Munculnya Supriyadi dan Sejarah Indonesia
Oleh I Nyoman Winata
Beberapa hari ini, media nasional memberitakan tentang munculnya pengakuan Andaryoko Wisnuprabu sebagai Supriyadi– tokoh sentral dalam Pemberontakan PETA di Blitar pra Kemerdekaan– di Kota Semarang. Ini berita yang menghebohkan karena sejarah yang ada selama ini menyebutkan Supriyadi gugur dieksekusi tentara Jepang.
Sudah bisa dipastikan pengakuan Andaryoko Wisnuprabu pria berusia 89 tahun sebagai sosok Supriyadi mengundang kontroversi. Anehnya beberapa di antara mereka yang selama ini menjadi sumber sejarah tentang Supriyadi melempar wacana agar Andaryoko ini di tangkap saja. Reaksi yang nampak terlalu berlebihan dan sepertinya menyimpan maksud tertentu salah satunya takut kesaksiannya selama ini tentang sosok Supriyadi dipatahkan.
Sebenarnya sosok Andaryoko Wisnuprabu bagi Cakra Semarang TV–stasiun TV Lokal di Semarang tempat saya bekerja– bukan orang Baru. Sudah lama, teman-teman saya terutama di bagian program budaya Jawa mengangkat sosok Andaryoko yang akrab kami panggil “Eyang” ini sebagai tokoh Budayawan. Namun Saya sendiri mendapatkan pengakuan bahwa Beliau adalah Supriyadi baru beberapa bulan lalu dari kolega saya seorang manajer toko buku di Semarang saat mengajaknya ke studio. Atas permintaan kawan ini, kami tidak diperkenankan untuk mengekspos tokoh Supriyadi ini melalui Media kami. “Nanti akan ada waktunya,” katanya.
Tanggal sembilan Agustus 2008 lalu, akhirnya janji kawan saya itu di buktikan dengan diluncurkannya buku “Mencari Supriyadi” yang ditulis Romo Bhaskara T Wardaya. Cakra Semarang TV menjadi yang pertama kali menyiarkannya secara live. Lalu beragam reaksipun muncul. Banyak yang menyangsikan pengakuan Eyang. Sayapun jujur tidak berani mempercayai seratus persen karena kebenaran pengakuan Eyang tidak mudah dibuktikan. Tetapi seperti itulah sesungguhnya sejarah harus disikapi. Siapa yang bisa meyakini sejarah yang ada dibuku-buku seratus persen benar? Sejarah itu multitafsir dan kecenderungannya adalah menempatkan yang berkuasa sebagai pemenang.
Namun satu pernyataan Eyang yang menurut saya pantas untuk disimak adalah kepentingan dirinya yang tidak pada masalah pengakuan melainkan pelurusan sejarah. Eyang tidak peduli apakah orang-orang mau mengakuinya sebagai sosok Supriyadi yang sesungguhnya tau malah menuduhnya pembohong. Tetapi yang sangat di inginkan Eyang, sejarah Bangsa Indonesia selama ini yang tidak lurus diluruskan. Tidak mudah memang karena pelurusan sejarah yang Eyang lakukan ini pun mungkin masih menyimpan ketidakbenaran.
Tetapi beginilah harusnya sejarah itu dibentuk. Jadi tidak boleh ada monotafsir. Sejarah yang baik haruslah multitafsir agar pencarian kebenaran tidak berhenti. Bukankah tidak ada kebenaran di dunia ini yang berlaku mutlak?.Romo Bhaskara sang penulis buku memilih Judul “Mencari Supriyadi…” juga atas pertimbangan ini. Itulah sebabnya judul buku ini bukan “Inilah Supriyadi atau “Supriyadi masih hidup”.
Ketika Acara Hari Ulang Tahun ke-3 Cakra Semarang TV bulan Mei lalu, Eyang hadir. Saya sempat bertanya bagaimana Eyang di usia 89 Tahun masih bisa beraktivitas dan mengingat dengan sangat baik. Eyang mengaku kuncinya adalah sering melakukan hening diri. Karena itulah meski sudah sepuh Eyang sering pergi ketempat sepi untuk menyendiri, mencari makna kesejatian diri. Kawan saya–manajer toko buku, yang memperkenalkan Eyang sebagai Supriyadi– pernah bercerita bahwa Eyang tetap menjaga ingatannya dan kesehatan fisiknya semata-mata atas keinginannya yang besar untuk mengungkap fakta sejarah Indonesia saat awal-awal kemerdekaan yang sebenarnya jika saatnya tiba.
Saya menilai tidak lagi penting apakah Eyang memang benar-benar Supriyadi atau bukan. Saya lalu melihat semangat yang terpancar di sosok Eyang tentang nasib bangsa Indonesia ini. Eyang sangat prihatin dan sedih. Eyang ingin Indonesia dimasa depan lebih baik, karena itulah sejarah bangsa yang benar harus dibeberkannya. Kalau ada yang merasa hal ini membahayakan dan bereaksi berlebihan, kita patut mempertanyakannya. [b]



