August 29th, 2009

Mari Beralih ke Produk Pertanian Organik

Sayur Organik

Teks dan Foto Anton Muhajir

Sejak sekitar April lalu, saya dan istri sepakat mengganti menu makanan sehari-hari. Selain kami makin mengurangi makan daging, terutama ayam pedaging yang penggemukannya disuntik testosteron itu, kami juga beralih ke produk organik.

Soal daging, sekali lagi terutama daging ayam broiler, salah satunya karena dipicu tayangan di TV tentang bagaimana peternakan ayam itu berlangsung dengan sangat sadis. Mulai dari pengeraman yang dilakukan mesin, lalu si bayi ayam langsung bertemu besi dan baja ketika lahir, penyuntikan terus menerus dengan testosteron agar ayamnya gemuk, sampai pembunuhan ayam yang lebih tepat disebut pembantaian.

Tayangan di TV itu sangat membekas. Sejak itu, kami langsung sepakat. Mari berusaha sebisa mungkin tidak mengonsumsi daging ayam broiler. Kami masih mengonsumsinya sekali-kali. Tapi sangat jarang.  Daging lain seperti sapi dan kambing masih kami nikmati. Tapi ini toh juga jarang sekali. Sebulan belum tentu sekali.

Sebagai pengganti kami lebih banyak mengonsumsi ikan laut, tahu, tempe, udang, dan telur sekali-kali.

Selain mengurangi daging ayam itu tadi, kami juga pelan-pelan beralih ke produk pertanian organik terutama sayur dan beras. Kalau sebelumnya kami membeli beras dan sayur dari kios tetangga, kini kami membeli produk tersebut dari petaninya.

Seperti halnya niat mengurangi daging, niat untuk mengonsumsi produk organik itu juga karena ada pemicunya. Selain tayangan video tentang bisnis zat kimia di bidang pertanian kami juga melihat sendiri bagaimana petani menyemprotkan pestisida ke sayur mayur.  Zat-zat kimia untuk membunuh hama itu menempel di tomat, bawang, cabe, dan seterusnya.

Lalu, racun yang mengendap di sayur itu kemudian berpindah ke tubuh kita meski kita telah memasaknya. Kita meracuni tubuh kita sendiri, sadar tidak sadar. Ngeri..

Maka makin yakinlah kami untuk beralih ke produk pertanian organik. Kebetulan pula, beberapa teman mendirikan koperasi yang salah satu usahanya adalah jual beli sembako. Koperasi itu pun menjadikan produk pertanian organik sebagai salah satu jualan utama.

Produk organik yang kami beli dari koperasi ini disuplai dari petani dampingan Bali Organic Association (BOA). Harga yang kami peroleh juga tidak terlalu mahal dibanding harga produk pertanian organik di tempat lain. Beras putih misalnya kami beli seharga Rp 6.500. Hanya lebih mahal Rp 1000 dari beras konvensional. Murahnya harga ini karena jalur pemasaran dari petani ke kami bersifat langsung. Tidak ada tengkulak di antara kami.

BOA ini sebenarnya hanya salah satu kios untuk membeli. Masih banyak pula tempat lain untuk membeli produk organik ini.

Raras, teman sekantor saya di VECO Indonesia, menjual produk pertanian organik pada teman-teman sekantor. Tiap hari Kamis, Raras akan mengirim pesanan teman-teman.

Dua contoh itu semoga mewakili geliat konsumen produk organik di Bali. Sepertinya memang makin banyak konsumen yang ingin mengonsumsi produk organik. Sayangnya, selama ini produk organik itu susah dan mahal. Kalau toh ada maka warung-warung organik itu lebih banyak berada di lokasi seperti Ubud, Sanur, dan Seminyak.

Karena itu, sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman terkait dengan tulisan sebelumnya tentang kios produk pertanian organik, inilah beberapa di antaranya. Pemesanan bisa lewat telepon atau email. Tapi ini sekadar referensi. Detailnya silakan kontak masing-masing alamat ini.

Koperasi Kamanusan
Jl Noja Ayung No 3 Gatsu Timur Denpasar
Contact Person I Nengah Muliarta Telp 081338576547

Kios Konsorsium LSM Bali untuk Kesadaran Konsumen
d/a Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali
Jl Hang Tuah No 24 Sanur Denpasar
Contact Person Catur Hariani Telp 0361 – 288221

Ghindwani Corporation
CP Raras Email rarasatie@veco-indonesia.net

Warung Beras Bali
Jalan Sahadewa No. 26 Denpasar

Manik Organik
Jl. Danau Tamblingan 85 Sanur
Telp 0361- 8553380 | Email info@manikorganikbali.com

Denpasar . Kabar Anyar . Kesehatan . Lingkungan