25th
November
2007
Dari Press Release
Pertunjukan dan Pameran Seni Rupa
GWK (Global Warming Kunstkamera) “Global Warning - Local Warming”
Pameran ini merupakan salah satu bentuk aspirasi dan apresiasi seniman dalam menyemarakkan United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Bali pada bulan Desember 2007. Kami mengundang partisipasi dari rekan-rekan perupa untuk mengikutsertakan 1 – 3 buah karya seni rupa (berbagai medium) dalam sebuah enent pameran bertema “GLOBAL WARNING - LOCAL WARMING”.
Tema pameran ini mengemban isu pemanasan global (Global Warming) sebagai isu yang terkesan elitis dan beredar dalam wacana politik global tingkat tinggi ke dalam persoalan-persoalan yang dekat dengan situasi lokal.
Isu lokal dalam hal ini bisa didekati dalam berbagai macam pendekatan. Bumi, baik dari sisi spiritual maupun mitologi yang kerap digambarkan sebagai ibu. Maulana Rumi dalam sekuplet syairnya mengibaratkan langit adalah bapak dan bumi adalah ibu. Sementara mitologi Yunani tegas menunjukkan bahwa bumi adalah jelmaan seorang dewi bernama Dewi Ghalia dan disanggah Dewa Atlas. Memori yang sama masih bisa dilacak dalam tradisi lisan masyarakat lokal kita. Dalam dongeng rakyat di Bali muncul sosok bernama Ibu Partiwi yang kemudian menegaskan sebutan feminin untuk tanah air. Sementara di Jawa ada sosok Dewi Sri yang hidup dalam pemujaan petani-petani desa sebagai Dewi Kesuburan yang memberi kemakmuran bagi mereka.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Agenda, Budaya, Kabar Anyar, Sekitar Denpasar, Teknologi | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 668 views
24th
November
2007
Sumber Press Release
Konferensi Persatuan Bangsa-Bangsa tentang Kerangka Perubahan Iklim atau United Nation Framework Convention for Climate Change (UNFCCC) di Nusa Dua Bali nanti tidak lebih hanya forum seremonial untuk meneguhkan dominasi negara-negara maju terhadap negara berkembang. Karena itu, Indonesia pun tidak memiliki banyak pilihan untuk bersikap. “Pemerintah Indonesia terlalu pragmatis,” kata Tori Kuswardono, Koordinator Kampanye Climate Change Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) di Denpasar hari ini.
Tori menyampaikan hal tersebut pada workshop Meliput Isu Perubahan Iklim yang diadakan Walhi Bali, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar, dan Sloka Institute. Workshop yang diikuti sekitar 20 wartawan media lokal dan nasional tersebut diadakan di Desa Budaya Kertalangu Denpasar Timur.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Agenda, Kabar Anyar, Teknologi | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 448 views
24th
November
2007
Oleh Yahya Anshori
Secara umum sosok perempuan Bali bisa digambarkan sebagai pribadi yang ulet, bertangungjawab pada keluarga dan mampu menjaga tradisi budaya masyarakat Bali. Pada era 1920-1930-an, perempuan Bali memprotes keras agar foto perempuan Bali bertelanjang dada yang dipasang pada post card untuk promosi wisata ditarik dari peredaran. Kala itu, gambar molek perempuan Bali dengan buah dada terbuka memang mampu membetot perhatian turis asing datang ke Bali.
Perempuan Bali juga memprotes ketidakadilan gender yang menimpa kaumnya, mendorong kaumnya untuk belajar meningkatkan kecerdasan diri sehingga tidak diremehkan dari kehidupan sosial. Mereka berharap agar kaumnya tetap menjaga tradisi, walaupun ia telah menjalani kehidupan modern seperti generasi I Goesti Ajoe Amba dari Bali Utara yang dikenal terpelajar, bisa menyetir mobil, bermain tenis, berpakaian modern dan bisa berbahasa Belanda. Kendati ia menjalani hidup modern, perempuan terpelajar di zaman Belanda ini dinilai sebagai sosok yang masih tetap menjalankan tradisi Hindu Bali (Darma Putra, 2007: 58).
