• Bale Bengong

  • Peluncuran Buku Kumpulan Puisi ā€œImpian Usaiā€

18th September 2007

Peluncuran Buku Kumpulan Puisi ā€œImpian Usaiā€

Oleh Wayan Sunarta

Memiliki buku kumpulan puisi yang menarik dari segi perwajahan dan isi merupakan impian setiap penyair, termasuk saya. Impian Usai yang diterbitkan oleh Kubu Sastra, Denpasar, pada Agustus 2007 ini merupakan buku kumpulan puisi kedua saya, setelah buku puisi Pada Lingkar Putingmu (Bukupop, Jakarta, 2005). Impian Usai mengalami proses penerbitan yang berliku-liku dan melelahkan. Sejumlah penerbit, dari yang besar sampai kecil, telah menolak manuskrip buku ini dengan alasan yang sama, yakni persoalan pasar!

Secara umum, beberapa tahun terakhir ini, dunia penerbitan menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang luar biasa dari segi kuantitas. Pasar buku di Indonesia dibanjiri oleh buku-buku yang beraneka, termasuk juga buku-buku sastra. Masyarakat juga menunjukkan rasa dahaga yang begitu mendalam terhadap kehadiran buku-buku bermutu dengan harga yang bisa dijangkau. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Budaya, Buku, Kabar Anyar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 4 Komentar | 974 views

18th September 2007

Pertemuan dengan Puisi

Oleh Wayan Sunarta

Bagi saya, puisi merupakan suatu wilayah sunyi dan sublim di mana saya bisa belajar tentang banyak hal, terutama perihal kehidupan dan keindahan dalam maknanya yang tak terbatas. Mencipta puisi merupakan usaha menyusun pecahan-pecahan kaca menjadi cermin diri, dari mana saya kemudian mencoba mengenali kembali kepingan-kepingan jiwa dan kenangan yang hilang, juga arah perjalanan hidup yang tidak akan pernah saya tahu akhirnya. Di dalam puisi, saya mengalami proses yang saya yakini mengarah pada penemuan jati diri.

Ketertarikan saya pada puisi bermula ketika saya masih duduk di bangku kelas dua SMPN 8 Denpasar, tahun 1990. Masih membekas dalam ingatan, bagaimana pada jam-jam istirahat saya suka menyelinap ke perpustakaan sekolah. Sebab uang bekal di saku jauh dari cukup untuk sekadar membeli semangkok bakso yang saat itu merupakan makanan mewah bagi saya. Sebagai penghibur rasa lapar, saya cukup puas ā€œmelahapā€ lembar demi lembar buku yang saya sukai (biasanya kumpulan cerpen atau novel) hingga bel pelajaran kembali berdentang. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Budaya, Buku, Sosok | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 1 Komentar | 602 views

eXTReMe Tracker