17th July 2007

Wanita Bali Tempo Dulu Menafsir Emansipasi

Dikirim Darma Putra, diambil dari www.balipost.co.id

Cita-cita perjuangan R.A. Kartini sesungguhnya sudah masuk dalam wacana tentang kesetaraan gender di kalangan wanita intelektual Bali pada tahun 1930-an. Tak hanya pemikirannya, nama Kartini juga sering disebut dalam artikel-artikel yang ditulis wanita Bali pada masa itu. Hal ini berlanjut terus tahun 1950-an, bahkan lebih frekuentif dan intensif. Bedanya, pada era 1930-an, sketsa wajah Kartini tak pernah muncul dalam majalah.

————-
 
INILAH cuplikan gambaran wanita Bali tempo dulu yang ditulis I Nyoman Darma Putra dalam buku “Wanita Bali Tempo Doeloe, Perspektif Masa Kini” ini. Di buku yang kini sudah memasuki cetakan kedua ini, Darma Putra bermaksud menyelamatkan tulisan-tulisan yang dibuat wanita Bali tempo dulu, agar pesan yang hendak mereka sampaikan dapat dijadikan bahan renungan. Hal ini terkait dengan ramainya muncul wacana kesetaraan gender dalam kehidupan sosial dewasa ini. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Buku | Kontributor : Darma Putra | 0 Komentar | 832 Views

7th July 2007

Telaah Waria Made Wianta

Oleh Anton Muhajir

Ketekunan perupa Made Wianta mendokumentasikan catatan-catatan kecilnya jadi perhatian Refly, alumni S2 Kajian Budaya Universitas Udayana (Unud) Bali. Refly, yang rajin menulis di media massa, itu mengulas puisi karya Made Wianta dalam buku Bahasa Estetika Postmodernisme: Puisi Rupa Made Wianta.

Refly menggunakan teori postmodernisme, yang lagi ngetrend di perbincangan cultural studies, untuk menelaah puisi Made Wianta. Buku delapan bab ini mengupas proses kreatif hingga refleksi karya Wianta. Dia menobatkan puisi Wianta sebagai puisi postmo Indonesia, dikontraskan dengan puisi modern Indonesia karya generasi Pujangga, Angkatan 45. Karakter postmo, menurut Refly, ditunjukkan melalui bahasa dan bentuk puisi Wianta.

Suami cucu Ki Hajar Dewantara ini menulis puisi dengan judul yang hanya menjelaskan tempat dan waktu, tak peduli “aturan normal” menulis puisi, dan menggunakan media tak wajar juga mulai kertas tisu, sobekan majalah, daun, cerutu, bungkus rokok, karton bekas obat nyamuk, tiket, bahkan kertas pembalut wanita. Puisi dilengkapi coretan-coretan pada pinggiran kertas, seperti sketsa atau kaligrafi.

Menurut Refly, proses kreatif alumni ISI Yogyakarta itu bisa dijelaskan dengan teori psikoanalisa Sigmund Freud. Bahwa kebutuhan Wianta pada ekspresi adalah id, puisi sebagai ego, dan aturan konvensional menulis puisi sebagai super ego. Melabrak aturan konvesional ini, bisa dijelaskan dengan teori pemberontakan Albert Camus hingga teori dekonstruksi Jacques Derrida.

Puisi rupa Made Wianta juga hasil kreasi masyarakat pasca-industri dimana orang terus mencari kebaruan. Hasil kreasi ini bisa dilihat dari penggunaan simbol-simbol, ikon-ikon, dan indeks-indeks. Pada puisi rupa orang tak hanya bisa baca tapi juga menonton. Dan, bukankah masyarakat pasca-industri lebih senang pada permainan tanda, pada tontonan.

Sadar atau tidak, penggunaan media yang tak biasa juga jadi kritik Wianta pada residu masyarakat konsumer. Tiket, bungkus rokok, dan hingga sobekan iklan adalah sampah konsumerisme. Media tersebut adalah produk kebudayaan postmodern yang serba instan, serba cepat, serba kertas, dan serba plastik [hal 149].

