13th
March
2008
Oleh Anton Muhajir
Meski sudah sebelas tahun tinggal di Denpasar, Bali, saya masih saja sering bingung kalau mencari alamat rumah di Denpasar. Tidak hanya sekali dua kali, tapi seringkali. Lucunya, sebagian besar teman yang lahir, besar, dan memang orang Denpasar pun malah lebih parah pengalamannya soal mencari alamat di Denpasar.
Dari pengalaman sendiri, saya menilai ini karena dua alasan yaitu karena ketidaktahuan sendiri akan alamat tersebut juga karena tidak jelasnya pengaturan alamat di Denpasar. Maklum, berdasarkan data Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar, pada tahun 2003 lalu saja jalan yang ada di Denpasar keseluruhan panjangnya 511,127 Km. Jadi tidak mungkin kita bisa mengingat tiap nama jalan di Denpasar. Tapi kalau pengaturannya jelas, menurut saya, sebenarnya tidak terlalu susah.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Jalan-Jalan, Teknologi | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 265 views
12th
March
2008
Oleh Anton Muhajir

Hari Raya Imlek Januari lalu membuat menu baru di Sector Bar and Restaurant laris manis. Maklum, menu itu memang mengandalkan buah naga, sesutau yang memang erat hubungannya dengan China: warna merah dan naga. Mungkin ini satu-satunya resto yang menjadikan buah naga sebagai menu makanan andalannya.
Di tangan ahlinya, buah yang bagi sebagian orang mungkin dianggap asing ini ternyata bisa jadi menu spesial di tangan mereka yang ahli. Demikian pula di Sector Bar and Restaurant. Resto yang sebagian besar pengunjungnya adalah pemain golf di lapangan golf Grand Bali Beach ini membuat empat menu baru yang berbahan dasar buah naga yaitu salad, soup, pudding, dan roast chicken dengan campuran buah naga.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Jalan-Jalan, Kuliner | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 680 views
11th
March
2008
Oleh Arief Budiman 
Sekurangnya telah 10 kali saya menonton pawai ogoh ogoh di kota Denpasar setiap sebelum perayaan Nyepi dan alangkah luar biasa pada tahun ini menyadari betapa acara ini sangat besar dan megah. Bayangkan, tiap warga banjar membuat sekurangnya dua ogoh ogoh dengan biaya swadaya atau sponsor lalu jalanan menjadi prioritas bagi pawai ogoh ogoh. Tanpa izin keramaian, tanpa biaya keamanan sebagaimana layaknya sebuah acara toh polisi dikerahkan di segala penjuru kota untuk mengamankan acara ini.
Tahun ini media melansir ada sekitar 4000 ogoh ogoh dibuat dan diarak di masing-masing lingkungannya. Sebagai gambaran saya yang menonton di jalan Veteran Denpasar dari jam 6 sore baru benar-benar bisa pulang sekitar jam 12 tengah malam ketika pawai ogoh ogoh usai. Belum ada yang mengklaim tapi saya yakin inilah festival jalanan terbesar di Indonesia.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Agenda, Budaya | Kontributor : Arief Budiman | | 151 views
11th
March
2008
Oleh I Nyoman Winata
Membaca berita Bali Post (Senin, 10 Maret 2008) tentang Mangku Pastika Rangkul Bebotoh, saya langsung bergumam, “Maka kini… Tibalah Masa Keemasan Para Bebotoh Bali!,”. Ada cahaya terang di depan mata bebotoh tentang aktivitas adu ayam yang menjadi hobi mereka. Setidak-tidaknya keberadaan mereka benar-benar dianggap ada dan apa yang menjadi “bidang pekerjaan” mereka diakui dan akan dilindungi. Para bebotoh layak bersorak gembira dan bersuka ria. Tidak diragukan lagi, para bebotoh pasti akan memberi dukungan kepada Mangku Pastika-Puspayoga untuk jadi Gubernur Bali. Sebuah langkah yang sangat strategis, populis dan paling pragmatis untuk memenangkan pertarungan.
Namun bagi saya ini sekaligus juga sebuah langkah yang sangat ironis dan menunjukkan kualitas seorang Mangku Pastika sebagai seorang pemimpin. Sedemikian ber-kilau-nya-kah kursi Gubernur itu sehingga tindakan yang menunjukkan rendahnya ketangguhnya jiwa sosok Mangku Pastika ini harus dilakukan? Adakah Kursi Gubernur adalah segala-galanya, sehingga hal-hal paling prinsipil mengenai masa depan moralitas manusia Bali harus dikorbankan?
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Agenda, Kabar Anyar, Opini | Kontributor : I Nyoman Winata | | 401 views
11th
March
2008
Oleh Ady Gondronk
Bagi masyarakat Desa Wongaya Gede tempat kelahiran saya, hari raya Nyepi selain identik dengan perayaan pawai Ogoh-ogoh pada hari pengerupukan dan melakukan penyucian diri satu hari setelah hari pengerupukan, juga identik dengan makanan khas tradisionalnya yaitu âentilâ. Entil merupakan makanan tradisional masyakarat Desa Wongaya Gede yang dibuat khusus pada saat Hari Raya Nyepi yang jatuh satu tahun sekali.
