12th November 2007

Global Warming dan Terumbu Karang

Oleh Marthen Welly/The Nature Conservancy

Akhir-akhir ini pembicaraan mengenai pemanasan global (global warming) yang mengakibatkan perubahan iklim (climate change) kian ramai dibicarakan dan menjadi pusat perhatian dunia. Terlebih lagi, pada bulan Desember yang akan datang, perhelatan tingkat dunia mengenai perubahan iklim akan diadakan di Bali dibawah koodinasi perserikatan bangsa-bangsa. Pertemuan akbar yang disebut COP-13 United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) akan dihadiri kurang lebih perwakilan pemerintahan 120 negara dan sekitar 10.000 peserta.

Pada intinya agenda utama UNFCCC adalah mempersiapkan bumi kita ini agar dapat mengurangi pemanasan global dan mengatasi dampaknya. Beberapa isu utama yang akan dibahas seperti kerusakan hutan,perdagangan karbon, dan penerapan protokol Kyoto . Sejauh ini hutan dipercaya sebagai paru-paru dunia yang dapat mengikat emisi karbon yang dilepaskan ke udara oleh pabrik-pabrik industri, kendaraan bermotor, kebakaran hutan, asap rokok dan banyak lagi sumber-sumber emisi karbon lainnya, sehingga dapat mengurangi dampak pemanasan global.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Agenda, Kabar Anyar, Opini, Teknologi | Kontributor : Marthen Welly | 2 Komentar | 803 views

11th November 2007

Perluasan Bandara Ngurah Rai, antara Impian dan Kenyataan

Oleh Marthen Welly

SEJAK didirikan Bandara Ngurah Rai telah menuai kritik, karena landasan pacunya yang sebagian didirikan dengan mereklamasi laut di wilayah Tuban, Bali Selatan itu ditunding sebagai salah satu penyebab terjadinya abrasi yang cukup parah di pantai Kuta. Akibat landasan pacu yang menjorok ke laut, sehingga arah arus yang semula dapat mencapai bibir pantai Tuban, berbelok arah membentur pantai Kuta sehingga menyebabkan abrasi.

Beberapa hal perlu dikaji apakah perluasan Bandara Ngurah Rai lebih banyak memberi manfaat buat Bali atau justru banyak menimbulkan masalah. Grand design pariwisata Bali jangka panjang pun sangat erat terkait dengan kebutuhan lapangan terbang yang memadai, aman, dan modern. Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah, apakah saat ini Bandara Internasional Ngurah Rai sudah tidak mampu lagi mengakomodasi pesawat-pesawat yang datang membawa para turis baik domestik maupun mancanegara? Lantas apakah kapasitas daya dukung lingkungan di Bali siap jika proyeksi kedatangan para turis ke Bali akan ditingkatkan dua kali lipat dari katakanlah 5.000 orang turis per hari menjadi 10.000 orang turis per hari dalam kurun waktu 5-10 tahun mendatang misalnya?

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Budaya, Opini, Teknologi | Kontributor : Marthen Welly | 0 Komentar | 323 views

10th November 2007

Pembantaian November Kelabu

Oleh Wibisono Sastrodiwiryo

Bali bulan November tahun 1965 adalah masa masa awal pembantaian terbesar abad 20. Bahkan tidak ditemukan proporsi yang lebih tajam dari pembantaian ini sepanjang sejarah bangsa Indonesia atau bahkan Asia Tenggara. Proporsi yang meliputi besarnya jumlah korban dalam kecilnya wilayah pulau Bali dan dalam tempo pembantaian yang sangat singkat.

