• Bale Bengong

  • Profil Prof. dr. I Goesti Ngoerah Gde Ngoerah

20th October 2007

Profil Prof. dr. I Goesti Ngoerah Gde Ngoerah

Oleh Ir. A.A.A. Oka Saraswati, MT

Pengantar Penunggu Bale Bengong: Tulisan tentang usul menjadikan nama almarhum AA Made Djelantik sebagai nama rumah sakit (RS) Sanglah di Denpasar Bali masih menjadi diskusi di beberapa blog, seperti yang sudah disebut di tulisan sebelumnya. Ada yang menganggap almarhum AA Made Djelantik tidak layak namanya dijadikan karena kedekatannya dengan Belanda pada masa revolusi. Ada pula yang menganggap ada nama lain yang lebih layak, salah satunya nama almarhum IGN Gde Ngurah.

Tulisan ini dibuat dalam konteks tersebut, selain tentu saja untuk memperkenalkan salah satu tokoh perintis RS Sanglah tersebut, oleh penulis di atas yang juga putri IGN Gde Ngurah sendiri. Semula dalam bentuk biodata panjang. Saya berusaha mengubahnya ke bentuk narasi agar lebih enak. Tapi karena terlalu panjang, jadi agak susah. Maka saya hanya menghilangkan penomoran. Semoga tidak mengubah isi sama sekali. Dan, tentu saja, semoga berguna..

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Sosok | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 9 Komentar | 1,728 views

18th October 2007

Buku tentang AA Made Djelantik

Oleh Anton Muhajir

Melalui email dan beberapa blog termasuk Bale Bengong serta Blog Ini dan Ini, diskusi tentang sosok AA Made Djelantik masih berlanjut, terutama tentang usulan agar nama beliau diabadikan sebagai nama rumah sakit (RS) Sanglah, RS terbesar di Bali. Saya sendiri tidak kenal secara pribadi. Saya hanya pernah bertemu untuk wawancara tentang buku karya Idanna Pucci.

Diskusi tentang AA Made Djelantik di dunia maya membuat saya membongkar kembali file di komputer. Dan, syukurlah, saya temukan juga tulisan saya yang pernah dimuat GATRA, majalah tempat saya pernah bekerja, pada Desember 2004. Sayangnya sih waktu itu saya menulis sangat sedikit. Itu pun tanpa analisis lebih dalam karena bukunya pun hanya pinjam. Harga bukunya mahal, jadi tidak bisa membeli. :)) Ya, tapi tidak ada salahnya saya kutip lagi di blog ini tanpa mengubah sedikit pun, termasuk waktu. Barangkali berguna..

Baca selengkapnya »

Kategori berita : Buku, Sosok | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 342 views

15th October 2007

Perihal DR A.A. Made Djelantik

Oleh Arief Budiman

Posting saya di Bale Bengong dan blog saya mengenai Memoar Dr Djelantik mendapat respon dari Ir. A.A Oka Saraswati M.T. Hal yang menarik perhatiannya dalam tulisan Horst Jordt, Presiden Walter Spies Society Jerman ini adalah petikan ungkapan spontan -dan barangkali emosional- dari direktur RS Sanglah untuk mengajukan nama Dr Djelantik sebagai nama untuk mengganti nama RS Sanglah.

Saudara Ir. A.A Oka Saraswati M.T. mengingatkan kembali agar mempertimbangkan usulan tersebut dan mengajukan nama yang menurutnya lebih pantas yaitu Prof. dr. I Goesti Ngoerah Gde Ngoerah disebabkan curriculum vitaenya. Usulan tersebut disampaikan dalam emailnya kepada saya berikut biografi Prof. dr. I Goesti Ngoerah Gde Ngoerah. Dalam biografi tersebut kemudian saya ketahui bahwa Ir. A.A Oka Saraswati M.T. adalah salah seorang anak dari Prof. dr. I Goesti Ngoerah Gde Ngoerah.

