24th
October
2007
Oleh Wibisono Sastrodiwiryo
Dr Djelantik yang lebih dikenal sebagai budayawan dan dokter tidak menyurutkan minat dan perhatian masyarakat tentang visi kebangsaannya. Peran apa yang beliau mainkan dimasa perjuangan? Apa pandangan politiknya? Benarkah beliau pernah menerima surat dari Pahlawan Kemerdekaan IG Ngurah Rai? Pertanyaan pertanyaan yang menjadi penting setelah kepergiannya.Terlebih lagi setelah adanya rencana perubahan nama RSUP Sanglah Denpasar menjadi RSUP Dr Djelantik. Dalam obituari-obituari di media digital banyak disebut jasa jasa beliau. Seiring dengan dimuatnya tulisan tulisan tersebut juga menuai tanggapan yang mempertanyakan visi kebangsaannya.
Bahkan ada yang secara lugas mengatakan bahwa visi kebangsaan Dr Djelantik sama dengan AA Gde Agung yang secara terang terangan memihak Belanda. Ini sangat mengejutkan. Saya tahu siapa AA Gde Agung dari Soegianto Sastrodiwiryo yang mendapat cerita dari ayahnya yang kebetulan seorang pejuang menceritakan bagaimana para pejuang melempari batu Puri Gianyar karena menolak kemerdekaan RI.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Sosok, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 568 Views
24th
October
2007
Sumber: Bali Post
TOKOH agama Hindu dan pendidikan di Bali, Prof Dr. I Gusti Ngurah Gorda, M.S., berpulang, Selasa (23/10) kemarin. Gorda bukan hanya milik Undiknas, melainkan milik masyarakat Bali.
Dia dikenal ahli dalam bidang ilmu manajemen-ekonomi, namun juga dikenal membumikan manajemen berbasis Hindu. Makanya hampir tiap ceramahnya di acara Dharma Wacana di Bali TV dan di seminar-seminar akademik selalu bernuansa manajemen Hindu.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Opini, Sosok, Kabar Anyar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 191 Views
24th
October
2007
Oleh Ni Komang Erviani
A dozen beautiful girls danced together in the courtyard of Payogan Agung Temple in Ketewel village, Sukawati, near Ubud in Gianyar in early October.
The dancers were dressed in gold with crown-like headdresses adorned with fresh flowers. Other girls wearing similar costumes sat patiently in a corner of the temple waiting for their turn to perform.
Ni Kadek Dewi Puspayanti and the other girls are members of a legong troupe that was not formed to entertain tourists or dance enthusiasts but to serve in life cycle rites, ceremonies and celebrations. The troupe was rehearsing for the opening and closing ceremonies of the Payogan Agung Temple celebration.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Sekitar Denpasar, Jalan-Jalan, Budaya | Kontributor : Ni Komang Erviani | | 670 Views