11th
March
2008
Oleh Arief BudimanĀ 
Sekurangnya telah 10 kali saya menonton pawai ogoh ogoh di kota Denpasar setiap sebelum perayaan Nyepi dan alangkah luar biasa pada tahun ini menyadari betapa acara ini sangat besar dan megah. Bayangkan, tiap warga banjar membuat sekurangnya dua ogoh ogoh dengan biaya swadaya atau sponsor lalu jalanan menjadi prioritas bagi pawai ogoh ogoh. Tanpa izin keramaian, tanpa biaya keamanan sebagaimana layaknya sebuah acara toh polisi dikerahkan di segala penjuru kota untuk mengamankan acara ini.
Tahun ini media melansir ada sekitar 4000 ogoh ogoh dibuat dan diarak di masing-masing lingkungannya. Sebagai gambaran saya yang menonton di jalan Veteran Denpasar dari jam 6 sore baru benar-benar bisa pulang sekitar jam 12 tengah malam ketika pawai ogoh ogoh usai. Belum ada yang mengklaim tapi saya yakin inilah festival jalanan terbesar di Indonesia.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Agenda, Budaya | Kontributor : Arief Budiman | | 83 Views
11th
March
2008
Oleh I Nyoman Winata
Membaca berita Bali Post (Senin, 10 Maret 2008) tentang Mangku Pastika Rangkul Bebotoh, saya langsung bergumam, “Maka kini… Tibalah Masa Keemasan Para Bebotoh Bali!,”. Ada cahaya terang di depan mata bebotoh tentang aktivitas adu ayam yang menjadi hobi mereka. Setidak-tidaknya keberadaan mereka benar-benar dianggap ada dan apa yang menjadi “bidang pekerjaan” mereka diakui dan akan dilindungi. Para bebotoh layak bersorak gembira dan bersuka ria. Tidak diragukan lagi, para bebotoh pasti akan memberi dukungan kepada Mangku Pastika-Puspayoga untuk jadi Gubernur Bali. Sebuah langkah yang sangat strategis, populis dan paling pragmatis untuk memenangkan pertarungan.
Namun bagi saya ini sekaligus juga sebuah langkah yang sangat ironis dan menunjukkan kualitas seorang Mangku Pastika sebagai seorang pemimpin. Sedemikian ber-kilau-nya-kah kursi Gubernur itu sehingga tindakan yang menunjukkan rendahnya ketangguhnya jiwa sosok Mangku Pastika ini harus dilakukan? Adakah Kursi Gubernur adalah segala-galanya, sehingga hal-hal paling prinsipil mengenai masa depan moralitas manusia Bali harus dikorbankan?
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Agenda, Opini, Kabar Anyar | Kontributor : I Nyoman Winata | | 314 Views
11th
March
2008
Oleh Ady Gondronk
Bagi masyarakat Desa Wongaya Gede tempat kelahiran saya, hari raya Nyepi selain identik dengan perayaan pawai Ogoh-ogoh pada hari pengerupukan dan melakukan penyucian diri satu hari setelah hari pengerupukan, juga identik dengan makanan khas tradisionalnya yaitu āentilā. Entil merupakan makanan tradisional masyakarat Desa Wongaya Gede yang dibuat khusus pada saat Hari Raya Nyepi yang jatuh satu tahun sekali.
Entil adalah makanan tradisional sejenis ketupat yang dibuat dari beras yang dibungkus daun. Orang di desa saya bilang namanya ādaun nyelep āatau ādaun telengidi ā. Digunakannya daun untuk membungkus bertujuan supaya zat warna hijau pada daun bisa meresap ke entil sehingga entil bisa menjadi berwarna kehijau-hijauan, dan rasanyapun akan menjadi lebih enak.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Sekitar Denpasar, Jalan-Jalan, Kuliner, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 464 Views