Namun disebabkan keterbatasan saya dalam memenuhi permintaan mengajukan nama tersebut, saya merasa perlu menyampaikan beberapa hal yang mendasari pemuatan tulisan tersebut. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Budaya, Sosok | Kontributor : Arief Budiman | 11 Komentar | 439 views

23rd September 2007

Mercya Soesanto: We Don’t Want to Own Anything

Oleh Luh De Suriyani

Catatan: Tulisan ini dimuat di Media Halo, media internal pengguna Kartu Halo Telkomsel. Jadi mohon maklum kalau berbau iklan. :))

Bagi Marcia Dwiphurie Rachmani Soesanto, pekerjaannya adalah mozaik. Tiap hari ia mengerjakan banyak hal untuk komunitas berbeda. Namun semuanya ketika dikumpulkan, adalah bagian-bagian yang saling berhubungan dan membentuk sebuah kegiatan kemanusiaan.

Saat ini perempuan yang akrab dipanggil Mercya ini memilih menyodorkan diri sebagai Media Relation Officer (MRO) Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali. Ini memang pekerjaan formal yang menuntutnya bertanggung jawab penuh. Namun, ia juga mampu membentuk jejaring kerelawanan sosial khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan di Bali. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Sosok, Teknologi | Kontributor : Luh De Suriyani | 1 Komentar | 337 views

19th September 2007

Perginya Gembala Utama Keuskupan Denpasar

Oleh Yoseph A Kebe

Setelah berjuang untuk mengalahkan Hepatitis B hingga harus diterbangkan langsung ke RS. Mt. Elisabeth Singapura dari Jakarta, Uskup Denpasar, Mgr. Bria (begitu kami memanggilnya) harus berpulang ke rumah Bapa pada hari Selasa pagi.

Sungguh mengharukan. Mgr. Bria baru saja melewati tujuh tahun penggembalaannya di Keuskupan Denpasar. “Kitab Wahyu menyatakan bahwa umur rata-rata kita adalah 70 tahun, dia ditahbiskan menjadi Gembala Utama kita pada usia 40 tahunan. Kita berharap memiliki Gembala yang bisa lama menuntun kita. Namun Bapa berkehendak lain, ” ucap Romo Subhaga (Pastor Paroki St. Yoseph Denpasar) saat menyambut jenazah di depan pintu Katedral di kawasan Renon Denpasar. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Kabar Anyar, Sosok | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 1 Komentar | 427 views

18th September 2007

Pertemuan dengan Puisi

Oleh Wayan Sunarta

Bagi saya, puisi merupakan suatu wilayah sunyi dan sublim di mana saya bisa belajar tentang banyak hal, terutama perihal kehidupan dan keindahan dalam maknanya yang tak terbatas. Mencipta puisi merupakan usaha menyusun pecahan-pecahan kaca menjadi cermin diri, dari mana saya kemudian mencoba mengenali kembali kepingan-kepingan jiwa dan kenangan yang hilang, juga arah perjalanan hidup yang tidak akan pernah saya tahu akhirnya. Di dalam puisi, saya mengalami proses yang saya yakini mengarah pada penemuan jati diri.

Ketertarikan saya pada puisi bermula ketika saya masih duduk di bangku kelas dua SMPN 8 Denpasar, tahun 1990. Masih membekas dalam ingatan, bagaimana pada jam-jam istirahat saya suka menyelinap ke perpustakaan sekolah. Sebab uang bekal di saku jauh dari cukup untuk sekadar membeli semangkok bakso yang saat itu merupakan makanan mewah bagi saya. Sebagai penghibur rasa lapar, saya cukup puas “melahap” lembar demi lembar buku yang saya sukai (biasanya kumpulan cerpen atau novel) hingga bel pelajaran kembali berdentang. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Budaya, Buku, Sosok | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 1 Komentar | 688 views

12th September 2007

Memoar dr Made Djelantik, Seorang Pejuang Sejati

Dikirim Arief Budiman

Kita baru saja kehilangan salah satu orang terbaik negeri ini, dr A.A. Made Djelantik telah berpulang meninggalkan kita semua dengan begitu banyak nilai untuk kita teladani. Berikut saya sampaikan sebuah memoar dari Horst Jordt, presiden Walter Spies Society, Germany yang mengenal secara dekat sosok dr. Djelantik. Selamat jalan pejuang sejati…

Denpasar, 5 September 2007

Para anggota dan sahabat-sahabat “Walter Spies Society Jerman” yang terhormat, Baca selengkapnya »

Kategori berita : Budaya, Kabar Anyar, Sosok | Kontributor : Arief Budiman | 9 Komentar | 577 views

9th September 2007

Pilihan Kadek Suastika jadi Waria

Oleh Anton Muhajir

Pelaksanaan Q! Film Festival tahun ini memberi arti khusus bagi Kadek Suastika, 25 tahun. “Ini adalah bagian dari upaya agar keberadaan kami diakui,” kata Ika, panggilan bagi waria ini.

