18th December 2007

Satu Ton Banten Nganten, Lalu Pengantennya?

posted in Opini, Budaya | contributor : Luh De Suriyani | 255 Views

Oleh Luh De Suriyani

Hampir seminggu ini saya metulungan (bantu) ke rumah sepupu yang mau nganten (nikah). Suasananya chaos—horor banget yee–, seperti bakal ada tsumani besok trus orang2 sibuk menyelamatkan dokumen rahasia keluarga.

Seminggu itu ada sekitar tiga puluh orang (70% perempuan) yang rutin metulungan. Setiap orang sibuk dengan kerjaaannya. Suntuk sekali. Kecuali para pria yang bekerja sangat rileks, tak pernah mereka mendiskusikan apa yang dilakukan. Mereka malah bisa ngobrol bebas hambatan. Maklum pekerjaan mereka memang standar, membuat tusuk sate dari bambu dan merajang bumbu untuk pelengkap nampah (motong) babi.

Nah, mari kita melihat betapa chaosnya perempuan dalam rumah di kawasan Gatsu I ini. Ada empat kelompok perempuan dengan tipikal pekerjaannya. Di dapur, empat orang masak di dapur sempit itu berdesak-desakan, tanpa bicara satu sama lain. Di sebelahnya, satu kelompok lagi mejahitan (membuat prakarya janur untuk banten atau sesajen). Satu sama lain mengawasai pekerjaan temannya. Kalau ada yang sedikit saja salah menggores janur, langsung terdeteksi. “Eh, adi keto nues, sing dadi pelih,” begitu disiplinnya.

Kelompok lain merangkai banten. Wuih, kelompok ini paling panas. Saya masuk dalam kelompok ini—termuda dan tergoblok, jadi bekerja mengikuti apa yang dilakukan orang saja–. Sementara tujuh ibu setengah baya ribut-berdebat soal mekanisme perbantenan, saya melongong dengan mata nanar dan tidak berdaya sama sekali dengan dunia perbantenan yang begitu dahsyat.

Jam demi jam sang ibu-ibu pendekar banten ini merangkai buah, janur, beras, bawang, uang kepeng, benang tridatu, dan ramuan lain yang alamak…buanyak banget deh.

Tak heran perdebatan tak pernah berhenti, masing-masing banten sangat mirip ramuannya, tapi namanya beda dan peruntukannya juga beda. Ada satu ibu yang malah meminta persetujuannya dengan saya soal banten yang didebatkan. Dengan serius saya menjawab, “Hmmmmm…. (sambil manggut-manggut).” Si ibu mengira saya setuju dengan dia. Waduh, kacau juga.

Dalam seminggu, pendekar banten itu bekerja sambil berdebat selama tujuh jam sehari. Metulungan bisanya mulai jam 11 siang sampai petang. Betapa hebat energi perempuan-perempuan ini padahal, hampir semuanya sudah mulai menyiapkan dagangan dari jam 3 dini hari lalu berjualan sampai jam 11. Semua, kecuali saya yang pemalas—adalah pedagang nasi soto sapi karangasem di sejumlah pojokan Kota Denpasar. Saya adalah anak salah satu juragan soto yang termasyhur. Haha….

Oke, kita sudahi soal chaos buat banten yang menjadi latar belakang konteks tulisan ini. Di sela-sela perang banten itu, ternyata saya menyisipkan waktu untuk merenung. Ya, hanya merenung, kan tangan masih bisa nyusun sesajen. Saya perkirakan berat banten yang dibuat selama seminggu itu satu ton. Buktinya, kami butuh empat mobil pick up untuk mengirim banten ke lokasi pernikahan sepupuku.

Setiap banten dibuat dengan sangat cermat, tidak boleh ada yang menyalahi aturan dan sangat disiplin dalam hal kualitas bahan bahan yang dipakai. Misalnya, kalau pakai beras, jangan sampai beras yang jelek—walau banten ini nantinya tidak dimakan.

Masing-masing rangkaiannya memiliki nilai filosofi tinggi soal nilai-nilai gender, harapan bagi pasangan yang akan menikah, keajegan rumah tanggga, dan tentu saja kesejahteraan bagi mempelai nanti. Luar biasa, para tetua yang turun temurun mewariskan khasanah ini.

Sungguh kontras dengan kondisi psikis dan lahiriah calon pengantennya. Sepupuku dan calon istrinya menghadapi tekanan yang agak berat juga soal status mereka yang belum bekerja. Menurut saya, kedua penganten juga tak tahu apa nilai-nilai di balik banten sebagai sarana doa saat pernikahan secara agama nanti. Betapa sebenarnya harapan dan doa lewat banten yang dibuat kerabatnya dan didoakan oleh pemangku nanti adalah perenungan.

