30th
June
2008
Oleh Janet De Neefe
Sebagian persimpangan jalan di depan Istana Puri Ubud seperti hutan bambu, dijejali berbagai sarana dan prasarana upacara kremasi akbar 15 Juli mendatang. Dua sarkofagus berbentuk patung sapi jantan berukuran besar akan membawa jenazah dua Pangeran menuju pemakaman yang letaknya tidak jauh dari sana. Tujuh puluh warga dari berbagai banjar juga akan dikremasi pada hari yang sama. Inilah salah satu puncak kemeriahan kalender acara masyarakat Ubud: keramaian di jalanan sama semaraknya dengan keceriaan yang diciptakan setiap Ubud Writers & Readers Festival.
Sementara warga Ubud mempersiapkan persembahan untuk kremasi besar ini, tim Festival sedang sibuk mempersiapkan program dan detil-detil lainnya untuk Ubud Writers & Readers Festival yang kelima.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Sekitar Denpasar, Agenda, Jalan-Jalan, Buku, Budaya, Kabar Anyar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 112 Views
27th
June
2008
Oleh Kadek Didi Suprapta
Beberapa waktu yang lalu, warga masyarakat Desa Buahan Kecamatan Kintamani, salah satu desa yang bertetangga dengan desaku mendapatkan penghargaan tertinggi di bidang pelestarian lingkungan hidup, Kalpataru. Antusiasme masyarakat Buahan nampak dari semangat mereka mengarak trofi Kalpataru sepanjang perjalanan dari Bangli menuju Desa Buahan. Kebanggaan terpancar dari wajah-wajah polos mereka. Guratan-guratan ketuaan di wajah bapak-bapak itu laksana lenyap tatkala mereka merasakan kegembiraan dan kebanggan mengarak trofi Kalpataru itu.
Wajarlah jika mereka berbangga diri. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Presiden SBY kepada salah seorang perwakilan warga Buahan. Dan, prestasi itu merupakan prestasi yang jarang bisa didapatkan oleh sebuah kelompok masyarakat. Mereka dianggap mampu melestarikan hutan lindung yang berada di sekeliling desa Buahan.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Sekitar Denpasar, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 83 Views
26th
June
2008
Oleh Kadek Didi Suprapta
Ini kali pertama saya melakukan perjalanan selama empat hari penuh dan benar-benar menempatkan posisi saya sebagai seorang wisatawan atau turis. Meski saya sebenarnya bertindak sebagai pemandu wisata saat itu, tapi saya ingin larut dengan suasana tamu saya. Sebelumnya, jika saya melakukan perjalanan di seluruh Bali, saya selalu berperan sebagai pemandu wisata. Jadi tidak menikmati perjalanan sebagai mana layaknya seorang wisatawan.
Dan ternyata, mejelajahi Bali memang tidak ada habisnya. Waktu empat hari memang terlalu pendek untuk bisa menjelajah tempat-tempat terbaik dan atraksi-atraksi wisata terhebat di Pulau Dewata.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Sekitar Denpasar, Jalan-Jalan, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 119 Views
25th
June
2008
Oleh I Nyoman Darma Putra
KONGRES Kebudayaan yang untuk pertama kalinya dilaksanakan 14 Juni ini boleh saja membahas berbagai masalah kebudayaan Bali, tetapi tidak sepantasnya mengabaikan nasib Art Centre. Dalam usianya yang lebih dari tiga dekade, pesona Art Centre tempat Pesta Kesenian Bali (PKB) digelar kini sangat pudar, bahkan tak ubahnya seperti situs purbakala.
Dalam kondisinya yang rapuh, Art Centre merupakan paradoks bagi Bali yang kaya akan seni budaya tetapi tidak memiliki panggung kesenian yang membanggakan untuk mementaskan kesenian tersebut. Dilihat dari kategori budaya tentang street culture dan stage culture (Kadir H Din 1999), boleh dikatakan bahwa Bali kaya akan street culture, tetapi miskin akan stage culture.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Denpasar Before & After, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 104 Views
22nd
June
2008
Oleh Luh De Suriyani
Komang Supadmi, perempuan 24 tahun ini berubah namanya menjadi Nyoman Supadmi pada hari kelahirannya, 14 Mei lalu. Saat itu adalah malam Tumpek Wayang. Suatu malam jelang hari raya umat Hindu memuja Dewa Pasupati, manifestasi Tuhan sebagai penguasa mahluk hidup.
Tak hanya nama, wataknya dan jiwanya juga diruwat. Pikiran dan perilakunya dipertajam untuk lebih baik. Prosesi wayang yang disebut Nyapu Leger ini berlangsung pada malam hari. Katika manusia yang lahir saat atau menjelang Tumpek Wayang dianggap membawa mala atau penderitaan sejak lahir.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Budaya | Kontributor : Luh De Suriyani | | 117 Views
21st
June
2008
Oleh I Nengah Widana
Sing kena baan ngorahang apa
hidup di jaman kaliyuga.
Bhuta kala ngerangsuk angga sarira
pipis dadi ukuran manyama braya.
Sing taen takut karma pala
tutur anak tua suba sing kanggo
arta brana mula jani kuasa.