Q! Film Festival di Bali merupakan bagian dari festival film serupa yang juga diadakan di Jakarta pada 24 Agustus – 2 September 2007. Selama di Jakarta, festival ini memutar 80 judul film dari 22 negara. Film-film yang terdiri dari film dokumenter, film pendek dan film panjang itu diputar di Blitz Megaplex, Goethe-Institut, Subtitles, Centre Culturel Francais, Cemara 6 Galeri, Kineforum (Tim 21 Studio 1), Japan Foundation, Erasmus Huis dan Usmar Ismail Hall. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Budaya, Sosok | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 0 Komentar | 737 views

4th September 2007

Kegelisahan Alit Kesuma Kelakan

Oleh Bintang Pancar Cahaya

Minggu 2 September kemarin saya hadir dalam acara peluncuran buku Lentera, Lembaran tentang Realitas AIDS. Buku kumpulan tulisan-tulisan tentang AIDS karya “banyak orang” yang tersebar di sejumlah media massa ini diterbitkan Sloka Institute. Ada yang menarik dalam acara yang dihadiri Wakil Gubernur Alit Kesuma Kelakan yang datang selaku Ketua Harian Komisi Penanggulan AIDS Provinsi (KPAP) Bali tersebut.

Dalam acara yang dikemas secara santai dengan duduk lesehan bermenukan pisang dan singkong goreng ini, Alit Kelakan mengungkapkan kegelisahaannya hidup di negara Indonesia yang disebutnya sebagai negara administrasi ini, terutama jika menyangkut masalah pengucuran uang. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Budaya, Kabar Anyar, Sosok | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | 3 Komentar | 297 views

3rd September 2007

Antologi Frans Nadjira Diluncurkan Segera

Dikirim oleh Arief Budiman

SELAIN sebagai pelukis, Frans Nadjira adalah seorang pesastra, istimewa dalam penulisan puisi dan cerpen. Dua bidang kesastraan itu mulai dikenalnya sejak 1960. Tahun itu adalah permulaan baginya menulis puisi dan cerpen. Namun jauh sebelumnya, dasar-dasar kecintaannya pada sastra telah terbit pada masa kanak-kanaknya. Ia begitu mudah terpukau pada percakapan-percakapan tentang sastra ketika itu; membayangkan indahnya menggumuli sastra dan mempercakapkannya di kemudian hari. Anganan itu terpelihara terus dan berkembang menjadi spirit sastranya hingga kini.

“Curriculum Vitae” adalah antologi puisi karya Frans Nadjira paling mutakhir yang diterbitkan oleh MatameraBook-Bali. Antologi puisi ini memuat 55 puisi yang dibuat sepanjang kurun 2005-2006. Pada karya-karya puisi yang terangkum dalam antologinya ini, Frans Nadjira masih tetap memperlihatkan ketangguhan seorang penyair yang vitalistik. Ia seperti tak pernah kelihatan letih. Diksi yang terjaga dan terekspresi dari realitas yang telah mengalami pergulatan eksistensial dari sosok kepenyairan Frans Nadjira. Meski pada dasarnya karakteristik puisi-puisi Frans Nadjira tidak terlalu banyak berubah dibandingkan misalnya pada puisi-puisinya yang terkumpul dalam antologinya yang lain seperti “Springs Of Fire Springs Of Tears”, misalnya, namun pada “Curriculum Vitae” kita melihat betapa Frans Nadjira lebih kuat menonjolkan beberapa persoalan-persoalan kotemporer umat manusia. Selain itu, pilihan-pilihan ungkapan puitiknya juga terbilang sederhana, matang, imajis dan segar. Pada Frans Nadjira, kata-kata bukan lagi sekadar  alat, melainkan jiwa yang menerjemah dalam kata-kata. Baca selengkapnya »

Kategori berita : Budaya, Buku, Sekitar Denpasar, Sosok | Kontributor : Arief Budiman | 0 Komentar | 330 views

eXTReMe Tracker