26th
September
2007
Oleh Luh De Suriyani
Buka puasa dengan ayam betutu? Sebenarnya ini bukan pilihan saya, tapi suami yang doyan pedas. Beberapa hari ini ia terus menunjukkan nafsunya untuk mencoba ayam kampung berkuah super pedas ini. Karena itu saya dengan setengah rela hati mengiyakan ajakannya untuk buka puasa di warung makan Be Tutu Gilimanuk di Jalan Merdeka, Renon, Denpasar Jumat pekan lalu.
Sesampai di warung makan, seorang petugas menyambut dengan menyodorkan kertas menu. Saya persilakan pramusaji itu meninggalkan saya sebentar karena saya mau menyimak menu dulu. Eh, nona pramusaji ini abai saja, dan terus nyanggongin saya. Oke deh, barangkali dia lagi capek duduk dan ingin berdiri di samping pembelinya. Baca selengkapnya »
Kategori berita : Jalan-Jalan, Kuliner, Budaya | Kontributor : Luh De Suriyani | | 354 Views
26th
September
2007
Sumber: Bali Post Online
KembaliĀ kasus kasepekang terjadi. Seorang warga Kedungu, Kediri, Tabanan dikeluarkan (kasepekang) dari banjar gara-gara menggantung kursi plastik dekat Padmasana Balai Banjar Kedunggu. Kalau ingin mabanjar kembali, diputuskan ia harus membayar Rp 200 juta selama dua tahun. Selain itu, ia harus berhadapan dengan hukum karena dilaporkan telah menodai tempat suci. Warga lain juga dilarang untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Jika ketahuan didenda Rp 500 ribu.
Ada apa dengan adat Bali? Haruskah krama Bali yang notabene beragama Hindu diberikan sanksi dengan nilai mencapai Rp 200 juta? Bahkan, tidak boleh berkomunikasi dengan warga di sekitarnya? Sungguh ironis. Antara adat dan budaya seharusnya semuanya berdasarkan ajaran agama Hindu, namun ternyata memang sangat banyak aturan adat yang melenceng dari ajaran Hindu sendiri, sehingga ini sangat memberatkan krama banjar. Baca selengkapnya »
Kategori berita : Sekitar Denpasar, Budaya, Kabar Anyar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 415 Views