Krematorium, Alternatif Tempat Ngaben Sederhana

I Wayan Sukanada, 45, mengaku gembira akhirnya krematorium jadi dibangun.

“Krematorium ini bisa jadi solusi bagi warga yang kesulitan biaya dan tenaga untuk upacara ngaben,” ujarnya. Ia sendiri mengaku belum membutuhkan krematorium karena selama ini setiap pengabenan dilakukan secara kolektif di kampung halamannya, Manggis, Karangasem.

Minggu, 7 Agustus lalu, Sukanada bersama sejumlah warga Tonja Denpasar Timur lainnya mendatangi lokasi pembangunan krematorium Santha Yana yang dibangun oleh soroh (klan) Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) di Bali.

MGPSSR adalah nama kelompok bagi warga dengan garis keturunan pasek, bukan aliran dalam Hindu. Selain warga Pasek yang merupakan mayoritas, terdapat belasan klan lainnya di Bali.

Setiap hari minggu, sejumlah warga Pasek bergotong royong merampungkan tempat alternatif ngaben yang digagas kelompok clan terbesar di Bali ini.

Berlokasi di Desa Kedua, Peguyangan, Denpasar Utara, krematorium ini direncanakan mulai beroperasi awal tahun 2009. Pembangunan Krematorium Santhayana telah dimulai sejak Juni 2008 dan diperkirakan akan menelan biaya total Rp 1 milyar. Saat ini pembangunan tahap I telah selesai dan di areal itu telah berdiri areal pembakaran jenazah dan pelinggih (tugu) Prajapati.

Sementara di kantor MGPSSR tempat berlangsungnya Pesamuhan Agung III, belakang lokasi krematorium ini, Walikota Denpasar IB Dharmawijaya Mantra meresmikan dengan membuka tabir papan nama Krematorium Santha Yana.

“Nama Santha Yana diberikan sejumlah sulinggih yang artinya jalan damai,” ujar Prof dr. I Wayan Wita, Ketua MGPSSR.

Ia menjelaskan krematorium ini dicetuskan setahun lalu, saat Pesamuhan Agung (konferensi) MGPSSR II, yang mendiskusikan perihal konflik warga memperebutkan hak menggunakan setra (lokasi pemakaman). Hal itu terjadi di antaranya karena sengketa status warga adat atau persoalan lain. “Sayang sekali, jika warga tidak bisa melaksanakan upacara ngaben karena konflik,” kata Wita yang mantan rektor Universitas Udayana Denpasar ini.

Alasan lainnya adalah keresahan warga karena mahalnya biaya ngaben. “Pembuatan krematorium adalah jalan realistis untuk mengatasi persoalan ekonomi akibat mahalnya biaya pembakaran jenazah atau pembuatan bade (wadah jenazah). Jenazah bisa langsung di bawa kesini dari rumah atau rumah sakit untuk dikremasi,” jelas Wita.

Wita menegaskan sarana kremasi ini tidak akan menggantikan desa pekraman sebagai penyelenggara ngaben atau proses ritual lainnya. “Krematorium hanya alternatif  di tengah banyak masalah yang dihadapi warga ketika melakukan pengabenan,” tambahnya.

“Sudah beroperasi krematorium ini, biayanya juga terjangkau, hanya Rp 1 juta, sedangkan untuk warga kurang mampu tentunya biaya bisa dirundingkan bersama,” ujar Wita.

Krematorium ini terbuka untuk  digunakan oleh umum termasuk warga Hindu perantauan, jenazah tanpa identitas di rumah sakit, serta warga dari agama lain.

Menurut Wita, krematorium ini diusulkan pula oleh Persatuan Pekerja Hindu Indonesia, yang anggotanya sekitar 60.000. Kelompok ini, sebut Wita, berasal dari luar Bali dan kerap kesulitan jika ada kerabatnya meninggal.

Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, I Gusti Ngurah Sudiana pada pernyataan yang dipublikasikan MGPSSR, menyampaikan  dukungannya pada krematorium tersebut.

“Ini merupakan jawaban yang intelektual atas masalah umat saat ini. Jawaban ini akan mendapat sambutan hangat di masa depan,” katanya.

Sudiana percaya pendirian krematorium ini akan memicu kontroversi di kalangan tokoh-tokoh Hindu.

