Seruan Pecandu Menolak Diskriminasi
Oleh Yusuf Rey Noldy
Minggu, 4 November 2007, besok Ikatan Korban Napza (IKON) Bali menggelar pentas musik cinta, damai, peduli dan anti diskriminasi di Wantilan DPRD Bali Renon. Acara yang digelar mulai pukul 18.00 Wita sampai dengan selesai, menghadirkan band- band serta aksi teater dari segala komponen masyarakat.
Menurut Koordinator IKON Bali IGN Wahyunda pentas musik ini bertujuan untuk membangun solidaritas antar seluruh pegiat hak asasi manusia (HAM), melakukan kampanye publik anti diskriminasi dan membangun, menyebarluaskan nilai-nilai anti diskriminasi sebagai bagian dari HAM.
Acara dibuka dengan teater dari Naknik Communty, yang semua personilnya adalah anak-anak TK, SD, dan SMP. Teater selama 15 menit ini menampilkan cerita tentang mantan pecandu narkoba yang harus berjuang mendapatkan pengobatan. Setelah acara teater dari anak-anak Jl Subak Dalem V Denpasar Utara ini giliran Gung Jelantik menyampaikan orasi pada ratusan pengunjung yang hadir pada acara pentas musik malam itu.
Selesai orasi giliran anak band kampus Normal Band giliran unjuk kebolehan. Semangat penonton untuk mendengar musik harus terhenti sejenak karena Ike Widari dari Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) Bali naik ke panggung membacakan puisi. Selesai Ike membacakan puisi, Teater 88 mendapat giliran tampil disusul band dari anak-anak SMA Shy Cussen, orasi dari Dayu dilanjutkan Wisnu ân Gank yang membuat para pengunjung semakin terhibur.
Wahyu, Koordinator IKON Bali, kali ini naik ke panggung untuk menyampaikan aspirasi untuk membakar semangat para pegiat LSM maupun para pengunjung yang hadir malam itu. Malam hampir larut, tiba giliran bintang tamu acara pentas musik tersebut untuk menyampaikan dukungan anti diskriminasi melalui tembang-tembang yang dibawakan. Geeksmile Band mendapat giliran awal sebagai band bintang tamu, pengunjung kembali dibakar semangat untuk selalu menyampaikan anti diskriminasi dan nilai-nilai HAM oleh Wayan Suardana aktifis HAM di Bali.
Sebagai penutup, Devildice tidak mau ketinggalan dalam memberikan dukungan pada acara ini, band yang dimotori oleh Jerink menutup band-band pembuka malam itu. Pada acara itu seluruh komponen yang hadir malam itu membacakan seruan bersama yang pada intinya menyerukan Cinta, Damai, Peduli dan Anti Diskriminasi. [ikon]
–
Dengarkan Musiknya, Sampaikan Nilai perubahan
Bila kita kerap mendengar Hak Asasi Manusia (HAM), tentunya kita jangan hanya bisa berucap. Bila kita melihat beberapa orang di sekitar kita tertindas bahkan tersingkir dari kehidupan masyarakat sosial jangan hanya melihat dan berkata âkasihanâ. Bila kita memang merasa peduli terhadap apa yang terjadi di sekitar kita, sekarang saatnya kita bersuara dengan lantang. Kasihan, tidak hanya cukup dengan kasihan. Kita tidak dapat berharap bahwa perubahan akan terjadi dengan tanpa usaha. Untuk melakukan perubahan pastinya ada usaha untuk dapat mengatasi masalah diskriminasi yang terjadi pada pecandu narkoba dan orang dengan HIV/AIDS (Odha).
Berangkat dari masalah tersebut sekaligus untuk memperingati hari sumpah pemuda yang jatuh pada 28 Oktober 2007, IKON Bali akan menggelar pagelaran seni bertajuk Cinta, Damai, Peduli dan Anti Diskriminasi.
Dasar pemikiran dari kegiatan pentas musik anti diskriminasi ini bahwa pecandu dan Odha menyerukan kepada semua pihak, âKeberadaan, kehadiran kami bukanlah suatu bencana, tetapi suatu kenyataan perjalanan kehidupan yang harus kami jalankan tanpa harus mendapatkan ruang jarak, perbedaan, stigma (cap buruk)â. Pecandu dan Odha membutuhkan dukungan dari semua pihak karena bagaimanapun juga pecandu dan Odha adalah bagian dari masyarakat Indonesia.
Hal ini menunjukkan bahwa adanya satu keinginan untuk menekan perbedaan, stigma dari masyarakat umum, karena apa yang pecandu dan Odha alami adalah suatu perjalanan hidup yang tidak dapat ditebak dan tidak pernah dibayangkan.
Tujuan dari kegiatan pentas musik ini untuk membangun solidaritas antar seluruh pegiat HAM, agar lebih bersatu untuk menyuarakan persoalan stigma dan diskriminasi. Melakukan kampanye public anti diskriminasi kepada masyarakat luas agar dapat dibangun nilai-nilai anti diskriminasi sebagai bagian dari HAM.
Dengan semangat hari sumpah pemuda, mari kita semua dapat lebih memahami bahwa perbedaan yang terjadi pada lingkungan masyarakat kita bukanlah menjadikan kita untuk saling menjauh dan menghakimi. Walaupun kita berbeda suku, agama, ras dan status tetapi kita masih menjadi warga negara Indonesia yang cinta damai mau menghargai nilai-nilai HAM. Kiranya pentas kali ini menjadi landasan perjuangan untuk kita semua dan bukan menjadi akhir dari perjuangan. [b]