Menurut Refly, Wianta bukan pendahulu penulis puisi rupa karena Sutardji Calzhoum Bachri, Remy Silado, dan Danarto telah melakukannya. Bedanya dari sisi intensitas kuantitatif. Wianta mendokumentasikan karyanya sejak 1977 hingga saat ini. Karya itu disimpan di gudang dan terus bertambah. Jumlahnya ribuan.

Buku ini melengkapi buku tentang puisi rupa Made Wianta yang sudah pernah terbit sebelumnya yaitu Korek Api Membakar Almari Es (Bentang Budaya, 1996), 2½ menit (Pustaka Pelajar, 1999), dan Kitab Suci Digantung di Pinggir Jalan New York (Bentang Budaya, 2003). [+++]

Kategori berita : Buku, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 285 Views

5th July 2007

Cerita Puputan Tanpa Kesimpulan

 

Oleh Anton Muhajir

Buku tentang Puputan Badung dari persepektif Belanda dan Bali. Tanpa kesimpulan jadi pilihan mengambang. 

Peringatan seabad perang antara Belanda dan kerajaan Badung diperingati di Denpasar, Bali September tahun lalu. Ribuan orang mengiringi arak-arakan Gerebek Aksara sepanjang sekitar 100 km dari Karangasem ke Denpasar. Selain mengarak benda-benda pusaka, termasuk buku Sutasoma dan Negara Kertagama, juga ada parade kerajaan-kerajaan nusantara. Perang yang dikenal dengan nama Puputan Badung itu dikenang sebagai salah satu peristiwa besar, setidaknya bagi warga Denpasar. 

Meski dianggap peristiwa besar, catatan sejarah tentang perang pada 20 September 1906 itu termasuk kurang. Kalau toh ada, berupa bahasa Belanda atau geguritan Bali dan Jawa kuno, bahasa yang susah dimengerti sebagian besar orang Bali saat ini. Maka, peneliti sejarah Bali University of Queensland Australia Helen Creese, guru besar Sejarah Asia Erasmus University Rotterdam Belanda Henk Schulte Nordholt, dan dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali Darma Putra menghimpun bahan-bahan tentang Puputan Badung dalam satu buku. Buku itu diluncurkan sehari sebelum puncak peringatan seabad Puputan Badung. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Buku, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 263 Views

17th June 2007

Buku Soal Pariwisata Bali dan Terorisme

Sumber: http://www.balipost.com/BaliPostcetak/2007/6/17/bud2.html

Setelah 15 Tahun, Terbit di London

SEBUAH buku tentang pariwisata Bali baru saja terbit di London. Buku berjudul “Tourism, Development and Terrorism in Bali” ditulis bersama oleh Prof Michael Hitchcock dari London Metropolitan University dan Dr. I Nyoman Darma Putra dari Fakultas Sastra Unud. Penerbit Ashgate mengklasifikasikan buku ini dalam seri terbitannya “voices in development management”.

————- 

Fokus buku ini adalah pengalaman Bali dalam mengelola krisis kepariwisataan (tourism crisis management) dalam 10 tahun terakhir. Dalam kajiannya, kedua penulis menggarisbawahi ketahanan budaya masyarakat Bali dalam menghadapi berbagai tekanan arus globalisasi yang masuk lewat sektor pariwisata dan terorisme global.

Uraian dimulai dengan dampak dari krisis moneter Asia, krisis sosial politik yang menimbulkan berbagai kerusuhan sosial, sampai dengan krisis akibat serangan terorisme 2002 dan 2005 di Kuta dan Jimbaran. “Kami juga membahas wacana perdebatan penolakan nominasi Pura Besakih sebagai warisan budaya dunia,” ujar Darma kepada Bali Post baru-baru ini.

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Buku | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 3 Komentar | 431 Views

24th May 2007

Mari Memproduksi Informasi, Tak Hanya Mengonsumsi

Oleh Anton Muhajir

Nama Samsudin mungkin asing bagi kita, tapi tidak bagi warga kawasan Lombok Barat Mataram. Bermodal lagu ciptaannya sendiri, Samsudin bahkan bersaing dengan Peterpan grup musik asal Bandung yang termashur itu.

