26th January 2008

Kekalahan Manusia Tani Bali

Oleh I Nyoman Winata

Anda yang pernah ke Terminal Ubung, pasti pernah melewati kawasan Pidada yang letaknya di belakang Terminal. Dan kalau Anda penduduk Asli Denpasar tetapi lahir di atas tahun 1994 mungkin tidak pernah mengetahui kalau kawasan Pidada dulunya adalah hamparan sawah produktif. Tahukah Anda kalau Nama Pidada diambil dari salah satu pura yang ada di kawasan yang kini telah menjadi pemukiman padat itu?

Kawasan Pidada sesungguhnya juga menyimpan jejak kekalahan manusia-manusia petani di Tanah Bali akibat menggilanya kebijakan Pembangunan tanpa arah jelas. Nama pura yang kini dikenal dengan Pura Pidada, menurut penuturan para tetua di Desa Ubung sebelumnya disebut Pura Tabeng Dada (perisai diri). Perubahan menjadi Pidada disebutkan sebagai akibat pengucapan yang dipercepat dari tabeng dada.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Opini, Denpasar Before & After, Budaya | Kontributor : I Nyoman Winata | 2 Komentar | 204 Views

13th October 2007

Festival Gajah Mada

Oleh Darma Putra

Jalan Gajah Mada tak lagi secemerlang dulu. Kini jalan utama ko Denpasar itu kerap macet, jalan kian sempit, mobil-motor berebut tempat parkir. Toko-toko yang berjejer dari Barat ke Timur kian sunyi dari pembeli. Wajahnya mengingatkan kita pepatah ‘kerakap tumbuh di batu’ alias ‘hidup segan mati tak mau’.

Panorama Gajah Mada yang kini tua dan keriput walau berusaha diisi gincu lewat aturan bangunan berarsitektur Bali atau pembuatan trotoar jalan, berbeda dengan empat atau tiga dekade lalu. Dulu, Gajah Mada merupakan pusat kota yang mewah, lambang kemajuan dan gengsi. Kepentingan hidup modern tersedia di toko-toko di Gajah Mada. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Jalan-Jalan, Denpasar Before & After, Budaya | Kontributor : Darma Putra | 6 Komentar | 372 Views

21st August 2007

Kota Konferensi

Oleh Darma Putra 

Denpasar layak mendapat julukan Kota Konferensi. Alasannya, sejak lebih 50 tahun terakhir, ibu kota Pulau Bali ini sudah sering dan terus menerus dipilih sebagai tempat seminar, rapat, sidang, munas, kongres, dan sejenisnya, baik untuk tingkat nasional maupun internasional, baik yang diselenggarakan oleh partai politik maupun organisasi profesi.  

Konferensi penting pertama yang berlangsung di Denpasar adalah Konferensi Denpasar. Konferensi yang diprakarsai oleh Belanda ini dilaksanakan pada tanggal 18-24 Desember 1946. Bali Hotel di Jalan Veteran merupakan tempat konferensi ini dilaksanakan. Itulah satu-satunya fasilitas memadai dan bertaraf internasional pada saat itu. Bali Hotel dibangun oleh Belanda pada tahun 1928 sebagai hotel mewah pertama di Pulau Dewata. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Denpasar Before & After, Budaya | Kontributor : Darma Putra | 3 Komentar | 370 Views

14th August 2007

Titi Mas

Oleh Darma Putra 

Titi Mas adalah nama warung modern tempo doeloe yang terletak persis di ujung jembatan Tukad Badung, sisi utara jalan Gajah Mada Denpasar. Lokasinya mepet dengan batas barat Pura Desa Denpasar. Warung ini populer akhir 1960-an hingga 1970-an dan banyak disinggahi turis manca negara yang melakukan city tour di Denpasar.  

Warung modern itu menjual aneka kue (basah), es buah, juice, minuman botol, dan aneka hidangan lainnya. Di sinilah tempat wisatawan asing bisa mencicipi kue-kue yang tidak ada di negerinya. Turis yang berbelanja disediakan tempat duduk dan meja bundar yang berisi payung peneduh. Dari penampilannya, warung ini tampak elit dan menargetkan pangsa pasar kelas atas, khususnya turis asing. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Jalan-Jalan, Kuliner, Denpasar Before & After, Budaya | Kontributor : Darma Putra | 1 Komentar | 349 Views

23rd July 2007

Penjara Denpasar

Oleh Darma Putra 

Penjara Denpasar awalnya terletak di Jalan Diponegoro, Pekambingan. Gedung angker yang didirikan pemerintah kolonial Belanda tahun 1916 itu dipindahkan ke Kerobokan pada 1983. Di lokasi penjara itu kemudian dibangun pertokoan Kertha Wijaya yang diresmikan Gubernur Ida Bagus Mantra tahun 1986. Penggusuran penjara dan pendirian pertokoan ini merupakan salah satu proses untuk menjadikan Denpasar kota modern dan maju. 

