RSS

Archive for the ‘Denpasar Before & After’ Category

Tuesday, January 12th, 2010 by Darma Putra

Menggunakan Seniman untuk Nama Jalan

Teks dan Foto I Nyoman Darma Putra Denpasar bertekad terus menjadi kota berwawasan budaya, tetapi mengapa nama-nama seniman Denpasar tidak diangkat menjadi nama-nama jalan di kota ini? Bukankah akan lebih klop kalau jalan-jalan di ibu kota Pulau Bali ini dihiasai dengan nama-nama seniman-budayawan yang berjasa mengharumkan citra kota ini di masa lalu bahkan sampai kini? Dalam sarasehan ...

. . . Budaya . Denpasar . Denpasar Before & After . Kabar Anyar . Sosok

Sunday, June 28th, 2009 by Darma Putra

Meninjau Kembali Sejarah Drama Gong

Oleh Darma Putra Dalam dialog budaya tentang sendratari, drama gong, dan gong kebyar di sela-sela Pesta Kesenian Bali (PKB XXXI di Taman Budaya Denpasar, Senin (22/6) lalu, disinggung sepintas mengenai awal munculnya drama gong. Disebutkan bahwa drama gong lahir pada 1966 (pasca-G30S), tokohnya adalah Anak Agung Raka Payadnya. Sejak tahun itu drama gong dianggap berkembang dan ...

. Budaya . Denpasar Before & After

Sunday, February 1st, 2009 by Luh De Suriyani

Di Mana sih Kawasan Makanan Tradisional Denpasar?

Oleh Luh De Suriyani Dua turis, Matt dan istrinya dari Swedia, pekan lalu datang ke Pusat Informasi Turis di Dinas Pariwisata Denpasar, Jalan Surapati. Ia membawa peta wisata kota Denpasar dan meminta petunjuk dari petugas di sana, dimana saja bisa mendapatkan makanan tradisional Bali. “Yang membuat saya tidak sakit perut, ya,” Matt dan istrinya nyengir. Mereka berpikir ...

. . Budaya . Denpasar Before & After . Jalan-Jalan . Kuliner

Tuesday, January 20th, 2009 by Luh De Suriyani

Apa Kabar Gajah Mada Heritage?

Oleh Luh De Suriyani Gajah Mada telah dideklarasikan sebagai kawasan heritage atau cagar budaya di Kota Denpasar. Setelah hingar bingar seremonial Gajah Mada Festival beberapa saat lalu, kawasan ini tak kunjung menampakkan kegairahan baru.

Budaya . Denpasar Before & After . Jalan-Jalan

Monday, December 29th, 2008 by Darma Putra

Mengapa ‘Gajah Mada Town Festival’?

Oleh Darma Putra Inisiatif Pemkot Denpasar dengan dukungan Desa Pakraman Denpasar untuk menggelar “Gajah Mada Town Festival” pada 28-30 Desember pantas disambut karena akan memberikan ruang rekreasi sosial dan apresiasi kultural. Acara budaya ini mengingatkan orang pada “Festival Gajah Mada” yang digelar 44 tahun yang lalu di tempat yang sama. Namun, satu pertanyaan penting agaknya pantas ...

. . . Agenda . Budaya . Denpasar Before & After . Opini

Friday, December 12th, 2008 by Darma Putra

Inikah ‘Kawasan Heritage Gajah Mada Denpasar’?

Oleh Darma Putra Walau Jalan Gajah Mada Denpasar kumuh dan semrawut, gagasan mewujudkannya sebagai kawasan heritage (warisan alam/budaya?) jalan terus. Buktinya, awal Desember 2008, di ujung Barat Jalan Gajah Mada dipasang tanda yang bertuliskan ‘Kawasan Heritage Jalan Gajah Mada Denpasar’. Tanda yang mirip dengan prasasti berukuran besar itu dipasang di pojok utara dan selatan ujung Barat jalan. ...

. . Denpasar Before & After

Thursday, August 7th, 2008 by I Nyoman Winata

Denpasar Kota (yang Makin) Kusam

Oleh I Nyoman Winata Sempat pulang kampung akhir Agutus lalu untuk ikut pelatihan Jurnalistik dari BBC, saya membawa rasa rindu mendalam terhadap kota kelahiran saya, Denpasar. Meski belum genap setahun saya pulang kampung tetap saja rasa kangen dengan rumah tua sudah begitu kuat. Bali memang membuat kita selalu rindu untuk mendatanginya. Hanya saja memang realitas yang ditemui tidak masih seindah ...

Denpasar Before & After . Kabar Anyar . Opini

Wednesday, June 25th, 2008 by Anton Muhajir

Kongres Kebudayaan dan Nasib Art Centre

Oleh I Nyoman Darma Putra KONGRES Kebudayaan yang untuk pertama kalinya dilaksanakan 14 Juni ini boleh saja membahas berbagai masalah kebudayaan Bali, tetapi tidak sepantasnya mengabaikan nasib Art Centre. Dalam usianya yang lebih dari tiga dekade, pesona Art Centre tempat Pesta Kesenian Bali (PKB) digelar kini sangat pudar, bahkan tak ubahnya seperti situs purbakala. Dalam kondisinya yang ...

