yang dikenal di Bali sebagai Tridatu. Sedangkan bentuk segi tiga sebagai pelaksanaan konsep Tri Hita Karana atau tiga hal untuk menjaga keharmonisan alam yaitu hubungan dengan Tuhan, manusia, dan alam.

Munculnya merk tersebut melalui proses panjang. Hartono, salah satu anggota tim perumus mengatakn selama tiga bulan awal, tim melakukan riset dan wawancara mendalam tentang apa sih ciri khas Bali. Wawancara itu dilakukan dengan berbagai kelompok dari kalangan pariwisata, pemuka agama, gubernur dan calon gubernur, bupati, seniman, wartawan, dan banyak lagi. Dari situ muncullah adat, budaya, dan agama Hindu sebagai sesuatu yang sangat khas Bali.

Hasil riset ini kemudian divisualisasikan. Didapatlah merk yang kemudian diluncurkan petang itu. Menurut Hartono, diferensiansi alas pembedaan dari merk dagang pesaing, katakanlah Malaysia, Singapura, dan Thailand memang jadi alasah kenapa merk dagang Bali itu sangat old fashion.

Merk dagang old fashion itu menggabungkan empat hal utama yaitu visual, font, warna, dan tagline. Segi tiga adalah lambang keseimbangan mulai tiga dewa penguasa alam, tiga tingkatan alam, maupun tiga tingkatan hidup. Motif ukiran mewakili keseimbangan (lagi) sekaligus menggambarkan kreativitas orang Bali. Tulisan Bali mengadopsi bentuk dan garis khas aksara Bali dengan huruf B mirip angka 3 dan mirip aksara Ang. Warna ya itu tadi Tridatu sebagai representasi Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. Adapun tagline Shanti Shanti Shanti bermakna permohonan agar damai selalu.

Perencanaan, konsep, dan filosofi yang begitu dalam itu ternyata agak susah terjemahkan melalui merk dagang itu. Sekali lagi: bentuknya sangat konservatif.

Filosofi Tri Hita Karana, kedamaian, dan seterusnya itu kan tidak harus divisualisasikan dalam bentuk yang tua begitu. Tidak ada modernitas yang terlihat dalam merk dagang itu. Teguh Mahasari, anggota tim pembuatan pun mengiyakan bahwa memang tidak ada modernitas dalam merk dagang itu. Keunikan Bali kan sebenarnya pada kemampuannya untuk menyerap modernitas itu tanpa harus meninggalkan tradisi. Lihatlah punker di Bali yang masih rajin sembahyang atau ahli teknologi informasi yang masih rajin mebanten di atas komputernya.

Sayangnya anak-anak muda seperti ini tidak mendapat tempat dalam pembuatan merk dagang itu. Kalau orang seperti Rudolf Dethu, Popo Danes, Jango Paramartha, atau anak-anak muda yang mengerti desain dilibatkan mungkin merk dagang itu akan lebih keren. Tag line Shanti misalnya bisa saja tetap muncul –tidak usah tiga kali. Tapi akan menarik kalau kata-kata itu bisa bertemu dengan kata-kata Inggris –yang sudah pasti adalah bahasa universal.

Kalau ini yang muncul, mungkin merk dagang itu akan lebih menarik orang. Sayangnya sih itu menarik buat turis, bukan untuk orang Bali sendiri. [+++]

Kategori berita : Budaya, Kabar Anyar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 1 Komentar | 280 views

16th June 2007

Antara Ovu(m)lasi dan Seni

Oleh Susi Andrini

Sedari kecil saya selalu takjub melihat orang hamil. Membayangkan bagaimana dari sebuah ovum dibuahi pada saat ovulasi, menjadi embrio dan membentuk makhluk mungil menggeliat liat. Lalu bagaimanakah seorang saya bisa keluar dari perut ibu? Kata ibu; Jangan main-main dengan vaginamu! 

Menurut saya, hamil itu cantik dan sexy. Tapi saya takut hamil. Membayangkan makhluk asing menggerogoti tubuh saya, menghisap darah, mengunyah cairan makanan lewat placenta dan pembuluh darah, lalu meninggalkan ampasnya.  Di sanalah makhluk asing bernama embrio itu bertahan dan melangsungkan kehidupan awalnya.  Ada kehidupan lain di dalam tubuh. Dan saya harus berbagi karenanya.

Namun, saat setahun setelah menikah tak kunjung juga hamil, saya jadi dag dig dug.  Apakah ada masalah pada ovum (sel telur) saya? Ataukah karena menstruasi saya yang tidak teratur? Kata dokter, rahim saya terbalik sehingga sulit untuk hamil. Apalagi jadwal menstruasi yang tidak tetap itu. Kadang dua bulan sekali, kadang tiga bulan atau lebih. Dokter saya bilang, zaman dulu rahim yang terbalik harus dioperasi. Untungnya zaman sudah maju, saya tak perlukan itu. Dokter memberikan terapi obat, dan suntikan hormon penyubur yang saya lupa namanya. Yang teringat oleh saya, berhenti bekerja—karena ingin hamil.

Setiap hari cuma makan tidur dan coitus. Persis minum obat saja 3x sehari. Dokter saya bilang, gaya nungging seperti anjing itu paling cespleng bagi yang punya rahim terbalik. Setelah itu jangan langsung mencuci di kamar mandi, tapi biarkan tidur telungkup dengan kaki rapat atau tidur dengan menyandarkan kaki ke atas tembok. Ternyata betul, saya hamil! Tapi usia kehamilan ternyata sudah tiga bulan. Bodohnya, saya tidak tahu telah hamil karena menstruasi yang tidak teratur itu.

Saya hanya merasakan perubahan dan gejala pada diri sendiri, seperti seringkali merasa mual dan senang sekali mengantuk. Kadang bisa seharian hanya tidur terus. Bawaannya malas. Saya pikir saya sakit. Eh, tak tahunya malah hamil.

Fase Hamil:

Kehamilan terjadi bila ovum (sel telur) dibuahi pada saat ovulasi atau masa subur yaitu masa di mana pada saat subur itu rahim melepaskan sel telur (ovulasi).

Tubuh berubah. Perut membesar. Payudara menjadi kenyal dan kencang. Ia menyimpan dan meproduksi air susu. Saya merasakan kulit-kulit tertarik, memecah pori-pori perut, dan sangat gatal. Tidak boleh digaruk karena akan menyisakan sellulit berupa guratan-guratan putih yang sulit hilang.

