Masyarakat Bali Serukan Hening pada 21 Maret 2008
Oleh Agung Wardana
Kolaborasi Non Government Organization (NGO) Bali untuk Perubahan Iklim mengimbau agar masyarakat Bali bersedia untuk mematikan listrik selama empat jam pada Jumat, 21 Maret 2008 mendatang. Hal ini merupakan upaya untuk mengurangi dampak pemanasan global (global warming), ancaman terbesar di dunia saat ini. Gerakan ini isebut sebagai World Silent Day.
āKami mengimbau agar masyararakat dunia bersedia untuk mematikan listrik selama empat jam pada hari itu,ā kata Hira Jhamtani, perwakilan Kolaborasi NGO pada wartawan di Denpasar hari ini.
Menurut Hira, selama empat jam dari pukul 10 hingga 14.00 Wita, masyarakat dunia diharapkan mau mematikan semua peralatan yang menggunakan listrik seperti lampu, handphone, komputer, dan seterusnya. āJika semua orang mau melakukan itu maka kita akan bisa mengurangi penggunaan listrik pada saat beban puncak,ā ujarnya.
Pemilihan tanggal 21 Maret 2008 sendiri, lanjut aktivis Third World Network (TWN) ini, karena pada hari itu merupakan Hari Air Sedunia sekaligus hari pertama musim semi di negara-negara utara.
Pembicara lain yang mewakili Kolaborasi NGO Bali, Panji Tisna, menyatakan bahwa World Silent Day merupakan lanjutan dari kampanye Kolaborasi NGO setelah Konferensi Perubahan Iklim di Nusa Desember lalu. Saat itu, Kolaborasi NGO Bali memang aktif mengampanyekan Nyepi sebagai salah satu upaya mengurangi dampak pemanasan global. āGerakan ini sekaligus sebagai langkah untuk mempertanyakan konsumerisme. Semua ingin bumi ini tetap sehat melalui hening selama empat jam itu,ā lanjutnya.
Menurut hitung-hitungan Kolaborasi NGO dalam sehari Nyepi dunia bisa mengurangi pembuangan gas CO2 hingga 30.000 ton. Angka ini diperoleh dari banyaknya kendaraan bermotor, termasuk pesawat terbang, di Bali dikalikan banyaknya bahan bakar minyak yang digunakan.
Sementara itu Direktur Walhi Bali Agung Wardana berharap pemerintah daerah juga mau mendukung kampanye World Silent Day ini. āKarena kalau pemerintah yang melakukan kampanye ini akan lebih karena mereka punya kuasa,ā ujar Agung.
Menanggapi harapan tersebut Kepala Bidang Hukum Bapedalda Bali Gede Suarjana menyatakan pihaknya mengapresiasi kampany tersebut. Hal ini perlu dilakukan karena saat ini kondisi Bali pun sudah terkena dampak kondisi global seperti global warming dan peningkatan jumlah penduduk dunia. āKami mendukung sepenuhnya gerakan ini sebagai upaya mengurangi dampak pemanasan global,ā kata Suarjana.
Dukungan senada dikatakan Direktur Eksekutif Bali Hotel Association Djinaldi Gozana. āPada prinsipnya kami mendukung gerakan ini. Namun seharusnya dikampanyekan setidaknya setahun lalu karena kami perlu mempersiapkan diri sebelumnya,ā kata Djinaldi. Menurutnya, pengelola hotel tidak bisa seenaknya mengubah jadwal tamu di hotel tersebut. āKalau tamu sedang konferensi kan tidak mungkin kami matikan listrik pada jam tersebut,ā lanjutnya. [b]
Untuk informasi lebih kanjut hubungi
Hira Jhamtani 08123866063
Agung Wardana 0819166606036



