Agustusan Bersama Pasien Rumah Sakit Jiwa
Oleh Luh De Suriyani

Sebanyak 283 pengidap sakit jiwa di Rumah Sakit Jiwa Pusat (RSJP) Bali di Bangli direnggut kemerdekaannya karena didera penyakit yang menyerang otak. Bahkan, pada peringatan kemerdekaan, mereka tak bisa keluar dari sal perawatannya. Bali Blogger Community (BBC) datang menyapa dan bermain-main dengan mereka.
Rumah sakit besar tapi lengang ini tiba-tiba riuh selama beberapa jam karena permainan futsal, lari kelereng, musik akustik dari Animo Band, dan kegiatan lainnya. Dimulai dengan permainan lari berpasangan pakai sarung, lalu pertunjukkan musik akustik Animo Band yang baru saja merilis album perdananya.
Alunan musik Animo yang meneduhkan tapi rancak ini membuat sejumlah penghuni yang diijinkan keluar tak tahan untuk ikut bernyanyi. Seperti halnya Sugianti, perempuan paruh baya ini langsung menyambar mike dari vokalis Animo, Amy Rosadi dan menyanyi lagu gubahannya sendiri. Lagu perjuangan, dengan lirik-lirik soal kemerdekaan dan bangsa. Sungguh mengejutkan.
Setelah Sudarti yang bernyanyi tanpa jeda, giliran salah seorang kawannya unjuk suara dengan lagu pop jadul. Apa ya judulnya? Hehe.. Animo menutup konser mininya dengan lagu proklamsi 17 Agustus.
Kegiatan dilanjutkan dengan lomba futsal antara BBC lawan penghuni RSJ, kemudian lari membawa sendok kelereng, dan meniup balon sampai meletus. Tawa tak henti-hentinya berderai, baik penghuni dan pengunjungnya.
Melalui dunia maya, lewat milis dan blog, sumbangan berhasil dikumpulkan yakni berupa alat mandi, perlengkapan kebersihan, mi instan, pakaian, dan buku.
Sebanyak 106 paket alat mandi diberikan langsung ke penghuni RSJP ini, terdiri dari sikat gigi, sabun, dan pasta gigi. Pemberian kecil ini ternyata cukup berarti di sela-sela kesepian mereka. Berbeda dengan fasilitas perawatan kesehatan lain, pasien RSJ sangat sepi dari kunjungan keluarga atau teman mereka.
”Kami dan rumah sakit ini kadung terstigma, disembunyikan. Padahal kami perlu banyak bantuan dan dukungan karena sebagian besar pasien ditelantarkan atau miskin,” kata Dokter Made Sugiharta Yasa, SpKJ, Direktur Pelayanan RSJP Bali.
Setiap tahunnya, RSJ membutuhkan dana Rp 16 milyar, namun hanya Rp 6 milyar yang dihasilkan dari jasa perawatannya. Kekuarangan Rp 10 milyar per tahun disubsidi APBD Bali.
Dokter Sugiharta mengingatkan tiap orang dengan mudah mengidap gangguan kejiwaan, mulai dari ringan sampai gangguan berat. Gejala ringan adalah rasa waswas atau cemas. Selanjutnya bisa depresi sampai kemudian diagnosa gila. “Kalau sudah mengganggu fungsi sosial, segera minta pertolongan,” ingat Sugiharta. [b]



