<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Makna Liputan Media Dunia atas Kremasi Ubud</title>
	<atom:link href="http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2008/07/26/makna-liputan-media-dunia-atas-kremasi-ubud.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2008/07/26/makna-liputan-media-dunia-atas-kremasi-ubud.html</link>
	<description>Berbagi Informasi tentang Bali</description>
	<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 22:43:12 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.1</generator>
		<item>
		<title>By: Purnama</title>
		<link>http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2008/07/26/makna-liputan-media-dunia-atas-kremasi-ubud.html#comment-4353</link>
		<dc:creator>Purnama</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 00:50:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.balebengong.net/2008/07/26/makna-liputan-media-dunia-atas-kremasi-ubud/#comment-4353</guid>
		<description>Thanks, Pak Darma. Bapak orang asli Bali yang tepat sekali untuk menulis artikel seperti itu. 

Saya rasa perlu ada cultural &#38; tourism highlights (icons) exposures dari suatu negara, dan untuk itu  Ngaben di Bali (antara lain) cocok sekali (one of the best) untuk Indonesia, sama seperti Perayaan Natal &#38; Sinterklas di negara-negara Barat, Mooncake Festival di Hongkong, dan Festival Bunga Sakura dan Ice Carving di Jepang, dll.nya.  Ya, tentu saja memakan biaya banyak karena besarnya dan indahnya, dan sudah sewajarnya  kalau Pemerintah memberi bantuan dana karena impactnya kuat sekali untuk menggalakkan kembali kepariwisataan tidak hanya di Bali tetapi juga ke kawasan Indonesia lainnya.   

Memang seakan-akan ironi hal seperti itu diselenggarakan sewaktu di mana-mana masih ada kemiskinan dan rakyat yang lapar, tapi kurang benar juga kalau upacara-upacara dan perayaan-perayaan adat yang penting dan indah seperti itu (dengan daya tariknya ke seluruh dunia yang dahsyat sekali!) tidak boleh diselenggarakan karena masalah kemiskinan belum teratasi. 

