Ada Diskriminasi di Balik Tradisi
Oleh Made Suardana
Satu momen yang bagi saya sangat menganggu adalah ketika orang-orang terdekat dan juga sanak famili mengajukan satu pertanyaan klasik, “Kapan buat anak laki-laki?â€. Sebuah pertanyaan yang seakan-akan menjadi permintaan yang mengharuskan, juga sekaligus menjadi sebuah harapan bagi mereka yang benar-benar mesti diwujudkan, bagaimana pun caranya.
Namun, bisakah dengan mudah ‘memesan’ biar yang lahir adalah bayi laki-laki? Apakah adakah mesin cetak yang khusus untuk membuat anak laki-laki? Munculnya pertanyaan tersebut secara tidak langsung menyiratkan bahwa betapa pentingnya kehadiran anak laki-laki dalam sebuah keluarga Hindu di Bali. Ada ‘hukum alam’ di Bali bahwa sebuah keluarga belum lengkap secara sosio cultural tanpa adanya anak laki-laki. Adakah ini bisa disebut diskriminasi gender terselubung di Bali? Adakah ini merupakan diskriminasi gender berbungkus budaya adi luhung? Saya pribadi akan menjawab YA, paling tidak diskriminasi secara psikologi.
Kategori berita : Budaya, Opini | Kontributor : Made Suardana | 3 Komentar | 412 views