“Kalo ada kontroversi, biasa itu. Di Bali kan memang begitu, kalau ada saudara berkarya maka orang-orang Bali pasti ribut. Tetapi kalau orang non-Bali yang membuat sesuatu, yang Bali langsung bungkam,” katanya.

Menurut Sudiana, krematorium ini seharusnya dijadikan model oleh lembaga  Hindu lainnya. “Kalau bisa seluruh desa pekraman di Bali membangun dan memiliki krematorium-nya masing-masing, karena ini akan membuat upacara ngaben kita menjadi lebih praktis, efisien, serta lebih aman dari sisi kesehatan,” katanya.

Ada sejumlah pilihan yang akan diberikan jasa krematorium ini. Pertama, menyediakan jasa kremasi saja, yang dibuka untuk semua masyarakat. Kedua, pelaksanaan ngaben sebelum nyekah, karena nyekah bisa dilakukan di rumah atau tempat lain. Atau bisa juga ngaben secara penuh di krematorium ini, dengan sarana upacara yang bisa dibeli atau disiapkan sendiri termasuk sulinggih (pemimpin upacara).

“Abu jenazah bisa dilarung di Sungai Ayung yang bersisian dengan krematorium ini. Semoga tidak ada keluhan soal biaya ngaben lagi bagi umat Hindu,” ujar Jero Mangku Dalem Babakan, pemilik lahan lokasi krematorium yang mengawasi pembangunannya.

Ia mengatakan sekitar 3000 warga Hindu dan agama lain telah mendaftar untuk menggunakan krematorium ini nanti. “Ada yang membakar jenazah saja ada juga yang melakukan ngaben secara penuh,” ujarnya.

Menurut Jero Mangku Dalem, saatnya warga Hindu untuk lebih mengutamakan makna upacara dibanding berfoya-foya mengeluarkan biaya untuk hal yang bersifat duniawi. Ia mencontohkan penggunaan bade (wadah jenazah) megah yang sebenarnya tidak lumrah digunakan pada masa lalu.

“Jenazah biasa dibawa dengan pepaga (semacam keranda dari bambu). Lebih ringan dan sederhana, sukup diangkut empat orang ke setra. Yang kita bawa mati kan hanya karma (hasil perbuatan semasa hidup). Upakara hanya sarana saja,” tukasnya.

Penggunaan krematorium, menurut Jero Mangku Dalem tidak akan mengurangi makna ngaben karena proses dan upakaranya diserahkan pada desa dan keluarganya. “Ini hanya kremasi dengan cara modern, lebih cepat dan tertutup. Ini juga salah satu solusi jika ada yang tidak mampu atau akibat konflik adat,” tambahnya.

Saat ini, krematorium yang berdiri di atas lahan 600 m2 ini baru selesai sekitar 30 persen. Jika telah selesai, krematorium ini akan terdiri dari tempat penyimpanan jenazah, wantilan, bale pemujaan tempat sulinggih, tungku pembakaran, dan tempat parkir. [b]

Versi Bahasa Inggris artikel ini dimuat di http://www.thejakartapost.com/news/2008/12/11/newly-opened-crematorium-offers-affordable-039ngaben039.html

Lahir dan besar di Denpasar. Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Sambil mengasuh Bani dan Satori, juga menulis lepas untuk sejumlah media seperti Bali Buzz dan portal Mongabay.