Awalnya Samsudin berdagang obat keliling. Untuk menarik minat pembeli, Samsudin menyanyikan lagu Ndeq Kembe-kembe, yang berarti Tidak Apa-apa. Diselingi kendang bikinannya sendiri, lagi itu selalu dinyanyikan warga Desa Kuripan, Kecamatan Kediri, Lombok Barat tersebut. Dia berkeliling berbagai pasar di Mataram.

Samsudin kemudian diajak Lalu Adi, pengelola radio komunitas Suara Gunung Sasak Lombok Barat untuk rekaman. Setelah di-mixing agar suaranya lebih enak, rekaman itu pun beredar dari satu radio komunitas ke radio komunitas lain. Dalam sehari, lagu Ndeq Kembe-kembe bisa sampai 30 kali diputar. Samsudin pun bersaing ketat dengan Peterpan. Seperti halnya Peterpan, Samsudin kemudian ditanggap dari satu desa ke desa lain.

Jika sebelumnya Samsudin hanya mendengar lagu-lagu kelompok musik dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan sekitarnya maka kini Samsudin memproduksi sendiri. Dia bahkan mendapat popularitas dari lagunya tersebut.

Keberhasilan Samsudin jadi cerita keberhasilan radio komunitas bersaing dengan radio komersial. Bahwa kelompok-kelompok pinggiran dan kecil yang hampir mustahil bisa masuk radio komersial itu juga bisa didengar dan dikenal masyarakat luas. Mereka berhasil memproduksi informasi sendiri tak hanya mengonsumsinya.

Buku ini mendokumentasikan pengalaman komunitas-komunitas di Aceh, Jawa Barat, Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Barat yang bisa mengelola sumber informasi dan menggunakannya untuk kepentingan bersama. Tak hanya sebagai penyampai informasi, radio komunitas juga jadi kekuatan untuk menyelesaikan masalah bersama, mengawasi tata kelola pemerintahan agar bersih, melestarikan kebudayaan lokal, dan menjalin sinergi dengan bentuk media yang lain. Hal itu dilakukan karena minimnya akses komunitas-komunitas tersebut pada media massa, terutama media arus utama (mainstream).

Selama ini media mainstream memang kurang memberi tempat bagi kelompok-kelompok marjinal. Lihatlah televisi, maka kita lebih sering melihat wajah-wajah penguasa modal politik, ekonomi, maupun sosial. Bacalah koran maka nama-nama sama juga yang kita temukan. Kelompok-kelompok yang tak punya cukup modal hanya diposisikan sebagai konsumen media, bukan produsen, atau setidaknya dilibatkan.

Namun kelompok tak cukup modal politik, ekonomi, dan sosial itu punya kekuatan lain yaitu komunalisme. Mereka dipersatukan oleh kesamaan latar belakang sosial maupun geografis. Bermodal komunalisme ini ternyata mereka bisa meninggikan posisi tawar dalam praktik penyebaran informasi. Mereka tak lagi hanya mengonsumsi informasi, tapi memproduksinya.

Cerita-cerita keberhasilan komunitas mengorganisasi diri dalam penyebaran informasi itu tersurat dalam buku terbitan Combine Resource Institution Januari 2007 ini. Ada cerita dari Yogyakarta, Jakarta Utara, Aceh, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, bahkan Tanah Toraja. Kesamaan cerita komunitas-komunitas tersebut adalah mereka bisa berdaya melalui penyebaran informasi.

Buku setebal 184 halaman ini membagi cerita keberhasilan itu dalam empat bab yaitu Menyelesaikan Persoalan Warga, Membangun Good Governance di Tingkat Lokal, Mengembalikan Kesenian Tradisional ke Tangan Masyarakat Pendukungnya, serta Memadukan Beragam Teknologi Informasi. Empat bab itu ditambah tiga bab lain untuk memberi perspektif dan kajian teoritis tentang perlunya komunitas memberdayakan diri melalui informasi.