Saya sendiri baru menyadari hal ini—ketika perang banten terjadi. Kami, orang Bali sungguh perkasa di arena ritual namun tak berdaya di kancah spiritual. Kami tak pernah hirau dengan nilai-nilai dan doa yang disematkan dalam ribuan sesajen (yang dibuat dengan sangat khusyuk, mengorbankan materi dan energi melimpah). Setelah urusan ritual selesai, yang ada hanya kebingungan soal bagaimana mengelola rumah tangga. Ini yang saya temukan pada kakak-kakak saya yang telah menikah dan beranak pinak.

Waduh, kenapa kita selalu baru bisa merenung setelah perang usai ya…

This entry was posted on Tuesday, December 18th, 2007 at 9:33 pm and is filed under Opini, Budaya. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

There are currently 11 responses to “Satu Ton Banten Nganten, Lalu Pengantennya?”

Why not let us know what you think by adding your own comment! Your opinion is as valid as anyone elses, so come on... let us know what you think.

  1. 1 On December 18th, 2007, Yanuar said:

    yup.. sepakat.
    kancah spiritual kadang lebih sering yang tersirat porsinya lebih banyak.
    tapi alangkah nyamannya ketika kita tahu apa yang tersurat didalamnya.

  2. 2 On December 19th, 2007, wayan sudirta said:

    Memang ini yang terjadi, tapi siap berani memulai perubahan?
    mnyeimbangkan makna ritual (sosial budaya) dengan kenyataan menjadi panganten (nilai kehidupan alias sisi eknonmi) apa mereka sudah kerja, atau apa mereka butuh nasehat(petuah) sebagai ganti “seton banten” ?

  3. 3 On December 19th, 2007, Nyoman Budarsa said:

    selayaknya ritual sepadan dengan (sepi)ritual

  4. 4 On December 20th, 2007, Kuntayuni said:

    Memang sayang jika akhirnya hanya menjadi sebuah ritual tanpa makna. Tapi perdebatan macam ini sudah sering terjadi “bahwa kalau bisa spiritualnya lebih ditonjolkan.” Tapi apa yang terjadi? Keributan! Yang tua dan muda saling berargumen dan tentu harus ada yang mengalah, kalau ‘ndak’ bisa ‘ga jadi kawin, he..he.. Ini saya saksikan dan rasakan sendiri ketika bergabung dalam kepanitiaan pernikahan kawan saya. Ternyata ini tidak hanya terjadi di tataran Hindu/Bali. Betul, memang harus ada yang memulai. Semoga saya dan calon suami saya kelak bisa memulai ini.

  5. 5 On December 21st, 2007, winata said:

    ya…karena bikin banten yang banyak inilah, tanah warisan orang Bali akhirnya banyak yang dijual.

  6. 6 On December 21st, 2007, govi said:

    memang ga bisa dipungkiri dlm hal persiapan ritual agama kita kaum perempuan begitu perkasa bekerja siang malam dgn sedikit istirahat, seandainya kita jg mengerti esensi dibalik banten & ritual yg di buat kemudian di wariskan kpd yg lbh muda tentunya tidak akan terjadi terputusnya generasi yg menguasai banten & makna spiritualnya…..

  7. 7 On December 24th, 2007, mudajaya said:

    buat luh de, sudahlah, kita sama2 mengerti situasi tersebut, makanya segera sekarang ini kita formatkan banten yang sederhana tapi berat makna, gimana setuju?

  8. 8 On December 24th, 2007, ita said:

    Bagaimana kalo yang setuju penyederhanaan banten ketemuan dulu sebagai langkah awal.

  9. 9 On December 24th, 2007, mudajaya said:

    ok, setuju dengan ita, yuk kumpul2 utk ngobrol sekalian take action…setuju?

  10. 10 On January 17th, 2008, Koen Binawan said:

    Pada acara nubulanin, ngotonin, ngaben, dll. bantennya juga banyak dan tidak semua orang yg terlibat mengerti makna dari bebantenan.
    Selain itu, saya pernah mengalami saat prosesi “mebyakaon”, masing2 ibu2 memberikan instruksi yg berbeda, akhirnya mereka ramai berdebat. Kita yg jadi bingung harus mengikuti instruksi yg mana.

  11. 11 On January 29th, 2008, Budi said:

    Para Sulinggih perlu berinisiatif utk meminimize banten tanpa mengurangi maknanya. Coba bandingkan dgn jaman dulu, saya yakin bantennya sederhana tidak serumit sekarang. Seandainya banten bisa sederhana, maka otomatis biaya bisa ditekan, dan bisa dialihkan utk pendidikan yg lebih tinggi. Kalau pendidikan maju, niscaya ekonomi maju, maka bali menjadi sejahtera. Bagi kita, perlu kampanye utk buat banten sesuai kemampuan dan bukan berdasar ego atau kampanye mengubah paradigma kalau kurang banten bisa celaka, shg masyarakat yg ekonominya kurang merasa tidak terbebani yg akhirnya mebanten dgn cara ngutang, otomatis makna yadnya yg dilakukan terasa kurang. Semoga pikiran baik datang dari segala arah. Astungkara.

Leave a Reply

Sebarkan ke Dunia
delicious
digg
technorati
reddit
magnolia
stumbleupon
yahoo
google
eXTReMe Tracker