Related posts

31 Comments

  1. Sumedani Mandala said:

    Saya sangat senang dapat membaca tulisan Ibu Suriyani sehingga saya tahu berita tentang alternative tempat Ngaben Sederhana. Hal ini sangat bagus buat saya sendiri dan mungkin bagus diterpakan di seluruh Umat Hindhu. Karena di jaman sekarang ini penghematan sangat perlu, jadi dengan cara sopperti apa yang dipaparkan Ibu Lu De itu sangat menghemat pengeluaran, karena seperti yang saya lihat sendiri upacara pengabenan itu banyak menghabiskan biaya, dan kebanyakan saya lihat sampai mereka menjual sebagian tanah untuk menutup biaya pengabenan dan yang saya sangat tidak mengerti mengapa ngaben itu harus mengelurakan biaya banyak … padahal kalau saya pikir pengeluran biaya ngaben itu bisa diperkecil tapi sekecil-kecilnya biaya ngaben itu tetap juga tinggi seperti yang saya lihat di daerah dimana saya tinggal sekarang paling kecila biaya ngaben itu bisa 10 juta rupiah itu sudah dengan kumpulan [ngaben massal]. coba bayangkan kalau salah satu dari saudara kita yang tidak mampu untuk itu apa jadinya sedangkan kita di Bali khususnya agama hindhu Ngaben itu perlu dan boleh dikatakan tradisi nenek moyang kita dimana ngaben itu adalah merupakan Ngapiin untuk mengembalikan jiwa kita ke yang Mahakuasa, tetapi apakah perlu dengan mengeluarkan biaya yang begitu banyak agar jiwa kita kembali ke Atas sana dengan cara mencari Hutang atau menjual tanah …. setelah saya baca bahwa ada jalan yang lebih murah saya sangat bangga akan adanya hal tersebut jadi paling tidak saudara kita yang kurang mampu bisa melewati tradisi ini … jadi saya pribadi berterimakasih kepada yang pembuat ide dan pembangun krematorium ini ….sehingga semua bisa diatasi untuk mencapai kedamaian baik di nunia maupun di atas sana..

  2. Agung Alit said:

    Dear Luh De,
    berita bagus dan terobosan gang MGPSSR cukup progressif di tengah tengah umat dalam cengkeraman era global. Ide ini dulu pernah dilontarkan oleh Bapak Dokter Jelantik (alm).
    Tapi apa hubungannya dengan biaya murah ? Krematorium kan untuk membakar mayat dimana letak effisiensinya ? Jangan hanya berhenti di tingkat krematorium saja, perlu ada terobosan di bidang tafsir atas tex agama yang kemudian mampu melahirkan perubahan sikap beragama dalam konteks kekinian. Ada krematorium namun jika dikenakan ‘sesari’ atau ‘punie’ yang tidak realistis, sama aja dengan bohong. Belum lagi biaya banten yang saat ini hampir sebagian besar bahan bahannya import dari negeri jawa atau daerah lain, muahal.
    Saya sepakat keberadaan krematorium sebagai jawaban untuk umat kita yang korban ‘kekejaman’ fanatisme sempit entah apapun agamanya, this is a great idea.

  3. aryotejo said:

    Adanya krematorium di Bali ini sesuatu yang luar biasa. Dimana Bali yang penduduknya sudah kearah globalisai dan disisi lain nilai tradisional harus dipertahankan kadang – kadang menimbulkan masalah dalam sosial masyarakatnya. Seperti yang sering kita dengar di beberapa daerah di Bai.Tentunya ini akah semakin sering terjadi terutama di Bali. Dengan adanya krematorium ini mudah – mudahan bisa dijadikan pemecahan masalah dan tidak harus dijadikan ancaman bagi kelangsungan adat di Bali.Budaya bali harus dipertahankan tapi rasa menyama sesama orang Bali harus juga dijaga

  4. jangkrik said:

    krematurium………………..????????????
    apakah sudah sesuai dengan adat dibali………
    apakah sudah sesuai dengan budaya dibaliiii……

    kalo pemangku bikin krematurium.. kayaknya ngga ada setra lagi deh

  5. jangkrik said:

    ha i penulis…… kayaknya anda membicarakan baiknya saja
    apakah anda sudah melihat apa yang terjadi di lapangan

    apakah desa di sekitarnya sudah menyetujui adanya krematurium tersebut…

    contoh saja
    kami mengadakan upacara piodalan… ternyata ada ambulan lewat di depan pura…. yang isinya jenasah

    bagaimana menurut pendapat anda ?

    sebagai umat hindu

  6. KD said:

    Hai Jangkrik,

    Saya ga setuju dengan apa yang Anda ucapkan, kok Anda sepertinya mengharapkan segala sesuatu di sekitar Anda berubah menuruti keinginan dan keadaan Anda? No, no, in what paralel universe are you talking about? Yang Anda bilang itu sama aja dengan ngelarang orang makan berbumbu hanya karena Anda sakit perut.

    Bukankah kualitas dari piodalan yang Anda lakukan itu harusnya dinilai dari bagaimana Anda melaksanakan acara? Kok mengaitkan dengan ambulance yang lewat yang isinya jenazah? Trus kalo isinya orang sakit yg lagi emergency in truly dire situation (tau kan maksudnya?? kalo lagi gawat darurat gitu) trus meninggal ketika ambulance lewat di depan tempat piodalan Anda, piodalan Anda jadi rusak gitu? Wooow, Anda itu korban dari fanatisme berlebihan kalau berpikiran seperti itu. Well, sayangnya memang dunia ini penuh dengan orang-orang seperti Anda, so yeah Anda ga sendiri kok.