Perlunya komunitas, apakah itu petani, masyarakat adat, atau penghuni pinggiran kali, untuk mengorganisasikan diri menyebarkan informasi tidak bisa dilepaskan dari makin menguatnya posisi informasi seagai dasar perekonomian dunia. Ada perubahan dasar perekonomian dunia, setidaknya di Amerika Serikat, dari berbasis pertanian ke industri (pada abas ke-19), ke pelayanan (setelah perang Dunia II), dan ke informasi (sejak 1970an hingga saat ini). Masyarakat ekonomi berbasis informasi adalah masyarakat yang hidup berdasarkan informasi, atau menyumbang informasi, untuk keberlanjutan sistem ekonomi.

Bukan hanya industri modern, industri tradisional pun mengandalkan aspek informasi dan pengetahuan kalau mau untung. Misalnya petani di Tanah Toraja bisa berbagi cerita dengan petani di Lagos, Afrika Barat tentang bagaimana mengorganisasikan diri agar harga produk pertanian bisa lebih tinggi.

Radio komunitas jadi salah satu pilihan untuk mengorganisasikan diri agar komunitas bisa berdaya mempraktikkan kebebasan informasi. Melalui radio yang dikelola dari, oleh, dan untuk komunitas ini mereka bisa berbagi informasi dan meningkatkan posisi tawar. Tidak sekadar berbagi, keterbukaan informasi itu pun bisa mendorong terjadinya penyelesaian masalah warga. Mulai terbukanya akses terhadap air bersih di Kamal Muara Jakarta Utara, terselesaikannya pencemaran air warga pinggir Kali Code Yogyakarta, terangakatnya posisi perempuan di Bandung dan Padang Pariaman, terdamaikannya konflik antar warga di Subang Jawa Barat, hingga tersedianya sarana belajar mengajar di Pekalongan Jawa Tengah.

Tak hanya menyelesaikan masalah warga, radio komunitas juga bisa menjadi pengawal pelaksanaan pemerintahan di tingkat lokal. Pengelolaan informasi melalui radio dan buletin bisa mendorong demokratisasi di Gunung Kidul Yogyakarta, menjalin kedekatan antar warga di Bandung, dan membangun kepercayaan dalam pengelolaan koperasi di Lombok Barat.

Selain itu, radio komunitas juga ternyata berguna untuk mempertahankan adat setempat dan melahirkan selebritis baru. Di Aceh Utara, radio komunitas Samudera FM jadi media untuk mengangkat kembali seni dan sastra Aceh yang lama tak didengarkan warga setempat. Berkat radio tersebut, seni dan sastra tradisi seperti nazam, dalail khairat, rukun, pantun, dan dzikir bisa diperdengarkan lagi. Di Lombok Barat radio komunitas bisa mengangkat Samsudin sebagai penyanyi bersaing dengan Peterpan bagi warga setempat.

Sebagai bagian desa besar bernama globalisasi, komunitas pun harus bisa memanfaatkan peluang yang dihadirkan globalisasi itu sendiri. Teknologi informasi telah menawarkan peluang bagi komunitas untuk terlibat dalam produksi informasi itu. Maka komunitas pun harus bisa menggunakan untuk kepentingan mereka sendiri. Lahirlah sinergi informasi yang memanfaatkan teknologi seperti internet, telepon seluler, dan seterusnya. Misalnya warga sekitar gunung Merapi membuat portal komunitas bernama Jalin Merapi di mana mereka bisa menyampaikan dan mendapat informasi tentang aktivitas merapi.

Buku ini ditutup dua tulisan tentang peluang dan strategi memberdayakan komunitas dari perspektif kebebasan informasi. Dengan cerita dan kajian yang diberikan, buku ini meyakinkan kita bahwa mengorganisasikan diri memproduksi informasi bukanlah mimpi. [+++]

Kategori berita : Buku | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 235 Views

eXTReMe Tracker