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Budaya, Opini, Sekitar Denpasar | Kontributor : Yahya Anshori | | 602 views
24th
November
2007
Oleh Anton Muhajir
Minggu lalu saya bekerja membantu panitia Joint Convention Bali (JCB) 2007. Lembaga kami Sloka Institute yang bergerak di bidang pengembangan media, jurnalisme, dan informasi membuat media internal untuk konvensi gabungan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) – Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) – Ikatan Ahli Pertambangan Minyak Indonesia (IATMI) tersebut.
Selama empat hari (Senin-Kamis), saya dan dua teman lain pun harus bolak-balik Denpasar – Nusa Dua karena konvensi itu dilaksanakan di Bali International Convention Center (BICC) Nusa Dua sedangkan cetak media internal itu harus di percetakan Temprina milik Jawa Pos di Denpasar.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Opini, Sekitar Denpasar, Teknologi | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 220 views
23rd
November
2007
Oleh I Nengah Subadra
Kerusakan hutan tropis yang terjadi di berbagai negara di dunia semakin meningkat dari tahun ke tahun dan bahkan dalam dua atau tiga decade yang akan datang diperkirakan akan mengalami ancaman kepunahan yang disebabkan karena penebangan liar (illegal logging), pengalihan fungsi lahan, eksploitasi hutan yang berlebihan, dan lain-lain. Sehingga pada awal tahun 1990-an para ahli lingkungan dari seluruh dunia mengadakan pertemuan di Rio de Jenero, Brasil yang pada intinya membahas mengenai langkah dan strategi yang harus dilakukan untuk melestarikan alam termasuk juga upaya mengurangi laju kerusakan atau penyelamatan hutan tropis tersebut.
Di Indonesia, laju kerusakan hutan mencapai 2,8 juta hektar per tahun dari total luas hutan yaitu seluas 120 juta hektar yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Dari total luas hutan tersebut, sekitar 57 sampai 60 juta hektar sudah mengalami degradasi dan kerusakan sehingga sekarang ini Indonesia hanya memiliki hutan yang dalam keadaan baik kira-kira seluas 50% dari total luas yang ada. Kondisi semacam ini apabila tidak disikapi dengan arif dan segera dilakukan upaya-upaya penyelamatan oleh pemerintah dan seluruh warga negara Indonesia maka dalam jangka waktu dua dasawarsa Indonesia akan sudah tidak memiliki hutan lagi (Mangrove Information Center, 2006).
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Opini, Teknologi | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 2,783 views
22nd
November
2007
Sumber Press Release
Koalisi Masyarakat Sipil Bali akan gelar Parade Budaya untuk Keadilan Iklim. Parade yang akan digelar pada Sabtu (8/12/07) itu menampilkan berbagai bentuk kesenian dari tradisional hingga rock and roll. Parade itu diharapkan bisa memberi suara alternatif di tengah gegap gempita Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Nusa Dua, Bali pada 3-14 Desember nanti.
Menurut Direktur Eksekutif Daerah Walhi Bali Ni Nyoman Sri Widiyanti, kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk menyuarakan aspirasi masyarakat Bali terkait isu yang akan dibahas sekitar 10.000 hingga 15.000 orang itu. Konferensi itu sendiri akan diikuti sekitar perwakilan pemerintah dan swasta dari 180 negara untuk membahas isu paling hangat saat ini yaitu perubahan iklim.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Agenda, Budaya, Kabar Anyar, Teknologi | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 223 views
21st
November
2007
Oleh dr Made Cock Wirawan
Selasa, 13 November 2007, lalu saya mengikuti rapat pemantapan persiapan tim kesehatan dalam rangka menyambut Konferensi PBB tentang perubahan iklim (UN FCCC) di Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Konferensi yang akan berlangsung di Nusa Dua Bali dari tanggal 3 sampai 14 Desember 2007 ini menurut rencana akan dihadiri oleh lima kepala pemerintahan, 40 pejabat setingkat menteri dan lebih dari 15.000 delegasi pendukung dari 189 negara. Untuk menyukseskan even terbesar yang pernah diadakan di Bali ini maka semua sektor yang terkait mulai sejak dini sudah mempersiapkan diri termasuk sektor kesehatan.
