Promosi Pariwisata Bali melalui Kawasan Konservasi Laut
Oleh Marthen Welly
Keindahan alam merupakan salah satu aset utama pariwisata selain adat dan budaya Bali. Panorama bawah laut Bali yang mempesona dengan keindahan terumbu karang dan ikan yang berwarna-warni sudah sangat terkenal di dunia, memberikan daya tarik tersendiri bagi para turis domestik maupun mancanegara. Bahkan banyak turis yang setiap tahun datang berkunjung ke Bali hanya untuk snorkeling atau menyelam menikmati keindahan bawah laut tersebut.
Selain terumbu karang, turis juga dapat menikmati keunikan satwa laut lainnya di Bali seperti mola-mola (sunfish), paus dan lumba-lumba (cetacean), penyu dan pari manta (manta ray). Bahkan mola-mola hanya ada di Bali dan Filipina untuk kawasan Asia Tenggara. Akan tetapi mola-mola di Bali lebih sering dijumpai, yang kemunculannya sekitar bulan Juli - November. Belum lagi ditambah hutan bakau di Bali selatan, Bali barat dan Nusa Lembongan yang juga dikemas menjadi ekowisata.
Di tengah derasnya persaingan pariwisata di tingkat dunia maupun region Asia, Bali dituntut untuk terus berbenah dan kreatif dalam mempromosikan paket pariwisatanya. Terlebih lagi sektor pariwisata merupakan andalan bagi Bali untuk menjaring devisa. Namun jika kita lihat saat ini, terlihat bahwa promosi yang dilakukan kadang seadanya, bahkan monoton. Alokasi pendanaan untuk melakukan promosi ini juga kadang tidak sebanding dengan hasil yang diharapkan. Jika kita lihat negara-negara tetangga seperti Malaysia, Filipina dan Thailand yang memiliki karakter hampir sama seperti Indonesia, mereka begitu giat, agresif dan juga kreatif melakukan promosi pariwisatanya. Jika Bali tidak segera berbenah diri dan menerapkan strategi lain dalam promosi pariwisatanya, maka bukan tidak mungkin, para negara tetangga tersebut yang akan lebih unggul dalam bersaing.
Bali sudah saatnya membentuk Kawasan Konservasi Laut (KKL). Dengan membentuk KKL selain melindungi sumberdaya hayati laut terutama terumbu karang, ikan dan hutan bakau sebagai aset penting wisata bahari, juga sekaligus menjadi media promosi bagi pariwisata Bali yang berpihak pada lingkungan (green image). Saat ini trend pariwisata dunia telah beranjak meninggalkan pengembangan pariwisata secara massal (mass-tourism), akan tetapi mengarah kepada green image tourism. Hal ini penting karena sumberdaya alam semakin terbatas, dan ancaman terhadap sumberdaya alam tersebut terus berlangsung. Jika Bali hanya fokus pada promosi semata, sementara pelestarian alam terabaikan, dan turis yang datang melihat hal tersebut, maka ini juga akan menjadi promosi negatif bagi pariwisata Bali.
Dapat dipastikan bahwa pariwisata alam tidak akan berkelanjutan tanpa adanya upaya konservasi terhadap sumberdaya alam itu sendiri. Ditambah lagi saat ini dunia sedang menghadapi ancaman pemanasan global yang mau tidak mau upaya konservasi terumbu karang dan hutan bakau harus dilakukan. Konservasi di sini tidak diartikan dilindungi dan tidak boleh dimanfaatkan sama sekali, akan tetapi dikelola sehingga bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan.
The Nature Conservancy’s Coral Triangle Center (TNC-CTC) — sebuah lembaga konservasi internasional yang berkantor di Bali, pada tahun 2008 ini, akan bekerja bersama Pemda Klungkung, masyarakat kecamatan Penida, Yayasan Bahtera Nusantara, dan BKSDA Bali untuk membangun KKL Penida. Tidak menutup kemungkinan, inisiatif awal membangun KKL Penida melibatkan lebih banyak pihak seperti sektor swasta yang bergerak di bidang pariwisata bahari, pemerintah propinsi, pemerintah pusat dan masyarakat internasional.
Tujuan dari pembentukan KKL Penida ini adalah untuk melindungi aset penting pariwisata bahari Pulau Bali, utamanya Nusa Penida, Ceningan dan Lembongan, sekaligus mempromosikan pariwisata bahari pulau Bali yang berpihak pada lingkungan di tingkat internasional.
* Penulis, saat ini bekerja sebagai TNC-CTC Project Leader Penida
Artikel ini juga dimuat Bali Post, 19 Januari 2008.



