Rudat, Kesenian Islam yang Mengesankan

Teks dan Foto Wayan Sunarta

Siang itu, warga Muslim di Kecicang, Karangasem, berkerumun dan berdesak-desakan di sebuah lapangan kecil tak jauh dari masjid. Laki-perempuan, tua-muda, anak-anak kecil, semua menampakkan wajah sumringah. Mereka disuguhkan pementasan rudat. Mahdan, warga Kecicang, khusus mengundang kelompok kesenian rudat untuk memeriahkan pesta perkawinannya.

“Kelompok rudat itu dari kampung Kecicang,” ujar Mahdan, yang pernah menjadi anggota kelompok rudat di Kecicang.

Tak lama kemudian, satu regu pasukan rudat memasuki lapangan diiringi tetabuhan musik yang rancak. Ance atau komandan pasukan memberi aba-aba memakai lepri/sumpritan dan mengatur barisannya dengan gerak-gerik yang terkadang lucu. Penonton tertawa-tawa senang. Gadis-gadis berkerudung tersenyum simpul. Anak-anak kecil terkekeh-kekeh sambil bertepuk tangan.

Penampilan pasukan rudat itu memang menggelikan. Pemain yang rata-rata bertubuh kurus, meski ada juga yang tegap, mengenakan kostum unik, mirip prajurit. Dari segi kostum yang dikenakan, pasukan rudat terbagi dua. Barisan depan yang berjumlah 4 orang memakai kostum hitam lengkap dengan berbagai atribut, berselempang gemerlapan, bertopi mirip perwira, dan berkaca mata hitam. Barisan belakang yang berjumlah 12 orang mengenakan kostum serba putih, berselempeng merah menyala, berkopiah hitam. Ance atau komandan berada paling depan, memegang pedang komando.

“Tidak ada patokan khusus untuk jumlah pamain rudat. Namun, biasanya berjumlah 21 orang,” kata Mahdan.

Pasukan rudat memperagakan formasi baris-berbaris dan gerak-gerak bela diri sambil menyanyikan lagu dengan syair berbahasa Melayu dan Arab. Mereka bergerak ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang. Sesekali meninju, menendang, menangkis, memluntir, memasang kuda-kuda. Pada beberapa adegan, pasukan membentuk formasi memutari lapangan. Mereka terus menyanyi diiringi musik yang rancak. Komandannya terus memberi aba-aba sambil memeragakan gerak-gerak silat dan mengacung-acungkan pedang.

Pemain musik terdiri dari beberapa orang tua. Alat-alat musik yang dipakai adalah rebana dua buah, jidur (rebana besar) satu buah, trenteng (drum kecil) satu buah. Musik ditabuh bertalu-talu menambah semarak suasana. Pasukan rudat semakin bersemangat menarikan gerak-gerak silat. Lagu-lagu yang dinyanyikan berupa “Salam Mun Salam”, “Selamat Datang”, “Ya Muhaimin”, dan beberapa lagu pesanan.

“Lagu pesanan sesuai dengan jenis acaranya. Kalau acaranya perkawinan, lagu pesanan yang dibawakan tentang perkawinan,” kata Mahdan.

Biasanya, pementasan rudat terbagi menjadi tiga bagian penting. Bagian pertama berupa pembukaan yang berisi salam dan tabik, permisi kepada penonton. Bagian kedua berisi salawat (puji-pujian kepada nabi). Bagian ketiga adalah penutup yang berisi permintaan maaf kalau ada salah kata dan laku selama menari.

Sejak jaman kerajaan Karangasem, kesenian rudat telah berkembang dan tersebar di beberapa kampung Muslim di Karangasem. Seperti di kampung Kecicang, Ujung, Saren Jawa, Tohpati, Bukit Abuan. Selain di Karangasem, kesenian rudat juga bisa ditemui di kampung atau komunitas Islam di daerah lain di Bali, seperti di Denpasar (Kampung Jawa, Pemogan), Buleleng (Pegayaman), Klungkung, Jembrana.

Menurut seorang warga Kecicang, Mudahar (60), rudat di Karangasem pertama kali berkembang di Tohpati, Bebandem. Kemudian berkembang di Saren Jawa yang tidak jauh dari Tohpati, lalu ke Kecicang. Rudat di Tohpati dan Saren Jawa diperkenalkan oleh Raden Kyai Jalil yang berasal dari Jawa. Sampai kini makamnya masih ada di Tohpati.

“Rudat di Kecicang juga dikembangkan oleh orang Arab bernama Ami Ali Muhamad,” kata Mudahar.