Entil adalah makanan tradisional sejenis ketupat yang dibuat dari beras yang dibungkus daun. Orang di desa saya bilang namanya âdaun nyelep âatau âdaun telengidi â. Digunakannya daun untuk membungkus bertujuan supaya zat warna hijau pada daun bisa meresap ke entil sehingga entil bisa menjadi berwarna kehijau-hijauan, dan rasanyapun akan menjadi lebih enak.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Budaya, Jalan-Jalan, Kuliner, Sekitar Denpasar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 752 views
10th
March
2008
Oleh I Made Suardana
Premanisme dalam ritual Bali? Apa pula itu? Bukan bermaksud melebih-lebihkan atau membuat sesuatu menjadi kelihatan ekstrem. Namun fenomena yang saya alami dan amati ini rasanya cukup layak dimasukkan dalam dunia premanisme walaupun dibungkus dengan apik dalam balutan ritual dan budaya yang katanya adi luhung orang Bali. Anda yang tinggal di Bali tentu pernah atau bahkan sering mengalami bagaimana kalau orang Bali melakukan kegiatan ritual agama dan budaya khususnya yang mengambil tempat (secara seenaknya) di jalan-jalan raya kota maupun desa.
Jika balai banjar/pura tempat diadakannya upacara berada tepat disamping jalan raya maka dapat dipastikan jalan raya tersebut akan ditutup, paling tidak ditutup satu jalur. Bisa dipastikan akan ada kemacetan, belum lagi beberapa pengguna jalan raya yang kebingungan akibat pengalihan jalan yang masih asing bagi mereka. Walaupun ijin sudah dikantongi tetap saja itu namanya mengganggu kepentingan umum. Tapi kita orang Bali punya sebuah excuse yang cukup ampuh dan sombong, ini kan atas nama agama dan budaya. Jalan ini ada di daerah kekuasaan desa adat A jadi kami berhak memakai jalan ini.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Budaya, Opini | Kontributor : Made Suardana | | 231 views
9th
March
2008
Oleh dr Oka Negara
Ada yang menarik terlihat waktu itu di sekitar rumah saya sehari menjelang Nyepi. Apa yang saya lihat ini menarik sebagai bahan diskusi tentang bagaimana anak-anak bekerja sama atas nama tradisi, terutama menjelang Nyepi.
Saat selesai posting di blog untuk memuat puisi Hari Nyepi yang dikirim Cok Sawitri beberapa waktu lalu, sekaligus juga memuat tulisan Ketut Wiana tentang Hari Nyepi, sekelompok anak berbaju merah, memakai udeng dan kamen, asik berembug di depan sebuah ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh yang tidak terlalu besar, tampak kurus dan sama sekali tidak menyeramkan seperti ogoh-ogoh lain. Malah terlihat lucu dan imut.
Hari itu adalah hari âpengerupukanâ, hari yang dikenal dengan pawai ogoh-ogohnya, hari yang sangat dinanti-nantikan, walau menurut saya mungkin tidak banyak yang mengerti makna sebenarnya.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Budaya, Kabar Anyar, Opini | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 288 views
8th
March
2008
Oleh Made Suardana
Walaupun tidak bisa melaksanakan Catur Brata Penyepian (terutama amati karya/tidak boleh bekerja) namun teman-teman dari Bali yang tergabung dalam Sekaa Hindu Dharma Parrot Cay, kemarin melaksanakan persembahyangan bersama dalam rangka menyambut Tahun Baru Caka 1930. Seperti biasa, persembahyangan dilaksanakan di salah satu sudut pulau pribadi ini yang bernama Shambala Lake. Berbagai ritual tradisi Balipun mewarnai perayaan Nyepi kali ini diantaranya ngelawar.
Persiapan upacara termasuk banten2 dan gebogan (sesajen) dipusatkan di sebuah sudut staff village yaitu Br. Cengblonk. Panitia upacarapun sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Tidak ketinggalan pula seksi konsumsi mengeluarkan segala jurus kemampuan masak memasak sehingga makanan yang tersaji menjadi mantap dan mendekati atau bahkan hampir sama rasanya seperti masakan di Bali. Tiga jenis masakan favorit kemarin adalah lawar kacang, lawar klungah dan juga jukut ares (sayur dari pohon pisang yg masih muda). Total biaya yang dihabiskan untuk perayaan Nyepi kemarin adalah kurang lebih USD 400.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Agenda, Budaya, Jalan-Jalan, Sekitar Denpasar | Kontributor : Made Suardana | | 186 views
7th
March
2008
Kategori berita : Agenda, Budaya, Teknologi | Kontributor : Arief Budiman | | 197 views
6th
March
2008
Oleh Swastinah Atmodjo
Belum lama ini, Denpasar mendapat penghargaan dari pemerintah pusat sebagai juara tiga dalam penilaian tata ruang kota, setelah Semarang dan Surabaya. Dari sisi apanya ya kok bisa? Pertanyaan itu otomatis muncul. Dari sudut pandang bagaimana penilai memberikan award tersebut?
Penghargaan tersebut menurut pengamat tata ruang Nyoman Gelebet pantas diberikan ke Denpasar menyangkut prinsip-prinsip tradisi. Namun dari sudut pandang masa kini, dinilainya kurang tepat. Sebagai ibukota provinsi, lanjutnya, aspek tata kota Denpasar masih cukup baik. Terutama di kawasan Denpasar Timur seperti Kesiman dan Sanur masih mempertahankan tradisi masa lalu semisal adanya telajakan, yaitu ruang atau space antara 1- 2 meter dari tembok rumah ke jalan. Ini biasanya oleh warga dimanfaatkan untuk menanam tanaman hias atau tanaman obat sehingga rumah lebih asri.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Budaya, Teknologi | Kontributor : Swastinah Atmodjo | | 295 views