Merayakan dan Mengkritisi Keunikan Bali

Teks dan Foto AJI Denpasar

Keberadaan Bali sebagai daerah tujuan wisata internasional sudah mendapat pengakuan dunia. Menariknya, eksistensi itu disertai klaim bahwa pariwisata Bali dipilari oleh kekayaan budaya yang turun temurun dijaga di daerah ini. Nilai-nilai dan tradisi budaya secara normatif terus- menerus dinyatakan sebagai yang terbaik dan digunakan untuk menilai dan menakar produk kebudayaan yang lain.

Dalam kenyataan, menurut Lukman Siswo Bintoro, budaya sebagai hasil interaksi manusia sejatinya bergerak dalam ruang yang lebih lentur. Dialog dan konvergensi memunculkan nilai-nilai dan tradisi baru seringkali dalam arah yang berlawanan dengan norma-norma yang diunggulkan. “Fungsionalitas serta kepentingan pragmatis cenderung lebih dominan mewarnai arah perkembangan budaya,” ujarnya yang menjadi koordinator Pameran Foto “ Bali Jani”.

Pergulatan itulah menjadi sangat menarik untuk diamati. Ruang-ruang sosial budaya di daerah ini begitu transparan dan terbuka untuk semua jenis pergaulan. Semua orang dari seluruh penjuru dunia dimungkinkan melakukan pertemuan dan interaksi untuk saling menyerap dan mencari inspirasi. Diam-diam, budaya lokal pun harus berinteraksi dengan kecenderungan global mulai dari hal yang sederhana seperti dalam cara berpakaian, kuliner, arsitektur sampai pada masalah yang rumit dalam hal religi dan spiritualitas.

Alih-alih sekedar hanya menjadi tempat pertemuan, Bali telah menjadi tempat perayaan atas keberagaman. Jejak-jejak masa lampau mungkin masih tergurat jelas dalam berbagai upacara dan gaya hidup masyarakatnya. Tetapi nuansa modernitas dan bahkan langkah ke masa depan nan futuristik juga mendapat tempat yang nyaris sepadan.

Enam fotografer anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar- Johanes P Christo, Nyoman Budhiana, Zul T Eduardo, Made Nagi , Yuda Ariyanto dan Miftahuddin Halim – kini berusaha menghadirkan fakta mengenai pergulatan itu dalam bingkai pameran fotografi. Mereka membidik obyek-obyek sosial budaya yang menunjukkan persilangan budaya maupun manusia dalam berbagai aktivitas seperti aneka upacara upacara, festival, anak band hingga kehidupan rumah tangga.

Sebelum pameran berlangsung, keenam fotografer mendapat pelatihan dan workshop untuk membuat sebuah photo story yang merangkai satu tema tertentu. Walhasil foto yang dipamerkan bukanlah sekedar foto-foto lepas yang dipotret sambil lalu. Foto-foto itu sudah dilatari “kesadaran ideologis” terhadap obyek yang ingin ditampilkan. Namun dengan kesadaran penuh untuk menghadirkan fakta dan bukan memolesnya untuk tujuan tertentu seperti misalnya sekadar menghadirkan sisi keindahan Bali.

Menurut fotografer senior Edy Purnomo yang menjadi pembimbing dalam workshop, foto-foto itu adalah sebuah opini para fotografer terhadap Bali. “Ada yang sangat kritis, ada pula yang terkesan bangga dengan keunikan Bali,” ujar Freelance Fotografer untuk sejumlah kantor berita internasional itu. Kesan kritis misalnya dalam karya Zul T Eduardo yang memotret fenomena masuknya villa-vila yang menrobos daerah pertanian. Foto-foto itu menunjukkan ketidakberdayaan Bali dalam mengekang industri turisme.

Sementara keunikan Bali antara lain terlihat dari karya Nyoman Budhiana yang menampilkan ritual Tumpek Landep dalam konteks kekinian. Tumpek Landep bukan lagi dirayakan hanya bagi benda-benda tajam tetapi juga untuk aneka peralatan termasuk ruwatan kendaraan.

Ketua AJI Denpasar Rofiqi Hasan menyatakan, kesempatan untuk melakukan sebuah pameran adalah medium bagi para fotografer untuk berinteraksi dengan publik. “Disini publik bisa menilai sejauhmana kualitas karya mereka sebagai profesional,” ujarnya. Seorang profesional mempunyai kewajiban untuk terus menerus meningkatkan kualitas karyanya.

Pameran itu menjadi lebih penting lagi di tengah kecenderungan dimana wartawan, baik tulis maupun foto, hanya bekerja sebagai buruh yang terjebak rutinitas dengan keluhan soal gaji serta kesejahteraan yang rendah. AJI sendiri terus mendorong agar wartawan terus mempertahankan sikap profesional seraya terus mendesak agar perusahaan media memberikan kesejahteraan yang cukup kepada para wartawannya. Dua hal itu menjadi tuntutan mendasar dalam peningkatan kualitas jurnalisme. [b]

Rofiqi Hasan. Bapak dua anak tinggal di Jalan Narakusuma, Tanjungbungkak, Denpasar. Pernah bekerja di koran Nusa dan majalah Elit, sebelum bekerja untuk majalah dan koran TEMPO. Selain menulis di media mainstream, dia kini asik masyuk menulis di blognya sendiri dan Bale Bengong.

Related posts

*

*

Top