10th March 2008

Premanisme Jalanan dalam Ritual Bali

posted in Budaya, Opini | contributor : Made Suardana | 200 views

Oleh I Made Suardana

Premanisme dalam ritual Bali? Apa pula itu? Bukan bermaksud melebih-lebihkan atau membuat sesuatu menjadi kelihatan ekstrem. Namun fenomena yang saya alami dan amati ini rasanya cukup layak dimasukkan dalam dunia premanisme walaupun dibungkus dengan apik dalam balutan ritual dan budaya yang katanya adi luhung orang Bali. Anda yang tinggal di Bali tentu pernah atau bahkan sering mengalami bagaimana kalau orang Bali melakukan kegiatan ritual agama dan budaya khususnya yang mengambil tempat (secara seenaknya) di jalan-jalan raya kota maupun desa.

Jika balai banjar/pura tempat diadakannya upacara berada tepat disamping jalan raya maka dapat dipastikan jalan raya tersebut akan ditutup, paling tidak ditutup satu jalur. Bisa dipastikan akan ada kemacetan, belum lagi beberapa pengguna jalan raya yang kebingungan akibat pengalihan jalan yang masih asing bagi mereka. Walaupun ijin sudah dikantongi tetap saja itu namanya mengganggu kepentingan umum. Tapi kita orang Bali punya sebuah excuse yang cukup ampuh dan sombong, ini kan atas nama agama dan budaya. Jalan ini ada di daerah kekuasaan desa adat A jadi kami berhak memakai jalan ini.

Yang lebih parah adalah kegiatan2 upacara agama/adat yang dilakukan di jalan raya alias ada prosesi yang menempuh rute tertentu misalnya dari pura A menuju ke pantai. Bisa dipastikan mental premanisme akan merajalela. Jalan raya akan digunakan dua jalur dan pengguna lain tidak boleh menyalip, jika datang dari arah berlawanan maka pengendara lain harus menepi total dan berhenti. Pernahkah Anda terjebak dalam antrean panjang karena prosesi ritual di Bali?

Hal yang saya tidak mengerti mengapa orang Bali yang sedang punya gawe itu seakan begitu bangga dan angkuh, seolah-olah jalan raya tersebut adalah milik mereka sendiri. Ditambah pula dengan mengacung-acungkan umbul-umbul upacara ke arah pengendara lain sebagai tanda pada kita untuk berhenti. Harusnya mereka sopan dan mengambil jalan satu arah saja tidak merasa menjadi raja jalanan hanya karena tameng ritual agama dan budaya.

Satu dua kali mungkin masih bisa ditoleransi, orang Bali punya ritual agama dan budaya ribuan kali dan setiap hari. Ini kan parah. Apa mau jadi preman jalanan tiap hari? Bagaimana misalnya kalau saat itu ada orang sakit yang ingin lewat? Atau ada orang yang mau melahirkan dan harus segera ke rumah sakit? Lalu apa bedanya budaya dan mafia?

Ini beberapa tips jika misalnya suatu saat terjebak macet karena ritual orang Bali:

1. Jika dari arah yang sama, jangan sesekali menyalip walaupun keadaan memungkinkan kecuali jika ada tanda-tanda atau aba-aba yang jelas dari salah satu ‘preman’ dalam kelompok itu, biasanya mereka ini pakai motor dengan membawa umbul-umbul upacara atau pakai mobil jeep terbuka. Jika nekat, siap-siap kena tonjok atau kena damprat. Pelan-pelanlah ikutin dari belakang, bila perlu berhenti saja di warung sambil minum kopi, tunggu sampai mereka lewat.

2. Jika dari arah berlawanan, pastikan berada di pinggir jalan sampai maksimal dan berhenti. Jangan terus jalan walau pelan, kecuali ada aba-aba yang jelas. Jika pakai motor, lebih baik pakai helm cerebong sehingga aman. Jika pakai mobil, tutup kaca mobil rapat-rapat sehingga menghindari hal-hal yang tidak diinginkan

3. Bila perlu pasang senyum saat berhenti dan mereka lewat tepat disamping kita. Kemungkinan besar mereka dalam ‘preman mode’ sehingga wajah dingin bisa diartikan ‘tidak terima’ oleh mereka.

This entry was posted on Monday, March 10th, 2008 at 3:48 am and is filed under Budaya, Opini. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

There are currently 4 responses to “Premanisme Jalanan dalam Ritual Bali”

Why not let us know what you think by adding your own comment! Your opinion is as valid as anyone elses, so come on... let us know what you think.

  1. 1 On March 12th, 2008, saylow said:

    Hahaha bli made, it’s everywhere… nggak cuma di Bali. Waktu saya di luar bali dulu sama aja.

    Bukan masalah “ritual bali” tapi menjadi “lokal” dan “mayoritas”. Di Bali mending masih agak gengsi pake badan jalan buat acara pribadi, misalnya Nikahan. Kalau di di luar Bali itu biasa.

    Belum lagi masalah konvoi mending umbul-umbul, la kalo klewang yang ujungnya di gesekan sama aspal sampai keluar percikan api? hahaha…

  2. 2 On March 13th, 2008, Goesde said:

    Wah, saya ga’ setuju tuh…

    Kalo yang namanya pecalang yang nyaga, pastilah orang2 yang terpilih di desanya yang dianggap mampu menjaga desanya

    Intinya seh, dimana bumi dipijak disana langit dijunjung :)

  3. 3 On March 18th, 2008, asn said:

    pasti ngalamin sendiri kena iring2an melis ne.. hehe

  4. 4 On July 9th, 2008, gingsir said:

    Pak Made…jangan terlalu melebihkan..
    kita menilai harus proporsional

    ===orang Bali punya ritual agama dan budaya ribuan kali dan setiap hari. Ini kan parah. Apa mau jadi preman jalanan tiap hari?===

    anda meng-generalisasi, setiap ritual dan budaya setiap hari sebagai tindakan preman jalanan tiap hari…

    Keniscayaan itu ada….tapi jangan berlebihan
    Pengorbanan dari setiap mahluk baik langsung maupun tidak langsung dalam setiap proses “ritual” pastilah terbalaskan….saya yakin itu..
    karma….energi kekekalan masa

    saya dari seberang/luar pulau bali justru bangga dengan prosesi itu, tetapi dengan ketulusan dan kesantunan.

Leave a Reply

Sebarkan ke Dunia
delicious
digg
technorati
reddit
magnolia
stumbleupon
yahoo
google
eXTReMe Tracker