    Sori yah, saya ga setuju dengan cara pikir orang-orang seperti Anda. Cara pikir seperti Anda itulah yang sebenarnya memicu terjadinya kekerasan dengan kedok agama, apa bedanya Anda dengan para teroris dalam hal ini? Oh yeah, I know, you haven’t bombed any place, have you?

  7. Ngurah arya said:

    Bgus bngt gagasanya
    Dr dl sya memang membayangkan gimana klo tiap setra desa adat d bangun sbuah krematorium?
    Jadi ga kliatan lagi mayat yg sedah d lalap api kayak ayam panggang!
    Namun krematorium jangan sampai menghilangkan unsur budaya dan seninya bali
    Ga usa munafik
    Tanpa budaya dan seni bali ga bisa hidup
    Bule bukan cuma mampir d kuta bwt bjemur
    Mereka juga pengen liat budaya dan seni kita!
    Contoh d ubud waktu lalu d adakan upacara ngben besar2n untuk ank agung suyasa
    Acara ngaben ini diliput dan disiarkan langsung oleh beberapa stasiun tv luar negeri!
    Bukankah itu mrupakan sbuah promosi yg luar biasa bagi bali?
    Ga ada turis k bali yg liat krematorium n mobil jenasah kyk mobil jenasahnya jeko..
    Jika smua upacara d bali serba d sederhanakan maka bilang slamat tinggal sama para turist!
    Saya sangat setuju dengan adanya krematorium bagi masyarakat bali yg kurang mampu namun untuk para yg mampu d harapkan tetap menjaga tradisi demi ajegnya bali!
    (just my opinion)

  8. MANGKU ALIT TELAGAWAJA said:

    1.jika nanti karna desakan ekonomi orang pindah agama maka piodalan tak akan ada, maka yg kasian justru pedagang dari agama lain,apel peer gk ada yg beli,ongek2an gk laris lagi,itu maksudnya boss jangkrik!!!!
    2.banten hanya sarana,dulu sapta rsi (MOHON MAAF PADA YG MULIA YG SUDAH SUCI)mengadakan upacara di Bali hanya dengan AGNI HOTRA !! gk ada apel peer tapi mereka tulus datang dari jawa ke gunung agung,lempuyang,gelgel,silayukti setahun sekali tanpa adanya mobil, itu mungkin maksudnya jangkrik
    3.ngaben yang benar menurut saya adalah mempercepat kembalinya panca maha bhuta keasalnya,sedangkan SAWA PRETEKA adalah upaya seseorang memuaskan gengsinya apalagi yg sawahnya banyak bisa jadi SAWAH PETEKA….!!
    4.Adat bali bagus untuk cari dolar , tapi nanti kalau tdk disikapi maka akan jd perkara bagi anak cucu yg moderat
    5. maju pasek saya setuju krematorium ini !!!!!!

  9. Ananda Sudiartana said:

    Om Swastyastu
    saya mau menanyakan maslah artikel krematorium yang diposting desember 2008,saya sangat mendukung dan merasa senang atas didirikannya Krematoriun santha yona
    dan saya ingin menanykan beberapa hal
    kepada beliau selaku penanggung jawab krematorium santha yona
    mohon dikirimkan alamat & no tlp krematorium santha yona kepada saya
    agar saya nantinya bisa langsung berdiskusi atau tanya jawab kepada beliau selaku penanggung jawab atau pengurus krematorium santha yona….matur seksema,om santhi santhi santhi om

  10. luhde said:

    pak ananda dan warga lain yg kerap menelpon redaksi balebengong,

    untuk info tambahan dan terkini soal krematorium ini silakan telp ke no 467761, sekretariat maha gotra sanak sapta rsi di jl cekomaria – denpasar utara.

    terima kasih. sila sameton melanjutkan diskusi soal krematorium ini dan ide-ide lain menyangkut progresivitas umat Hindu di Bali.

