28th April 2008

Mengapa Gendo Membakar Gambar SBY

Oleh Anton Muhajir

Sabtu pekan lalu, I Wayan Suardana, akrab dipanggil Gendo, meluncurkan bukunya yang berjudul Mengapa Saya Bakar Gambar eSBeYe. eSBeYe merujuk pada SBY, singkatan nama presiden Indonesia saat ini Susilo Bambang Yudhoyono. Gendo, mahasiswa Fakultas Hukum Program Ekstensi Universitas Udayana (Unud) Bali itu pernah dipenjara selama enam bulan karena kasus pembakaran gambar presiden Republik Indonesia tersebut.

“Kalau pakai singkatan SBY sepertinya terlalu sakral. Makanya ditulis eSBeYe saja biar kelihatan gaul,” kata Gendo, aktivis di Front Demokrasi Perjuangan Rakyat (Frontier) tersebut.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Agenda, Buku, Kabar Anyar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 9 Komentar | 128 Views

17th April 2008

Launching “Otobiografi” Saut Situmorang

Dikirim I Wayan Sunarta

BUKU kumpulan puisi karya Saut Situmorang berjudul “Otobiografi” (Penerbit [Sic] Jogja, November 2007) akan diluncurkan pada:

Sabtu, 26 April 2008
Pukul 19.00 wita
Tempat Toko Buku Diskon Togamas Denpasar (Museum Sidik Jari), Jalan Hayam Wuruk No.175 Tanjungbungkak Denpasar.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Agenda, Buku, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 1 Komentar | 80 Views

17th January 2008

Surga di Bawah Telapak Tangan Kartunis

Oleh Samsul “Isoul” Arifin

He.he, jangan menuduh kalau saya chauvinis terhadap profesi (kartunis) dan tulisan ini adalah propagandanya. Saya hanya terinspirasi dengan lagunya Ahmad Dani, “Kamu-kamulah surga”. Lagu ini keren banget dan membuat imajinasi saya bergerak untuk memplesetkan jargon “surga di bawah telapak kaki Ibu”. Kalau menuduh, tuduhan yang lebih benar itu  … saya melacurkan tulisan dengan judul yang bombastis he..hee.. Tapi lebih tepatnya tulisan ini tema utamanya adalah humor dan spiritualitas. Lanjuuu..t…t !

Andai saja Alexa membuat rank untuk item-item budaya manusia mungkin humor tidak akan mungkin ada di ranking teratas karena sepertinya asumsi orang terhadap humor adalah sebuah hal yang remeh. Saya mendapat pengabsahan dari seorang Tony Buzan bahwa katanya … ”humor sering dianggap rendah bagai kepandaian mental yang ‘ lebih lemah’. “ Kayaknya rendah banget, ya tapi kemudian Tony Buzan melanjutkannya, “Padahal, humor merupakan salah satu yang terkuat”.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Opini, Buku, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 4 Komentar | 201 Views

17th November 2007

Jadilah Pembuat Berita HIV/AIDS, Bukan Korbannya

Oleh Yahya Anshori

Pengantar
Beberapa tahun setelah kasus HIV/AIDS melanda Indonesia (1990-an), orang cenderung menilai AIDS sebagai hantu yang menakutkan. Lalu, media massa (cetak) membuat karikatur yang menggambarkan AIDS sebagai sosok serem berpakaian hitam yang siap menerkam mangsanya.

Kebetulan, kasus perdana AIDS di Indonesia menimpa seorang turis Belanda yang tengah berlibur di Bali (1987), maka AIDS pun segera dianggap sebagai penyakit orang asing. Lalu, media massa pun cenderung membingkai bahwa AIDS bersumber dari orang asing dan terkait erat dengan dunia pariwisata. Pariwisata menjadi media penular HIV – yang kemudian muncul opini perlunya kartu bebas AIDS (KBA) bagi setiap wisatawan yang datang. Kendati sempat ramai diperdebatkan, ide konyol KBA inipun akhirnya kandas, karena jelas tak efektif untuk mengantisipasi AIDS. Seseorang yang telah mengantongi KBA, tak bisa dianggap bebas begitu saja dari ancaman AIDS. Perilaklu risiko-nyalah yang menentukan ia bisa terserang AIDS atau tidak.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Opini, Buku, Budaya | Kontributor : Yahya Anshori | 0 Komentar | 1,053 Views