Salah manusane setata ngulurin indria
tur madosa keneh iri hati.
Jeg nganggoang kita, laba pura anggon perkara.
Kenkenang lakar jani ngajegang gumi baline
yadnya suci katur ring batara sami.
Munyin kulkule meglendung maciri karya agung
pamedek sami ngiring malalung.
Pamedek sami melah lan luung
di jaba tajene sing taen suwung.
Catatan: Puisi di atas dibuat oleh I Nengah Widana, pedagang soto sapi Karangasem. Pak Ngah, panggilan akrabnya, mengirim puisinya untuk dimuat di Bale Bengong. Puisi dalam bahasa Bali ini menuturkan gundah gulananya tentang kondisi saat ini
Kategori berita : Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 139 Views
20th
June
2008
Oleh Wayan Sunarta
Tiga pelukis menyuarakan pandangannya tentang keseimbangan. Tiga pelukis yang meski telah kenyang terlibat dalam berbagai pameran bersama, namun tak henti-hentinya terus berproses dan memburu jati diri. Tiga pelukis tersebut adalah Wayan Wirawan (1975), Ketut Lekung Sugantika (1975) dan Sekartadji Supanto (1977). Mereka menampilkan karya-karya mutakhirnya lewat pameran bertajuk “Equilibrium†di Tonyraka Art Gallery, Ubud, Bali. Pameran yang berlangsung dari 30 Mei sampai 20 Juni 2008 ini dikuratori oleh Arif Bagus Prasetyo.
Para pelukis itu menyadari bahwa dunia, baik dunia ekologis, budaya dan mental sedang berada dalam ketidakseimbangan, mengalami chaos. Wirawan menyoroti peristiwa-peristiwa kehancuran ekologis yang telah terjadi di semua belahan bumi. Es di kutub telah lama mencair menyebabkan pemanasan global. Kehancuran hutan akibat kebakaran dan penebangan liar semakin parah. Banjir bandang mengincar setiap musim hujan, siap melumat perkampungan di bawahnya. Gempa bumi menjadi hantu yang menakutkan. Belum lagi masalah polusi alam (udara, air, tanah) akibat tindakan manusia yang tidak bisa menghargai alam.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Agenda, Sekitar Denpasar, Sosok, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 48 Views
19th
June
2008
Oleh Wayan Sunarta
Sejak lama Bali telah menjadi Surga bagi para pelukis asing. Mereka telah berdatangan sejak tahun 1920-an dan berlomba mereguk inspirasi dari alam dan budaya Bali yang unik. Untuk merunut beberapa nama, sebutlah misalnya Rudolf Bonnet, Walter Spies, Arie Smith, Donald Friend hingga generasi Ronald Wigman, Wolfgang Widmoser, Peter Dittmar, Filippo Sciascia, Walter van Oel dan Yaari Rom.
Yaari Rom adalah pelukis kelahiran Los Angeles, USA, 1956. Yaari yang baru beberapa tahun menetap di Bali mengakui bahwa pesona alam dan budaya Bali merupakan salah satu sumber inspirasi bagi karya-karya seninya. Yaari dikenal sebagai seniman serba bisa. Selain melukis, ia juga menggarap fotografi, film, seni teater dan wearable art (seni busana).
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Agenda, Sekitar Denpasar, Sosok, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 69 Views
5th
June
2008
Oleh Swastinah Atmodjo
Banyaknya pohon di sejumlah ruas jalan Kota Denpasar memberikan kenyamanan tapi juga menakutkan karena rawan tumbang, khususnya pada musim hujan yang diselingi angin kencang seperti periode Januari – Pebruari 2908 ini. Antisipasinya, pemerintah setempat melakukan pemangkasan rutin, memotong jenis pohon yang rawan tumbang, serta mengembangkan konsep ‘taman gumi banten’.
Gumi berarti bumi. Sedangkan banten merupakan sarana persembahyangan umat Hindu Bali terdiri atas bunga, buah, aneka kue, dan lainnya yang kadang ditempatkan pada wadah terbuat dari janur. Konsep tersebut menyesuaikan visi dan misi Pemkot Denpasar di bidang sosial - budaya.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Teknologi, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 41 Views
3rd
June
2008
Oleh Kadek Didi Suprapta
Melahirkan anak kembar mungkin sudah menjadi berita biasa bagi sebagian besar masyarakat. Tapi lain halnya dengan di Bali, dan lebih khusus di desa saya. Ada satu tradisi unik di desa saya yang mungkin di tempat lain tidak ada. Melahirkan anak kembar di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Bangli dianggap sebagai suatu berkah bagi masyarakat di sana.
Jika dulu ketika masa-masa feodal masih kuat pengaruhnya di Bali, bisa jadi melahirkan anak kembar menjadi suatu bencana bagi keluarga yang mempunyai anak kembar itu. Apalagi sampai yang dilahirkan adalah anak kembar buncing (satu laki, satu perempuan), bisa-bisa si bapak dan si ibu beserta bayinya diungsikan, karena melahirkan anak kembar dianggap suatu aib.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Opini, Sekitar Denpasar, Budaya | Kontributor : Dek Didi | | 187 Views