Tidak ada yang tahu pasti berapa jumlah korban pembataian itu, khususnya di Bali yang memang secara proporsi paling besar. Perkiraan jumlah yang paling rendah adalah 40.000 dan tertinggi adalah 100.000. Soe Hok Gie memberikan angka 80.000 sebagai perkiraan yang paling konservatif. Pembantaian yang begitu besar itu terjadi hanya dalam kurun waktu minggu saja.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Budaya, Opini | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 3 Komentar | 467 views

9th November 2007

NakNik Community, Merayakan Keberanian dengan Teater

Oleh Anton Muhajir

Sepuluh mangkok bakso, dua piring siomay, dan satu mangkuk mie ayam seperti jadi pelengkap kegembiraan kami Minggu malam, pukul 20.00 Wita, lalu. Dengan lahap anak-anak menyantap menu kaki lima di pusat kaki lima Renon Denpasar tersebut. Tiga lagu dari pengamen, yang semuanya mereka ikuti, menambah perayaan malam itu.

Kami pantas merayakan malam itu. Sebab kami sudah melewatinya, meski tidak sukses-sukses amat. “Yang penting kami sudah tampil,” kata Gede Santika, salah satu dari 11 anak itu. Mereka memang bisa melewatinya. Dan itu sebuah modal awal.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Agenda, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 1 Komentar | 228 views

9th November 2007

Dokar di Denpasar Kian Terpinggirkan

Oleh Swastinah Atmodjo

Siang itu di perempatan Jalan Kartini, Denpasar, Moh. Kusnan, 65, sedang asyik berbincang dengan dua rekannya Dewa Ngurah dan Wayan Pinen. Ketiganya adalah pemilik sekaligus kusir dokar, moda angkutan tradisional yang ditarik dengan kuda.

Bertiga setengah malas memperbincangkan sepinya penumpang. Saat sekarang, kata Kusnan, penumpang dokar hanyalah sebagian kecil dari pedagang maupun pembeli di pasar-pasar tradisional. ”Sedikit sekali sekarang yang mau memanfaatkan jasa angkutan dokar,” keluhnya.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Budaya, Jalan-Jalan, Kabar Anyar, Teknologi | Kontributor : Swastinah Atmodjo | 1 Komentar | 288 views

8th November 2007

Mengenang Classic Rock Bersama BCRC

Oleh Swastinah Atmodjo

Memperbincangkan classic rock (CR), akan muncul kesan sekelompok lelaki gondrong, penuh tato dan wajahnya serem. Pun ketika membayangkan sebuah komunitas penggemar CR di Bali yang dinamai Bali Classic Rock Community (BCRC).

Tapi ternyata tidak, Putu Indrawan—koordinator BCRC, contohnya. Ia adalah sosok yang bersahaja dengan gaya busana seenaknya. Rambutnya juga dibabat habis sehingga lenyaplah kesan angker yang dulu melekat padanya. Lelaki yang kini membuka warung makan ini merupakan salah satu personel Harley Angels, satu grup musik rock asal Bali yang menjuarai Indonesian Rock Festival perdana besutan Log Zhelebour di Surabaya tahun 1984.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Budaya | Kontributor : Swastinah Atmodjo | 2 Komentar | 369 views

7th November 2007

Detoksifikasi yang Tidak Ada Akhir

Oleh Yusuf Rey Noldy

Detoksifkasi secara garis besar dalam pengertiannya adalah proses pemulihan dari ketergantungan narkoba baik tanpa menggunakan obat ataupun menggunakan obat. Dalam perkembangan jaman saat ini ada beberapa banyak pilihan macam obat yang dipakai untuk membantu dalam proses detoksifikasi yang dijalakukan oleh pengguna narkoba, salah satu diantaranya yang saat ini banyak dipakai oleh pengguna narkoba suntik (penasun) adalah buprenorfin atau yang dikenal dengan nama Subutex. Pil ini dikonsumsi dengan cara sub-lingual, dilarutkan di bawah lidah pemakainya.

