Menguak Perilaku Seks Remaja Denpasar
Oleh Made Putri Ayu RasminiÂ
Trend seks pranikah menjadi fenomena menggiurkan bagi gaya hidup remaja sekarang. Apalagi budaya permisif tampaknya melegalkan perilaku seks pranikah. Dalam kondisi aktif dan labil, dalam pencarian jati diri remaja memang sangat mudah terseret arus trend seks pranikah. Hal ini bukanlah isapan jempol semata atau ketakutan yang dibuat-buat karena fakta yang ada relevan dengan kondisi remaja saat ini.Â
Untuk menguji kebenaran fenomena tersebut SMA Negeri 2 Denpasar pada April 2007 lalu telah melakukan sebuah penelitian tentang perilaku seks remaja sekolah. Penelitian ini dimotori oleh siswa binaan program Dunia Remajaku Seru! (DAKU!) bekerjasama dengan Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) SMA Negeri 2 Denpasar dan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.  Program DAKU! merupakan program edukasi berkurikulum kesehatan reproduksi dan seksualitas ke sekolah, berbasiskan teknologi informatika dalam kemasan compact disc (CD). DAKU! merupakan hasil kerjasama antara World Population Foundation (WPF), lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional yang berkantor pusat di Belanda, dan Kita Sayang Remaja (Kisara) Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali, pusat informasi dan konseling remaja. Sekolah yang saat ini mengimplementasikan 14 bab dalam modul DAKU! Adalah SMA 2 Denpasar, SMA 3 Denpasar dan SMA 4 Denpasar.  Program DAKU! juga sedang mencoba melebarkan sayapnya, selain ke SMA negeri juga SMA swasta bahkan SMK dengan tambahan enam sekolah baru yang akan tergabung dalam program ini dan rencananya implementasi akan dimulai pada tahun ajaran baru ini atau sekitar bulan Agustus.
Kembali ke soal penelitian perilaku seks remaja tersebut. Penelitian yang diketuai oleh Ayu Septarini ini bernama “Jujurkah Saya” yang memang bertujuan melihat sejauh mana kejujuran remaja dalam mengungkapkan fakta perilaku seks mereka. Sekaligus juga untuk membuktikan hipotesis Vivin Ariyantini.”Banyak remaja yang belum paham bahkan salah persepsi terkait dengan masalah kesehatan reproduksi dan seksualitas,” tutur core team siswa DAKU! SMA Negeri 2 Denpasar sekaligus pencetus ide penelitian tersebut. Harapan ke depannya, hasil penelitian bisa menjadi bahan untuk kampanye tentang kesehatan reproduksi di kalangan remaja.
Terus, sudah sejauh mana sih aktivitas seksual remaja yang jadi responden? Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa dari 766 responden terdapat 526 responden yang menyatakan mereka telah melakukan aktivitas seksual seperti pelukan, 458 responden sudah berciuman bibir, 202 responden sudah pernah mencium leher (necking), disusul 138 responden sudah menggesek-gesekkan alat kelamin tanpa berhubungan seks (petting), 103 responden sudah pernah hubungan seksual, dan 159 menyatakan aktivitas seksual lain selain yang disebutkan tadi.
Aktivitas seksual tersebut bisa dilakukan bersama teman, pacar, seseorang atau beberapa orang tanpa status yang jelas (HTS), teman tapi mesra (atau malah teman tapi mesum??), bahkan dengan pekerja seks komersil (PSK). Tertinggi, 432 responden melakukannya dengan pacar, lalu 158 responden dengan teman, 61 responden dengan pasangan yang tidak jelas status hubungannya (HTS), 112 responden dengan teman tapi mesra (TTM), dan 49 responden melakukan aktivitas seksualnya dengan PSK. Dalam penelitian tersebut ditemukan fakta bahwa dari 766 responden ternyata 103 orang pernah melakukan hubungan seksual dan bahkan 49 orang di antaranya melakukan hubungan seksual dengan PSK. Jika saat ini remaja tersebut berusia 16 atau 17 tahun mereka melakukannya tanpa kondom, bisa jadi mereka akan tertular infeksi menular seksual (IMS) atau parahnya human immunodeficiency virus (HIV), virus penyebab acquired immune deficiency syndrome (AIDS), maka dengan masa inkubasi sekitar 5-10 tahun dapat diprediksikan mereka baru ketahuan tahu mengidap HIV kira-kira di usia 22 atau 27 tahun ketika mulai memasuki fase AIDS, padahal ini usia yang sangat produktif.Â
Hal ini sangat tragis terlebih karena adanya isu lost generation remaja Indonesia akibat HIV/AIDS yang kian menghantui. Betapa tidak. Karena masa depan negara ada di tangan remaja. Kedengarannya klise tapi begitulah kenyataannya. Sayangnya dalam angket tersebut tidak semua mencantumkan alasan mengapa kaum cowok itu melakukan hubungan seksual dengan PSK. Menurut Ayu Septarini, ketua penelitian Jujurkah Saya hanya ada dua responden yang menjawab dengan gamblang bahwa mereka merasa lebih baik menyalurkan libido mereka ke PSK daripada melakukannya sendiri yaitu dengan cara onani atau masturbasi. Alasan lainnya mereka tidak punya pasangan. ”Padahal kita tahu bahwa nyalurin ke PSK jauh lebih berbahaya daripada onani,” kata Ayu.
Menurut Oka Negara, dokter yang selama ini intens memberi konsultasi seks pada remaja, sebenarnya fenomena anak sekolah atau remaja yang mencoba menyalurkan dorongan seksualnya dengan PSK bukan hal baru dan semua orang juga pernah dengar. ”Cuma saja apakah jumlahnya meningkat, belum ada yang membuat penelitian rincinya. Tetapi memang ini bisa dipakai sebagai pertimbangan dan fakta kalau siswa dan remaja juga sudah melakukan hubungan seksual yang berisiko,” kata dokter muda tersebut. Â
Menurut Oka, ini yang perlu disikapi bersama. Pendidikan normatif, budi pekerti dan agama memang sangat perlu buat bisa mencegah berbuat yang yang bertentangan dengan norma umum. Tetapi jauh lebih strategis juga adalah pentingnya pendidikan seks itu sendiri. Supaya remaja punya pemahaman akan risiko tindakan yang dilakukan dan membawa remaja menjadi remaja bertanggung jawab dan ini tugas kita bersama. Paling tidak dalam kasus ini remaja jadi menunda hubungan seks atau pacaran sehat tapi buat yang terlanjur gonta-ganti mereka bisa melindungi dirinya dari kehamilan tidak diinginkan, infeksi menular seksual, dan HIV/AIDS. Oka Negara yang juga salah satu advisory board program DAKU! dan mengikuti dari awal program ini mengaku bangga pada siswa DAKU! SMA Negeri Denpasar yang melakukan penelitian ini karena selama ini belum pernah dilakukan oleh siswa binaan DAKU! lain di Indonesia bahkan program serupa yaitu World Start With Me di Uganda pun belum melakukannya. ”Ini merupakan prestasi yang menggembirakan buat kemajuan program DAKU! khususnya di Bali,” kata Oka Negara. [b]



