PNS: Antara Jujur Hati atau Korupsi
Oleh Pande Baik
Oh ya, ini hanyalah satu beban yang menumpuk di pikiran selama dua tahun terakhir, di mana saya berada pada posisi sebagai staf satu sub Dinas yang bertugas memonitoring semua kegiatan lapangan yang sedang berlangsung.
So, mungkin aja tulisan ini bakalan dianggap basi lagi oleh beberapa orang, namun bisa saja menjadi satu renungan atau pertimbangan bagi yang masih berminat menjajal hidup sebagai seorang pegawai negeri sipil (PNS).
Selama ini citra yang tertanam di benak masyarakat awam bahwa menjadi seorang PNS pastilah enak. Mau ngantor jam berapa pun, pulang lebih awal maupun bolos seenaknya toh tetap dapet gaji. Bayangkan kalau kerja di swasta?
Memang tidak menutup mata bahwa sebagian besar memang seperti itu adanya. Makanya sering tertangkap kamera maupun keluhan opini masyarakat berkaitan dengan oknum PNS yang keluyuran ke mall atau pun pasar tradisional, hingga tertangkap basah di kamar short time.
Tapi ingat, ada sebagian lagi yang masih berusaha idealis untuk bekerja dan mengabdi pada negara juga lingkungannya. Bentuknya bermacam-macam, mulai tenggelam dalam kesibukan perencanaan, pelaksanaan maupun persiapan-persiapan yang berkaitan dengan administrasi tender dan pelelangan.
Tentu saja yang memilih untuk aktif dalam kewajiban terkadang masih mampu untuk memiliki uang saku lebih, yang sumbernya dari bermacam kategori. Dari uang lelah secara jujur maupun yang mencuri namun masih bisa ditutupi baik dengan kegiatan fiktif maupun saat kegiatan proyek berjalan. Inipun sudah dianggap biasa, Bung!
Tapi lagi-lagi sifat idealis yang terbawa dari saat masih ngantor di swasta, membuat hati tak mampu untuk dibohongi jika harus melakukan tindakan tidak jujur tadi. Namun, hey, siapa sih yang tidak butuh uang?
Dua pilihan yang terlintas pada pagi hari sebelum berangkat ngantor, mau jadi orang jujur tapi tidak punya duit lebih, masih cukup buat makan tapi kalau untuk kemewahan mungkin tidaklah, atau mau ikut arus mencuri kecil-kecilan hingga yang tingkatan besar, korupsi. Yang terakhir tentu memiliki risiko yang jauh lebih besar kalo dilihat dari berbagai segi. Yang mudah dilihat tentu saja emosi naik jika sampai ada rekan sejawat yang menanyakan karena merasa baru tahu atau sudah tahu. Lantas ngeles jadi pilihan berikutnya atau malah berbohong untuk menutupi kebohongan lainnya.
Pengalaman ini makin menjadi saat dipercaya untuk menjadi bagian dari Tim Pengendalian yang bertugas melakukan pengecekan lapangan saat pekerjaan baru selesai sebagian, untuk kemudian ditindaklanjuti oleh Tim Gabungan beberapa Dinas saat pekerjaan tersebut telah selesai dikerjakan keseluruhan.
Melihat kenyataan bahwa tidak semua teman bisa diajak jujur dan tak berpihak pada rekanan pemborong (kontraktor) sungguh-sungguh menjadikan satu pelajaran tambahan yang selama ini tidak didapat di atas meja kantor.
Cara mencuri yang jauh lebih cantik dan harus memiliki pengetahuan akan bahan mentah maupun jadi dari material yang digunakan dalam masing-masing pekerjaan yang dilakukan. Sehingga jika tak menguasai materi tadi tentu bisa dilihat jelas, kalau dari pihak pelaksana (Pemborong maupun Pengawas Intern yang terlibat) sedikit bohong untuk menutupi sekian banyak kekurangan yang terlihat jelas di lapangan.
Retak, permukaan yang aus, material terlepas hingga kebocoran, bisa jadi makanan empuk bagi anggota Tim Pengendalian yang turun, dan sialnya lebih banyak dari ketidakberesan pekerjaan tadi ditendang dengan kaki hingga ambruk oleh anggota Tim yang turun. Bayangkan, pakai kaki saja bisa hancur apalagi kalau dilewati mobil ataupun kendaraan berat lainnya?
Sedang jika anggota Tim Pengendalian yang tidak menguasai materi tadi, tentu saja akan gampang dibohongi oleh mulut manis yang sudah disumpal uang. Kerjanya tentu ngelihat tok, mendengar penjelasan Pemborong, Jeprat jepret foto ganteng –tidak berkaitan dengan kegiatan, tapi yang terlihat malah wajah keren anggota Tim yang turun, terus manggut-manggut sampe menerima amplop ‘sekadar uang makan dan transport’. At last, pekerjaan diterima dan bisa dilanjutkan lagi.
Nah, sampai di sini, kira-kira sudah terbayang tantangan yang bakalan dihadapi kalau berhasil lolos jadi PNS?
Jika memiliki jiwa idealis mewujudkan satu sistem yang benar dan menghasilkan pekerjaan yang bertahan hingga jangka waktu yang diinginkan, mungkin harus bersiap untuk makan hati dari sekarang, sebab terkadang orang-orang seperti ini bakalan mentok dalam berbagai hal. Keuangan hingga karir yang di satu tempat selama bertahun-tahun.
Sebaliknya jika memiliki jiwa ikut arus, atau malah sudah terbiasa membohongi kata hati yang lebih manusiawi, maka bisa dikatakan walau gajinya kecil tapi mampu untuk membeli barang mewah dari komputer multimedia lengkap dengan layar tipis, mobil sedan mentereng hingga rumah berlantai.
So, mau pilih yang mana? [b]



