24th
June
2008
Oleh Anton Muhajir
Selain dengan cara menjual langsung ke toko dan organik, pengolahan pascapanen produk pertanian di lokasi petani juga membantu meringankan beban petani, karena mereka tidak perlu repor-repot menjual ke tengkulah. Bahkan, hal ini juga meningkatkan kapasitas petani. Inilah yang terjadi di Cocoa Prosessing Unit (CPU) di Tabanan.
CPU di Desa Lalanglinggah, Kecamatan Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan tersebut merupakan hasil kerjasama PT Big Tree Farm, perusahaan pemasaran hasil pertanian, dengan Amarta, projek agrobisnis milik USAID, lembaga donor dari Amerika Serikat. Amarta membangun fasilitas pengolahan sedangkan Big Tree Farm mengelola usaha ini.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Teknologi, Sekitar Denpasar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 93 Views
23rd
June
2008
Oleh Anton Muhajir
Meski produksinya sudah lancar, petani organik di Bali masih mengalami masalah di pemasaran. Mereka masih menghadapi rantai pemasaran produk pertanian yang sangat panjang dan merugikan.
Bedugul adalah salah satu pusat produksi sayur di Bali. Meski demikian, nasib petani sayur di sana justru tak sebagus pesona alamnya. Menurut Wayan Kanten, petani sayur di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng petani masih mendapatkan masalah pemasaran.
“Selama ini petani tetap miskin ternyata karena permainan di tingkat pemasaran. Sebab para pemain di rantai pemasaran sangat jahat. Mereka tidak ingin petani mengetahui pasar,” kata Kanten.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Teknologi, Sekitar Denpasar | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 64 Views
20th
June
2008
Oleh Wayan Sunarta
Tiga pelukis menyuarakan pandangannya tentang keseimbangan. Tiga pelukis yang meski telah kenyang terlibat dalam berbagai pameran bersama, namun tak henti-hentinya terus berproses dan memburu jati diri. Tiga pelukis tersebut adalah Wayan Wirawan (1975), Ketut Lekung Sugantika (1975) dan Sekartadji Supanto (1977). Mereka menampilkan karya-karya mutakhirnya lewat pameran bertajuk “Equilibrium” di Tonyraka Art Gallery, Ubud, Bali. Pameran yang berlangsung dari 30 Mei sampai 20 Juni 2008 ini dikuratori oleh Arif Bagus Prasetyo.
Para pelukis itu menyadari bahwa dunia, baik dunia ekologis, budaya dan mental sedang berada dalam ketidakseimbangan, mengalami chaos. Wirawan menyoroti peristiwa-peristiwa kehancuran ekologis yang telah terjadi di semua belahan bumi. Es di kutub telah lama mencair menyebabkan pemanasan global. Kehancuran hutan akibat kebakaran dan penebangan liar semakin parah. Banjir bandang mengincar setiap musim hujan, siap melumat perkampungan di bawahnya. Gempa bumi menjadi hantu yang menakutkan. Belum lagi masalah polusi alam (udara, air, tanah) akibat tindakan manusia yang tidak bisa menghargai alam.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Agenda, Sekitar Denpasar, Sosok, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 23 Views
19th
June
2008
Oleh Wayan Sunarta
Sejak lama Bali telah menjadi Surga bagi para pelukis asing. Mereka telah berdatangan sejak tahun 1920-an dan berlomba mereguk inspirasi dari alam dan budaya Bali yang unik. Untuk merunut beberapa nama, sebutlah misalnya Rudolf Bonnet, Walter Spies, Arie Smith, Donald Friend hingga generasi Ronald Wigman, Wolfgang Widmoser, Peter Dittmar, Filippo Sciascia, Walter van Oel dan Yaari Rom.
Yaari Rom adalah pelukis kelahiran Los Angeles, USA, 1956. Yaari yang baru beberapa tahun menetap di Bali mengakui bahwa pesona alam dan budaya Bali merupakan salah satu sumber inspirasi bagi karya-karya seninya. Yaari dikenal sebagai seniman serba bisa. Selain melukis, ia juga menggarap fotografi, film, seni teater dan wearable art (seni busana).
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Agenda, Sekitar Denpasar, Sosok, Budaya | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 30 Views
18th
June
2008
Oleh Anton Muhajir
Tanah Lot adalah salah satu tempat sempurna di Bali untuk menikmati suasana matahari tenggelam (sunset). Objek wisata di Tabanan, sekitar 15 km barat laut Denpasar ini, tempat di mana sebuah pura di pulau kecil yang terpisah dari Bali daratan. Melihat pura dengan semburat jingga matahari tenggelam akan jadi pengalaman yang susah dilupakan selama liburan di Bali. Tapi, mari sekali-kali bersantap malam juga di Tanah Lot, sambil menikmati sunset di sana.
Salah satu tempat bersantap di Tanah Lot adalah restoran Melasti. Restoran ini berada di atas tebing, sekitar 1 km utara pura. Dari titik ini kita bisa menikmati makan malam di antara debur ombak dan senja yang turun perlahan-lahan menjadi malam. Karena di tepi pantai, maka seafood menjadi menu andalan restoran ini.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Sekitar Denpasar, Jalan-Jalan, Kuliner | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 33 Views
17th
June
2008
Oleh Swastinah Atmodjo
Satu bale subak abian (subah untuk lahan kering) berdiri kokoh di atas tanah seluas 10 are di Desa Kiadan, dengan areal parkir yang cukup luas. Bangunannya tampak unik karena hampir keseluruhan bagiannya terbuat dari material bambu. Pun dengan meja kursi yang disusun berderet.