Masalah kemiskinan, pengangguran dsbnya harus ditangani oleh bidang dan sektor lain dari Pemerintahan dengan cara tersendiri yang sungguh-sungguh, benar dan tepat. Idea yang baik antara lain mengadakan program peningkatan taraf pendidikan dan ketrampilan, serta menggalakkan kepariwisataan atau meningkatkan sumber penghasilan lain di wilayah miskin tersebut untuk mengangkat mereka dari kondisi tsb.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Thanks, Pak Darma. Bapak orang asli Bali yang tepat sekali untuk menulis artikel seperti itu. </p>
<p>Saya rasa perlu ada cultural &amp; tourism highlights (icons) exposures dari suatu negara, dan untuk itu  Ngaben di Bali (antara lain) cocok sekali (one of the best) untuk Indonesia, sama seperti Perayaan Natal &amp; Sinterklas di negara-negara Barat, Mooncake Festival di Hongkong, dan Festival Bunga Sakura dan Ice Carving di Jepang, dll.nya.  Ya, tentu saja memakan biaya banyak karena besarnya dan indahnya, dan sudah sewajarnya  kalau Pemerintah memberi bantuan dana karena impactnya kuat sekali untuk menggalakkan kembali kepariwisataan tidak hanya di Bali tetapi juga ke kawasan Indonesia lainnya.   </p>
<p>Memang seakan-akan ironi hal seperti itu diselenggarakan sewaktu di mana-mana masih ada kemiskinan dan rakyat yang lapar, tapi kurang benar juga kalau upacara-upacara dan perayaan-perayaan adat yang penting dan indah seperti itu (dengan daya tariknya ke seluruh dunia yang dahsyat sekali!) tidak boleh diselenggarakan karena masalah kemiskinan belum teratasi. </p>
<p>Masalah kemiskinan, pengangguran dsbnya harus ditangani oleh bidang dan sektor lain dari Pemerintahan dengan cara tersendiri yang sungguh-sungguh, benar dan tepat. Idea yang baik antara lain mengadakan program peningkatan taraf pendidikan dan ketrampilan, serta menggalakkan kepariwisataan atau meningkatkan sumber penghasilan lain di wilayah miskin tersebut untuk mengangkat mereka dari kondisi tsb.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: made mantri</title>
		<link>http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2008/07/26/makna-liputan-media-dunia-atas-kremasi-ubud.html#comment-4346</link>
		<dc:creator>made mantri</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Jul 2008 23:00:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.balebengong.net/2008/07/26/makna-liputan-media-dunia-atas-kremasi-ubud/#comment-4346</guid>
		<description>wawan, bagaimana kalau pembangunan pariwisata karangasem dan buleleng digenjot dikit seperti di ubud, tapi terbatas, agar PAD di kedua daerah itu meningkat sehingga ada dana untuk membangun pendidikan atau air bersih. masak kalau buleleng dan karangasem ngundang investor, orang-orang 'bali selatan' protes agar daerah-daerah itu jangan dirusak sementara mereka yang protes tak pernah mau hidup di sana. capek deh...capek dong...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wawan, bagaimana kalau pembangunan pariwisata karangasem dan buleleng digenjot dikit seperti di ubud, tapi terbatas, agar PAD di kedua daerah itu meningkat sehingga ada dana untuk membangun pendidikan atau air bersih. masak kalau buleleng dan karangasem ngundang investor, orang-orang &#8216;bali selatan&#8217; protes agar daerah-daerah itu jangan dirusak sementara mereka yang protes tak pernah mau hidup di sana. capek deh&#8230;capek dong&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: wawan</title>
		<link>http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2008/07/26/makna-liputan-media-dunia-atas-kremasi-ubud.html#comment-4344</link>
		<dc:creator>wawan</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Jul 2008 14:47:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.balebengong.net/2008/07/26/makna-liputan-media-dunia-atas-kremasi-ubud/#comment-4344</guid>
		<description>sampai kapan masyarakat Bali, mau dan bisa diajak jor-joran ritual kayak gini? apa yang mau dibuktikan? di karangasem dan buleleng masih banyak warga miskin yang belum bisa makan 3 kali sehari. capek deh....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sampai kapan masyarakat Bali, mau dan bisa diajak jor-joran ritual kayak gini? apa yang mau dibuktikan? di karangasem dan buleleng masih banyak warga miskin yang belum bisa makan 3 kali sehari. capek deh&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: yan toek</title>
		<link>http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2008/07/26/makna-liputan-media-dunia-atas-kremasi-ubud.html#comment-4330</link>
		<dc:creator>yan toek</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 09:50:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.balebengong.net/2008/07/26/makna-liputan-media-dunia-atas-kremasi-ubud/#comment-4330</guid>
		<description>Yah saya setuju itu memang upacara yang sangat besar apalagi katanya berita, menghabiskan dana sampai miliaran rupiah. Namun yang menjadi pertanyaan saya, apakah hal itu harus kita lakukan, khususnya oleh keluarga eks raja2 yg ada diBali ditengah himpitan kemiskinan masyarakat kita? Yang bahkan hanya untuk makan hari ini saja sudah susah? 
Menurut saya akan jauh lebih baik kalau dana sekian banyak dipakai untuk memberikan bantuan dalam rangka membangun generasi muda Bali yang saat ini kesulitan dalam menempuh pendidikan. Siapa tau nantinya Bali bisa bener2 dikelola oleh orang Bali, sehingga ajeg Bali bisa benar2 tercapai dan bisa kita wariskan ke anak cucu kita. Dari pada sekarang kita hanya kebagian sebagai preginanya, sedangkan yg untung orang lain. 
Ada yang keberatan?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yah saya setuju itu memang upacara yang sangat besar apalagi katanya berita, menghabiskan dana sampai miliaran rupiah. Namun yang menjadi pertanyaan saya, apakah hal itu harus kita lakukan, khususnya oleh keluarga eks raja2 yg ada diBali ditengah himpitan kemiskinan masyarakat kita? Yang bahkan hanya untuk makan hari ini saja sudah susah?<br />
Menurut saya akan jauh lebih baik kalau dana sekian banyak dipakai untuk memberikan bantuan dalam rangka membangun generasi muda Bali yang saat ini kesulitan dalam menempuh pendidikan. Siapa tau nantinya Bali bisa bener2 dikelola oleh orang Bali, sehingga ajeg Bali bisa benar2 tercapai dan bisa kita wariskan ke anak cucu kita. Dari pada sekarang kita hanya kebagian sebagai preginanya, sedangkan yg untung orang lain.<br />
Ada yang keberatan?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: aswie</title>
		<link>http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2008/07/26/makna-liputan-media-dunia-atas-kremasi-ubud.html#comment-4327</link>
		<dc:creator>aswie</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 02:21:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.balebengong.net/2008/07/26/makna-liputan-media-dunia-atas-kremasi-ubud/#comment-4327</guid>
		<description>Dancing on the dead body?
Yap untuk penyelenggaraan Media Centre- nya.
karena media asing sudah menjadualkan liputan tersebut sejak mendapat informasi bahwa Juli ada upacara ngaben massal di Bali salah satunya di Puri Ubud 15 Juli.
Jadi sejak bulan Juni, ratusan crew media asing sudah sliweran di Bali, tanpa harus koar- koar bahwa mereka awak media massa asing.
Wajar jika kemudian seminggu sebelum tanggal 15 Juli redaksi mereka mendapat undangan dari Indonesia untuk MELIPUT acara itu. Reaksinya Are you dancing on the dead  body dengan nada tinggi.

