1st March 2008

Lagu Anak-anak Kian Memprihatinkan

posted in Opini, Budaya | contributor : Pande Baik | 480 Views

Oleh Pande Baik

Kalau pada tahun 80an yang namanya lagu anak-anak masihlah merupakan turun temurun dari zaman sebelumnya. Durasi pendek dengan kalimat yang mendidik dan juga mudah dimengerti adalah ciri khas kala itu. Mungkin hingga saat dewasa pun masih bisa mengingat lagu-lagu itu dengan baik. Seperti Aku Seorang Kapiten, Naik Kereta Api, Bintang Kecil dan lain sebagainya. Penyanyi anak-anakpun masih didominasi oleh Adi Bing Slamet atau Chica Koesmoyo.

Menginjak tahun 90an, sejak dikenalnya televisi swasta, penyanyi lagu anak pun makin beragam. Puput Novel merupakan salah satu penyanyi yang paling dikenal saat itu. Namun yang namanya lagu klasik anak-anak sepertinya memang masih menggema di tingkat TK maupun SD saat itu.

Lantas bagaimana pada tahun 2000an hingga hari ini?

Boleh jadi disokong oleh teknologi yang makin maju, di mana untuk mendengarkan lagu anak-anak tak lagi harus membeli kaset tip tapi sudah mulai dalam format VCD dan MP3, ditambah fasilitas player maupun handphone yang mudah dimengerti oleh anak-anak sekali pun, sehingga tak jarang anak-anak pun mampu untuk menggunakannya. Efeknya, bukan hanya lagu anak yang kini ramai didengarkan oleh mereka, tapi juga lagu pembuka film kesayangan, hingga lagu remaja dan dewasa.

Entah lucu atau malah membuat miris hati, kini sudah biasa melihat anak-anak dengan gampangnya menyanyikan lagu-lagu bertemakan Cinta maupun perselingkuhan, yang mungkin belum saatnya dikenal pada usia mereka.

Tak jarang pula, saat diminta menyanyi di depan kelas oleh sang guru, si murid SD kelas 1, bukannya menyanyikan Kasih Ibu, Bintang Kejora atau lagu-lagu perjuangan sekalipun, malahan dengan bangganya ia bercerita mendendangkan lagu milik The Rock yang ‘Tuhan kirimkanlah aku kekasih yang baik hati…. Yang mencintai aku, apa adanya….’. Walah…

Memang, jika mengikuti perkembangan lagu anak yang bernuansa pop, terakhir kayaknya cuman Sherina dan juga Tasya yang mampu mengeluarkan album bertema lagu anak klasik maupun bernuansa masa kecil yang bahagia.

Sayangnya pula pada saat yang sama, sifat kekanak-kanakan itu harus tercoreng oleh penyanyi cilik ‘Bolo-bolo’ menyanyikan lagu pop dengan irama dangdut lengkap dengan goyang nge-bor nya Inul.

Usai semua itu, penyanyi lagu anak seperti mati suri, tenggelam oleh lagu-lagu remaja dan dewasa yang ‘Kamulah makhluk Tuhan yang tercipta yang paling sexy, Cuma kamu yang bisa membuatku terus menjerit, aw aw aw…..’ Bayangkan kalo yang nyanyi itu perempuan kecil blom sekolah TK, dengan genitnya ber ‘aw aw aw….’

Entah menggemaskan atau malah harus prihatin…

This entry was posted on Saturday, March 1st, 2008 at 9:46 am and is filed under Opini, Budaya. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

There are currently 6 responses to “Lagu Anak-anak Kian Memprihatinkan”

Why not let us know what you think by adding your own comment! Your opinion is as valid as anyone elses, so come on... let us know what you think.

  1. 1 On March 1st, 2008, ady gondronk said:

    inilah mungkin salah dua imbas dari kemajuan iptek bli.
    sekarang kembali ke orang tuanya aja,gimana cara mendidik anak..

  2. 2 On March 2nd, 2008, luhde said:

    wah, menarik sekali. aduh, saya jadi gugup menyongsong masa depan anak nanti. apalagi bli pande yang masih di perut??? Lingkungan yang paling mempengaruhi adalah televisi dan teman2 sebayanya. Coba cek juga, pasti sebagian anak2 dan ibu rumah tangga skarang suka nongkrongin indosiar. sinetron ala india damn itu!! sialan indosiar dan produsernya. i wanna kill television, but i couldnt do that.

  3. 3 On March 2nd, 2008, Pande said:

    He.. Mungkin ini kekhawatiran yang berlebihan ya Mbak? apalagi si adik blom juga nongol sampe hari ini. hahahaha….

  4. 4 On March 3rd, 2008, winata said:

    Saya juga miris liat anak-anak nyayiin lagu orang dewasa. Saya tersenyum kecut tiap nonton acara “Idola Cilik” nya RCTI. Ini sama saja meracuni pikiran anak-anak kita. Entahlah… Apa lagi yang baik dari negeri ini??

  5. 5 On March 9th, 2008, l4eu_f_er said:

    saya kira seorang anak tidak mempunyai tanggung jawab atas apa yang mereka lakukan, jadi apapun yang terjadi pada mereka merupakan gambaran dari orang dewasa disekeliling mereka (yang memberi pengaruh entah baik atau buruk)namun hal itu dipandang sebagai sesuatu yang “sudah semestinya” (socially accepted moral)dari sudut pandang si anak: saya kira inilah yang menghawatirkan karena si anak tumbuh dalam “idealisme” semacam itu.

  6. 6 On March 10th, 2008, Pande said:

    Saya setuju dengan pendapat bahwa ‘anak adalah cerminan lingkungan sekelilingnya’. gak cuman untuk kasus ini tapi berlaku pula untuk tata bahasa dan perilakunya. itu pula sebabnya menjadi kekhawatiran saya ‘apakah akan mampu untuk mendidik anak sesuai harapan secara pribadi saat ini ?’

Leave a Reply

Sebarkan ke Dunia
delicious
digg
technorati
reddit
magnolia
stumbleupon
yahoo
google
eXTReMe Tracker