September 18th, 2009

Merayakan Keragaman Agama Keluarga Bali

Potong Gigi

Teks Luh De Suriyani, Foto Agus Sumberdana

I Komang Satria Wibawa, pria 24 tahun ini merasa geli setelah giginya dikikir atau dirapikan oleh tukang, awal September lalu. Alat pengikir gigi itu berbunyi nyaring untuk meratakan permukaan bawah gigi atas dan bawah Bowo, panggilan Satria Wibawa.

Ia tengah mengikuti ritual adat potong gigi atau mepandes, ritual kewajiban orang tua Hindu untuk anak-anaknya sebelum menikah. Di atas bale-bale, Bowo dengan pakaian adat Bali lalu duduk berdampingan dengan kerabatnya yang lain, berbaur antara Muslim dan Hindu.

“Kalau sudah begini, agama jadi tidak penting ya,” ia berseloroh. Bowo mengaku senang mengikuti ritual potong gigi. Baginya, kehidupan terasa lebih bermakna.

Bowo seorang Muslim. Ia dan adik perempuannya, Ni Ketut Indrawati Sumartini Eka Putri, memilih beragama Islam. Sementara dua kakak mereka, I Putu Eka Indra Putra dan I Made Yanuarta Dwi Putra Yasa, beragama Hindu.

Bowo dan semua saudaranya dibesarkan di Banyuwangi, Jawa Timur. Sejak kecil mereka ikut membaca Alquran, seperti teman-teman di rumahnya. Setelah sekolah menengah, mereka mulai memilih keyakinan seperti disyaratkan sekolah dan identitas kependudukan.

“Saya memilih Islam karena keyakinan sendiri. Orang tua membebaskan anaknya,” katanya. I Made Yanuarta, kakak laki-laki Bowo yang memilih Hindu pun mengaku lebih senang hidup dalam keragaman.

Mereka masih tinggal serumah. Yanuarta membantu membangunkan kedua adiknya saat sahur. Demikian juga ikut menikmati es buah ketika buka puasa.

“Kita dapat pandangan lebih banyak tentang agama kalau berbeda. Jadi lebih menikmati dan nyaman hidup dengan kebiasaan berbeda,” kata Bowo.

Menjelang buka puasa, Yanuarta kadangkala tengah menghaturkan canang (sesajen dari bunga) di tugu rumahnya. Bowo mengaku Yanuar anak muda yang rajin menelaah buku Agama Hindu dan mempraktikkannya.

Hal yang sama terlihat di keluarga Dewi di Denpasar Utara. Dewi yang berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat dan bersuami dari Karangasem, Bali mendidik anaknya dengan kebebasan memilih keyakinan. Di rumahnya terdapat tiga anak lelaki yang berpuasa.

“Saya selalu menyiapkan makanan sahur dan buka untuk mereka,” kata Dewi yang sebelum menikah beragama Islam. Ketika upacara adat di Karangasem, seluruh keluarganya yang Muslim juga ikut datang, walau tak turut bersembahyang di pura.

“Kalau sudah punya cukup uang, saya akan memenuhi kewajiban orang tua seperti halnya adat di Bali untuk semua anak,” janji Dewi. Ia merasa perbedaan agama tak menghalangi niatnya untuk memberikan doa dan membuat selamatan.

Saling silang ritual ini bisa jadi oase di tengah kecenderungan orang untuk melakukan ajaran agama secara eksklusif. Puasa, yang sebenarnya ritual untuk Muslim ternyata juga diikuti penganut Hindu. Demikian pula dengan ritual potong gigi, salah satu upacara ritual Hindu Bali.

Bhagawan Dwija, salah seorang pemuka Agama Hindu mengatakan ritual Potong Gigi yang diikuti pemeluk agama lain tidak masalah. “Dalam konteks pluralisme, seorang anak yang bersedia mengikuti ritual kewajiban akhir orang tuanya ini punya sikap saling menghargai,” ujarnya.

Menurutnya, siapa pun bisa mengikuti ritual agama lain sepanjang dilandasi sikap menghormati dan memberi penghargaan. [b]

Agama . Budaya . Kabar Anyar