31st October 2007

Penulis Buat Pasar Sendiri

Oleh Luh De Suriyani

Ifah, perempuan muda ini mengaku tidak bisa menulis, tidak punya duit, apalagi mendesain di computer. Kurang dari dua tahun ia telah menerbitkan tujuh buku dan meraup keuntungan bersih Rp 18-20 juta per bulan dari hasil penjualan buku itu.

Ifah tertarik membuat penerbitan sendiri bernama CV. Cemerlang. “Saya ingin masa depan saya lebih cemerlang,” ujarnya di depan peserta diskusi seputar penerbitan buku yang digagas Forum Bahasa dan Media Massa (FBMM) Bali, Selasa (30/10) lalu di RRI Denpasar.

Ketertarikannya pada penerbitan tumbuh ketika menjadi pegawai kantor di sebuah perusahaan distribusi buku, CV. Solusi Distribusi. Setelah merasa cukup percaya diri, terlebih didukung oleh bosnya, Hariyadi, ia mulai mencari materi untuk buku perdana yang akan diterbitkannya. Ifah memilih sebuah buku percakapan bahasa inggris untuk pemula. “Buku seperti ini umurnya kan panjang di toko buku,” ungkapnya.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Lowongan Peluang, Buku, Budaya | Kontributor : Luh De Suriyani | 1 Komentar | 277 Views

18th October 2007

Mahasaraswati Membedah “Impian Usai”

Dikirim Wayan Sunarta

Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa 2008, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Mahasaraswati, Amlapura, menggelar apresiasi sastra dan bedah buku puisi “Impian Usai” karya Wayan Sunarta. Tampil sebagai pembedah budayawan/sastrawan Nyoman Tusthi Eddy dengan pemandu penyair Wayan Arthawa. Apresiasi juga akan diramaikan dengan pembacaan puisi oleh Wayan Sunarta, mahasiswa setempat dan para undangan.

Keseluruhan acara digelar pada Minggu, 21 Oktober 2007, jam 08.00 wita, di FKIP Mahasaraswati (Kampus 2) Amlapura, Jl. Letda Bajra No. 6 Amlapura, Karangasem, Bali. Acara terbuka untuk umum.

Info lebih lanjut hubungi HP 081 338 084 585. [b]

Kategori berita : Agenda, Sekitar Denpasar, Buku, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 168 Views

18th October 2007

Buku tentang AA Made Djelantik

Oleh Anton Muhajir

Melalui email dan beberapa blog termasuk Bale Bengong serta Blog Ini dan Ini, diskusi tentang sosok AA Made Djelantik masih berlanjut, terutama tentang usulan agar nama beliau diabadikan sebagai nama rumah sakit (RS) Sanglah, RS terbesar di Bali. Saya sendiri tidak kenal secara pribadi. Saya hanya pernah bertemu untuk wawancara tentang buku karya Idanna Pucci.

Diskusi tentang AA Made Djelantik di dunia maya membuat saya membongkar kembali file di komputer. Dan, syukurlah, saya temukan juga tulisan saya yang pernah dimuat GATRA, majalah tempat saya pernah bekerja, pada Desember 2004. Sayangnya sih waktu itu saya menulis sangat sedikit. Itu pun tanpa analisis lebih dalam karena bukunya pun hanya pinjam. Harga bukunya mahal, jadi tidak bisa membeli. :)) Ya, tapi tidak ada salahnya saya kutip lagi di blog ini tanpa mengubah sedikit pun, termasuk waktu. Barangkali berguna..

