Kegelisahan Alit Kesuma Kelakan
Oleh Bintang Pancar Cahaya
Minggu 2 September kemarin saya hadir dalam acara peluncuran buku Lentera, Lembaran tentang Realitas AIDS. Buku kumpulan tulisan-tulisan tentang AIDS karya “banyak orang” yang tersebar di sejumlah media massa ini diterbitkan Sloka Institute. Ada yang menarik dalam acara yang dihadiri Wakil Gubernur Alit Kesuma Kelakan yang datang selaku Ketua Harian Komisi Penanggulan AIDS Provinsi (KPAP) Bali tersebut.
Dalam acara yang dikemas secara santai dengan duduk lesehan bermenukan pisang dan singkong goreng ini, Alit Kelakan mengungkapkan kegelisahaannya hidup di negara Indonesia yang disebutnya sebagai negara administrasi ini, terutama jika menyangkut masalah pengucuran uang. Suatu ketika, demikian Alit Kelakan bercerita, dirinya tengah memperjuangkan kucuran dana untuk kegiatan Badan Narkotika Provinsi (BNP). Kegiatan semacam ini tidak ada uangya untuk bisa dibagi-bagi. “Proposal sudah dibahas dan disetujui, namun uang tidak kunjung turun. Padahal kegiatan terus berjalan. Terpaksa saya kasbon dulu untuk nalangi. Sudah begitu dua bulan kemudian sudah ditagih lagi,” tutur Alit Kelakan.
Hehehe.. Alit Kelakan yang birokrat ini ternyata gerah juga melihat berbelit dan rumitnya administrasi di Indonesia ini, terutama jika sudah menyangkut masalah uang.
Lewat ceritanya, Alit Kelakan, saat itu memang tengah menjawab pertanyaan relawan aktifis AIDS tentang kelanjutan program Lentera” yang dananya memang sebagian disokong provinsi ini.
Program Lentera diharapkan memang bisa terus berlanjut, apalagi respon masyarakat cukup positif. Ada juga relawan yang menanyakan bagaimana ketersediaan kondom. Yah, ujung-ujungnya Alit Kelakan hanya mengatakan harus bersabar. Pemerintah masih peduli, namun memang perlu bersabar. Kampanye AIDS harus terus berlanjut, jangan sampai menunggu lebih banyak korban lagi. [b]



