• Bale Bengong

  • Mari Menilai Calon Gubernur Pro-Lingkungan Hidup

12th April 2008

Mari Menilai Calon Gubernur Pro-Lingkungan Hidup

posted in Opini | contributor : Agung Wardana | 114 Views

Oleh Agung Wardana

Bali merupakan pulau kecil yang saat ini tengah berada dalam ancaman perubahan iklim yang sebagian besar rakyatnya merupakan kelompok rentan terkena dampak, seperti petani, nelayan, maupun perajin. Selain itu masih banyak proyek-proyek bermasalah yang belum juga tuntas penyelesaiannya, misalnya: Geothermal Begudul, Loloan Yeh Poh, Lapangan Golf Selasih, Serangan, dan lain-lain yang menjadi bukti bahwa tidak adanya keberpihakan pemerintah saat ini terhadap lingkungan hidup dan rakyat.

Masifnya eskploitasi lingkungan hidup dan sumber daya alam oleh industri pariwisata, menyebabkan semakin mendesak daya dukung Bali dan memarjinalkan akses masyarakat lokal terhadap sumber daya alamnya.

Bali saat ini mendapatkan pendapatan asli daerahnya dari bea balik nama kendaraan bermotor. Hal ini merupakan hal yang tidak berkelanjutan di masa mendatang. Karena semakin banyak kendaraan yang masuk Bali tanpa ada kontrol dan melebihi daya dukung jalan di Bali maka akan menyebabkan kemacetan, pengamburan BBM, pencemaran dan semakin banyak alih fungsi lahan untuk dijadikan jalan-jalan alternatif ataupun bay-pass.

Jika pola-pola seperti saat ini tetap dilanjutkan, maka tidak mustahil Bali akan masuk pada bencana ekologis dan bencana sosial. Bencana ekologi terjadi akibat akumulasi kerusakan dan kerentanan lingkungan yang terus mendapat terdesak dari aktivitas manusia. Bencana sosial adalah konflik yang terjadi karena terbatasnya daya dukung dan sumber daya alam Bali namun diperebutkan oleh semakin banyak pihak dan terutama pariwisata.

Saat ini yang dibutuhkan oleh Bali bukanlah mengkebut pertumbuhan industri pariwisata yang berwatak eksploitatif, tapi bagaimana Bali melakukan jeda sehingga dapat bertahan ditengah ancaman-ancaman bencana tersebut.

Untuk bertahan ini, maka Bali perlu melakukan adaptasi dan mitigasi dampak perubahan iklim bagi Bali; melakukan konservasi lahan produktif untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan penduduk Bali dengan praktek pertanian yang berkelanjutan; melakukan pengelolaan sumber daya air secara adil dan berkelanjutan dengan pendekatan penyelesaian konflik perebutan sumber daya air; melakukan rekayasa budaya konsumsi energi dan sumber daya alam yang lebih berkelanjutan, terutama untuk masyarakat perkotaan dengan fasilitas transportasi publik, pedestrian, taman kota, ataupun jalur sepeda; memberikan dana yang proporsional bagi instansi-instansi yang berhubungan dengan penyelamatan lingkungan hidup dan membangun kelembagaan yang bermartabat dan super-body.

Hal-hal tersebut diatas tentu harus diharus dilakukan lewat kebijakan pemimpin politik Bali kedepan yang akan dipilih oleh rakyat Bali secara langsung. Maka rakyat Bali perlu memilih calon gubernur yang berpihak pada lingkungan hidup dan rakyat dengan langkah sebagai berikut:

1. Wacanakan bahwa kita membutuhkan gubernur peduli lingkungan hidup dan rakyat hingga isu lingkungan hidup tidak menjadi isu yang minor lagi dalam politik;

2. Melakukan penilaian atas rekam jejak Calon Gubernur atau Calon Wakil Gubernur untuk melihat apakah Cagub atau Cawagub tersebut pernah terlibat dalam proyek-proyek bermasalah dan bagaimana posisi-nya terhadap proyek-proyek bermasalah tersebut;

3. Melakukan penelusuran darimana dana-dana kampanye diperoleh, untuk melihat ada tidaknya konflik kepentingan antara gubernur yang nantinya terpilih dengan kepentingan pihak pemberi dana. Karena mungkin saja Cagub memperoleh dana dari perusahaan A yang mengekspoitasi sumber daya alam Bali sehingga berdampak pada kerusakan lingkungan hidup dan tatanan sosial-budaya;

4. Mempelajari visi-misi Cagub dan Cawagub untuk melihat apakah memiliki visi dan misi yang berpihak pada lingkungan hidup dan rakyat. Sehingga memudahkan pemantauan ataupun melakukan gugatan jika Cagub dan Cawagub tersebut terpilih nantinya dan tidak melaksanakan visi-misi tersebut;

5. Bentuk kelompok-kelompok independen pemantauan di daerah anda untuk melakukan pemantauan pada proses pilgub maupun terhadap kinerja gubernur yang terpilih dan melakukan tekanan jika visi dan misi tersebut tidak dilaksanakan.