Dinas Kesehatan Provinsi Bali sebagai kepanjangan tangan Departemen Kesehatan RI juga tidak mau ketinggalan untuk ambil bagian pada even akbar tersebut. Hampir seluruh jejaring kesehatan yang ada di Bali, baik swasta maupun pemerintah sengaja dilibatkan. Berkenaan dengan maksud tersebut, saya selaku wakil dari Rumah Sakit Umum (RSU) Sari Dharma Denpasar juga diundang untuk mengikuti rapat pemantapan persiapan yang pagi ini sudah kali kedua dilaksanakan. Kepala Dinas Kesehatan Bali, dr. Dewa Oka berkenan untuk membuka rapat sekaligus memimpin diskusi.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Agenda, Kabar Anyar, Opini | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 248 views
20th
November
2007
(Suara-suara Terpinggirkan)
Oleh Agung Wardana
Petani Bali adalah petani yang menggunakan siklus alam dalam pola pertaniannya. Sejak turun temurun, para leluhur telah menurunkan kearifannya seperti sasih (bulan) yang merupakan perhitungan-perhitungan tradisional atas siklus alam, cuaca maupun curah hujan, menjadi panduan bagai para petani Bali untuk bercocok tanam.
Namun tiga tahun belakangan ini, para petani banyak yang mengalami kebingungan. Karena perhitungan sasih tidak tepat lagi seperti sebelumnya. Dengan rasa kebingungan dan tuntutan untuk bertahan hidup, patani Bali tetap bercocok tanam ditengah ketidakmenentuan cuaca. Alhasil, mereka mengalami penurunan hasil produksi hingga ada yang sampai gagal panen.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Kabar Anyar, Opini, Sekitar Denpasar, Teknologi | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 198 views
20th
November
2007
Oleh Wibisono Sastrodiwiryo
Hari minggu kemarin saya menghadiri silaturahmi keluarga muslim Bali se Jabodetabek. Acara ini terakhir kali diadakan tahun 2003 di TMII. Silaturahmi ini punya riwayat panjang sejak tahun 80an.
Pertengahan 80an pengurusnya vakum karena anggota yang menggiatkan acara ini meninggal dunia. Kemudian kepengurusan diketuai oleh Abdullah Baharmus dan beberapa kali acara sempat diadakan walaupun tidak secara rutin.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Agenda, Budaya, Kabar Anyar, Sekitar Denpasar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 427 views
19th
November
2007
Oleh I Nyoman Winata
Bebotoh secara umum adalah sebutan untuk mereka yang mencari kerja dari tajen. Kalau dulu sebutan bebotoh tidak punya konotosi positif sedikitpun. Pokoknya bebotoh adalah sesuatu yang jelek. Bebotoh bahkan bisa disamakan dengan kriminil. Kalau punya orang tua atau saudara sebagai bebotoh kita akan malu. Masyarakat memberi cap jelek kepada mereka yang disebut bebotoh. Mereka yang disebut bebotoh juga malu memunculkan dirinya ke permukaan. Apalagi sampai dengan terbuka menyebut diri bebotoh, jelas tidak mungkin. Itu dulu…
Kini bebotoh tidak selalu berkonotasi negatif. Masyarakat tidak lagi selalu mencap jelek bebotoh. Mereka yang menjadi bebotoh sudah mulai bisa diterima ditengah-tengah masyarakat. Menjadi bebotoh juga tidak lagi memalukan. Bahkan kini, bebotoh berani dengan tegas terbuka menyatakan diri sebagai bebotoh. Tidak ada rasa malu apalagi takut disebut bebotoh. Terbukti dengan seringnya ada demonstrasi dari para bebotoh terutama pada saat-saat tajen dilarang.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Budaya, Opini | Kontributor : I Nyoman Winata | | 237 views