KPU Payah, Kepala Dusun pun tak Dapat Kartu Pemilih
Oleh Ratna Hidayati
Pagi ini dugaanku terbukti, KPU Bali tidak melakukan persiapan matang dalam pemilihan gubernur, terutama dalam hal pendataan nama pemilih. Namaku tidak tercantum dalam daftar pemilih. Sia-sia aku datang ke TPS V di Banjar Batanpoh, Sanur, banjar tempat tinggalku.
âSurat panggilan yang berwarna putih mana?â tanya petugas TPS. âSaya nggak dikasih Pak, saya cuma punya kartu pemilih,â jawabku. Kartu pemilih itu aku dapatkan ketika pendataan pemilihan walikota Denpasar, itu seingatku.
Di balik kartu itu, terdapat ketentuan, âperlihatkan kartu ini kepada petugas TPS pada setiap penyelenggaraan pemilihan gubernur/wakil gubernur Bali atau pemilihan walikota/wakil walikota Denpasarâ. Ternyata, kartu itu tidak berlaku. Sepertinya KPU lebih senang melakukan pemborosan dengan membuat kartu pemilih tiap kali ada pemilihan pemimpin di pulau ini.
Beberapa hari sebelumnya, ada petugas banjar datang ke kompleks perumahan tempat aku tinggal. Mereka mencari nama seseorang yang tidak ada di kompleks itu untuk diberikan kartu pemilih. Tentu saja kartu itu ditolak karena tak ada empunya. Ketika aku menanyakan punyaku, dia menjawab akan dikirim menyusul. Tetapi, hal itu tak pernah terjadi. Ibuku bilang, pakai KTP saja tak apa. Itu kata ibuku. Pakai kartu pemilih yang serupa saja tak boleh.
Aku komplain karena tak bisa memilih. Sejak ikut nyoblos tahun 1999, aku selalu terdata. Kali ini kok nggak. Kan aneh. âTenang saja bu, sebagian warga di sini juga tidak dapat kartu pemilih. Nggak tahu nih KPU. Bapak saya yang kepala dusun saja nggak dapat kartu pemilih,â kata seorang petugas TPS. Nah lho. Kebangetan nih KPU.
âCoba cari ke Banjar Anggarkasih saja,â saran petugas yang lain. Katanya, data nama warga Banjar Batanpoh sebagian masuk ke Banjar Anggarkasih. Aneh, data warga kan sudah jelas tinggal di banjar mana. Kenapa juga bisa dipindah-pindah begitu saja? Wong kalau pindah tempat tinggal saja harus cepat-cepat ngurus perpindahan banjar. Sekarang banjar bisa dipindah seenak udelnya. Huh. Sudahlah, aku nggak milih saja. KPU payah. [b]



