Lenyapnya Keteguhan Hati Orang Bali
Oleh I Nyoman Winata
Bali nampaknya mulai menuai buah dari sikap masyarakatnya yang begitu permisif atas beberapa perbuatan yang dianggap sangat bertentangan dengan norma dan etika. Apa yang terjadi beberapa waktu belakangan menyangkut maraknya tindakan kekerasan bahkan sudah sampai pada pembunuhan adalah hasil dari sikap bermalas-malasan mayarakat Bali untuk menjaga dirinya agar bisa menjadi manusia yang memegang teguh kejujuran dan kebajikan. Orang-orang Bali adalah para pemalas yang membiarkan sampah-sampah pragmatisme memenuhi pikiran-pikiran mereka.
Saya ingat ketika masih kecil, betapa seorang bebotoh begitu dicemooh oleh lingkungan masyarakat sekitarnya. Tetapi lihat kini, bebotoh justru sudah dianggap orang-orang normal dan bahkan tidak sedikit yang dipilih jadi anggota DPRD. Para bebotoh dan preman tidak sedikit pula yang menjadi kepala desa, kelian banjar atau mungkin bahkan bendesa adat. Alahsil preman dan bebotoh lebih dihormati dan ditakuti daripada polisi. Akibatnya banyak prilaku yang tidak pantas karena menentang etika dan norma, kini menjadi hal yang diangap lumrah.
Kategori berita : Budaya, Kabar Anyar, Opini | Kontributor : I Nyoman Winata | 4 Komentar | 245 views



