<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Dampak Sosial Flu Burung Lebih Besar</title>
	<atom:link href="http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2007/09/01/dampak-sosial-flu-burung-lebih-besar.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2007/09/01/dampak-sosial-flu-burung-lebih-besar.html</link>
	<description>Berbagi Informasi tentang Bali</description>
	<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 05:34:45 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.1</generator>
		<item>
		<title>By: I Wayan Kelepon</title>
		<link>http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2007/09/01/dampak-sosial-flu-burung-lebih-besar.html#comment-360</link>
		<dc:creator>I Wayan Kelepon</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Sep 2007 07:51:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.balebengong.net/2007/09/01/dampak-sosial-flu-burung-lebih-besar/#comment-360</guid>
		<description>Kasihan Gubernur Bali !!!
Merebaknya kasus flu buring di Bali telah menimbulkan keresahan, kemarahan dan rasa  jengkel yang luar biasa di kalangan masyarakat yang berilmu dan berwawasan  di Bali dan juga di linkungan luar Bali  yang selama ini wilayahnya mendapatkan  berkah  pariwisata  dari Bali,  khususnya Jawa  Timur, Sulawesi  Selatan, Lombok, Sumatra Utara dan Yogyakarta. Ada  hati  kecil yang berkecamuk mengenai:
1.	Ternyata Bali tidak lebih baik dari daerah lain, bahkan daerah yang paling  terkebelangpun.
2.	Fakta bahwa  keterbelakangan ini dicerminkan oleh sebagian  besar pemegang  kebijakan  di Bali ( baca eksekutif dan legislative )
3.	Pada akhirnya Bali sebagai minoritas dalam pengertian  entitas, jika pengelolanya seperti ini, maka Bali tidak lebih  dari sebuah titik debu yang demikian  mudah  untuk lenyap hanya karena angin yang paling lemah sekalipun.

Kondisi ini secara gambling tercermin dari berbagai  tindakan konyol yang dilakukan oleh pejabat daerah dan lembaga  eksekutif, terutama yang paling parah adalah:
1.	Dengan alas an takut pariwisata terusik, flu burung disembunyikan kepada public,  namun tidak ada usaha yang berarti untuk mengatasi. Kebohongan ini sama levelnya dengan anak  Sekolah Dasar yang baru mengenal  kelas I. Ketahuilah di dunia ini tidak ada setitik kejelekanpun  bisa ditutupi dalam masa  informasi  global ini. Dunia dalam informasi global sama dengan detektif  global, oleh karena  itu  jangan coba-coba bohong. Anda mungkin bisa  membohongi sebagian  dari  masyarakat Bali, tapi tidak dengan masyarakat Bali  yang sudah berilmu dan orang-orang Negara maju. Orang Negara maju  pokoknya adalah 99% jujur. Sekali mereka tahu bahwa ada kebohongan, maka akan  sulit mendapatkan kepercayaannya kembali.  Itulah sebabnya mengapa travel warning tetap tergantung tak pernah diturunkan.
2.	Tidak pernah berpikir empiris, jika  kehabisan  akal lari  ke dunia maya. Ini adalah ciri khas masyarakat di  abad ke-12 yang di Eropah dikenal dengan jaman gelap “ dark age “. Walhasil inilah yang dilakukan oleh Gubernur Bali, karena gelap visinya, maka menginstruksikan seluruh kepala daerah di Bali untuk mengatasi flu burung dengtan melakukan upakara nunas tirta di empat pura  yakni di Pura Uluwatu, Pura Geger, Pura Sait, dan Pura Narmada. Intruksi gubernur ini segera  ditindaklanjuti oleh kepala daerah yang sekelas dengannya.  Contohnya surat edaran Wali Kota no. 454/IX/Kesra menginstruksikan seluruh masyarakat  kota Denpasar untuk melakukan  upacara untuk mengatasi  flu burung. Alangkah menyedihkannya !!!!!!!!!