Saat ini hampir sebagian besar penasun beralih penggunaan dari pemakaian heroin atau yang dikenal putaw ke Subutex. Selain harga yang relatif terjangkau dibanding harga putaw yang harus dibeli penasun seharga Rp 150.000 per paketnya dengan Subutex cukup dengan Rp 25.000 sudah bisa menutupi rasa sakit karena tidak menggunakan putaw. Murah memang tapi di balik murahnya harga Subutex tersebut menyimpan masalah baru.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Teknologi | Kontributor : Yusuf Rey Noldy | 1 Komentar | 537 views

6th November 2007

Kompas Gramedia Fair 2007

Dikirim Swastinah Atmodjo

Kompas Gramedia Fair sebagai salah satu kegiatan dalam rangka memperingati berdirinya Gramedia Penerbitan. Kegiatan ini ditujukan sebagai sarana open house Kelompok Kompas Gramedia (KKG), dan merupakan sebuah “sinergi” dengan perusahaan daerah setempat untuk menampilkan beraneka ragam produk yang berkaitan dengan perbukuan, jasa percetakan, jasa akomodasi, sarana pendidikan dan lembaga-lembaga yang corcern terhadap upaya pencerdasan dan kemajuan bangsa.

Sebagai penutup rangkaian acara Kompas  Gramedia Fair di tahun 2007, tempat yang dipilih adalah di Denpasar Bali, yang penyelenggaraannya akan dilaksanakan pada tanggal  5- 9 Desember 2007 (5 hari) bertempat di Taman Budaya Denpasar.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Agenda, Budaya, Kabar Anyar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 4 Komentar | 711 views

6th November 2007

Ironi Konferensi Perubahan Iklim di Bali

Oleh Anton Muhajir

Desember nanti, Bali akan dipenuhi 10 ribu hingga 15 ribu orang. Ribuan orang: aktivis LSM, pejabat, penjahat (lingkungan), menteri, sampai presiden dari 180 negara akan tumplek blek di Nusa Dua, bagian selatan Bali. United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) alias Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim itu akan berpusat di Bali International Convention Centre (BICC) Nusa Dua, sekitar 20 km selatan Denpasar.

Banyak suka cita, terutama masyarakat Bali. Ini ibarat rezeki nomplok karena konferensi besar itu akan jadi promosi gratis buat pariwisata Bali. Ya, tentu saja. 10 ribu orang tidaklah sedikit. Apalagi isu pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (climate change) sedang laris manis jadi wacana global. Maka, itu tadi, Bali pun akan mendapat imbas pencitraan.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Agenda, Kabar Anyar, Opini, Teknologi | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 2 Komentar | 575 views

5th November 2007

Mencari Jejak Dampak Perubahan Iklim di Bali

Oleh Anton Muhajir

Tulisan ini sebenarnya bahan laporan saya untuk persiapan field trip wartawan peliput Konferensi tentang Perubahan Iklim di Nusa Dua Desember nanti. Melalui teman di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, seorang teman dari Internews Bangkok minta tolong saya untuk cari lokasi field trip yang nyambung dengan dampak perubahan iklim di Bali.

Ada empat syarat: 1) sesuatu yang khas Bali, 2) relevan dengan isu perubahan iklim, 3) ada narasumber untuk isu tersebut, dan 4) mudah dijangkau.

Dari hasil diskusi Kamis dua pekan lalu di Kuta, kami memilih tiga calon tempat: Jatuluwih, Serangan, dan Tenganan yang akan dikunjungi sekitar 30 wartawan dari Asia Tenggara dan Asia Selatan itu. Sebenarnya saya berpikir tentang kerusakan Pantai Lebih di Gianyar dan Padanggalak, Sanur. Tapi karena saya tidak tahu narasumber di dua lokasi itu dan setahu saya belum ada analisis khusus tentang kerusakan di sana, jadi ya abaikan saja. Kami diskusi saja tentang Jatiluwih, Serangan, dan Tenganan.

Tugas saya melakukan survei awal ke tiga tempat itu, menentukan narasumber, dan membuat rencana teknis pas hari H 8 Desember nanti. Dan, inilah laporan perjalanan melelahkan mencari jejak dampak perubahan iklim di Bali itu.

