Mengapa Kami yang Harus Jadi Korban?
(Suara-suara Terpinggirkan)
Oleh Agung Wardana
Petani Bali adalah petani yang menggunakan siklus alam dalam pola pertaniannya. Sejak turun temurun, para leluhur telah menurunkan kearifannya seperti sasih (bulan) yang merupakan perhitungan-perhitungan tradisional atas siklus alam, cuaca maupun curah hujan, menjadi panduan bagai para petani Bali untuk bercocok tanam.
Namun tiga tahun belakangan ini, para petani banyak yang mengalami kebingungan. Karena perhitungan sasih tidak tepat lagi seperti sebelumnya. Dengan rasa kebingungan dan tuntutan untuk bertahan hidup, patani Bali tetap bercocok tanam ditengah ketidakmenentuan cuaca. Alhasil, mereka mengalami penurunan hasil produksi hingga ada yang sampai gagal panen.
Kategori berita : Opini, Teknologi, Sekitar Denpasar, Kabar Anyar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 1 Komentar | 180 Views
Hari minggu kemarin saya menghadiri silaturahmi keluarga muslim Bali se Jabodetabek. Acara ini terakhir kali diadakan tahun 2003 di TMII. Silaturahmi ini punya riwayat panjang sejak tahun 80an.