Pada awal kehamilan, kandungan saya lemah. Dokter memberikan obat penguat dan suntikan tiap dua minggu sekali.  Memasuki bulan kelima, badan, bibir saya merah-merah, gatal dan bengkak. Suntikan pun dihentikan. Waktu itu saya kesulitan makan,  seringkali keluar atau termuntahkan. Keadaan itu terus berlangsung sampai usia sembilan bulan. Padahal orang hamil seringkali  lapar dan harus banyak makan. Untungnya, saya senang minum susu, kadang tujuh sampai sepuluh kali sehari.

Waktu ngidam, saya suka makan pepaya, buah yang tak sulit didapat meskipun tak sedang musim. Konon itu permintaan sang jabang bayi. Kalau tidak dituruti, anak yang dilahirkan nanti suka mengeluarkan air liur (ngeces). Saat kandungan berusia tujuh bulan, saya suka travelling dan berkeliling ibukota  (waktu itu tinggal di Jakarta) membonceng motor trail kuning bersama suami. Makhluk mungil dalam perut itu meggeliat-liat. Antara sakit dan geli. :))

Karena pengaruh hormon, kadang orang hamil berlaku berlebihan. Ada yang tak suka membaui keringat suaminya. Bahkan hanya untuk sekadar mendekat, apalagi memegang. Kalau sebagian orang ada yang kurang bergairah dalam hubungan seks, namun sebagian lainnya sangat menikmati bersama pasangannya, bahkan di saat-saat menjelang kelahiran. Katanya, itu memudahkan jalan lahirnya bayi.

Usia sembilan bulan. Inilah saat-saat genting menanti tubuh kecil keluar dari persembunyiannya. Makhluk mungil tetapi kuat itu menekan di bawah perut. Rasa mulas meremas-remas dan memelintir usus. Teman saya sampai dua hari tersiksa. Untung saya cuma dua jam. Kelahiran, rasanya seperti mau buang air besar. Ada sesuatu yang menekan-nekan dubur dan vagina saya. Terasa panas dan berat. Lalu air ketuban pecah, merobek vagina, darah muncrat tersembur, dan keluarlah seorang anak. Ajaib!

Meski peristiwa kelahiran adalah hal yang lumrah. Toh ada sebagian orang yang merasa trauma. Teman saya hampir mati saat melahirkan, karena ari-ari yang dikeluarkan terlepas dari pegangan dokter dan masuk lagi ke dalam perut lewat vaginanya. Ia sampai tak sadarkan diri. Entah bagaimana selanjutnya. Untunglah nyawanya tak sampai melayang. Saat-saat menegangkan telah terjadi. Melahirkan, menanggung risiko, dengan segala peluh dan perjuangan, taruhannya adalah nyawa

Mungkin karena risiko melahirkan begitu besar dan zaman sudah semakin maju. Ada orang dan ada dokter yang lebih senang melakukan operasi cesar. Sedikit saja ada masalah, rujukannya cesar. Selain itu ada juga orang-orang yang ingin dicesar saja dengan alasan hanya takut vaginanya rusak. Padahal, melahirkan secara normal dan alami, meski teramat sakit tapi begitu  indah dan mengesankan. Jangan takut pada vaginamu! :))

Hubungan dengan Seni
Melalui karya, sembilan seniman ini mencoba menuangkan ide dalam penciptaan karya lewat mata kepala dan mata hatinya. Dalam hal ini, sembilan seniman ini mencoba menuangkan gagasan, mengungkapkan rasa dan keindahan lewat “ketelanjangan” sebuah objek dari perempuan hamil. Melalui kepekaan seseorang untuk menangkap setiap rangsangan dari luar seniman, rangsangan dengan tajuk Ovu(m)lasi diharapkan dapat menggugah rasa sensitivitas seniman itu sendiri dalam berkarya sesuai pengalaman dan apa yang telah direkamnya di alam sadar dan bawah sadarnya, menjadi satu keindahan karya.

Sebagian mereka adalah seorang bapak, yang juga pernah merasakan kesenangan, kesedihan dan  gelisah saat istrinya mengandung dan melahirkan. Di antaranya, mungkin pernah merasakan gerak janin di perut pasangannya dan mendengarkan irama detak jam teratur di dalamnya.. Mungkinkah itu kaki? Tangan? Pantat? Atau kepala dari embrio yang semakin membesar? Namun, ada seniman yang belum menjadi bapak, sebuah pengalaman traumatik, ketika membantu seorang ibu melahirkan.

Karya-karya sembilan perupa ini, (yang tidak bermaksud sebagai perwakilan sembilan bulan kehamilan) semoga bisa menggugah rasa empati kita untuk bisa lebih mengerti dan menyayangi kaum hawa. Terlebih pasangan kita sendiri yang telah memberikan keturunan. Karena merekalah penerus dinasti keluarga masing-masing. Cikal bakal kehidupan baru penciptaan dari setetes anggur kehidupan (sperma). Dengan segala rasa dan asa membawanya pergi selama sembilan bulan dan meregang nyawa sebagai taruhannya, saat melahirkan.

Kini saya menjadi tahu dan mengerti. Bahkan bisa merasakan, bagaimana saya bisa keluar dari perut ibu. Berawal dari vagina dan berakhir lewat vagina, pada sebuah proses dari ovu(m)lasi. Kata ibu; Jangan main-main dengan vaginamu! [+++]

Susi Andrini, ibu rumah tangga dengan tiga anak, penggiat seni budaya dan pendidikan. Tulisan ini hanya untuk berbagi pengalaman pribadi. Pengalaman yang unik dan berbeda bisa terjadi pada masing-masing individu.

Kategori berita : Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 1 Komentar | 385 views

15th June 2007

Sanur Village Festival Kedua

-diambil dari press release-

Ketua Yayasan Pembangunan Sanur, satu-satunya yayasan bidang sosial di Sanur, Denpasar Ida Bagus Sidharta Putra mengumumkan tanggal penyelenggaraan Even Sanur Village Festival yang memasuki tahun kedua, yang ditetapkan pada 15 - 19 Agustus 2007 di Inna Grand Bali Beach dan Segara Beach. Even yang mengusung tema “fun and cultural event” ini kegiatannya digali dari kegiatan masyarakat Sanur sendiri di mana even ini ditujukan bagi masyakarat Bali secara keseluruhan dan bagi kalangan internasional.

Keberhasilan festival tahun lalu menjadi patokan bagi panitia penyelenggara untuk berupaya menciptakan dan mengembangkan even yang lebih seru tahun ini. Tanpa mengabaikan kehidupan tradisional pedesaan, yang sejak dahulu sudah banyak menarik minat pengunjung ketika Sanur masih menjadi tujuan wisata utama Bali, festival ini akan berupaya mempertahankan tujuan utamanya yakni sebagai landasan dalam memposisikan Sanur sebagai tujuan wisata yang aman bagi para wisatawan dengan menekankan pada even bertema budaya dan berkolaborasi dengan pengembangan industri wisata moderen dewasa ini.

