2nd February 2008

Tontonan Sirkus di TV Nasional

Oleh I Nyoman Winata

Televisi Indonesia sejak mantan penguasa Orde Baru masuk rumah sakit hingga dimakamkan ibarat sedang ber-sirkus- ria. Sihir kotak ajaib ini, terutama pada drama pemakaman Soeharto– atau saya sebut selanjutnya Pak Harto, karena menyebut langsung Soeharto dianggap tidak sopan—benar-benar membuat jutaan rakyat Indonesia tertegun di depan TV. Lalu, dongeng tentang betapa berjasanya Pak Harto terus menerus dicekoki diotak para pemirsa. Dongeng-dongeng ini begitu bombastisnya, sampai-sampai menutup sempurna dosa-dosa Pak Harto selama berkuasa.

Dengar dan simak komentar mereka yang diwawancarai. TV lebih banyak menampilkan tokoh yang menyebut Pak Harto berjasa. Ada beberapa yang bersuara lain, tetapi porsinya tak begitu banyak. Yang unik, bahkan program acara infotainment pun dipenuhi cerita tentang jasa-jasa Pak Harto. Seorang selebritis di acara infotainment menyebut sebagai kewajaran atas tindakan Pak Harto yang diduga sebagai tokoh utama pelanggaran HAM seperti dalam kasus pembantaian manusia-manusia merah diera 1965-1966. “Itu tindakan yang wajar sebagai resiko yang harus ditanggung oleh orang dengan tanggung jawab yang besar,” demikian kira-kira argumentasinya.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Kabar Anyar, Opini | Kontributor : I Nyoman Winata | 3 Komentar | 240 views

2nd February 2008

Kalau Kelamin Bisa “Ngomong”

Oleh Luh De Suriyani

Pagi itu, suasana Klinik Amertha di Jalan Raya Sesetan, sebelah Lapangan Pegok lengang. “Biasalah, kalau pagi mereka kan belum bangun. Biasanya jam 10-an baru rame,” kata seorang dokter. Benar saja, sepuluh menit kemudian enam perempuan datang, dan segera menuju kursi tunggu di depan klinik yang melayani pemeriksaan kesehatan organ dalam tubuh itu.

Kedatangan perempuan muda dan setengah baya itu ternyata dikawal seorang laki-laki tinggi besar. Beberapa orang menyapanya. Wayan, pria itu, hampir tiga tahun ini rajin menjadi tukang antar perempuan pekerja hiburan malam untuk memeriksakan kesehatan organ dalam ke klinik itu..

“Saya sudah merasakan susahnya kena penyakit. Mana saya tahu, tiba-tiba ternyata kena penyakit. Siapa yang nularin, atau gimana,” ujarnya. Pria yang dikenal cukup lama berkecimpung di bisnis hiburan malam ini mengakui awalnya tak mudah untuknya datang ke klinik memeriksakan diri. Ia merasa sehat, dan perempuan yang sering diajaknya berhubungan juga sehat-sehat saja.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Budaya, Teknologi | Kontributor : Luh De Suriyani | 0 Komentar | 196 views

eXTReMe Tracker