18th October 2007

Buku tentang AA Made Djelantik

Oleh Anton Muhajir

Melalui email dan beberapa blog termasuk Bale Bengong serta Blog Ini dan Ini, diskusi tentang sosok AA Made Djelantik masih berlanjut, terutama tentang usulan agar nama beliau diabadikan sebagai nama rumah sakit (RS) Sanglah, RS terbesar di Bali. Saya sendiri tidak kenal secara pribadi. Saya hanya pernah bertemu untuk wawancara tentang buku karya Idanna Pucci.

Diskusi tentang AA Made Djelantik di dunia maya membuat saya membongkar kembali file di komputer. Dan, syukurlah, saya temukan juga tulisan saya yang pernah dimuat GATRA, majalah tempat saya pernah bekerja, pada Desember 2004. Sayangnya sih waktu itu saya menulis sangat sedikit. Itu pun tanpa analisis lebih dalam karena bukunya pun hanya pinjam. Harga bukunya mahal, jadi tidak bisa membeli. :)) Ya, tapi tidak ada salahnya saya kutip lagi di blog ini tanpa mengubah sedikit pun, termasuk waktu. Barangkali berguna..

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Sosok, Buku | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 276 Views

10th October 2007

Seorang Janda di Pinggir Kerajaan

Oleh Anwar Holid

TAKHTA jelas merupakan hal rumit, ia rawan menyebabkan perebutan kekuasaan dan dendam. Pembagiannya sering menimbulkan masalah, bahkan ketika dengan hati-hati hendak dijinakkan dengan berbagai cara, baik lewat perkawinan, pemberian wilayah, penetapan silsilah—yang membuat seseorang merasa berhak duduk di singgasana atau harus mempertahankan hingga mati. Di banyak kasus takhta mesti direbut dengan siasat, tekad, dan cita-cita yang semangatnya perlu diwariskan bergenerasi- generasi, dimitoskan, sampai prasasti pengakuan ditulis bahwa ia memang pernah memegang tampuknya. Takhta melibatkan banyak hal, kerap menimbulkan pergesekan, prasangka, dan bila gagal dielakkan, mengalirkan banjir darah.

Janda dari Jirah karya Cok Sawitri (GPU, 2007) menyuratkan betapa raja muda Airlangga yang membangun Kadiri dari reruntuhan Medang, diceritakan bijak bestari ternyata terus-menerus galau atas takhtanya, meski telah bekerja keras mengeluarkan seluruh kemampuan untuk memakmurkan daerah kekuasaan. Airlangga tetap merasa terancam oleh Wura Wuri meski dia terhitung masih kerabat, sementara simbol-simbol legitimasi resmi kedaulatan bahwa dirinya pewaris sah Medang gagal ditemukan. Wilayah Wura Wuri berada di balik Jirah, sebuah wilayah kabikuan Buddha terdiri dari beberapa desa subur, dipimpin seorang pendeta utama perempuan, dikenal sebagai Rangda ing Jirah, ibu seorang putri bernama Ratna Manggali. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Buku, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 2 Komentar | 286 Views

18th September 2007

Peluncuran Buku Kumpulan Puisi “Impian Usai”

Oleh Wayan Sunarta

Memiliki buku kumpulan puisi yang menarik dari segi perwajahan dan isi merupakan impian setiap penyair, termasuk saya. Impian Usai yang diterbitkan oleh Kubu Sastra, Denpasar, pada Agustus 2007 ini merupakan buku kumpulan puisi kedua saya, setelah buku puisi Pada Lingkar Putingmu (Bukupop, Jakarta, 2005). Impian Usai mengalami proses penerbitan yang berliku-liku dan melelahkan. Sejumlah penerbit, dari yang besar sampai kecil, telah menolak manuskrip buku ini dengan alasan yang sama, yakni persoalan pasar!

Secara umum, beberapa tahun terakhir ini, dunia penerbitan menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang luar biasa dari segi kuantitas. Pasar buku di Indonesia dibanjiri oleh buku-buku yang beraneka, termasuk juga buku-buku sastra. Masyarakat juga menunjukkan rasa dahaga yang begitu mendalam terhadap kehadiran buku-buku bermutu dengan harga yang bisa dijangkau. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Buku, Budaya, Kabar Anyar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 4 Komentar | 775 Views

18th September 2007

Pertemuan dengan Puisi

Oleh Wayan Sunarta

Bagi saya, puisi merupakan suatu wilayah sunyi dan sublim di mana saya bisa belajar tentang banyak hal, terutama perihal kehidupan dan keindahan dalam maknanya yang tak terbatas. Mencipta puisi merupakan usaha menyusun pecahan-pecahan kaca menjadi cermin diri, dari mana saya kemudian mencoba mengenali kembali kepingan-kepingan jiwa dan kenangan yang hilang, juga arah perjalanan hidup yang tidak akan pernah saya tahu akhirnya. Di dalam puisi, saya mengalami proses yang saya yakini mengarah pada penemuan jati diri.