Jatiluwih, Tabanan

Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, sekitar 60 km utara Denpasar, jadi pilihan untuk lokasi field trip karena di tempat ini bisa jadi adalah sawah dengan terasering terbagus di Bali. Sawah seluas 303 hektar itu berbentuk naik turun sehingga seperti undak-undakan. Mirip karpet hijau dengan gelombang di banyak bagian. Subak, sebagai sebuah kelompok maupun sistem irigasi tradisional, membuat kondisi sawah di sini masih relatif bagus.

Namun, entah berhubungan langsung atau hanya dua fakta yang terpisah namun terjadi bersamaan, perubahan iklim (climate change) memang berdampak juga hingga di sini. Wayan Sukabuana, salah satu petani di Jatiluwih mengaku tiga tahun terakhir kondisi di sana makin berubah. “Sumber air banyak yang berkurang alirannya,” kata petani yang juga bendesa adat di Jatiluwih ini. Wayan menyebut dua contoh, Subak Candi Kuning dan Subak Tukad Yeh Pusih.

Bahkan, lanjutnya, kadang aliran air sampai berhenti ke sebagian sawah. Akibatnya, sawah pun kering. Sukabuana mengaku dari 40 are sawah miliknya, sekitar 39 are gagal panen akibat kekurangan air.

Ketika aku berkunjung ke sana, ada sebagian sawah yang memang mengering. Seorang petani perempuan tua sedang memetik tomat pemilik tanah mengering meski di bagian rendah itu. Tidak jauh darinya, sebagian padi di sawah mengering. “Dirusak tikus,” katanya.

Banyak padi yang mati. Padahal menurut Wayan Sumiata, petani lain di sana, hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya.

Kekurangan air itu, kata Wayan, berdampak hingga kurangnya air yang biasa digunakan warga sehari-hari untuk minum, mandi, atau memelihara terbak. Warga yang biasanya mendapat air itu dari sumber air lewat pipa kini harus mengambil air dari tukad (sungai) dan telabah (telaga).

Penyebabnya? Keduanya diam cukup lama. Hutan masih hijau. Sebab meski tidak ada aturan adat yang melarang penebangan hutan, namun tidak banyak warga yang menebang hutan. “Mungkin pengaruh proyek-proyek besar di sekitar Batukaru,” kata Wayan Sumiata, mantan anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) itu. Maksud mereka adalah pembangunan Pembangunan Listrik Tenaga Uap di Bedugul, tak jauh dari situ.

Wayan menambahkan kalau berkurangnya debit air juga karena adanya alih fungsi. Sebagian warga tidak menanam padi lagi tapi beralih ke tanaman coklat dan pisang. Namun saat ini tanaman pengganti itu pun bermasalah. Pisang busuk. Coklat tidak berbuah.

Namun, semua kondisi itu tidak membuat Wayan Puja, pekaseh (pemimpin subak) di Jatiluwih di khawatir. Puja membantah jika saat ini terjadi kekurangan air di Jatiluwih. “Kalau sekarang sebagian kering, itu karena memang musim kering. Kalau Desember pasti sudah basah lagi,” katanya.

Menurut mantan pegawai Telkom ini, sesuai perkiraan, saat ini memang musim subak abian (kering). Kira-kira sampai Desember nanti akan begini. “Pada Januari 2008 kami akan mulai bertanam padi Bali, sehingga kondisi lebih hijau lagi,” ujarnya.

Ketika sudah musim tanam padi Bali, semua petani di Jatiluwih akan menanam jenis padi bali. Kalau ada yang menanam padi jenis lain pada musim tanam Bali, maka petani itu akan mendapat sanksi untuk melakukan caru. Aturan ini sudah ada di awig-awig dan perarem (hukum tradisional Bali).