6. Meyakinkan diri bahwa akses terhadap informasi, akses untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan akses terhadap keadilan adalah hak rakyat yang dilindungi oleh peraturan perundang-undangan.

Mari bertindak mulai dari sekarang, karena masa depan ada ditangan kita. Jika tidak bergerak maka kerugian akibat bencana-bencana yang terjadi jauh akan lebih besar dan kita semua dapat saja menjadi korbannya. Selain itu kita tidak memiliki hak untuk mewariskan Bali yang rusak dan tidak layak ditempati oleh anak cucu kita di masa mendatang.

Penulis, Aktivis WALHI Bali (Friends of the Earth Indonesia), Tinggal di Tabanan

This entry was posted on Saturday, April 12th, 2008 at 9:53 am and is filed under Opini. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

There are currently 3 responses to “Mari Menilai Calon Gubernur Pro-Lingkungan Hidup”

Why not let us know what you think by adding your own comment! Your opinion is as valid as anyone elses, so come on... let us know what you think.

  1. 1 On April 15th, 2008, nik said:

    Artikel di blog ini sangat menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://infogue.com
    http://infogue.com/lingkungan/mari_menilai_calon_gubernur_pro_lingkungan_hidup/

  2. 2 On April 19th, 2008, Made Terima said:

    Salut kepada Pak Agung Wardana !
    Visi anda saya kira akan sangat dekat dengan realitas di masa datang.

    Persoalannya adalah:
    Tujuan baru bisa dicapai jika antara pemimpin dan masyarakatnya terdidik. Kalau dalam tahapan sekarang ini menurut saya sangat tidak mungkin, kecuali ada pemimpin yang berjiwa 1945. Seperti Pak Wardana pahami bahwa S2 saja tidak paham akan konsepsi budaya dalam mendukung pengembangan spiritual masyarakat ( baca intelektualitas, bukan agama ) bagaimana dengan mereka yang pendidikannya lebih rendah. Karena saya sangat percaya dengan berkaca kepada negara-negara yang sekarang sudah maju bahwa tanggungjawab itu berasal dari intelektualitas masyarakatnya 50% dan dari pemerintahnya 50%. Kalau salah satu terlalu jauh beda intelektualitasnya maka salah satu bisa jadi obyek yang tidak mendukung pembentukan dignitas bangsa. Bangsa kita masih dalam tahap yang dalam teori positivisme disebut masa mitos, belum masa remaja, dan jauh dari masa dewasa ( mohon dilihat konteks budaya dasarnya ). Pada level inilah kelihatan sekali bahwa gelombang idiologi dan slogan sangat mudah merubah tatanan hidupnya. Bisa dibayangkan tahapan yang belum remaja betul lalu dihadapkan dengan dunia yang penuh dengan pencitraan yang satu bisa kelihatan dua bahkan lebih, adalah suatu fatamorgana yang sangat kuat. Oleh karena itu pemimipin di masa depan untuk Bali yang paling ideal adalah pemimpin yang mampu meningkatkan pengetahuan masyarakatnya dari budaya dasar sampai ke keterampilan. Atau keterampilan lebih dulu lalu terus desak untuk meningkatkan spiritualitasnya. Jangan lagi seperti dekade yang lalu, sudah 20 tahun lebih masyarakat Bali cukup sejahtra oleh pariwsata, tapi tidak pernah mau beli buku untuk belajar.
    Saya sangat percaya jika masyarakat Bali tahap pengetahuannya sudah cukup tinggi, maka apapun yang menjadi persoalan akan bisa lebih cepat direspon dengan logika bukan dengan Dewa Ganapatya.
    http://www.balitouring.com http://www.jakarta-cityhotels.com

  3. 3 On May 3rd, 2008, agung said:

    Pak Made Terima,
    makasi komennya..saya mau respon sedikit.

    Saya tidak sedang bicara visi di masa depan.
    bahwa kesadaran, kecerdasan dan intelektualitas itu tidak datang begitu saja dari langit. jika anda menganggap remeh kesadaran masyarakat Bali sekarang ini, maka saya akan berkata bahwa ini adalah buah kegagalan dari sistem negara ini yang memang membodohkan.

    Saya tidak pernah melakukan dikotomi antara bahwa harus memeliki gubernur yang peduli pendidikan (menegasikan aspek lingkungan) karena semuanya saling terkait.

    Saya percaya kesadaran itu disebarluaskan oleh kaum minoritas kreatif yang bekerja dimasayarakat. saya yakin masyarakat tidak bodoh, tapi hanya perlu dipercikkan api yang mampu menyalakan kesadaran yang ada di kepala.

    Dan kitalah yang harus memulai itu, bukan sebaliknya meremehkan masayarakatnya sendiri.

    Terima kasih.

    Agung Wardana

Leave a Reply

Sebarkan ke Dunia
delicious
digg
technorati
reddit
magnolia
stumbleupon
yahoo
google
eXTReMe Tracker