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Sosok, Buku | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 225 Views

10th October 2007

Seorang Janda di Pinggir Kerajaan

Oleh Anwar Holid

TAKHTA jelas merupakan hal rumit, ia rawan menyebabkan perebutan kekuasaan dan dendam. Pembagiannya sering menimbulkan masalah, bahkan ketika dengan hati-hati hendak dijinakkan dengan berbagai cara, baik lewat perkawinan, pemberian wilayah, penetapan silsilah—yang membuat seseorang merasa berhak duduk di singgasana atau harus mempertahankan hingga mati. Di banyak kasus takhta mesti direbut dengan siasat, tekad, dan cita-cita yang semangatnya perlu diwariskan bergenerasi- generasi, dimitoskan, sampai prasasti pengakuan ditulis bahwa ia memang pernah memegang tampuknya. Takhta melibatkan banyak hal, kerap menimbulkan pergesekan, prasangka, dan bila gagal dielakkan, mengalirkan banjir darah.

Janda dari Jirah karya Cok Sawitri (GPU, 2007) menyuratkan betapa raja muda Airlangga yang membangun Kadiri dari reruntuhan Medang, diceritakan bijak bestari ternyata terus-menerus galau atas takhtanya, meski telah bekerja keras mengeluarkan seluruh kemampuan untuk memakmurkan daerah kekuasaan. Airlangga tetap merasa terancam oleh Wura Wuri meski dia terhitung masih kerabat, sementara simbol-simbol legitimasi resmi kedaulatan bahwa dirinya pewaris sah Medang gagal ditemukan. Wilayah Wura Wuri berada di balik Jirah, sebuah wilayah kabikuan Buddha terdiri dari beberapa desa subur, dipimpin seorang pendeta utama perempuan, dikenal sebagai Rangda ing Jirah, ibu seorang putri bernama Ratna Manggali. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Buku, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 2 Komentar | 241 Views

18th September 2007

Peluncuran Buku Kumpulan Puisi “Impian Usai”

Oleh Wayan Sunarta

Memiliki buku kumpulan puisi yang menarik dari segi perwajahan dan isi merupakan impian setiap penyair, termasuk saya. Impian Usai yang diterbitkan oleh Kubu Sastra, Denpasar, pada Agustus 2007 ini merupakan buku kumpulan puisi kedua saya, setelah buku puisi Pada Lingkar Putingmu (Bukupop, Jakarta, 2005). Impian Usai mengalami proses penerbitan yang berliku-liku dan melelahkan. Sejumlah penerbit, dari yang besar sampai kecil, telah menolak manuskrip buku ini dengan alasan yang sama, yakni persoalan pasar!

Secara umum, beberapa tahun terakhir ini, dunia penerbitan menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang luar biasa dari segi kuantitas. Pasar buku di Indonesia dibanjiri oleh buku-buku yang beraneka, termasuk juga buku-buku sastra. Masyarakat juga menunjukkan rasa dahaga yang begitu mendalam terhadap kehadiran buku-buku bermutu dengan harga yang bisa dijangkau. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Buku, Budaya, Kabar Anyar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 3 Komentar | 557 Views

18th September 2007

Pertemuan dengan Puisi

Oleh Wayan Sunarta

Bagi saya, puisi merupakan suatu wilayah sunyi dan sublim di mana saya bisa belajar tentang banyak hal, terutama perihal kehidupan dan keindahan dalam maknanya yang tak terbatas. Mencipta puisi merupakan usaha menyusun pecahan-pecahan kaca menjadi cermin diri, dari mana saya kemudian mencoba mengenali kembali kepingan-kepingan jiwa dan kenangan yang hilang, juga arah perjalanan hidup yang tidak akan pernah saya tahu akhirnya. Di dalam puisi, saya mengalami proses yang saya yakini mengarah pada penemuan jati diri.

Ketertarikan saya pada puisi bermula ketika saya masih duduk di bangku kelas dua SMPN 8 Denpasar, tahun 1990. Masih membekas dalam ingatan, bagaimana pada jam-jam istirahat saya suka menyelinap ke perpustakaan sekolah. Sebab uang bekal di saku jauh dari cukup untuk sekadar membeli semangkok bakso yang saat itu merupakan makanan mewah bagi saya. Sebagai penghibur rasa lapar, saya cukup puas “melahap” lembar demi lembar buku yang saya sukai (biasanya kumpulan cerpen atau novel) hingga bel pelajaran kembali berdentang. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Sosok, Buku, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 372 Views

eXTReMe Tracker