Jika seperti ini kelas pemimpin yang mengelola  Bali, saya pribadi sangat sedih, karena harapan Indonesia untuk  melangkah maju mestinya dipelopori oleh Bali di mana masyarakatnya berjiwa pluralis dan terbuka. Namun sayang tidak  ada pemimpinnya.

Harapan menjadi hampa</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kasihan Gubernur Bali !!!<br />
Merebaknya kasus flu buring di Bali telah menimbulkan keresahan, kemarahan dan rasa  jengkel yang luar biasa di kalangan masyarakat yang berilmu dan berwawasan  di Bali dan juga di linkungan luar Bali  yang selama ini wilayahnya mendapatkan  berkah  pariwisata  dari Bali,  khususnya Jawa  Timur, Sulawesi  Selatan, Lombok, Sumatra Utara dan Yogyakarta. Ada  hati  kecil yang berkecamuk mengenai:<br />
1.	Ternyata Bali tidak lebih baik dari daerah lain, bahkan daerah yang paling  terkebelangpun.<br />
2.	Fakta bahwa  keterbelakangan ini dicerminkan oleh sebagian  besar pemegang  kebijakan  di Bali ( baca eksekutif dan legislative )<br />
3.	Pada akhirnya Bali sebagai minoritas dalam pengertian  entitas, jika pengelolanya seperti ini, maka Bali tidak lebih  dari sebuah titik debu yang demikian  mudah  untuk lenyap hanya karena angin yang paling lemah sekalipun.</p>
<p>Kondisi ini secara gambling tercermin dari berbagai  tindakan konyol yang dilakukan oleh pejabat daerah dan lembaga  eksekutif, terutama yang paling parah adalah:<br />
1.	Dengan alas an takut pariwisata terusik, flu burung disembunyikan kepada public,  namun tidak ada usaha yang berarti untuk mengatasi. Kebohongan ini sama levelnya dengan anak  Sekolah Dasar yang baru mengenal  kelas I. Ketahuilah di dunia ini tidak ada setitik kejelekanpun  bisa ditutupi dalam masa  informasi  global ini. Dunia dalam informasi global sama dengan detektif  global, oleh karena  itu  jangan coba-coba bohong. Anda mungkin bisa  membohongi sebagian  dari  masyarakat Bali, tapi tidak dengan masyarakat Bali  yang sudah berilmu dan orang-orang Negara maju. Orang Negara maju  pokoknya adalah 99% jujur. Sekali mereka tahu bahwa ada kebohongan, maka akan  sulit mendapatkan kepercayaannya kembali.  Itulah sebabnya mengapa travel warning tetap tergantung tak pernah diturunkan.<br />
2.	Tidak pernah berpikir empiris, jika  kehabisan  akal lari  ke dunia maya. Ini adalah ciri khas masyarakat di  abad ke-12 yang di Eropah dikenal dengan jaman gelap “ dark age “. Walhasil inilah yang dilakukan oleh Gubernur Bali, karena gelap visinya, maka menginstruksikan seluruh kepala daerah di Bali untuk mengatasi flu burung dengtan melakukan upakara nunas tirta di empat pura  yakni di Pura Uluwatu, Pura Geger, Pura Sait, dan Pura Narmada. Intruksi gubernur ini segera  ditindaklanjuti oleh kepala daerah yang sekelas dengannya.  Contohnya surat edaran Wali Kota no. 454/IX/Kesra menginstruksikan seluruh masyarakat  kota Denpasar untuk melakukan  upacara untuk mengatasi  flu burung. Alangkah menyedihkannya !!!!!!!!!</p>
<p>Jika seperti ini kelas pemimpin yang mengelola  Bali, saya pribadi sangat sedih, karena harapan Indonesia untuk  melangkah maju mestinya dipelopori oleh Bali di mana masyarakatnya berjiwa pluralis dan terbuka. Namun sayang tidak  ada pemimpinnya.</p>
<p>Harapan menjadi hampa</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: I Wayan Gerudug</title>
		<link>http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2007/09/01/dampak-sosial-flu-burung-lebih-besar.html#comment-323</link>
		<dc:creator>I Wayan Gerudug</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Sep 2007 03:51:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.balebengong.net/2007/09/01/dampak-sosial-flu-burung-lebih-besar/#comment-323</guid>
		<description>Kalau kita mengamati karakter dari pemerintah dan Legislatif Bali semenjak jatuhnya orde Baru sangat kelihatan seperti yang banyak ditulis oleh orang Barat:

1. Dungu
2. Bohong
3. Terkejut-terkejutan.

Jika ke-3 sifat ini terus dibawa, maka kita hanya tinggal menunggu Bali akan kembali lagi seperti sebelum tahun 1930an dan bahkan lebih parah. Maka senanglah Australia, Malaysia, dan negara-negara yang memang menginginkan Indonesia bangkrut. Dan mudahlah mereka menyikut-nyikut Indonesia tanpa rasa takut sama sekali, karena mereka berpikir " bali atau indonesia itu tidak ada apa-apanya...!

Siapa yang malu?
Rakyat kecil? tidak, rakyat kecil tidak makan hasil kerja orang lain. Yang malu seharusnya adalah mereka yang makan gaji dari rakyat kecil.

Yang paling saya sesalkan kenapa Bali punya gubernur yang benar-benar tidak punya visi tentang flu burung ini. Mungkin ada agenda tersembunyi di baliknya? Oh tidak... menurut pengamatan berbagai orang pintar di dalam maupun luar negeri pemimpin tertinggi Bali itu memang dungu!

Sebenarnya untuk mengatasi menyebarnya flu burung di Bali,jika tidak berani mengikuti cara Pak Sutiyoso sebenarnya sangat mudah di Bali.

Buat perda khusus untu flu burung yang mengatur kordinasi di lapangan mulai dari tingkat II s/d ketua lingkungan dengan sanksi  yang berat. Satgas perda ini difokuskan di tingkat banjar ( wajib ) misalnya dengan memanfaatkan hansip ditambah dengan anggota senior di lingkungan banjar yang bisa bersifat obyektif dan bisa memberikan laporan kepada satgas di tingkat desa, kecamatan, kabupaten s/d provinsi. Hal ini sangat mudah untuk dilakukan karena sekarang sudah ada HP. Ikutkan kepolisian untuk mengawal hukumnya.
Point yang bisa diatur dengan melalui satgas ini misalnya:
1. Setiap RT yang punya ayam harus membuatkan kandang ( mengurungnya )
Jika tidak maka ayamnya akan ditembak mati.
2. Pengamatan setiap RT tentang keadaan tiap hari pada hewan-hewan peliharaan.
3. Pelaporan secara cepat tentang kondisi menyeluruh dari kondisi hewan dilingakungan banjarnya.
4. Melaporkan secara cepat warga yang bandel, superstisius,dsb.

Jika hal di atas tidak dilaksanakan maka akan terjadi mala petaka. Hal ini jelas, karena banyak orang di Bali masih beranggapan bahwa soal "sakit atau tidak itu sudah ada yang ngatur" dan dangat lamban cara berpikirnya seperti yang dimiliki oleh gubernur sekarang. Sifat yang menunjukkan superstiseus inilah yang akan menjadi sumber malapetaka.

Dalam dunia modern kebohongan akan cepat membawa malapetaka, tidak seperti di masa lampau kebohongan bisa saja disimpan puluhan tahun sebelum dicium orang.