Ketertarikan saya pada puisi bermula ketika saya masih duduk di bangku kelas dua SMPN 8 Denpasar, tahun 1990. Masih membekas dalam ingatan, bagaimana pada jam-jam istirahat saya suka menyelinap ke perpustakaan sekolah. Sebab uang bekal di saku jauh dari cukup untuk sekadar membeli semangkok bakso yang saat itu merupakan makanan mewah bagi saya. Sebagai penghibur rasa lapar, saya cukup puas “melahap” lembar demi lembar buku yang saya sukai (biasanya kumpulan cerpen atau novel) hingga bel pelajaran kembali berdentang. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Sosok, Buku, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 1 Komentar | 515 Views

8th September 2007

Buku Baru: Batas Maritim Antarnegara

Sumber: I Made Andi Arsana

Masih ingatkah Anda pada kasus: Pulau Sipadan dan Ligitan? Kasus Ambalat? Reklamasi Pantai Singapura dan runyamnya urusan batas maritim dengan Indonesia? Pelanggaran batas di Selat Malaka? Penangkapan nelayan Indonesia oleh Australia dan banyak lagi?

Buku ini akan membantu Anda memahami persoalan di atas. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Buku, Kabar Anyar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 1 Komentar | 356 Views

5th September 2007

Lentera, Ketika Para Aktivis Bercerita

Oleh Luh De Suriyani

Ketika kebaktian di gereja Minggu pekan lalu, Martinus Sabo Agus menyampaikan rasa syukur khusus. “Tuhan, terima kasih sudah memberikan saya kemampuan untuk mewujudkan apa yang bahkan tidak pernah saya bayangkan,” ujar Martin, panggilan akrabnya.

Hari itu Martin sembahyang di gereja, sesuatu yang sudah lama tidak dia lakukan. “Saya bukan tipe orang yang religius. Namun buku ini membuat saya harus kembali mengingat Tuhan,” lanjutnya. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Buku, Kabar Anyar | Kontributor : Luh De Suriyani | 1 Komentar | 330 Views

3rd September 2007

Antologi Frans Nadjira Diluncurkan Segera

Dikirim oleh Arief Budiman

SELAIN sebagai pelukis, Frans Nadjira adalah seorang pesastra, istimewa dalam penulisan puisi dan cerpen. Dua bidang kesastraan itu mulai dikenalnya sejak 1960. Tahun itu adalah permulaan baginya menulis puisi dan cerpen. Namun jauh sebelumnya, dasar-dasar kecintaannya pada sastra telah terbit pada masa kanak-kanaknya. Ia begitu mudah terpukau pada percakapan-percakapan tentang sastra ketika itu; membayangkan indahnya menggumuli sastra dan mempercakapkannya di kemudian hari. Anganan itu terpelihara terus dan berkembang menjadi spirit sastranya hingga kini.

“Curriculum Vitae” adalah antologi puisi karya Frans Nadjira paling mutakhir yang diterbitkan oleh MatameraBook-Bali. Antologi puisi ini memuat 55 puisi yang dibuat sepanjang kurun 2005-2006. Pada karya-karya puisi yang terangkum dalam antologinya ini, Frans Nadjira masih tetap memperlihatkan ketangguhan seorang penyair yang vitalistik. Ia seperti tak pernah kelihatan letih. Diksi yang terjaga dan terekspresi dari realitas yang telah mengalami pergulatan eksistensial dari sosok kepenyairan Frans Nadjira. Meski pada dasarnya karakteristik puisi-puisi Frans Nadjira tidak terlalu banyak berubah dibandingkan misalnya pada puisi-puisinya yang terkumpul dalam antologinya yang lain seperti “Springs Of Fire Springs Of Tears”, misalnya, namun pada “Curriculum Vitae” kita melihat betapa Frans Nadjira lebih kuat menonjolkan beberapa persoalan-persoalan kotemporer umat manusia. Selain itu, pilihan-pilihan ungkapan puitiknya juga terbilang sederhana, matang, imajis dan segar. Pada Frans Nadjira, kata-kata bukan lagi sekadar  alat, melainkan jiwa yang menerjemah dalam kata-kata. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Sekitar Denpasar, Sosok, Buku, Budaya | Kontributor : Arief Budiman | 0 Komentar | 280 Views

8th August 2007

Sekilas Peta Media Cetak di Bali

Oleh Anton Muhajir

Tulisan ini adalah sebagian hasil “riset kecil”, -saya sebut kecil karena lebih banyak pakai sumber sekunder daripada sumber primer-, pada Maret 2007 lalu. Ada beberapa perubahan, terutama tentang lahirnya kembali Koran Bali yang sempat mati. Riset saya lakukan untuk membantu Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Jakarta yang akan menerbitkan buku tentang peta kepemilikan media di Indonesia.