Gabungan berbagai event ini akan diawali dengan upacara pembukaan, memperkenalkan artis Bali berbakat; Bona Alit diikuti dengan berbagai event yang disesuaikan untuk semua kalangan, termasuk program meditasi yoga massal. Berbagai pertunjukan budaya, festival boga, kompetisi water sports, jazz festival sampai pameran kartun internasional dari para kartunis terbaik se-Indonesia dan Australia. Acara tersebut hanya sebagian kecil dari hiburan yang akan disajikan selama event ini. Event tersebut sudah dijadwalkan sehingga tercipta peluang-peluang untuk menemukan aspek budaya Sanur sekaligus memperkenalkan pengembangan daerah ini yang mengawinkan pariwisata moderen dan global.

Kegiatan yang dijadwalkan tahun ini meliputi: 1) Kompetisi juru masak tahunan ICA : lingkup nasional, 2) Parade budaya, 3) Pertunjukan budaya, 4) Fun bike dan city tour, 5) Pameran Seni dan Lukisan, 6) Pameran Bonsai dan Adenium Internasional, 7) Food festival dan bazaar, 8) Kompetisi water sports; perahu jukung, surfing, kite surfing, wind surfing, kayaking, dan canoe, 9) Turnamen Golf, 10) Lomba layang-layang, 11) Fun Games, 12) Jazz festival, 13) Under water festival, 14) Pameran Kartun Internasional : Indonesia – Australia, 15) Kampanye Kebersihan, 16) Kegiatan yoga massal, 17) Parade DJ, dan 18) Kompetisi rugby internasional

“Keberadaan Sanur Village Festival diharapkan dapat menarik semakin banyak wisatawan mancanegara untuk menemukan berbagai aspek kehidupan, yang terjalin erat dengan pengembangan pariwisata di Sanur. Kami mengharapkan dapat mengusung konsep unik ini dan memperkenalkannya kepada dunia internasional bagaimana pariwisata menjadi nafas kehidupan bagi para penduduk Sanur, dan pada saat yang bersamaan saat ini merupakan momen bagi mereka untuk menemukan keunikan Sanur Village tersebut” ungkap Ida Bagus Sidharta Putra, Ketua Yayasan Pembangunan Sanur.

Sanur memang merupakan ajang yang wajib dikunjungi dari tanggal 15 - 19 Agustus 2007 karena segenap desa Sanur dan pelaku wisata akan merayakan acara spesial ini.

Catatan Redaksi :
Sanur Village Festival merupakan inisiatif dari Yayasan Pembangun Sanur. Bertujuan untuk mengembalikan citra Sanur sebagai salah satu tujuan wisata utama di Bali, berbagai acara menarik akan memeriahkan festival selama lima hari di Sanur. Diisi oleh pertunjukan seni, budaya, serta aktifitas olahraga dan masih banyak lagi kegiatan menarik. Sanur Village Festival diharapkan menjadi inspirasi untuk komunitas Sanur.

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi :
Travel Works Communications International
Tel : +62.361.284.095
Fax : +62.361.270.189
Email : info@travelworks-bali.com

Kategori berita : Budaya, Kabar Anyar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 196 views

14th June 2007

Gayas Serang Coklat Petani Bali Timur

Oleh Anton Muhajir

Ribuan pohon cokelat di Bali timur diserang hama uret (Phyllophaga helera Brsk) yang oleh warga setempat disebut gayas. Selain pada pohon cokelat, hama berbentuk larva itu juga menyerang durian, ketela rambat, dan pohon albesia. Akibatnya petani mengaku rugi hingga ratusan juta.

Serangan gayas itu paling banyak terjadi pada tanaman coklat petani di Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali timur. Di daerah tidak jauh dari Gunung Agung Karangasem itu gayas menyerang sejak dua bulan terakhir. Gayas itu dengan mudah ditemukan di tanah di bawah tanaman petani. Bagian yang diserang tanaman ini paling banyak adalah akar tanaman selain juga pohon dan daun.

Serangan gayas itu, misalnya, terjadi di pohon cokelat milik I Made Rai, 67 tahun. Menurut bapak empat anak ini gayas menyerang sekitar 200 pohon dari sekitar 500 pohon cokelat miliknya yang ditandai dengan pohon menguning, daun mengering, lalu pohon itu mati.

Ketua Kelompok Tani Ancut di Desa Pidpid Wayan Gemuk, 42 tahun, mengatakan hama gayas sebenarnya selalu terjadi tiap tahun menjelang musim kemarau. Namun sejak lima tahun terakhir, populasi gayas itu terlalu banyak. “Karena itu pohon yang dimakan oleh gayas pun semakin banyak,” katanya. Gemuk menambahkan bahwa sekitar 25 are pohon albesia miliknya pun diserang gayas dengan cara yang sama pada pohon lain. Menurut Gemuk ada sekitar 45 petani yang tanamannya terserang gayas tersebut.

Selain pohon cokelat dan pohon albesia, tanaman lain yang diserang gayas adalah ketela rambat. Selasa (5/6) lalu misalnya umbi-umbi ketela pohon petani setempat yang dicabut hanya tinggal separuh. Padahal hanya ada satu gayas yang memakan ketela rambat itu.

Menurut Gemuk, serangan gayas pada pohon terjadi tidak hanya di Desa Pidpid tapi juga di desa-desa lain di sekitar desa tersebut. Bahkan, serangan itu juga terjadi pada areal petani di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng yang memang berbatasan dengan Kecamatan Abang, Karangasem. Dua kecamatan ini selama ini dikenal sebagai daerah kering karena sulitnya petani mendapatkan air. Karena itu petani setempat lebih banyak menanam tanaman umur panjang seperti coklat.