Budaya . Denpasar Before & After

Saturday, January 26th, 2008 by I Nyoman Winata

Kekalahan Manusia Tani Bali

Oleh I Nyoman Winata Anda yang pernah ke Terminal Ubung, pasti pernah melewati kawasan Pidada yang letaknya di belakang Terminal. Dan kalau Anda penduduk Asli Denpasar tetapi lahir di atas tahun 1994 mungkin tidak pernah mengetahui kalau kawasan Pidada dulunya adalah hamparan sawah produktif. Tahukah Anda kalau Nama Pidada diambil dari salah satu pura yang ada ...

Budaya . Denpasar Before & After . Opini

Saturday, October 13th, 2007 by Darma Putra

Festival Gajah Mada

Oleh Darma Putra Jalan Gajah Mada tak lagi secemerlang dulu. Kini jalan utama ko Denpasar itu kerap macet, jalan kian sempit, mobil-motor berebut tempat parkir. Toko-toko yang berjejer dari Barat ke Timur kian sunyi dari pembeli. Wajahnya mengingatkan kita pepatah ‘kerakap tumbuh di batu’ alias ‘hidup segan mati tak mau’. Panorama Gajah Mada yang kini tua dan ...

Budaya . Denpasar Before & After . Jalan-Jalan

Tuesday, August 21st, 2007 by Darma Putra

Kota Konferensi

Oleh Darma Putra  Denpasar layak mendapat julukan Kota Konferensi. Alasannya, sejak lebih 50 tahun terakhir, ibu kota Pulau Bali ini sudah sering dan terus menerus dipilih sebagai tempat seminar, rapat, sidang, munas, kongres, dan sejenisnya, baik untuk tingkat nasional maupun internasional, baik yang diselenggarakan oleh partai politik maupun organisasi profesi.   Konferensi penting pertama yang berlangsung di ...

Budaya . Denpasar Before & After

Tuesday, August 14th, 2007 by Darma Putra

Titi Mas

Oleh Darma Putra  Titi Mas adalah nama warung modern tempo doeloe yang terletak persis di ujung jembatan Tukad Badung, sisi utara jalan Gajah Mada Denpasar. Lokasinya mepet dengan batas barat Pura Desa Denpasar. Warung ini populer akhir 1960-an hingga 1970-an dan banyak disinggahi turis manca negara yang melakukan city tour di Denpasar.   Warung modern itu menjual ...

Budaya . Denpasar Before & After . Jalan-Jalan . Kuliner

Monday, July 23rd, 2007 by Darma Putra

Penjara Denpasar

Oleh Darma Putra  Penjara Denpasar awalnya terletak di Jalan Diponegoro, Pekambingan. Gedung angker yang didirikan pemerintah kolonial Belanda tahun 1916 itu dipindahkan ke Kerobokan pada 1983. Di lokasi penjara itu kemudian dibangun pertokoan Kertha Wijaya yang diresmikan Gubernur Ida Bagus Mantra tahun 1986. Penggusuran penjara dan pendirian pertokoan ini merupakan salah satu proses untuk menjadikan Denpasar ...

Denpasar Before & After

Monday, July 9th, 2007 by Darma Putra

Bioskop Denpasar

Oleh Darma Putra Jauh sebelum hadirnya televisi, VCD, dan DVD, gedung bioskop merupakan salah satu lambang modernitas kota Denpasar. Kapan pastinya gedong bioskop berdiri di Denpasar perlu diteliti lebih jauh. Yang jelas, pada tahun 1950-an, media massa yang terbit di Bali sudah menyebutkan kegandrungan kalangan elit dan remaja kota menonton film, berarti gedung bioskop sudah hadir ...

Budaya . Denpasar Before & After

Friday, June 29th, 2007 by Darma Putra

Suci (Plaza)

Oleh Darma Putra Pertokoan Suci Plaza yang terletak di sudut perempatan Jl Diponegoro-Hasanudin-Sumatra dulunya adalah pasar senggol, pompa bensin, dan terminal. Anehnya, selang satu setengah dekade, ciri senggol itu kembali muncul walau dalam ukuran kecil. Sebelum berubah wajah menjadi jejeran toko emas dan parkir bawah tanah sejak akhir 1980-an, tempat ini sejak lama menjadi pusat kehidupan malam ...

Budaya . Denpasar Before & After . Jalan-Jalan . Kuliner

Monday, June 18th, 2007 by Darma Putra

Kumbasari

Oleh Darma Putra Pasar Kumbasari di sisi barat Tukad Badung pernah menjadi ikon modern kota Denpasar walau dalam masa yang relatif pendek, antara akhir 1970-an hingga awal 1980-an. Antara tahun itu, Pasar Kumbasari lebih populer dengan sebutan Pertokoan Kumbasari. Arti ‘pasar’ dan ‘toko’ jelaslah bedanya! Pertokoan atau Pasar Kumbasari yang dilalap si jago merah awal Mei 2007 ...

Budaya . Denpasar Before & After . Jalan-Jalan

Thursday, June 7th, 2007 by Darma Putra

Lila Bhuwana

Oleh: Darma Putra Gedung olah raga mewah di sudut barat-laut Stadion Ngurah Rai Denpasar dulunya merupakan pasar senggol yang ramai dan gedung bioskop yang merakyat. Pasar senggol tersebut terkenal dengan nama Lila Bhuwana, sedangkan gedung bioskopnya disebut Lila Bhuwana Theatre. Lila Bhuwana adalah nama yang indah. Dalam bahasa Bali, ‘lila’ artinya ‘senang’, ‘bhuwana’ artinya ‘dunia atau tempat’. ...

Budaya . Denpasar Before & After . Kuliner

Iklan anda