Alasan Puja sepertinya logis. Namun aku sih curiga ada sesuatu yang dia sembunyikan. Menurut dua Wayan sebelumnya, baru tiga tahun terakhir terjadi kekurangan air di Jatiluwih. Seumur-umur belum pernah terjadi. Menurut mereka, Jatiluwih memang sedang menyembunyikan masalah kekeringan itu. Sebab, mereka sedang dalam proses oleh Unesco untuk menjadikan Jatiluwih sebagai Warisan Budaya Dunia. Salah satu syarat untuk menjadi WBD adalah bahwa kondisi di daerah itu tidak boleh bermasalah.

Karena itu, mereka sendiri mengaku, bahwa kalau ada tim dari Unesco mereka tidak pernah menyampaikan masalah tersebut. “Kami hanya menunjukkan daerah-daerah yang masih hijau,” kata Sukabuana.

Well, itulah kondisi di Jatiluwih. Sekarang ke lokasi kedua.

Pulau Serangan, Denpasar
Karena Serangan adalah lokasi paling dekat dari rumah, aku sebenarnya berniat ke sini kalau dua lokasi lain sudah beres. Tapi karena Pak Nyoman Sadra, narasumber di Tenganan baru bisa Sabtu ini, jadinya aku ke Serangan duluan. Tak apa-apa. Yang penting semua bisa selesai.

Serangan jadi pilihan menarik karena pulau kecil ini adalah korban kerakusan pariwisata Bali. Mulanya Serangan adalah pulau kecil yang terpisah dari daratan Bali oleh selat sempit, sekitar 2 km.

Pada 1992, Serangan direklamasi oleh PT Bali Turtle Island Development (BTID). Pulau ini luasnya jadi 491 hektar dari yang luas semula hanya 112 hektar. Bayangkan, urukan pasir yang dikeruk dari pantai sekitar pulau kecil ini membuat ukuran Serangan jadi empat kali lipat luasnya.

Pembangunan oleh PT BTID di mana dua anak Soeharto, Bambang dan Tommy, terlibat di dalamnya, terhenti akibat krisis ekonomi pada 1997. Meski demikian, pembangunan yang terhenti sementara itu tetap meninggalkan masalah bagi warga setempat baik secara ekologis (lingkungan) maupun sosial. Penyu, ikan hias, dan terumbu karang hilang karena dikeruk. Warga setempat pun kehilangan pekerjaan sebagai nelayan. Mereka kini kerja serabutan.

Sejak awal pembangunan Serangan memang penuh masalah. Tentara terlibat memaksa warga untuk menjual tanahnya. Pada zaman itu, siapa sih yang berani melawan tentara.

Mengunjungi Serangan selalu seperti mengunjungi teman lama. Aku punya kenangan sendiri atas pulau ini. Pada 18 April 2001, ketika aku masih di Pers Mahasiswa Akademika Universitas Udayana, kami bikin diskusi tentang nasib Serangan. Diskusi di wantilan Pura Sakenan Serangan itu mengundang warga setempat, dosen, dan tentara. Eh, pas diskusi baru dimulai, datang dua mobil penuh berisi preman. Tanpa ba bi bu mereka langsung memukuli Wayan Patut, narasumber dari masyarakat Serangan yang selama ini getol menolak reklamasi. Diskusi pun bubar. Anehnya, tentara yang kami undang hanya diam melihat pemukulan itu.

Soal Serangan saat ini, kapan-kapan saja deh aku posting lagi. Banyak yang menarik soale. Sekarang balik ke soal rencana field trip saja.

Jejak-jejak dampak perubahan iklim itu memang tidak langsung terasa. Penyebab paling jelas di Serangan adalah reklamasi itu. perluasan pulau hingga empat kali lipat membuat perubahan aliran arus di sekitar pantai. Menurut beberapa ahli lingkungan yang pernah aku wawancarai perubahan arus ini mengakibatkan rusaknya pantai di Padanggalak, Mertasari, dan Sanur.