Sementara itu Luh Kartini, Dosen Fakultas Pertanian Univeristas Udayana Bali yang datang ke lokasi itu memperkirakan maraknya serangan gayas di petani setempat akibat makin berkurangnya kadar organik di perkebunan mereka. “Biasanya gayas menyerang karena di areal itu kadar organiknya makin berkurang akibat pemakaian bahan-bahan kimia seperti pupuk dan pestisida untuk bertani,” kata Kartini. Ketua Bali Organic Assosiation (BOA) tersebut membenarkan bahwa serangan gayas juga terjadi di daerah lain di Bali timur. Karena itu, menurutnya, petani setempat perlu memperbanyak penggunaan bahan organik seperti pupuk kandang untuk bertani. [+++]

Kategori berita : Kabar Anyar, Sekitar Denpasar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 308 views

10th June 2007

Liburan Sepi di Pasar Kumbasari

“Sekarang sepi, Mas. Tidak ada yang lewat ke atas soalnya. Kalau dulu lantai atas masih ada kan ada saja orang lewat,” kata Wayan, penjaga toko kerajinan Hawaii di lantai dua Pasar Kumbasari Denpasar Sabtu kemarin. Wayan pun lebih banyak bersantai di depan toko yang menjual souvenir beraneka ragam itu: ada patung asmat, gantungan kunci, ijuk hiasan, dan lain-lain.

Sekali-kali Wayan membersihkan beberapa jualannya. Satu dua orang yang melintas hanya tersenyum padanya, tidak mampir apalagi membeli jualannya. “Kalau sebelum terbakar, kami bisa lah dapat tiga juta per hari. Sekarang dapat saju juta saja sudah syukur,” lanjut Wayan.

Sore itu Pasar Kumbasari memang lengang. Padahal Juni biasanya musim puncak liburan terutama bagi anak-anak sekolah. Banyaknya orang liburan tentu saja berdampak pada banyak tidaknya jualan yang laku di Kumbasari, pasar souvenir terbesar di Denpasar. Tapi meski musim liburan sudah tiba, suasana Pasar Kumbasari terasa sepi. Hanya ada satu dua turis lokal jalan-jalan. Selebihnya, penjaga toko yang pada melongo.

Terbakarnya Pasar Kumbasari awal Mei lalu jadi penyebab utama sepinya pasar yang terletak di Jl Gajah Mada ini. Sebelum terbakar, Pasar Kumbasari menjual beraneka ragam souvenir di berbagai lantainya. Maka pasar pun hiruk pikuk dengan orang yang lalu lalang memberi barang kenangan. Tapi pasar menjual kenangan itu malah tinggal kenangan bagi pedagang di sana setelah terbakar.

Saat ini memang masih ada toko-toko souvenir di Pasar Kumbasari tapi hanya di lantai dua. Lantai tiga dan empat habis terbakar. Hanya tinggal arang menghitam memenuhi seluruh bagian. Dulu pedagang di lantai dua mungkin yang paling ramai karena lantai ini yang pertama dituju pembeli setelah dari tempat parkir di bagian depan pasar. Kalau ke lantai tiga dan empat, pembeli pasti lewat lantai ini. Kecuali pembelinya bisa terbang ya lain lagi.

Tapi kini tidak ada lagi lantai tiga dan empat. Pembeli yang sekadar jalan di lantai dua pun jarang.

Penjual souvenir di lantai tiga dan empat kini beralih di depan Pasar Kumbasari, pasar kebutuhan pokok yang terpisah kali Badung dengan Pasar Kumbasari. Mereka membuat toko semi permanen. Sebagian pedagang menempati toko yang sama sepanjang jalan masuk Pasar Kumbasari di depan tokoh-toko di lantai dasar.

Toh, meski di pinggir jalan, toko-toko itu juga sepi. Pembeli jarang yang datang. Siang itu, sekitar pukul 14.00 Wita sebagian penunggu toko, yang rata-rata perempuan, malah terlelap di antara deru suara kendaraan. Mungkin bermimpi Pasar Kumbasari segera ramai kembali. [+++]

Kategori berita : Kabar Anyar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 181 views

9th June 2007

Eldah Terangkat Alang-alang

Oleh Anton Muhajir

Di antara hiruk pikuk Jl By Pass Ngurah Rai Sanur Denpasar delapan orang sedang sibuk menganyam rumput alang-alang. Mereka duduk di lantai tanah beralaskan kursi kayu kecil, mengambil segenggam alang-alang keirng, memasukkan di bawah jepitan bambu, lalu melipat pangkal alang-alang kering itu mengikuti panjang bilahan bambu. Tiap selesai satu genggam alang-alang, mereka akan mengambil alang-alang lain yang menggunung di sekeliling mereka. Satu. Dua. Tiga. Tiap genggam alang-alang itu ditata mengikuti bilahan bambu sepanjang tiga meter itu hingga alang-alang itu menjadi bahan yang siap jadi atap.

Kamis sore lalu, sekitar pukul 16.30 Wita, ketika ratusan motor dan mobil melaju pulang ke rumah masing-masing seusai kerja, empat perempuan dan empat laki-laki itu masih tekun menganyam alang-alang kering itu jadi atap siap pakai. Mereka tidak terikat jam kerja, tapi pada sudah gelap atau tidak tempat mereka bekerja.

Mereka bekerja sejak pukul 8 pagi. Tidak perlu berangkat pagi untuk bekerja karena mereka juga tinggal di rumah, mungkin lebih tepat gubuk, berdinding anyaman bambu beratap alang-alang, berlantai tanah, di sebelah tempat kerja. Di atas tanah kontrakan berjarak sekitar 20 meter dari jalan raya itu mereka bekerja sekaligus tinggal bersama beberapa anak balita.

Menurut salah satu pegawai, tiap hari satu pekerja bisa mendapat hingga 30 buah atap alang-alang. Jadi, dalam sehari delapan pekerja itu menghasilkan 240 buah atap alang-alang berukuran panjang 3 x 1 meter persegi tersebut. Harga satu buah atap itu Rp 6000 hingga Rp 7000. Berarti pendapatan kotor dari atap alang-alang ya sekitar Rp 1,4 juta. Tak heran jika bos mereka tinggal duduk santai di tempat kerja lain, sekitar 1 km dari tempat kerja tersebut.

Bos pekerja-pekerja itu, Eldah, memulai bisnis atap alang-alang itu sejak 1996 di sisi Jl By Pass IB Mantra yang ketika itu masih bernama Jl Raya Ketewel. Eldah dan suaminya meninggalkan Lombok Barat, daerah asal mereka, bermodal kemampuan membuat atap alang-alang. Eh, ternyata di Bali mereka bisa membuat usaha itu maju. Bagaimana tidak, dalam sehari saja mereka bisa mendapat penghasilan kotor Rp 1,4 juta. Itu baru dari atap alang-alang. Padahal mereka juga punya usaha membuat bale bengong yang harganya antara Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Di kartu namanya Eldah menulis sebagai The Grass Balinese Alang-Alang. Selain atap alang-alang dan bale bengong, Eldah juga menjual batu koral, pasir, tanah urug, hingga tali ijuk.

