Penyelam Penyandang Cacat Mengibarkan Merah Putih di Sanur

Oleh Luh De Suriyani

Tujuh penyandang cacat  pagi ini telah bersiap mengibarkan sang saka merah putih di Sanur. Di kedalaman sekitar 15 meter, pasukan pemberani yang mempunyai cacat tubuh akan berjuang melawan arus laut di Sanur, Denpasar, Bali. Ini adalah pengibaran bendera bawah laut ketujuh bagi Kelompok Jurnalis Laut di Bali. Namun kali ini sangat istimewa karena upacara bendera dilakukan oleh teman-teman difabel.

Tujuh penyelam itu dari Yayasan Senang Hati, tempat berkumpulnya penyandang cacat tubuh di Tampaksiring, Gianyar. Ida Ayu Wiadnyani, Bayu, Kadek Ratni, Anjeli, Wayan Sugianto, Wayan Aris, dan Komang Astawa telah melakukan gladi resik Sabtu (16/8) kemarin di Sanur. Sebagian besar dari mereka baru pertama kali menyelam dan melakukan upacara pengibaran bendera bawah laut, yang bahkan sangat sulit dilakukan oleh siapa pun.

Kadek Ratni, perempuan muda cantik ini kemarin berhasil menaklukkan ketakutannya dengan menyelam bersama sejumlah pendamping dari Ena Dive, TNC, dan Convervation Internasional. Wajahnya tegang bercampur senang setelah tiba di Pantai Sanur, setelah sebelumnya berada di laut sekitar enam jam.

Kadek Ratni dan beberapa temannya digendong dari tengah laut karena kakinya sama sekali tidak bisa digerakkan. Untuk ini mereka berlatih selama sekitar sebulan. ”Mudah-mudahan menyelam bisa jadi terapi juga. Ketika menyelam di laut, tanpa sadar kaki-kaki yang tidak bisa bergerak, eh bergerak sendiri,” kata Gentry Amalo, koordinator acara tahun ini.

Lahir dan besar di Denpasar. Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Sambil mengasuh Bani dan Satori, juga menulis lepas untuk sejumlah media seperti Bali Buzz dan portal Mongabay.

*

*

Top