
Teks Putu Setiawan, Foto Anton Muhajir
Jika saja tanggal 19 September 2009 kemarin Bali tidak diguncang gempa, mungkin kedua anak saya Devi (7) dan Wulan (5) tidak akan pernah tahu seperti apa ‘rasa’ gempa itu. Setelah gempa usai, saya masih disibukkan dengan berbagai pertanyaan mereka seputar gempa.
Pagi itu, saya sedang sarapan kopi dan roti tawar, sambil melihat berita pagi di TV. Beritanya masih soal tewasnya gembong teroris Noordin M Top dan arus mudik Lebaran.
Saat asyik menonton TV tiba-tiba saya merasakan lantai ruangan tengah berguncang. Saya langsung sadar itu gempa. Anak saya Devi yang lagi main skuter di lantai rumah juga bilang, “Pah, roda skuternya kok goyang-goyang.” Devi belum mengerti itu namanya gempa bumi.
Guncangan gempa terus terjadi sekitar 2 menit dan lumayan keras. Dengan spontan saya langsung ‘mengevakuasi’ dua anak saya Devi dan Wulan yang hari itu kebetulan sedang tidak sekolah.
Mereka saya amankan di gang depan rumah, agar terhindar dari reruntuhan (kalo seandainya ada bagian rumah yang runtuh ..). Di depan gang, kami bertiga menyaksikan tetangga yang panik berlarian ke jalan raya depan gang. Ada juga yang teriak-teriak membangunkan anggota keluarganya yang masih tertidur pulas.
Kami bertiga juga sempat menyaksikan tiang telpon dan kabel listrik di gang yang bergoyang diguncang gempa.
Setelah saya rasa aman, Devi dan Wulan saya bawa masuk ke dalam rumah. Awalnya mereka masih ketakutan. Tapi setelah saya jelaskan bahwa gempanya sudah hilang, baru mereka bisa tenang dan kembali beraktivitas seperti semula. Devi main skuter, si Wulan otak-atik laptop main edugame Si Bobi Bola.
Siangnya, kedua anak saya mulai bertanya apa itu gempa, kenapa bisa gempa, dan sebagainya seputar gempa bumi.
Saya berusaha menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa gempa bumi yang terjadi disebabkan oleh pergerakan kerak atau lempeng bumi. Saya juga membukakan mereka situs bmg.go.id di internet, dan memperlihatkan gambar lokasi gempa yang baru saja mereka alami.
Bagi anak saya Devi yang sudah kelas dua SD, jawaban sederhana yang saya berikan cukup memuaskannya. Dia juga sudah mendapat gambaran apa itu lempeng bumi. Dia juga mengaku sudah sedikit paham tentang Skala Richter atau SR, skala ukuran kekuatan gempa yang diusulkan oleh fisikawan Charles Richter.
Sementara bagi anak saya Wulan yang baru duduk di TK Besar, jawaban saya yang sederhana itu jauh dari kata memuaskan. Ia masih terus menanyai saya tentang apa itu gempa, kenapa bisa gempa, dan berbagai pertanyaan ‘kritis’ lainnya. “Dasar anak wartawan!” ujar saya dalam hati. He he he he..
Sekali lagi saya coba jelaskan ke Wulan bahwa gempa itu disebabkan oleh pergerakan kerak atau lempeng bumi dengan bahasa yang lebih sederhana, dibantu dengan coretan-coretan sederhana di atas kertas yang menggambarkan lempengan bumi.
Rupanya Wulan belum juga ngerti. Maklum, masih TK kali ya.
Akhirnya saya teringat dengan tokoh cerita wayang Mahabarata, Sanghyang Antaboga dewa penguasa dasar bumi. Sang Hyang Antaboga ini berwujud ular naga besar.
Kepada anak saya Wulan yang masih penasaran apa itu gempa, saya bilang bahwa gempa disebabkan ada ular naga raksasa di dasar bumi yang bergerak sedikit, dan membuat bumi sedikit bergoyang. Mudah-mudahan dia bisa puas dengan penjelasan ini, harapku.
Ternyata dugaan saya salah. Wulan kembali bertanya, “Di mana rumah naga itu, Pah? Bagaimana bentuknya dan sebagainya?” He he he he.
Kembali saya jelaskan dengan perlahan dan sabar di mana ‘rumah’ naga itu dan seperti apa bentuknya, sampai akhirnya ia merasa sedikit puas dengan jawaban saya yang ‘ngarang’ itu, dan mulai punya sedikit gambaran bagaimana gempa bisa terjadi.
Sorenya, kedua anak saya, Devi dan Wulan, bermain dengan beberapa anak tetangga di halaman belakang rumah saya. Sekilas saya mendengar mereka membicarakan gempa yang baru saja mereka alami. Seru sekali pembicaraan mereka.
Pembicaraan mereka rupanya sudah membahas kekuatan gempa. Ada yang bilang gempa itu berkekuatan 6 SR, 3,3 SR, dan 7 SR. Seorang anak bocah laki-laki kelas 1 SD, anak tetangga bilang, kalo yang kekuatan 3,3 SR paling hebat kekuatan gempanya. He he he he dasar anak-anak.
Anak-anak emang lucu ya, bisa ngilangin stress kita. [b]
Beruntunglah gempa denpasar kemarin ndak sedahsyat gempa Jogja 2006 atau yang baru terjadi di Jawa Barat.
Jadi mereka masih bisa bertanya tentang gempa dan menunjukkan kelucuan mereka. Bayangkan kalau gempa kemarin sehebat itu, jangankan bertanya, menangis pun mereka ndak akan sempat.
Loh, kok malah nakut-nakuti orang..
ini juga menjadi pengalaman gempa terbesar yg saya rasakan selama ini,,,semoga bali terhindar dari bencana,,,:)
untung aja nggak dijelasin bahwa di bawah tanah sana ada sebuah binatang besar yang bernama “linuh” dan sedang bergerak
untung ga ditanya bani. ga ngerti mo jawab apa