Barang-barang yang bagi sebagian orang mungkin tidak berguna itu ternyata laris manis juga. Sore itu di tempat kerjanya di Jl By Pass IB Mantra, Eldah mendapat pesanan membuat bale bengong dari salah satu turis Eropa. “Dia pesan untuk villanya di Nusa Lembongan,” kata Eldah.

Untuk membuat atap alang-alang, Eldah hanya mengandalkan delapan pekerjanya di gudang, demikian dia menyebut tempat kerja lain di Jl By Pass Ngurah Rai. Sedangkan untuk mengerjakan bale bengong dan pemasangan atap alang-alang hingga jadi, dia bekerja sama dengan tukang lain. Mirip kerja outsourcing lah. Membuat bale bengong dan pemasangan atap alang-alang ini memang lebih rumit. “Soalnya bahan bangunannya bambu, jadi lebih rumit. Kalau kayu lebih gampang,” kata Gusti, tukang yang biasa kerja sama dengan Eldah.

Saat ini, pesanan membuat atap alang-alang dan bale bengong di Eldah lebih banyak dari pemilik villa. Pekan lalu itu dia sedang mengerjakan atap alang-alang untuk dua villa di Singaraja, Bali utara. Tak hanya dalam negeri, alang-alang made in Denpasar itu juga diekspor ke Australia, Jepang, dan Arab Saudi. [+++]

Kategori berita : Kabar Anyar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 2 Komentar | 207 views

7th June 2007

In Memoriam of Sekar


Oleh Made Ayu Putri Rasmini

Kisah nyata pengalaman Relawan Sobat mendampingi hingga akhir hayat orang dengan HIV/AIDS (ODHA)

Dering handphone membangunkan saya pagi itu pukul 07.15 Wita. Istina Dewi, Koordinator Sobat, kelompok dukungan sebaya pendorong kepatuhan ODHA untuk terapi antiretroviral (ARV) juga pendukung emosional bagi ODHA, mengirimkan kabar bahwa Sekar (bukan nama sebenarnya) meninggal dunia pagi itu. Saya shock, sebab dua hari lalu dia masih sehat ketika saya dampingi, bahkan sempat makan nasi padang yang dibawakan rekannya, Ikha Widari. ”Ayo, Lan. Temenin aku makan. Aku gak selera kalo makan sendirian,” bujuk perempuan berusia 30an itu sambil memasukkan nasi ke mulutnya. Dia sangat menikmati nasi padang tersebut, meskipun sebenarnya dia tidak boleh makan nasi padang karena masih diare. 

“Aku bosen sama menu rumah sakit, Lan,” ungkapnya sekaligus memberikan jawaban atas aksi mogok makan yang dilakukannya selama beberapa hari di rumah sakit. Tubuhnya makin tak bertenaga melawan penyakit akibat aksi mogok makan itu.Sekar seorang perempuan positif HIV, bahkan sudah pada fase AIDS. Dia telah gagal melawan infeksi oportunistik sebagai dampak menurunnya sistem kekebalan tubuh akibat HIV yang bersarang di tubuhnya. Tidak jelas dari mana dia tertular HIV, karena ada dua perilaku resiko yang dia lakukan. Pertama, dia mantan pecandu narkoba suntik (penasun) atau injectng drugs user (IDU) sehingga sangat mungkin dia tertular HIV melalui pertukaran jarum suntik dengan sesama IDU yang HIV +. Kedua, dia menganut free sex alias suka berganti-ganti pasangan dan tanpa kondom. Hal ini juga memungkinkan dia tertular HIV melalui pertukaran cairan kelamin. 