Bale tersebut bukan saja untuk pertemuan para anggota subak, melainkan juga ditata sebagai tempat menjamu wisatawan yang berwisata keliling Kiadan. Pada bagian depan ditempatkan satu tungku dengan kayu bakar yang membara, dipergunakan membuat kopi look (dibaca lok) atau racikan kopi rebus. Rasanya sangat berbeda dengan seduhan kopi pada umumnya, lebih kental dan aroma menggugah selera. Setiap tamu bebas menikmati kopi tersebut ditambah suguhan jajanan tradisional Bali. Sangat cocok untuk mengusir hawa dingin yang hampir sepanjang hari menyelimuti desa di ketinggian 1040 dari atas permukaan laut tersebut.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Sekitar Denpasar, Jalan-Jalan | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 17 Views
11th
June
2008
Oleh Anton Muhajir
Setiap kali berkunjung ke Bali bagian timur, saya merasa belum lengkap tanpa mampir ke warung makan Merta Sari di Desa Pesinggahan Kabupaten Klungkung. Warung makan ini sangat sederhana untuk ukuran mereka yang biasa menikmati restoran kelas tinggi. Tapi, bagi saya, belum ada yang menandingi kenikmatan bersantap ikan laut di warung makan lesehan ini.
Tentu tidak saya saja. Sebab setiap kali saya mampir untuk bersantap, warung di dekat perbatasan Kabupaten Klungkung dan Kabupaten Karangasem ini selalu saja penuh dengan pengunjung dari Denpasar atau luar Bali sekalipun.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Sekitar Denpasar, Jalan-Jalan, Kuliner | Kontributor : Penunggu Bale Bengong | | 29 Views
3rd
June
2008
Oleh Kadek Didi Suprapta
Melahirkan anak kembar mungkin sudah menjadi berita biasa bagi sebagian besar masyarakat. Tapi lain halnya dengan di Bali, dan lebih khusus di desa saya. Ada satu tradisi unik di desa saya yang mungkin di tempat lain tidak ada. Melahirkan anak kembar di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Bangli dianggap sebagai suatu berkah bagi masyarakat di sana.
Jika dulu ketika masa-masa feodal masih kuat pengaruhnya di Bali, bisa jadi melahirkan anak kembar menjadi suatu bencana bagi keluarga yang mempunyai anak kembar itu. Apalagi sampai yang dilahirkan adalah anak kembar buncing (satu laki, satu perempuan), bisa-bisa si bapak dan si ibu beserta bayinya diungsikan, karena melahirkan anak kembar dianggap suatu aib.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Opini, Sekitar Denpasar, Budaya | Kontributor : Dek Didi | | 162 Views
2nd
June
2008
Dikirim Arief Budiman
“Saya teringat di awal tahun 1991, sewaktu saya sebagai Kepala Kantor Wilayah X Depparpostel-Bali, melakukan kajian ulang atas Rencana Induk Kepariwisataan Bali yang disusun oleh SCETO yang telah berumur 20 tahunan. Ketua Bappeda Bali menyampaikan permasalahan yang sangat krusial waktu itu. Bahwa masyarakat Bali yang sebagian besar adalah petani yang tinggal di pedesaan mengalami disparitas penghasilan yang demikian besar dibandingkan mereka yang di luar pertanian.
Mereka hanya bisa mengejar “sapi” dan “kerbau” yang minum air kali atau “telabah”. Mereka tidak mampu mengejar “kuda” atau “kijang” bahkan “bebek” sekalipun yang semuanya minum bensin. Di samping itu masyarakat Bali mempertanyakan hasil kepariwisataan Bali yang kelihatan begitu gemerlap. Mereka bertanya “apakah Bali untuk pariwisata” ataukah “pariwisata untuk Bali”? Sungguh, waktu itu saya amat tersentak!
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Sekitar Denpasar, Jalan-Jalan, Budaya | Kontributor : Arief Budiman | | 150 Views
23rd
May
2008
Oleh Kadek Didi Suprapta
Pengelipuran hanyalah sebuah desa kecil di pinggiran kota sejuk, Bangli, Bali sekitar 40 km dari kota Denpasar. Secara dinas Desa Pekraman Pengelipuran termasuk Kelurahan Kubu. Dihuni sekitar 200 kepala keluarga yang menempati sekitar 76 rumah keluarga atau satu rumah ditinggali sekitar 3 kepala keluarga. Kebanyakan dari mereka adalah petani. Meski sekarang sudah mulai ada yang menjadi pegawai negeri atau bekerja di sector pariwisata lainnya.
Pengelipuran adalah salah satu desa tradisional atau desa tua di Bali atau sering disebut Bali Aga atau Bali Mula. Merupakan salah satu tujuan wisata yang dipromosikan oleh Pemkab Bangli.
Baca selengkapnya »
Kategori berita : Sekitar Denpasar, Jalan-Jalan, Budaya | Kontributor : Dek Didi | | 85 Views