Ada beberapa isu menarik, misalnya soal kebijakan Kelompok Media Bali Post untuk meminta uang iklan dari narasumber. Kata Widminarko, pemimpin umum tabloid Tokoh, salah satu anak penerbitan Bali Post, mereka memang menggunakan prinsip Journalist is Marketing. Ini prinsip yang aneh memang. Banyak narasumber yang senang dengan kebijakan ini karena mereka pasti bisa masuk koran kalau punya uang. But, lebih banyak lagi orang yang sedih karena kebijakan itu. Terutama mereka yang tidak punya uang tentu saja. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Buku, Budaya, Kabar Anyar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 1,038 Views

17th July 2007

Wanita Bali Tempo Dulu Menafsir Emansipasi

Dikirim Darma Putra, diambil dari www.balipost.co.id

Cita-cita perjuangan R.A. Kartini sesungguhnya sudah masuk dalam wacana tentang kesetaraan gender di kalangan wanita intelektual Bali pada tahun 1930-an. Tak hanya pemikirannya, nama Kartini juga sering disebut dalam artikel-artikel yang ditulis wanita Bali pada masa itu. Hal ini berlanjut terus tahun 1950-an, bahkan lebih frekuentif dan intensif. Bedanya, pada era 1930-an, sketsa wajah Kartini tak pernah muncul dalam majalah.

————-
 
INILAH cuplikan gambaran wanita Bali tempo dulu yang ditulis I Nyoman Darma Putra dalam buku “Wanita Bali Tempo Doeloe, Perspektif Masa Kini” ini. Di buku yang kini sudah memasuki cetakan kedua ini, Darma Putra bermaksud menyelamatkan tulisan-tulisan yang dibuat wanita Bali tempo dulu, agar pesan yang hendak mereka sampaikan dapat dijadikan bahan renungan. Hal ini terkait dengan ramainya muncul wacana kesetaraan gender dalam kehidupan sosial dewasa ini. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Buku | Kontributor : Darma Putra | 0 Komentar | 786 Views

7th July 2007

Telaah Waria Made Wianta

Oleh Anton Muhajir

Ketekunan perupa Made Wianta mendokumentasikan catatan-catatan kecilnya jadi perhatian Refly, alumni S2 Kajian Budaya Universitas Udayana (Unud) Bali. Refly, yang rajin menulis di media massa, itu mengulas puisi karya Made Wianta dalam buku Bahasa Estetika Postmodernisme: Puisi Rupa Made Wianta.

Refly menggunakan teori postmodernisme, yang lagi ngetrend di perbincangan cultural studies, untuk menelaah puisi Made Wianta. Buku delapan bab ini mengupas proses kreatif hingga refleksi karya Wianta. Dia menobatkan puisi Wianta sebagai puisi postmo Indonesia, dikontraskan dengan puisi modern Indonesia karya generasi Pujangga, Angkatan 45. Karakter postmo, menurut Refly, ditunjukkan melalui bahasa dan bentuk puisi Wianta.

Suami cucu Ki Hajar Dewantara ini menulis puisi dengan judul yang hanya menjelaskan tempat dan waktu, tak peduli “aturan normal” menulis puisi, dan menggunakan media tak wajar juga mulai kertas tisu, sobekan majalah, daun, cerutu, bungkus rokok, karton bekas obat nyamuk, tiket, bahkan kertas pembalut wanita. Puisi dilengkapi coretan-coretan pada pinggiran kertas, seperti sketsa atau kaligrafi.

Menurut Refly, proses kreatif alumni ISI Yogyakarta itu bisa dijelaskan dengan teori psikoanalisa Sigmund Freud. Bahwa kebutuhan Wianta pada ekspresi adalah id, puisi sebagai ego, dan aturan konvensional menulis puisi sebagai super ego. Melabrak aturan konvesional ini, bisa dijelaskan dengan teori pemberontakan Albert Camus hingga teori dekonstruksi Jacques Derrida.

Puisi rupa Made Wianta juga hasil kreasi masyarakat pasca-industri dimana orang terus mencari kebaruan. Hasil kreasi ini bisa dilihat dari penggunaan simbol-simbol, ikon-ikon, dan indeks-indeks. Pada puisi rupa orang tak hanya bisa baca tapi juga menonton. Dan, bukankah masyarakat pasca-industri lebih senang pada permainan tanda, pada tontonan.

Sadar atau tidak, penggunaan media yang tak biasa juga jadi kritik Wianta pada residu masyarakat konsumer. Tiket, bungkus rokok, dan hingga sobekan iklan adalah sampah konsumerisme. Media tersebut adalah produk kebudayaan postmodern yang serba instan, serba cepat, serba kertas, dan serba plastik [hal 149].

Menurut Refly, Wianta bukan pendahulu penulis puisi rupa karena Sutardji Calzhoum Bachri, Remy Silado, dan Danarto telah melakukannya. Bedanya dari sisi intensitas kuantitatif. Wianta mendokumentasikan karyanya sejak 1977 hingga saat ini. Karya itu disimpan di gudang dan terus bertambah. Jumlahnya ribuan.

Buku ini melengkapi buku tentang puisi rupa Made Wianta yang sudah pernah terbit sebelumnya yaitu Korek Api Membakar Almari Es (Bentang Budaya, 1996), 2½ menit (Pustaka Pelajar, 1999), dan Kitab Suci Digantung di Pinggir Jalan New York (Bentang Budaya, 2003). [+++]

Kategori berita : Buku, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 271 Views

eXTReMe Tracker