Dia melalui masa-masa perjuangan yang berat. Sekitar dua bulan terakhir pasca putus obat, kekebalan tubuhnya terus menurun. Dia digerogoti berbagai penyakit seperti batuk, panas-dingin dan diare. Akhirnya pada 28 Mei 2007 malam dia dilarikan ke instalasi gawat darurat Rumah Sakit Sanglah. Setelah menjalani tes diketahui dia menderita TBC dan diare. Makin hari kondisinya makin lemah. Apalagi karena dia mogok makan dan dehidrasi akibat diare berkepanjangan. Pada 3 Mei 2007 dia sesak nafas dan harus dibantu dengan tabung oksigen.Sekar harus mengakhiri perjuangan hidupnya di hari ke-10. Ironisnya, sehari sebelum kematiannya, 6 Juni 2007, ada pemberitahuan dari pihak panitia bahwa abstrak yang ditulis olehnya untuk mengikuti Kongres ODHA dan orang hidup dengan ODHA (OHIDA) II pada 29 Juli - 1 Agustus di Jakarta berhasil lolos seleksi. Dia juga salah satu yang berhasil mendapatkan dukungan beasiswa dari Spiritia untuk mengikuti kongres tersebut. Seharusnya abstrak tersebut dipresentasikan secara lisan olehnya.Sekar sudah memutuskan berhenti minum ARV (putus obat) sejak sepuluh bulan lalu, tanpa meminta pertimbangan siapa pun. Padahal ARV sangat membantu meningkatkan kualitas hidup dan memperpanjang usia ODHA dengan cara menghambat replikasi virusnya sehingga kekebalan tubuh akan meningkat maka ODHA jauh lebih mampu melawan infeksi yang menyerang. Daripada sama sekali tidak terapi ARV, ODHA akan lebih cepat memasuki fase AIDS seperti yang dialami Sekar di mana terjadi infeksi oportunistik.ARV tidaklah seperti obat sakit kepala yang setelah sakit kepala hilang pengobatan dihentikan. ARV harus diminum seumur hidup ODHA. Jika putus obat akan mengakibatkan resistensi sehingga obat tidak lagi berfungsi. Paling parah adalah apa yang dialami Sekar, semua infeksi oprtunistik menyerang.Kepatuhan merupakan tantangan berat bagi ODHA. Bukan sekadar masalah pengingatan minum obatnya, ada banyak alasan mengapa ODHA kesulitan dengan kepatuhan. ARV dipakai seumur hidup ODHA tersebut. Ini menjadi beban materiil, moril, fisik dan mental bagi ODHA. Belum lagi efek samping ARV yang harus dialami ODHA.Sekar sempat memaparkan bahwa dia putus obat karena awalnya dia terkena efek samping ARV jenis efavirenz. Ketika itu dia ingin hamil sedangkan efavirenz yang dia konsumsi memberikan efek samping mengeringkan kandungan sehingga sulit hamil. Setelah konsultasi dengan dokter, Sekar mengganti ARV-nya dengan jenis lain yang lebih memungkinkan dia untuk hamil.Namun, ternyata obat tersebut tidak cocok berinteraksi di dalam tubuhnya sehingga menimbulkan efek samping yang membahayakan jiwanya. Bahkan dia harus dirawat di rumah sakit selama empat hari. Oleh dokter yang menangani, Sekar kemudian dianjurkan berhenti sementara mengonsumsi ARV sampai kesehatannya pulih. Jika pulih, ia kembali dianjurkan dokter mengonsumsi efavirenz lagi. Jadi dia mengurungkan niatnya untuk hamil.Sekar yang salah paham, entah karena komunikasi yang kurang pas, merasa diperlakukan sewenang-wenang. “Kok seenaknya mutusin terapiku, apa tidak mikir kalau terjadi resistensi virus,” katanya jengkel. “Lagian juga aku lihat beberapa teman yang putus obat baik-baik saja,” imbuhnya mencari pembenaran atas keputusannya.Padahal, sebenarnya, pertimbangan dokter pada saat itu adalah jika terapi dilanjutkan maka akan mengancam nyawa Sekar. Sebab obat itu tidak bereaksi dengan baik di dalam tubuhnya sehingga harus segera dihentikan pemakaiannya.Setelah pulih rupanya dia menjadi cuek dan tidak patuh, tidak lagi seantusias dulu menjalani terapi. “Lha wong dokter saja berani mutusin terapiku dan aku baik-baik saja,” tandasnya. Hal ini dia sembunyikan selama sekitar sepuluh bulan lamanya. Hingga suatu ketika saya mengungkapkan kekagetan dan kekhawatiran saya terhadap perubahan pada dirinya. Berat badannya merosot drastis. Dia panas dan batuk berkepanjangan. Pola makannya sangat buruk. “Duh gobloknya aku ikut-ikutan orang lain,” ungkapnya menyesali keputusannya ketika infeksi penyakit kian membombardir tubuhnya.Setidaknya kematian Sekar menjadi sebuah sinyal peringatan bagi ODHA lain yang saat ini berhenti terapi ARV. Maka, ODHA yang belum dan akan memutuskan terapi ini, sebaiknya berpikir matang jika memutuskan untuk ART begitu juga menghentikannya. Hingga saat ini ART merupakan solusi yang paling tepat untuk membantu meningkatkan kualitas hidup dan memperpanjang usia ODHA, tentunya dengan konsekuensi logis bahwa ini dilakukan seumur hidup.“Aku mau makan es krim aja masa gak boleh sih?” pintanya ketika panas badannya menghebat, bulir-bulir keringat menghiasi dahinya. Nampaknya ini permintaan terakhir Sekar sebelum sakratul maut menjemput ajalnya. Suara isak tangis keluarga dan teman-teman almarhumah Sekar membanjiri ruangan jenazah pagi itu. Padahal tinggal selangkah lagi Sekar menuju pelaminan dengan Tony (bukan nama sebenarnya). Tetapi semua itu KANDAS seperti judul tulisan tentang kisah hidup Sekar yang ditulisnya dalam sebuah buku yang akan diterbitkan UNAIDS. Kedua putrinya, Dian dan Ari tak henti-hentinya meratapi jenazah ibunda mereka yang nampak tersenyum dalam pelukan kematian. Tumini, ibunda Sekar sangat menyesal tidak bisa melihat putrinya untuk terakhir kali karena Sekar sendiri yang melarang memberitahu keluarganya. Keluarga dan teman-teman tak henti-hentinya memanjatkan doa, semoga Sekar beristirahat dengan tenang dan diterima disisi-Nya. [+++]

Dedicated to my good buddy, Sekar.

I always remember bout time we had spent and story we had share together.Thank u for the pretty memory you left for me.

Kategori berita : Kabar Anyar, Sosok | Kontributor : Made Putri Ayu Rasmini | 0 Komentar | 220 views

7th June 2007

Lila Bhuwana

Oleh: Darma Putra

Gedung olah raga mewah di sudut barat-laut Stadion Ngurah Rai Denpasar dulunya merupakan pasar senggol yang ramai dan gedung bioskop yang merakyat. Pasar senggol tersebut terkenal dengan nama Lila Bhuwana, sedangkan gedung bioskopnya disebut Lila Bhuwana Theatre.

Lila Bhuwana adalah nama yang indah. Dalam bahasa Bali, ‘lila’ artinya ‘senang’, ‘bhuwana’ artinya ‘dunia atau tempat’. Sesuai dengan namanya, Lila Bhuwana memang merupakan tempat warga urban kota Denpasar tempo doeloe untuk bersenang-senang. Selain Lila Bhuwana, kehidupan malam yang juga menarik waktu itu adalah Suci (pojok utara Jl Diponogoro). Baca selengkapnya »

Kategori berita : Budaya, Denpasar Before & After, Kuliner | Kontributor : Darma Putra | 0 Komentar | 336 views

5th June 2007

Usaha Dimas demi Energi Lebih Murah

Mahalnya harga bahan bakar minyak, membuat Dimas Pamungkas menggunakan briket batu bara sebagai bahan bakar. Dia membuat peralatan lain berbahan bakar sama. Kini dia sampai kewalahan melayani pesanan.

Dimas Bayu Adji Pamungkas menyimpan puluhan kompor rakitannya di salah satu ruangan tempat usahanya di Banjar Padang Sumbu Kaja Kerobokan, Kuta Utara. “Saya belum sempat memasarkan,” katanya. Tiga bulan terakhir, Dimas mengaku sibuk ikut pameran untuk memperkenalkan hasil karyanya, termasuk kompor-kompor itu tadi.

Akhir tahun lalu misalnya, Dimas ikut pameran briket batu bara dan diversifikasi energi di Jakarta. Pameran pertama yang diikuti tersebut punya kenangan tersendiri bagi bapak lima anak itu. Seusai membuka pameran, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sempat berkunjung ke anjungannya dan wawancara selama sekitar 15 menit. “Wah, senangnya luar biasa,” kata Dimas. Setelah itu, pria kelahiran Semarang ini ikut lagi pameran bertema sama di Surabaya. Lagi-lagi banyak pengunjung tertarik dengan hasil karyanya.

Di saat makin tingginya harga bahan bakar minyak (BBM), karya Dimas memang bisa jadi alternatif. Alat yang dibuat sebenarnya tak baru. Misalnya ketel uap, pengering kayu, penyangrai kopi, hingga pengering kain. Dimas hanya memodifikasi alat tersebut dari yang semula menggunakan sumber bahan bakar minyak tanah atau listrik diganti dengan briket batu bara. Suami Dara Mehdia ini mengaku membuat alat tergantung pesanan konsumen.