Selain ya itu tadi, hilangnya ikan hias, terumbu karang, dan penyu. Binatang terakhir itu padahal maskot Serangan.

Nah, sejak 2003, warga Serangan menanam terumbu karang buatan. Ide Patut, teman lamaku yang kini sudah dapat Ashoka Fellowship, penghargaan untuk para aktivis, itu berkembang. Dari hanya 500 terumbu karang kini sudah jadi sekitar 20.000 bibit koral di 3 hektar area.

Masalahnya, koral itu pun ditanam di areal milik PT BTID. Menurutku sih ini akan jadi masalah suatu saat nanti antara warga Serangan dengan PT BTID yang sekarang mulai beraktivitas lagi.

Tenganan, Karangasem
Ada yang menyebut bahwa orang Bali pada umumnya adalah orang-orang Jawa yang meninggalkan Majapahit ketika Islam mulai menggantikan Hindu sebagai agama utama di Jawa. Hanya sedikit orang Bali yang benar-benar Bali dalam artian bukan orang Jawa yang ke Bali pada masa Majapahit.

Orang Bali asli (kurang lebih sebut saja begitu, meski asli juga sesuatu yang sangat terikat waktu) itu tinggal di beberapa desa yang disebut bali aga. Nah, Tenganan adalah salah satu desa bali aga itu. karena itu Tenganan juga punya beberapa tradisi yang beda dengan Bali pada umumnya.

Contoh paling jelas, tidak ada Nyepi di Tenganan. Ketika umat Hindu Bali pada umumnya tidak bekerja (amati karya), tidak menyalakan api (amati geni), tidak bersenang-senang (amati lelanguan), dan tidak bepergian (amati lelungan), maka tidak demikian dengan warga Tenganan. Mereka tidak melakukan semua itu. bekerja biasa saja asal tidak keluar desa karena menghormati umat Hindu lain yang sedang Nyepi.

Balik ke soal field trip. Tenganan jadi pilihan karena di desa ini masih memegang kuat tradisi untuk tidak menjual tanah dan menebang hutan. Tradisi ini selain melalui ritual juga melalui zonasi (pengaturan ruang). Waduh, agak njelimet. Tapi intinya kurang lebih ya membagi ruang sebagaimana peruntukan.

Selain masih memegang kuat tradisi ritual, mereka juga masih melaksanakan aturan yang melindungi lingkungan. Misalnya aturan untuk tidak menjual tanah. Sebab tanah di sini milik bersama (komunal), bukan individu. Selain itu warga juga harus melindungi hutan. Warga tidak boleh menebang pohon kecuali dengan alasan khusus yang sudah disetujui oleh rapat desa. Tujuan khusus itu misalnya membangun rumah baru bagi pasangan suami istri baru.

Untuk melindungi lingkungannya, warga melakukannya melalui dua hal: ritual dan zonasi. Ritual itu misalnya dengan sembahyang (sala satunya tumpek bubuh, untuk menghormati tanam-tanaman). Sedangkan zonasi melalui pengaturan untuk membangun di wilayah tertentu. Dengan ritual, zonasi, dan aturan tradisional ini warga masih mampu menjaga sekitar 200 hektar hutan di sekeliling desa ini.

Tidak ada dampak langsung akibat perubahan iklim di sini. Pak Nyoman Sadra sempat cerita tentang kerusakan tanah di sawah akibat Revolusi Hijau. Tapi karena fokusku ke sini untuk melihat lebih jauh tradisi setempat untuk menjaga hutan dan tanah, jadi ya abaikan saja dulu cerita itu. Kapan-kapan sajalah.

Untuk sekarang aku sudah tidak sabar menikmati ikan laut di warung Merta Sari Pesinggahan, Klungkung. Lalu habis itu pulang ke Denpasar. Istirahat.

Kategori berita : Kabar Anyar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 230 views

eXTReMe Tracker