  11. Jmk.G.Dharma said:

    Sangat setuju krematorium asal unsur-unsur upakara upacaranya tetap dilakukan dan tentunya disesuaikan dengan sikon…. kapan diterapkan di Singaraja, terutama yang di wilayah perkotaan…… maju terus inovasi hindu tanpa menghilangkan budya dan tradisi …….. om santi santi santi ……..

  12. Jmk.G.Dharma said:

    Sangat setuju krematorium asal unsur-unsur upakara upacaranya tetap dilakukan dan tentunya disesuaikan dengan sikon…. kapan diterapkan di Singaraja, terutama yang di wilayah perkotaan…… maju terus inovasi hindu tanpa menghilangkan budya dan tradisi …….. om santi santi santi ……..Om.

  13. gede aster said:

    saya sangat setuju dengan dibangunnya tempat upacara yang sangat membantu bagi orang2 seperti saya karena sangat membantu untuk meringankan baik materi maupun secara mental, semoga krematorium tetap jaya dan terus berkembang sejalan dengan permintaan umat

  14. gede supriawan said:

    Swastiastu tiang jagi metaken,kira2 berapa ngih biaya ngaben lengkap dengan banten.sampe nganyut. suksma om santi santi santi om

  15. I Nyoman Teken, SS. said:

    Ini adalah gagasan yang Repulisioner, saya sangat mendukungnya, ini perlu disosialisasikan ke seluruh umat hindu baik di bali maupun di luar Bali. Karena keberadaan krematorium Santha Yana ini belum begitu dikenal oleh masyarakat Hindu. Semua elemen masyarakat Hindu harus mendukungnya. Kalau kita tidak mau dibilang feodal. Padahal para leluhur kita dahulu sudah menanamkan pemikiran yang sangat modern kepada para warihnya. Tapi dalam perjalanannya kadang-kadang dipolitisir oleh kelompok masyarakat tertentu. Saya sangat setuju dengan pendapat Mangku Alit Telagawaja. Kita meninggal akan meninggalkan semua kebendaan (duniawi), yang kita bawa adalah buah karma yang menentukan kehidupan berikutnya. Tidak akan membawa bade indah bertumpang-tumpang.

  16. ayu said:

    Saya kira krematorium adalah solusi terbaik bagi umat hindu yang kondisi ekonomi tidak begitu memadai, dan dari sisi saya sendiri merasa kesulitan untuk melakukan upacara ngaben di desa saya karena tidak ada saudara laki” di kluarga kami, dan tanpa mengurangi makna dari upacara ngaben umat hindu, dan juga dng terbatasnya biaya maka krematorium adalah jalan terbaik, itu dari sisi saya …, jadi saya mohon bagi” rekan” yg mengetahui alamat krematorium terdekat , mohon informasinya …., terima kasih

  17. Nur said:

    Setuju sekali kalau ada krematorium umum, soalnya banyak kasus adat yang melarang warganya ke setra karena baru pulang dari perantauan dan jarang ngayah.

    Buat @jangkrik : Anda ini contoh-contoh maniak adat klasik yang justru membuat krama Bali konflik. Contoh orang yang hanya mengandalkan pakaian adat untuk minta-minta ke rumah-rumah BTN dan tanah kavling dengan alasan untuk pembangunan desa. #mental pengemis

  18. dewa ayu said:

    saya sangat setuju dengan adanya krematorium ini,saya mau tanya sama bu luh de,saya beragama hindu tp suami saya bule,sedangkan saya berkasta.apakah klo sa ya mati bisa diaben disana sampai selesai,trus bagaimana caranya mendaftar?

  19. ni nyoman widiasih said:

    kalau misalnya kita melakukan kremasi di sini…dirumah upacara atau apa saja yang perlu dipersiapkan. Sussema.

  20. nyoman arya dp said:

    Solusi cerdas atas banyaknya kasus adat tentang konflik rebutan setra, kesepekan tanpa mengurangi makna dariupacara ngaben itu sendiri.Apalagi dengan banyaknya kasus kematian akibatHIV/ODHA tentu sangat membantu karena tingkat pemahaman masyarakat umum tentang tatacara penangan jenasahyang suspect ODHA belum begitu bagus.istilahnya one stop service dairi ipenjemputan jenasah dengan ambulan sampai dengan prosesi nyekah bisa dilaksanakan oleh pihak krematoriumtanpa mengurangi makna dan kelengkapan upakara upacara dimaksud.Pro kontra masalah ini jangan dijadikan sebagai penghalang untuk terus berkarya memberdayakan umat hindu . Untuk di kabupaten buleleng adakah yayasan atau gria yang tergerak mengikuti terobosan ini?suksema

