Bertindak Sekarang atau Bali Ikut Tenggelam

Oleh Marthen Welly

Terputusnya ruas jalan tol ke arah Bandara Soekarno-Hatta dan tergenangnya pemukiman penduduk di Jakarta akibat air laut yang sedang pasang naik ke daratan, padahal tidak pernah ada kejadian tersebut pada beberapa tahun sebelumnya. Yang kerap kita dengar justru Jakarta banjir akibat hujan. Kejadian tersebut semakin menampakan bukti-bukti bahwa pemanasan global memang sedang terjadi.

Jika pemanasan global terus terjadi, maka es dikutub aka terus mencair dan diperkirakan air laut naik sekitar 60 meter pada tahun 2050. Kejadian ini akan mengakibatkan Indonesia kehilangan sekitar 2000 pulaunya. Kebanyakan dari pulau-pulau tersebut adalah pulau-pulau kecil.

Bali yang dapat dikatagorikan sebagai pulau kecil juga dimungkinkan masuk dalam deretan 2000 pulau yang akan tenggelam tersebut. Hal ini dapat saja terjadi, jika saat ini Bali tidak segera melakukan tindakan preventif. Data pada Bali membangun tahun 2005 menunjukan bahwa sekitar 16% atau 70,11 km dari total 430 km panjang garis pantai di Bali mengalami erosi. Erosi ini secara bertahap mengalami peningkatan dari tahun 1987 yang mencapai 51,50 km, tahun 1997 menjadi 64,85 km dan tahun 2003 sudah mencapai 86,95 km.

Laju erosi yang mengkhawatirkan ini terus mengikis pantai dan semakin menjorok ke daratan. Hal ini diperparah lagi dengan terus menyusutnya hutan Bakau di Bali, terutama di Bali selatan dan Bali barat. Tahun 2005, luas kawasan hutan Provinsi Bali 130.686,01 ha (23,2 % dari luas wilayah) jauh dari idel yang seharusnya 30 % dari luas wilayah. Pada tahun 2007 ini, nampaknya luas hutan bakau terus menyusut dikonversi menjadi pelabuhan, tambak, perumahan dan pertokoan. Belum lagi ada rencana perluasan Bandara Internasional Ngurah Rai, yang sudah pasti juga akan mengorbankan hutan bakau. Kondisi diatas sungguh merisaukan dan bukan tidak mungkin kekhawatiran bahwa Bali akan ikut tenggelam pada tahun 2050 akan menjadi kenyataan.

Melihat fakta-fakta diatas, tidak ada jalan lain bagi Bali untuk bertindak saat ini juga. Salah satu tindakan penting yang segera harus dilakukan adalah mempertahankan dan merehabilitasi hutan bakau dan terumbu karang di Bali. Kedua ekosistem penting pesisir ini merupakan benteng-benteng alami yang cukup tangguh untuk mencegah terjadinya erosi dan naiknya air laut ke daratan.

Langkah lain yang penting untuk diambil juga adalah segera lakukan moratorium pemberian ijin bagi pembangunan sarana dan fasilitas tertentu yang memanfaatkan, menggunakan, dan merusak hutan bakau dan terumbu karang. Jika ijin terus diberikan hanya karena alasan pertumbuhan ekonomi semata dan mengorbankan kepentingan lingkungan, maka pada saatnya nanti, Bali akan menuai kerugian yang jauh lebih besar.

Masih segar diingatan kita bahwa Bali harus berhutang miliyaran yen kepada pemerintah Jepang untuk merehabilitasi beberapa pantainya di Bali selatan yang masuk dalam proyek Bali Beach Conservation project. Proyek tersebut masih berjalan hingga tahun 2007 ini. Hasil nyata dari berhutang dapat kita lihat seperti di Tanah Lot, Tanjung Benoa dan Sanur. Sayangnya beberapa kalangan menilai bahwa penanganan erosi pantai tersebut hanya bersifat parsial. Artinya pengamanan pantai-pantai tersebut justru menimbulkan masalah dipantai sebelahnya. Disisi lain, hutang yang cukup besar tersebut tetaplah harus dibayar dalam beberapa puluh tahun kedepan.

Penataan ruang pesisir Bali sangatlah memegang peranan kunci bagi pulau sekecil Bali. Penataan ruang yang tidak bertumpu pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan tetapi hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi semata dapat membawa Bali ke arah jurang kehancuran. Memperhitungkan kapasitas daya dukung lingkungan (carrying capacity) dalam penataan ruang sangatlah sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Adat-istiadat di Bali juga sangat berpihak pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dan penting untuk tetap dipertahankan.

Contoh nyata adalah perayaan Nyepi dan tidak ditebangnya pohon-pohon besar. Jika saja seandainya, kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung dan lainnya yang syarat dengan kemacetan dan pemborosan bahan bakar setiap harinya juga memperingati Nyepi, maka sudah berapa banyak uang yang dapat dihemat dan selain itu alam bisa punya kesempatan untuk beristirahat dan tidak terus dikotori oleh emisi karbon yang menyebabkan terjadinya pemanasan global.

Dengan kata lain, Bali memiliki potensi untuk dapat mempertahankan dirinya agar tidak ikut tenggelam jika pemanasan global terus saja terjadi. Tradisi Nyepi dapat ditularkan ke tempat-tempat lain di Indonesia bahkan dunia. Dengan demikian, Bali memberikan contoh bertindak secara lokal dengan dampak global – think globally, act locally.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

© 2012 Bale Bengong. Powered by WordPress Present by Sloka Institute & maintenanced by: Bali Blogger Community

Switch to our mobile site