Lebih lanjut Mudahar mengatakan, kesenian rudat di Karangasem memiliki ciri khas tertentu, yakni pada gerakan, langkah, formasi, dan adegan perang-perangannya. Kostumnya juga khas, yakni memakai gaya Turki. Nama kostumnya kadet. Pemain barisan depan yang berkostum hitam dan komandan rudat memakai kaca mata hitam.

Di Kecicang terdapat dua kelompok rudat, yakni rudat dari Kelod-Kangin dan rudat dari Kelod-Kauh. Namun, kata Mudahar, kelompok rudat ini belum terorganisasi dengan baik, belum bersifat formal. Latihan masih bersifat insidental. “Jika ada undangan pentas, baru mereka latihan,” ujar Mudahar.

Rudat biasanya dipentaskan berkaitan dengan perayaan-perayaan Islam, seperti acara perkawinan, sunatan, Maulud Nabi, atau pada saat Idul Fitri. Namun, kadangkala kelompok rudat juga diundang tampil pada acara-acara lain yang tidak berkaitan dengan perayaan Agama Islam. Misalnya, baru-baru ini kesenian rudat dipentaskan pada acara pembukaan lomba gamelan baleganjur di lapangan Bebandem, Karangasem.

“Biasanya kesenian rudat juga diundang pentas jika ada acara besar di Puri Karangasem,” kata Mudahar.

rudat-3Sampai saat ini, asal usul kesenian rudat masih simpang siur. Belum ada data pasti tentang sejarah kesenian ini. Ada yang mengatakan kesenian ini merupakan pengembangan dari zikir zaman dan burdah. Zikir zaman adalah pementasan zikir yang disertai gerakan pencak silat. Sedangkan burdah adalah jenis kesenian Islam berupa nyanyian yang diiringi tetabuhan musik rebana.

Sumber lain mengatakan, kesenian rudat berasal dari Turki. Masuk ke Indonesia bersamaan dengan penyebaran Agama Islam pada abad XV. Rudat berasal dari kata “raudah” yang berarti taman nabi yang terletak di Masjib Nabawi, Madinnah. [b]

*Tulisan dimuat di Blog Wayan Sunarta.

Akrab disapa Jengki, lahir di Denpasar, 22 Juni 1975. Alumni Jurusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Udayana dan sempat kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Saat ini bekerja di sebuah lembaga kebudayaan di Karangasem, Bali. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Bali Post, Jawa Post, Harian Nusa, The Jakarta Post, Jurnal Kebudayaan Kalam, Majalah Sastra Horison, Majalah Gatra, Latitudes Magazine, Majalah Visual Art, dan lain-lain. Dia juga menerbitkan buku kumpulan puisi maupun cerpen. Pernah meraih penghargaan “Sepuluh Cerpen Terbaik 2001” lomba menulis cerpen nasional Harian Bali Post, Peraih Krakatau Award 2002 dari Dewan Kesenian Lampung ini, dan penghargaan Widya Pataka oleh Gubernur Bali sebagai salah satu penulis produktif dan berprestasi Bali.

Kontributor Jurnalisme Warga Bali

Related posts

2 Comments

  1. Widiyawati,S.Sn (Nim 09002035) said:

    Islam tidak memberikan teori atau ajaran yang rinci tentang seni dan estetika.Rasulullah bersabda ” Antum ‘ alamubi umuri Dun Yakum”(kamu lebih memaklumi mengenai urusan duniamu sendiri. Islam adl agama fitrah, agama serasi benar dengan fitrah kejadian manusia, kesenian bagi manusia adalah termasuk fitrahnya pula, Kesanggupan berseni itu pulalah yg memberikan manusia dengan makluk Tuhan lainyaBerkesenian hukumnya jaiz/ boleh terlebihkesenian rodat adalah kesenian yang dipakai untuk sarana beribadah kepada Alloh yaitu untuk memuji kebesaran Alloh SWT. Syair-Syair yang mengiringi tari Rudatjuga berupa Salawat nabi(merupakan wahyu Alloh). Busana tari ini juga menutup aurat. Gerakan tarinya juga tidak erotis yang bisa mendatangkan fitnah.Pertunjukan biasanya ada di masjid, ada unsur pendidikan untuk agama. jadi pada dasarnya kesenian tari rudat ada unsur pendidikannya( Agama, Seni/ estetika, Filosofi dll) Tari Rudat biasanya syair-syairnya diambil dari kitab barjanji( perjanjian). Insaalloh pelaku kesenian ini selain mendapat keuntungan di dunia juga akhirat karena kesenian ini juga dipakai untuk sarana berdoa atau memuji Alloh,secara otomatis pelaku tari ini sudah masuk islam karena salawat nabi. serta doa doa yang lainnya yang juga berupa ayat- ayat dari Al quran.trimakasih Widiyawati, S,Sn ( Nim: 09002035), Klas A

*

*

Top