Denpasar mulai berkembang sejalan dengan kemajuan pariwisata akhir 1970-an. Cerahnya perkembangan pariwisata Bali membuat kian semangatnya investor untuk menanamkan modalnya di Bali. Selain dalam sektor akomodasi di Nusa Dua, Kuta, Tuban, dan Sanur, mereka juga menanamkan uangnya di bidang pertokoan di kawasan Denpasar. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Denpasar Before & After | Kontributor : Darma Putra | 4 Komentar | 382 Views

9th July 2007

Bioskop Denpasar

Oleh Darma Putra

iklan-indra-blog.jpg

Jauh sebelum hadirnya televisi, VCD, dan DVD, gedung bioskop merupakan salah satu lambang modernitas kota Denpasar. Kapan pastinya gedong bioskop berdiri di Denpasar perlu diteliti lebih jauh. Yang jelas, pada tahun 1950-an, media massa yang terbit di Bali sudah menyebutkan kegandrungan kalangan elit dan remaja kota menonton film, berarti gedung bioskop sudah hadir saat itu.

Tahun 1950-an dan seterusnya, di Denpasar sudah sering diputar film asing, mulai dari film Barat, India, dan belakangan juga film Cina. Saat itu, gedung bioskop yang sudah disebut-sebut hadir adalah Wisnu Theatre dan Holliwood, keduanya terletak di Jalan Gajah Mada. Holliwood ini kemudian berubah nama menjadi Indra Djaja. Film Amerika yang popular tahun 1950-an itu antara lain ‘Samson and Delilah’ dan ‘Hercules’.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Denpasar Before & After, Budaya | Kontributor : Darma Putra | 4 Komentar | 572 Views

29th June 2007

Suci (Plaza)

Oleh Darma Putra

Pertokoan Suci Plaza yang terletak di sudut perempatan Jl Diponegoro-Hasanudin-Sumatra dulunya adalah pasar senggol, pompa bensin, dan terminal. Anehnya, selang satu setengah dekade, ciri senggol itu kembali muncul walau dalam ukuran kecil.

Sebelum berubah wajah menjadi jejeran toko emas dan parkir bawah tanah sejak akhir 1980-an, tempat ini sejak lama menjadi pusat kehidupan malam kota Denpasar. Di Suci-lah istilah nasi jinggo muncul. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Jalan-Jalan, Kuliner, Denpasar Before & After, Budaya | Kontributor : Darma Putra | 1 Komentar | 237 Views

18th June 2007

Kumbasari

Oleh Darma Putra

Pasar Kumbasari di sisi barat Tukad Badung pernah menjadi ikon modern kota Denpasar walau dalam masa yang relatif pendek, antara akhir 1970-an hingga awal 1980-an. Antara tahun itu, Pasar Kumbasari lebih populer dengan sebutan Pertokoan Kumbasari. Arti ‘pasar’ dan ‘toko’ jelaslah bedanya!

Pertokoan atau Pasar Kumbasari yang dilalap si jago merah awal Mei 2007 ini dulunya disebut dengan Peken Payuk (Pasar Periuk). Pasar Payuk ini di bawah kekuasaan Kabupaten Badung, sebelum daerah ini dipecah menjadi Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Jalan-Jalan, Denpasar Before & After, Budaya | Kontributor : Darma Putra | 0 Komentar | 262 Views

7th June 2007

Lila Bhuwana

Oleh: Darma Putra

Gedung olah raga mewah di sudut barat-laut Stadion Ngurah Rai Denpasar dulunya merupakan pasar senggol yang ramai dan gedung bioskop yang merakyat. Pasar senggol tersebut terkenal dengan nama Lila Bhuwana, sedangkan gedung bioskopnya disebut Lila Bhuwana Theatre.

Lila Bhuwana adalah nama yang indah. Dalam bahasa Bali, ‘lila’ artinya ‘senang’, ‘bhuwana’ artinya ‘dunia atau tempat’. Sesuai dengan namanya, Lila Bhuwana memang merupakan tempat warga urban kota Denpasar tempo doeloe untuk bersenang-senang. Selain Lila Bhuwana, kehidupan malam yang juga menarik waktu itu adalah Suci (pojok utara Jl Diponogoro). Baca selengkapnya »

Kategori berita : Kuliner, Denpasar Before & After, Budaya | Kontributor : Darma Putra | 0 Komentar | 240 Views

eXTReMe Tracker