Yah, negatif marketing lagi dech.
Mudah- mudahan hasil liputan mereka tidak diklaim bahwa itu HASIL UNDANGAN.
Kacian dech media.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dancing on the dead body?<br />
Yap untuk penyelenggaraan Media Centre- nya.<br />
karena media asing sudah menjadualkan liputan tersebut sejak mendapat informasi bahwa Juli ada upacara ngaben massal di Bali salah satunya di Puri Ubud 15 Juli.<br />
Jadi sejak bulan Juni, ratusan crew media asing sudah sliweran di Bali, tanpa harus koar- koar bahwa mereka awak media massa asing.<br />
Wajar jika kemudian seminggu sebelum tanggal 15 Juli redaksi mereka mendapat undangan dari Indonesia untuk MELIPUT acara itu. Reaksinya Are you dancing on the dead  body dengan nada tinggi.</p>
<p>Yah, negatif marketing lagi dech.<br />
Mudah- mudahan hasil liputan mereka tidak diklaim bahwa itu HASIL UNDANGAN.<br />
Kacian dech media.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: luhde</title>
		<link>http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2008/07/26/makna-liputan-media-dunia-atas-kremasi-ubud.html#comment-4317</link>
		<dc:creator>luhde</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Jul 2008 00:56:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.balebengong.net/2008/07/26/makna-liputan-media-dunia-atas-kremasi-ubud/#comment-4317</guid>
		<description>saya setuju dengan ide bli gede di atas, jangan sampai euforia ngaben yang diklaim spektakuler ini jadi topeng atas bali yang carut marut. saya mengapresiasi terbentuknya media center pada upacara ini sebagai sumber informasi yang sangat bermanfaat bagi media. 

Saya lihat departemen pariwisata mengucurkan uang yang sangat luar biasa pula pada event ini. semoga pak jero wacik berbuat adil juga dengan even lain di indonesia. 

Menurut saya, pendanaan swadaya masayarakat seperti biasanya pada upacara ngaben jangan tergantikan oleh dana pemerintah yang ingin membuat industri pariwisata berdenyut. Medana punia silakan, tapi tidak mematikan udaya swadana. JIka ini terjadi, niscaya terus menerus masayarakat akan natakin lima. Apalagi kelompok masayarakat lain yang tahu berapa dana yang dikucurkan pemerintah.

itulah indahnya tradisi kita, ketika kita bergotong royong.

saya juga tidak simpati ketika mendengar informasi dari teman yang bekerja di ubud, yang mengeluh karena penebangan pohon. Saya pikir bisa direncanakan tanpa menebang pohon.

Iya, benar pak darma, ngaben 2004 lalu juga sama besarnya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya setuju dengan ide bli gede di atas, jangan sampai euforia ngaben yang diklaim spektakuler ini jadi topeng atas bali yang carut marut. saya mengapresiasi terbentuknya media center pada upacara ini sebagai sumber informasi yang sangat bermanfaat bagi media. </p>
<p>Saya lihat departemen pariwisata mengucurkan uang yang sangat luar biasa pula pada event ini. semoga pak jero wacik berbuat adil juga dengan even lain di indonesia. </p>
<p>Menurut saya, pendanaan swadaya masayarakat seperti biasanya pada upacara ngaben jangan tergantikan oleh dana pemerintah yang ingin membuat industri pariwisata berdenyut. Medana punia silakan, tapi tidak mematikan udaya swadana. JIka ini terjadi, niscaya terus menerus masayarakat akan natakin lima. Apalagi kelompok masayarakat lain yang tahu berapa dana yang dikucurkan pemerintah.</p>
<p>itulah indahnya tradisi kita, ketika kita bergotong royong.</p>
<p>saya juga tidak simpati ketika mendengar informasi dari teman yang bekerja di ubud, yang mengeluh karena penebangan pohon. Saya pikir bisa direncanakan tanpa menebang pohon.</p>
<p>Iya, benar pak darma, ngaben 2004 lalu juga sama besarnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: gede</title>
		<link>http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2008/07/26/makna-liputan-media-dunia-atas-kremasi-ubud.html#comment-4302</link>
		<dc:creator>gede</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Jul 2008 07:29:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.balebengong.net/2008/07/26/makna-liputan-media-dunia-atas-kremasi-ubud/#comment-4302</guid>
		<description>ngaben ini memang besar.tapi saya melihat nuansa subyektifitas tinggi dan hiperbolis di tulisan ini.bagi sebuah ngaben puri ubud ini tergolong biasa lah. dan media dunia tidak segitunya.buktinya pasca 2004 yang katanya diliput besar2an itu nyatanya kenaikan turis tidak terlalu signifikan.ini dari pengamatan saya yg bergerak di pariwisata.jadi ini sesuatu yang biasa terkesan jadi sangat luar biasa.biasa sajalah.dan masalah kesemrawutan itu sudah konsekuensi dimana-mana.mau tidak semrawut? jangan jadikan bali daerah tujuan wisata dan pemusatan modal.beres.tapi bali akan lacur.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ngaben ini memang besar.tapi saya melihat nuansa subyektifitas tinggi dan hiperbolis di tulisan ini.bagi sebuah ngaben puri ubud ini tergolong biasa lah. dan media dunia tidak segitunya.buktinya pasca 2004 yang katanya diliput besar2an itu nyatanya kenaikan turis tidak terlalu signifikan.ini dari pengamatan saya yg bergerak di pariwisata.jadi ini sesuatu yang biasa terkesan jadi sangat luar biasa.biasa sajalah.dan masalah kesemrawutan itu sudah konsekuensi dimana-mana.mau tidak semrawut? jangan jadikan bali daerah tujuan wisata dan pemusatan modal.beres.tapi bali akan lacur.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