  21. Wayan Madia said:

    Maaf walaupun kami terlambat tahu adanya ” Krematorium” ini apakah hal ini perlu banyak sosialisasi? menurut kami ini ide luar biasa !! pemikiran pemimpin yang bisa mencari solusi untuk mengayomi umat seperti ini yang sangat kita harapkan. walaupun kadang menuai cibiran dari orang2 yang merasa dirugikan atau bepikiran sempit, tapi menurut kami yang punya ide ini orang2 yang berjiwa besar dan kami sangat mendukung!

    Kami juga sependapat dengan yang mengatakan manusia kembali hanya akan berbekal ” karma”. mari kita renungkan dalam2 kita semua umat manusia dari sumber yang sama Tuhan hanya satu. kalau ada umat yang biasa melaksanakan misal upacara kematian sederhana kenapa kita buat sulit? apakah yang sulit sudah menjadikan lebih baik atau bahkan berakibat yg tidak sesuai dgn harapan kita? jadi itu semua karena keterbatasan pengetahuan dan dari dulu perbedaan ini belum bisa dikupas sehingga kadang2 diantara kita semua mengaku benar sedangkan sumber kebenaran itu satu.

    lantas kalau semua benar mengapa kita tidak mencari yang mudah untuk itu seperti bait lagunya Ebit yang mengatakan “coba kita renungkan”. pada intinya ada hal2 yang lebih tepat yang kadang2 kita abaikan seperti inti ajaran kita yaitu ” Ahimsa” yang artinya tidak menyakiti tapi dalam upacara bisa saja menyakiti seperti contoh janur yang kita potong dari pohonnya tapi ada yang memberikan alasan penyupatan apakah ini bisa dibenarkan.

    ada juga kami melihat film seperti Mahabarata dari India pada saat seorang guru mencari murid terlebih dahulu diuji disuruh menyembah namun pada saat si murid mengambil bunga semua bunga lenyap entah kemana. ternyata yang diharapkan oleh sang guru adalah mempersembahkan bunga hatinya. lantas sang murid menjawab kalau itu yang guru kehendaki jiwa kami akan kami persembahkan. baru sang murid selesai mengucapkan kata itu ternyata ditangannya sudah ada sebilah pedang. namun si murid tidak merasa takut dan langsung pedang itu dipakai memenggal lehernya sendiri. namun kepala si murid dikembalikan seperti semula oleh sang guru dan si murid dinyatakan diterima jadi murid.

    Jadi menurut kami ada hal makna penting yang tersirat dari cerita ini yaitu ketulusan hati dari diri kita sendiri dan bukan mengorbankan yang lain. untuk itu kami mohon kepada para pihak yang berkompeten untuk bisa menjelaskan makna ahimsa atau inti ajaran agama walaupun harus pahit karena pahit itu obat dan bukan hanya menyampekan yang manis sehingga dapat manesin. jangan sampe kita melaksanakan sesuatu sudah sulit malah salah dari inti ajaran agama. karena suatu alasan mula keto berarti dari permulaan sudah begitu. sedangkan kalau kita kilas balik dulu yang orangnya spiritualnya tinggi malah segalanya sederhana.

    Jadi menurut kami sudah waktunya kita intropeksi diri mari kita ciptakan keharmonisan di muka bumi ini. karena masih banyak yang perlu kita perhatikan baik saudara kita yang tidak mampu yang memerlukan bantuan seperti umat lain yang peduli sesamanya. tumbuh2an yang harus kita perhatikan dan juga hewan yang jelas kita tidak bisa hidup kalau kehilangannya.

    Alangkah damainya dunia ini kalau kita bisa berpikir hal2 nyata dulu misal menekan biaya upakara dengan mengalihkan ke hal-hal yang kita anggap sepele misal kebersihan yang menjadi pangkal kesehatan seperti membersihkan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan. yang sepatutnya ini sudah harus diperdakan atau menjadi bisama jangan sampe pantai menjadi lautan sampah, menanam bunga disepanjang jalan sehingga menurut kami dari keindahan itu akan tercipta pikiran yang segar, lingkungan yang sehat alangkah indahnya Bali…….!

    dari pada kita disibukkan hal2 yang sifatnya sementara dan kebenarannya masih dipertanyakan lebih baik kita mulai dari hal yang kecil dan nyata membawa dampak terhadap lingkungan. kami kira touris datang ke Bali karena keindahan alam dan lingkungan yang bersih dan alami seperti pemandangan, kami kira keindahan alam ciptaanNya. kalau bisa kita jaga tidak akan bisa tertandingi oleh buatan manusia coba kalau pantai kotor penuh dengan sampah2 apakah touris masih mau datang? saya kira mustahil….

