22nd
June
2008
Oleh Luh De Suriyani
Komang Supadmi, perempuan 24 tahun ini berubah namanya menjadi Nyoman Supadmi pada hari kelahirannya, 14 Mei lalu. Saat itu adalah malam Tumpek Wayang. Suatu malam jelang hari raya umat Hindu memuja Dewa Pasupati, manifestasi Tuhan sebagai penguasa mahluk hidup.
Tak hanya nama, wataknya dan jiwanya juga diruwat. Pikiran dan perilakunya dipertajam untuk lebih baik. Prosesi wayang yang disebut Nyapu Leger ini berlangsung pada malam hari. Katika manusia yang lahir saat atau menjelang Tumpek Wayang dianggap membawa mala atau penderitaan sejak lahir.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Budaya | Kontributor : Luh De Suriyani | | 93 Views
21st
June
2008
Oleh I Nengah Widana
Sing kena baan ngorahang apa
hidup di jaman kaliyuga.
Bhuta kala ngerangsuk angga sarira
pipis dadi ukuran manyama braya.
Sing taen takut karma pala
tutur anak tua suba sing kanggo
arta brana mula jani kuasa.
Salah manusane setata ngulurin indria
tur madosa keneh iri hati.
Jeg nganggoang kita, laba pura anggon perkara.
Kenkenang lakar jani ngajegang gumi baline
yadnya suci katur ring batara sami.
Munyin kulkule meglendung maciri karya agung
pamedek sami ngiring malalung.
Pamedek sami melah lan luung
di jaba tajene sing taen suwung.
Catatan: Puisi di atas dibuat oleh I Nengah Widana, pedagang soto sapi Karangasem. Pak Ngah, panggilan akrabnya, mengirim puisinya untuk dimuat di Bale Bengong. Puisi dalam bahasa Bali ini menuturkan gundah gulananya tentang kondisi saat ini
Kategori berita : Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 115 Views
20th
June
2008
Oleh Wayan Sunarta
Tiga pelukis menyuarakan pandangannya tentang keseimbangan. Tiga pelukis yang meski telah kenyang terlibat dalam berbagai pameran bersama, namun tak henti-hentinya terus berproses dan memburu jati diri. Tiga pelukis tersebut adalah Wayan Wirawan (1975), Ketut Lekung Sugantika (1975) dan Sekartadji Supanto (1977). Mereka menampilkan karya-karya mutakhirnya lewat pameran bertajuk āEquilibriumā di Tonyraka Art Gallery, Ubud, Bali. Pameran yang berlangsung dari 30 Mei sampai 20 Juni 2008 ini dikuratori oleh Arif Bagus Prasetyo.
Para pelukis itu menyadari bahwa dunia, baik dunia ekologis, budaya dan mental sedang berada dalam ketidakseimbangan, mengalami chaos. Wirawan menyoroti peristiwa-peristiwa kehancuran ekologis yang telah terjadi di semua belahan bumi. Es di kutub telah lama mencair menyebabkan pemanasan global. Kehancuran hutan akibat kebakaran dan penebangan liar semakin parah. Banjir bandang mengincar setiap musim hujan, siap melumat perkampungan di bawahnya. Gempa bumi menjadi hantu yang menakutkan. Belum lagi masalah polusi alam (udara, air, tanah) akibat tindakan manusia yang tidak bisa menghargai alam.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Agenda, Sekitar Denpasar, Sosok, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 23 Views
19th
June
2008
Oleh Wayan Sunarta
Sejak lama Bali telah menjadi Surga bagi para pelukis asing. Mereka telah berdatangan sejak tahun 1920-an dan berlomba mereguk inspirasi dari alam dan budaya Bali yang unik. Untuk merunut beberapa nama, sebutlah misalnya Rudolf Bonnet, Walter Spies, Arie Smith, Donald Friend hingga generasi Ronald Wigman, Wolfgang Widmoser, Peter Dittmar, Filippo Sciascia, Walter van Oel dan Yaari Rom.
Yaari Rom adalah pelukis kelahiran Los Angeles, USA, 1956. Yaari yang baru beberapa tahun menetap di Bali mengakui bahwa pesona alam dan budaya Bali merupakan salah satu sumber inspirasi bagi karya-karya seninya. Yaari dikenal sebagai seniman serba bisa. Selain melukis, ia juga menggarap fotografi, film, seni teater dan wearable art (seni busana).
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Agenda, Sekitar Denpasar, Sosok, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 30 Views
5th
June
2008
Oleh Swastinah Atmodjo
Banyaknya pohon di sejumlah ruas jalan Kota Denpasar memberikan kenyamanan tapi juga menakutkan karena rawan tumbang, khususnya pada musim hujan yang diselingi angin kencang seperti periode Januari ā Pebruari 2908 ini. Antisipasinya, pemerintah setempat melakukan pemangkasan rutin, memotong jenis pohon yang rawan tumbang, serta mengembangkan konsep ātaman gumi bantenā.
