Masihkan Ogoh-ogoh Ber’taksu’?
Oleh Dek Didi
Masalah seni, jangan ragukan lagi kemampuan masyarakat Bali mengapresiasi seni. Setiap gerakan tangan adalah penciptaan patung-patung indah dan menjadi komoditi ekspor. Setiap goyangan badan, adalah tarian yang seakan mempunyai roh dalam setiap gerak tari itu. Dan tentu masih ada beribu cara orang Bali mengapresiasi seni lainnya.
Ogoh-ogoh adalah salah satu hasil kreatifitas seni masyarakat Bali. Ogoh-ogoh yang biasa dibuat dalam rangka menyambut Hari Raya Nepi merupakan salah bukti bahwa sebagian besar masyarakat Bali adalah seniman. ….
Buktinya setiap banjar mampu menghasilkan karya ogoh-ogoh yang berbeda-beda tentu dengan nilai seni yang berbeda pula. Ogoh-ogoh kini tidak hanya terpaku pada pakem seni ukir dan seni patung khas Bali. Ogoh-ogoh kini tidak lagi berwujud bhuta kala yang serem atau raksasa yang menakutkan. Ogoh-ogoh kini bisa berwujud pemuda funky atau gadis bahenol.
Memang sebenarnya seni memang tidak seharusnya terpaku pada satu pakem yang sudah ada turun temurun. Apa pun bentuk ogoh-ogoh, tetaplah sebuah seni. Meski terkadang setiap orang mempunyai penafsiran yang berbeda.
Ogoh-ogoh sebenarnya bukan bagian yang esensial dalam perayaan Nyepi. Ogoh-ogoh merupakan budaya baru masyarakat Bali. Tapi meski ogoh-ogoh bukan merupakan hal yang wajib dalam pelaksanaan penyambutan hari raya Nyepi, namun biasanya ogoh-ogoh diarak pada saat pengerupukan (sehari sebelum pelaksanaan Hari Raya Nyepi). Tujuannya konon untuk mengusir bhuta kala. Ogoh-ogoh berkembang sebenarnya tanpa pijakan sastra agama. Jadi bisa kalau ogoh-ogoh dikatakan sebagai sarana untuk mengusir bhuta kala, mungkin para pemuka agama Hindu bisa memberikan pencerahan mengenai hal ini.
Kembali ke masalah seni, biasanya seni masyarakat Bali identik dengan ‘taksu’, dimana setiap hasil karya seni seolah memiliki roh atau jiwa. Setiap seni menggambarkan unsur kekuatan alam dan penghargaan yang tinggi kepada Sang Maha Pencipta. Tapi sekarang apakah ogoh-ogoh masih memiliki taksu?
Kenapa?
- Setiap membuat ogoh-ogoh biasanya diselingi dengan acara minum-minuman keras bahkan sampai mabuk (meski tidak semua begitu).
- Ogoh-ogoh identik dengan sumbangan. Dalam satau banjar saya seringkali dimintai sumbangan 2-3 kali dalam setiap musim ogoh-ogoh. Kalau tujuannya memang ‘ngayah’ dan ‘yadnya’ kenapa harus dipakasakan sampai bentak-bentak masyarakat yang tidak mau memberi sumbangan untuk ogoh-ogoh? Dimana letak ‘yadnya’nya?
- Pawai ogoh-ogoh seringkali dipakai ajang jor-joran dan sering menjadi lahan perseteruan antar pemuda.
- Jika ogoh-ogoh kontemporer yang berbentuk Inul yang lagi ngebor atau pemuda funky yang naik sepeda antik, apa masih pantas dipakai sarana mengusir bhuta kala?
Lantas, apa ogoh-ogoh masih mempunyai taksu? Mungkin masih ada yang mau menambahkan?



Bali Orange Communications