Konsumen yang masuk daftar tunggu tersebut adalah beberapa pabrik makanan ringan di Jakarta. Mereka minta dibuatkan ketel uap, pengering kacang, dan oven. Ada pula konsumen yang minta dibuatkan kompor, pengering kayu, atau boiler. Selain dari Jakarta, ada pula konsumen dari Palembang, Lampung, Pekanbaru, serta daerah lain di luar Bali. “Konsumen saya kebanyakan dari luar Bali,” ujarnya. Dimas tak mengingat satu per satu alat yang telah dibuatnya. Namun, menurutnya, ketel uap adalah alat yang paling banyak diminta konsumen.

Kebetulan dia sendiri memang menggunakan ketel uap di pabrik garmennya di belakang Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kerobokan. Sejak 2000, Dimas dan istrinya membuka pabrik garmen. Salah satu prosesnya adalah pencelupan dan pengeringan kain. Pada proses pencelupan, air yang digunakan harus direbus dengan minyak tanah agar panas. Demikian pula mesin pengering. Untuk satu alat dia bisa menghabiskan minyak tanah hingga 50 liter per hari. Dengan harga minyak tanah Rp 2000 per liter berarti dia butuh Rp 100.000 per hari. Berarti dia menghabiskan Rp 200.000 per hari untuk pencelup dan pengering.

Ketika harga BBM makin hari main naik, Dimas mencari bahan bakar alternatif. Setelah mencari di internet dia mendapat jawaban untuk menggunakan briket batu bara. Dia pun menghubungi PT Bukit Asam di Gresik. Sayangnya perusahaan pembuat briket batu bara itu juga tak memberi alat untuk menggunakan. Kebiasaan kecil dan remaja yang suka otak-atik mesin di bengkel dilakukannya lagi.

Dimas rajin mencari model alat di buku-buku bekas. Tiap berkunjung ke Jakarta,  Yogyakarta, Surabaya, atau Semarang, dia selalu menyempatkan ubek-ubek buku bekas soal teknik. Dimas pun tak segan fotokopi skripsi mahasiswa. Bahan itu dia dapat dari hasil berburu di pasar loak ataupun internet. Lahirlah mesin pengering sebagai karya pertama yang menggunakan bahan bakar briket batu bara yang dibuatnya bersama tujuh karyawan selama 10 hari. Prinsip dasar alat ini sama dengan mesin pencuci tapi bahan bakarnya briket.

Untuk mengeringkan 200 lembar kain, hanya dibutuhkan waktu tak lebih dari 20 menit. Sebagai bahan bakar, Dimas hanya butuh 9 kg briket batu bara per hari. Dengan harga pasar Rp 1.400, berarti dia hanya butuh Rp 12.600 per hari untuk satu alat. “Jauh lebih murah dibanding minyak tanah,” tegasnya.

Puas dengan hasil itu, Dimas yang lulusan SMA itu pun membuat ketel uap. Alat ini bisa dipakai pabrik tahu, pemasak nasi, maupun makanan kecil. Dimas sendiri membuat ketel uap untuk alat pencelup kain. Prinsip kerjanya dia memanaskan air dari ketel uap kemudian dialirkan ke bak pencelup kain. Bahan bakarnya briket, dari yang sebelumnya minyak tanah.

Biaya pembuatan ketel uap itu, dia menghabiskan duit sekitar Rp 30 juta. “Memang agak mahal di awal, tapi akan jauh lebih murah pada akhirnya,” katanya. Menurut Dimas, saat ini dia perlu briket batu bara 24 kg per hari untuk bahan bakar. Padahal sebelumnya dia perlu hingga 50 liter minyak tanah per hari. Rata-rata, penghematan karena pakai briket itu sampai separuh dari biaya sebelumnya.

Ketel uap inilah yang saat ini paling banyak diminta konsumen. Sebabnya multi-fungsi itu tadi. Di Bali, menurut Dimas, beberapa konsumennya adalah pembuat kue, tahu, atau tempe. Konsumen yang sama juga datang dari luar Bali, bahkan paling banyak. Saat ini sudah ngantri belasn konsumen memesan alat. Untuk satu alat pesanan itu karena ukurannya relatif lebih kecil, harganya sekitar Rp 25 juta. “Konsumen saya memang lebih banyak industri kecil menengah,” kata anak ketujuh dari 10 bersaudara ini.

Toh, Dimas tak hanya melayani permintaan industri kecil menengah. Rumah tangga pun bisa. Untuk itu Dimas juga membuat kompor kecil. Saat ini ada dua jenis kompor briket yang dibuatnya. Bedanya hanya di ukuran. Menurut Dimas, satu kompor hanya butuh dua briket jenis sarang tawon. Hanya dengan dua briket itu, kompor bisa menyala hingga sehari penuh. “Jauh lebih awet,” kata salah satu karyawan UD Swasana Bali, perusahaan milik Dimas dan istrinya.

Berbeda dengan alat lain yang dibuat berdasarkan pesanan, kompor briket sudah dibuat dalam jumlah banyak. Pengguna kompor itu, salah satunya ya anak buah Dimas yang tinggal di perusahaan garmen. Mereka memasak air dengan kompor itu. Apinya memang terlihat biru seperi kompor gas. Menurut Dimas, kompor itu sudah dijual dengan harga Rp 60.000 untuk yang kecil dan Rp 80.000 ukuran besar. Tapi belum banyak di pasar umum.

Untuk memasarkan kompor dan alat lain yang berbahan bakar briket, menurut Dimas, perlu adanya perubahan psikologis dulu. Sebab memang ada beberapa masalah ketika pakai bahan bakar briket. Di antaranya adalah perlu waktu lebih lama untuk menyalakan briket. Kalau pakai minyak tanah langsung menyala, maka briket harus menunggu paling tidak 15 menit agar jadi bara dan bisa dipakai.

Selain itu, ketika pertama kali dibakar briket juga akan mengeluarkan asap hitam. Tapi asap itu akan hilang kalau briket sudah memerah jadi bara. Karena itulah, menurut Dimas, perlu pemahaman dulu dari masyarakat tentang briket sebelum mereka pakai briket batu bara. “Itu yang perlu dilakukan pemerintah,” ujarnya. [+++]
-ini pernah dimuat Media Indonesia sekitar setahun lalu-

Kategori berita : Sosok | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 322 views

4th June 2007

Liputan Eksklusif Wayan Sukarda

-kabar Maret lalu sebenarnya. sayang kalau hanya disimpan-

Oleh Anton Muhajir

Wayan Sukarda menggelar pesta syukuran di rumahnya di Perum Nuansa Udayana Jimbaran Senin (12/3) lalu. Wayan salah satu korban kecelakaan Garuda di Yogyakarta Rabu pekan lalu. Tak hanya selamat, kontributor stasiun TV swasta Lativi dan sejumlah media TV Australia itu pun membuat liputan eksklusif kecelakaan yang menewaskan 22 orang, termasuk empat warga negara Australia tersebut. 