Gumi berarti bumi. Sedangkan banten merupakan sarana persembahyangan umat Hindu Bali terdiri atas bunga, buah, aneka kue, dan lainnya yang kadang ditempatkan pada wadah terbuat dari janur. Konsep tersebut menyesuaikan visi dan misi Pemkot Denpasar di bidang sosial - budaya.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Teknologi, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 11 Views
3rd
June
2008
Oleh Kadek Didi Suprapta
Melahirkan anak kembar mungkin sudah menjadi berita biasa bagi sebagian besar masyarakat. Tapi lain halnya dengan di Bali, dan lebih khusus di desa saya. Ada satu tradisi unik di desa saya yang mungkin di tempat lain tidak ada. Melahirkan anak kembar di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Bangli dianggap sebagai suatu berkah bagi masyarakat di sana.
Jika dulu ketika masa-masa feodal masih kuat pengaruhnya di Bali, bisa jadi melahirkan anak kembar menjadi suatu bencana bagi keluarga yang mempunyai anak kembar itu. Apalagi sampai yang dilahirkan adalah anak kembar buncing (satu laki, satu perempuan), bisa-bisa si bapak dan si ibu beserta bayinya diungsikan, karena melahirkan anak kembar dianggap suatu aib.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Opini, Sekitar Denpasar, Budaya | Kontributor : Dek Didi | | 162 Views
2nd
June
2008
Dikirim Arief Budiman
āSaya teringat di awal tahun 1991, sewaktu saya sebagai Kepala Kantor Wilayah X Depparpostel-Bali, melakukan kajian ulang atas Rencana Induk Kepariwisataan Bali yang disusun oleh SCETO yang telah berumur 20 tahunan. Ketua Bappeda Bali menyampaikan permasalahan yang sangat krusial waktu itu. Bahwa masyarakat Bali yang sebagian besar adalah petani yang tinggal di pedesaan mengalami disparitas penghasilan yang demikian besar dibandingkan mereka yang di luar pertanian.
Mereka hanya bisa mengejar āsapiā dan ākerbauā yang minum air kali atau ātelabahā. Mereka tidak mampu mengejar ākudaā atau ākijangā bahkan ābebekā sekalipun yang semuanya minum bensin. Di samping itu masyarakat Bali mempertanyakan hasil kepariwisataan Bali yang kelihatan begitu gemerlap. Mereka bertanya āapakah Bali untuk pariwisataā ataukah āpariwisata untuk Baliā? Sungguh, waktu itu saya amat tersentak!
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Sekitar Denpasar, Jalan-Jalan, Budaya | Kontributor : Arief Budiman | | 150 Views
29th
May
2008
Oleh Ema Sukarelawanto
Entah siapa yang gelisah, lebih dari 42 seniman Bali dengan rela hati mengumpulkan karyanya dalam sebuah pameran seni rupa bertajuk āEntitas Nuraniā di Gedung Kriya, Art Centre Denpasar yang akan dibuka Sabtu, 31 Mei 2008 pukul 17.00 wita. Pameran ini bisa disebut agak lain dari kebiasaan, karena saat pembukaan dihadirkan tiga kandidat calon Gubernur Bali yang akan masuk masa pemilihan 9 Juli mendatang. Para kandidat juga diberi kesempataan untuk membuka pameran, setelah usai menyampaikan komitmen budayanya di hadapan para seniman.
Entah siapa yang gelisah, para seniman dalam kehidupannya yang lebih mementingkan ruang kreasi sehingga kehidupan mereka cenderung menjadi personal. Perilaku ini secara tak sadar telah membangun jarak cukup serius kepada politik. Bahkan akumulasi itu tumbuh menjadi stigma dan apriori (kadang berlebihan) atas perilaku para politikus yang mewarnai perjalanan berbangsa. Anehnya penggiat politik, tak pernah membaca geliat pikiran para seniman, mereka justru membiarkan keasyikan personal para seniman sebagai sebuah peradaban yang lain, sehingga stigma itu bagai dipupuk untuk tumbuh.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Agenda, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 117 Views
23rd
May
2008
Oleh Kadek Didi Suprapta
Pengelipuran hanyalah sebuah desa kecil di pinggiran kota sejuk, Bangli, Bali sekitar 40 km dari kota Denpasar. Secara dinas Desa Pekraman Pengelipuran termasuk Kelurahan Kubu. Dihuni sekitar 200 kepala keluarga yang menempati sekitar 76 rumah keluarga atau satu rumah ditinggali sekitar 3 kepala keluarga. Kebanyakan dari mereka adalah petani. Meski sekarang sudah mulai ada yang menjadi pegawai negeri atau bekerja di sector pariwisata lainnya.
Pengelipuran adalah salah satu desa tradisional atau desa tua di Bali atau sering disebut Bali Aga atau Bali Mula. Merupakan salah satu tujuan wisata yang dipromosikan oleh Pemkab Bangli.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Sekitar Denpasar, Jalan-Jalan, Budaya | Kontributor : Dek Didi | | 85 Views
22nd
May
2008
Oleh Anton Muhajir
Hampir sebelas tahun hidup di Bali dan belum pernah sekali pun menonton tari kecak di Uluwatu, ah, betapa menyedihkan hidup saya. Padahal tarian di sana saat sunset sungguh mengesankan..
Tidak hanya tariannya yang spektakuler, tapi lokasinya juga demikian. Rabu dua pekan lalu, saya akhirnya bisa melihat sendiri bagaimana tarian Bali itu disajikan dengan latar belakang matahari tenggelam. Kami dan para penari itu di atas tebing Uluwatu, setinggi sekitar 20 meter dari permukaan air laut.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Sekitar Denpasar, Jalan-Jalan, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 172 Views