    Bagi kami mari yang mudah jangan dipersulit kita buat sesederhana mungkin. seperti yang kita lihat pada film Mahabarata saat pembakaran Bisma sangat sederhana sekali jadi langsung dibakar ditempat dengan kayu api dengan diiringi doa padahal Beliau seorang maha kesatria. dan dalam kitab suci juga disebutkan badan kasar hanyalah baju yang dilepas pada saat mahluk lepas dari roh halusnya yang siap reinkarnasi sesuai karmanya.

    Terakhir kami sangat berharap seperti teman2 kalau bisa agar PHDI dan pemerintah duduk bersama membantu dan melakukan sosialisasi. sehingga ” Krematorium” ini minimal ada disetiap kabupaten terutama Buleleng dulu. karena jarak yang jauh dengan Denpasar yang dilengkapi dengan tim pengelola. sehingga kita bisa memberikan pelayanan yang maksimal kepada semua umat.

    dan mohon maaf bila dalam tulisan ini ada hal2 yg kurang berkenan dan trimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan baik moril maupun spiritual semoga Beliau masih berkenan menunjukkan jalan kepada kita semua, suksma

  22. agusne said:

    Kalian ini orang2 yg gak punya akal sehat

    Kremasi dibanggain,, pocol ngelah setre dmasing2 desa

    sing hargaine nang bedik,, sing bise nyage taksu bali …. Mulang aluh gen,, irage ngelah budaye mse.. Sing kalah jak budaya luar.. Makane torise liu mai .. Sing je kremasi pebalihe

  23. nyoman sudiana said:

    mohon disosialisakan juga apakah ada syarat syarat minimal untuk bisa ikut melaksanakan pengabenan dilokasi ini. misal ..kalau bukan soroh tertentu tidak bisa ikut. terimakasih atas terobosan yang sangat repolusioner ini. teruslah berkarya saudara2ku ummat di Bali. jangan sampai Bali tinggal namanya saja,sedang yang memiliki sudah bukan orang aseli Bali lagi. suksme.

  24. made jaya said:

    mohon tanya, mengenai pepaga yang di pakai dalam krematorium kan besi baik yang di pakai untuk membersihkan mayatnya serta waktu membawa mayat ke pembakaran apa itu di buat berdasarkan ketekan orang membuat pepaga seperti orang Bali buat dari bambu mohon penjelasannya suksma.

  25. jeyan randy said:

    ya saya setuju dibangunya krematorium umum tapi ngak bisa dipake sekarang persetujuan dr.keluarga,penglingsir belum ada restu.mungkin untuk kedepan sangat bagus.tolong di pertahankan dan dikembangkan.saya doakan semoga angotanya selalu bertambah dan bukak cabang di berbagai daerah.untuk membantu agama hindu lebih praktis/

  26. Made Wijaya said:

    Saya sangat setuju sekali. Tapi kalau bisa ( alamat tempat , nomor telpon dan biayanya ) juga dimuat sejelas jelasnya agar supaya masyarakat hindu mengetahuinya. Suksma

  27. leo putra said:

    Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Krematorium, Alternatif Tempat Ngaben Sederhana.
    Ngaben bagi warga bali sudahlah biasa, khususnya yang beragama hindu. upacara tersebut biasa dilakukan dengan semarak, tanpa ada isak tangis baik dari keluarga yang ditinggalkannya.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Indonesia yang bisa anda kunjungi di Informasi Seputar Indonesia

  28. esa said:

    Konyang Setuju Hahahhahahhha…. Terlalu…. Apa dampak negative nya buat adat Bali?? Metakon dik Jak ane ngelah waralaba krematorium….. Ckckckc… Pang praktis hidup di bali Jeg Pindah agama… Pang sing maan ribet ne dadi nak Bali….

*

*

Top