Syukuran itu sederhana. Undangan, hampir seluruhnya wartawan teman Wayan sehari-hari liputan, duduk di kursi plastik di garasi. Makanan disajikan di teras rumah. Ada ikan bakar, ayam goreng, ayam betutu, dan tentu saja babi guling. 

Wayan baru selesai datang dari Pantai Kuta untuk melukat, upacara membersihkan diri setelah mengalami kecelakaan, ketika undangan selesai makan. Masih dengan pakaian adat baju putih dan kamen biru, Wayan bercerita pada teman-temannya, ditemani bir petang itu. 

Sebagai kameraman lepas untuk beberapa TV Australia, Wayan Sukarda bersedia ketika diajak meliput kegiatan Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer di Indonesia pekan lalu. Dia dikontrak stasiun TV Channel 7 selama empat hari. Hari pertama meliput di Semarang. Hari kedua dan ketiga meliput pertemuan kerja sama kontra-terorisme Indonesia-Australia di Jakarta. Hari keempat meliput kunjungan Downer di Yogyakarta untuk bertemu Sultan Hamengkubuwono X dan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin. 

Namun hari terakhir liputan itu jadi musibah bagi Wayan dan 139 penumpang pesawat lain.

Menjelang pesawat mendarat, di tempat duduknya di kursi 25D, Wayan melihat cuaca Yogyakarta dari jendela pesawat. Tidak ada mendung. Langit biru. Cerah. Semua baik-baik saja. Tapi ketika roda menyentuh landasan bandara, pesawat itu terangkat lagi. Menyentuh lagi. Terangkat lagi. “Aku merasakan begitu sampai tiga kali. Saat itu saya berpikir saya pasti mati juga,” kata Wayan. 

Pesawat bergerak kencang, menabrak pembatas bandara, melewati parit, lalu berhenti di tengah areal kebun kacang. Wayan memegang kursi depannya. Bibirnya membentur kursi di depan. Dadanya sesak. Darah keluar dari bibirnya. Asap mengepul dari bagian depan pesawat.. Penumpang panik. Wayan melepas sabuk pengaman lalu menenteng kamera di bawahnya dengan tangan kiri. Barang bawaan penumpang di atas kursi berjatuhan. 

Wayan lari ke belakang mencari pintu keluar. Empat orang di depannya sudah meloncat turun. Wayan empat ragu-ragu ketika hendak meloncat. “Tingginya sampai 1,5 meter sedangkan saya bawa kamera. Takut kalau loncat akan patah kaki saya,” kata Wayan. Tapi teriakan orang-orang di belakangnya membuat Wayan tak punya pilihan. Dia melompat turun. 

Masih dengan kamera di tangan, Wayan berlari menjauhi pesawat. Dia mengambil jarak aman, sekitar 15 meter. “Karena kemungkinan pesawat itu akan meledak,” ujarnya.

Naluri Wayan sebagai wartawan bekerja. Dia menghidupkan kamera Beta Cam miliknya. Namun kamera error. Agak putus asa dia menggoyang-goyang kamera itu. Hidup. Dia pun merekam semua kejadian itu.

Dia merekam pesawat dari yang utuh hingga luluh lantak terbakar. Penumpang keluar berhamburan dari sisi kiri pintu keluar dan pintu darurat. “Saya memang di kiri pesawat ketika itu,” katanya. Lima menit kemudian, api mulai berkobar. Wayan menjauh.

Petugas berdatangan mengevakuasi korban. Ada yang bawa tandu. Ada yang bawa pemadam kebakaran. “Saya melihat orang dengan tubuh melepuh dievakuasi petugas,” lanjutnya.

Wayan beralih ke korban yang tergeletak di sawah. Tubuh korban itu berdarah-darah. Gambarnya memperlihatkan satu pramugari berteriak-teriak minta tolong. Beberapa penumpang yang tidak terluka datang mendekat dan menolong korban itu. Wayan sempat berniat ikut membantu. “Tapi saya memutuskan untuk tetap mengambil gambar saja. Itu adalah pilihan tiap wartawan dalam kondisi seperti itu,” ujarnya.

Sekitar 15 menit di lokasi kejadian, Wayan yang juga biasa bekerja untuk kantor berita Australia ABC dan Channel 10 lari ke rumah sakit Angkatan Udara yang masih satu areal dengan Bandara Adi Sucipto, lokasi kecelakaan Garuda tersebut. Dia ikut mobil petugas yang membawa korban ke rumah sakit.

Sekitar 10 menit di rumah sakit yang dipenuhi korban tersebut, indikator baterei kamera Wayan mulai berkedip-kedip. “Baterei saya habis,” katanya.

Wayan tak ingin melewatkan momen itu tanpa gambar gara-gara baterei habis. Dia telepon beberapa production house di Yogya untuk pinjam baterei. Dia telepon Yogya Multi Media Trainning Centre. Juga tidak ada hasil. “Mereka tidak punya baterei yang saya perlukan. Saya jadi pontang-panting cari baterei,” ujar Wayan. Beruntung dia bisa mendapat baterei itu dari Stasiun TVRI Yogyakarta.

Selesai mendapat gambar dari lokasi kejadian, evakuasi, hingga perawatan di rumah sakit, Wayan baru mengirim gambar itu ke kantor Channel 7 lewat kantor Telkom Kota Baru Yogyakarta. “Selesai feeding, saya baru sadar kalau saya termasuk salah satu korban,” katanya.

Liputan Wayan kemudian muncul hampir di semua TV nasional. Gambar-gambar hasil liputan Wayan jadi satu-satunya liputan paling dekat dengan kejadian itu dari sisi waktu dan jarak. Tapi kini Wayan harus beristirahat untuk memulihkan traumanya. Dadanya masih sakit. Dokter di Bali International Medical Centre (BIMC) yang memeriksanya mengatakan dia harus istirahat hingga lima minggu untuk memulihkan kondisi psikis dan fisik.

“Apa yang saya dapat (dengan gambar tersebut) tidak bisa mengembalikan beban psikis saya. Kalau bisa memilih, saya memilih tidak mengalami kecelakaan itu,” ujarnya. [***]

Kategori berita : Sekitar Denpasar, Sosok | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 1 Komentar | 252 views

eXTReMe Tracker