Atau mungkin percepat Pilkada.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau kita mengamati karakter dari pemerintah dan Legislatif Bali semenjak jatuhnya orde Baru sangat kelihatan seperti yang banyak ditulis oleh orang Barat:</p>
<p>1. Dungu<br />
2. Bohong<br />
3. Terkejut-terkejutan.</p>
<p>Jika ke-3 sifat ini terus dibawa, maka kita hanya tinggal menunggu Bali akan kembali lagi seperti sebelum tahun 1930an dan bahkan lebih parah. Maka senanglah Australia, Malaysia, dan negara-negara yang memang menginginkan Indonesia bangkrut. Dan mudahlah mereka menyikut-nyikut Indonesia tanpa rasa takut sama sekali, karena mereka berpikir &#8221; bali atau indonesia itu tidak ada apa-apanya&#8230;!</p>
<p>Siapa yang malu?<br />
Rakyat kecil? tidak, rakyat kecil tidak makan hasil kerja orang lain. Yang malu seharusnya adalah mereka yang makan gaji dari rakyat kecil.</p>
<p>Yang paling saya sesalkan kenapa Bali punya gubernur yang benar-benar tidak punya visi tentang flu burung ini. Mungkin ada agenda tersembunyi di baliknya? Oh tidak&#8230; menurut pengamatan berbagai orang pintar di dalam maupun luar negeri pemimpin tertinggi Bali itu memang dungu!</p>
<p>Sebenarnya untuk mengatasi menyebarnya flu burung di Bali,jika tidak berani mengikuti cara Pak Sutiyoso sebenarnya sangat mudah di Bali.</p>
<p>Buat perda khusus untu flu burung yang mengatur kordinasi di lapangan mulai dari tingkat II s/d ketua lingkungan dengan sanksi  yang berat. Satgas perda ini difokuskan di tingkat banjar ( wajib ) misalnya dengan memanfaatkan hansip ditambah dengan anggota senior di lingkungan banjar yang bisa bersifat obyektif dan bisa memberikan laporan kepada satgas di tingkat desa, kecamatan, kabupaten s/d provinsi. Hal ini sangat mudah untuk dilakukan karena sekarang sudah ada HP. Ikutkan kepolisian untuk mengawal hukumnya.<br />
Point yang bisa diatur dengan melalui satgas ini misalnya:<br />
1. Setiap RT yang punya ayam harus membuatkan kandang ( mengurungnya )<br />
Jika tidak maka ayamnya akan ditembak mati.<br />
2. Pengamatan setiap RT tentang keadaan tiap hari pada hewan-hewan peliharaan.<br />
3. Pelaporan secara cepat tentang kondisi menyeluruh dari kondisi hewan dilingakungan banjarnya.<br />
4. Melaporkan secara cepat warga yang bandel, superstisius,dsb.</p>
<p>Jika hal di atas tidak dilaksanakan maka akan terjadi mala petaka. Hal ini jelas, karena banyak orang di Bali masih beranggapan bahwa soal &#8220;sakit atau tidak itu sudah ada yang ngatur&#8221; dan dangat lamban cara berpikirnya seperti yang dimiliki oleh gubernur sekarang. Sifat yang menunjukkan superstiseus inilah yang akan menjadi sumber malapetaka.</p>
<p>Dalam dunia modern kebohongan akan cepat membawa malapetaka, tidak seperti di masa lampau kebohongan bisa saja disimpan puluhan tahun sebelum dicium orang.</p>
<p>Atau mungkin percepat Pilkada.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dani iswara</title>
		<link>http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2007/09/01/dampak-sosial-flu-burung-lebih-besar.html#comment-313</link>
		<dc:creator>dani iswara</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Sep 2007 07:49:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.balebengong.net/2007/09/01/dampak-sosial-flu-burung-lebih-besar/#comment-313</guid>
		<description>musibah itu akhirnya hrs menuntut kesadaran masyarakat terutama mrk yg kontak langsung/plg berisiko..kita2 membantu mengingatkan..waspadalah&#8482;..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>musibah itu akhirnya hrs menuntut kesadaran masyarakat terutama mrk yg kontak langsung/plg berisiko..kita2 membantu mengingatkan..waspadalah&trade;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
