Melihat Gunung Batur Meletus Lagi

Museum Gunung Api Batur Kintamani

Teks dan Foto Anton Muhajir

Gunung Batur menyala di puncaknya. Warnanya merah api seperti terbakar. Tapi gunung itu gedenya sampai menutupi pulau Bali. Kalau beneran Gunung Batur meletus, tentu seluruh Bali akan tersiram abunya.

Tapi untungnya ini bukan letusan beneran. Ini hanya simulasi di salah satu panel Museum Gunung Berapi Kintamani, kadang disebut juga Museum Vulkanologi Kintamani. Museum ini satu kawasan dengan wisata Penelokan, Kintamani di mana pengunjung bisa menikmati anggunnya gunung dan ademnya danau. Kami berkunjung ke museum ini sambil berlibur akhir tahun di Kintamani.

Dari Denpasar perlu waktu sekitar 1,5 jam perjalanan dengan mobil atau sepeda motor. Jalan yang ditempuh bisa dari Denpasar – Gianyar – Bangli – Kintamani ataupun Denpasar – Ubud – Tampaksiring – Kintamani. Waktu tempuhnya tak jauh beda. Cuma kalau lewat kota Bangli jalan raya relatif lebih lurus sedangkan lewat Ubud lebih berkelok-kelok.

Panel yang menunjukkan Gunung Batur meletus merupakan salah satu bagian menarik di Museum Gunung Berapi Kintamani. Panel ini berada di lantai satu museum tiga lantai tersebut. Lantai satu memang khusus untuk panel-panel informasi terkait dengan gunung berapi di dunia maupun Indonesia selain juga untuk loket pembayaran bagi pengunjung. Tiap pengunjung membayar Rp 5000 untuk menjelajah museum seluas 5000 meter persegi ini.

Salah satu panel menyampaikan informasi tentang aneka gunung berapi di dunia. Panel yang ditempel di dinding ini lebarnya sekitar 3×2 meter persegi. Ada peta dunia dalam bentuk tiga dimensi di panel tersebut. Di depan peta tiga dimensi itu ada panel lain berukuran lebih kecil. Di panel kecil ini ada daftar nama-nama gunung berapi di dunia. Nah, kalau kita pencet nama tersebut, maka panel besar di dinding akan menyala menunjukkan di bagian mana gunung berapi tersebut.

Panel lain memperlihatkan daftar gunung berapi di Indonesia. Bentuk dan sistem operasinya sama persis dengan panel pertama. Cuma kali ini hanya daftar gunung berapi di Indonesia. Selain panel-panel itu tadi, pengunjung juga bisa melakukan simulasi komputer di lantai satu ini tentang bagaimana proses meletusnya gunung berapi. Ada pula foto-foto wajah gunung berapi di Indonesia.

Masih di lantai satu, bagian lain yang sebenarnya menarik adalah maket tiga dimensi tentang proses meletusnya Gunung Batur. Maket ini mirip peta tiga dimensi yang biasa ada di kantor atau lembaga.

Menurut pemandu yang menemani kami berkeliling museum, peta tiga dimensi ini biasanya bisa digunakan seperti simulasi. Jadi kalau dipencet beneran, Gunung Batur kecil itu akan mengeluarkan abu. Sayangnya, hari itu kami tidak bisa melakukan simulasi tersebut karena listrik mati. Hiks..

Secara umum, lantai satu memang berisi informasi tentang gunung berapi di dunia maupun di Indonesia. Lalu ada pula papan-papan informasi tentang meletusnya Gunung Batur. Salah satu papan menunjukkan bahwa Gunung Batur pernah meletus hingga 26 kali dalam kurun waktu tahun 1804 hingga 2000.

Menurut papan informasi tersebut, letusan paling lama terjadi pada 1963. Letusan tersebut dimulai pada 5 September 1963 hingga 10 Mei 1964 dengan lelehan lava dari puncak ke bawah. Artinya, selama sembilan bulan Gunung Batur mimisan lava. :)

Salah satu informasi menarik yang saya kemudian baru sadar adalah tentang posisi Kintamani saat ini. Awalnya saya pikir Gunung Batur itu dari awal ya seperti saat ini. Puncaknya ada di sisi barat dengan danau di sisi timur. Ternyata tidak. Gunung Batur, dengan tinggi sekitar 3000 meter itu, hanya bagian kecil dari gunung yang jauuuh lebih besar.

Jadi begini. Misalnya Gunung Batur yang kita lihat saat ini itu punya kaldera di tengah. Terus di tengah kaldera itu ada puncak kecil. Nah, Gunung Batur yang sudah buesar itu sendiri ternyata juga puncak di kaldera raksasa di mana terdapat Gunung dan Danau Batur di dalamnya. Titik di Penelokan, di mana turis biasa menikmati gunung dan danau, itu adalah puncak dari gunung raksasa tersebut. Jadi Gunung Batur adalah puncak kecil di tengah kaldera raksasa tersebut.

Di lantai satu juga terdapat papan informasi bagaimana pemantauan gunung berapi dilakukan serta bagaimana cara menyelamatkan diri ketika gunung api meletus.

Di bagian lain lantai satu terdapat benda-benda tiga dimensi terkait gunung berapi. Misalnya alat pemantauan seperti teropong. Lalu ada pula jenis-jenis batu yang dikeluarkan gunung berapi ketika meletus atau yang ada di dalamnya. Salah satunya adalah batu belerang berwarna kuning setinggi sekitar 50 cm. Benda-benda ini berada dekat tangga menuju lantai dua.

Berbeda dengan lantai satu yang menampilkan informasi, lantai dua merupakan tempat untuk banyak ruangan. Misalnya ruang pertemuan dengan kapasitas 20 orang. Menurut petugas, ruang pertemuan alias meeting room ini disewakan untuk umum. Bagus juga sih sekali-kali bikin pertemuan di ruang adem ini.

Di lantai dua juga terdapat aula besar yang biasa dipakai untuk menonton film tentang gunung berapi. Ruangan ini bisa memuat sekitar 100 orang dengan kursi dan layar layaknya gedung bioskop. Film ini diputar berdasarkan permintaan dan jumlah pengunjung yang mau menonton.

Karena lebih banyak berupa ruangan kerja ini pula, maka lantai dua tidak terlalu menarik. Untungnya ada ruang pemantauan kondisi Gunung dan Danau Batur di lantai dua ini. Namun, pengunjung harus mendaki tangga lagi menuju ruang pemantauan yang posisinya ada di pojok timur laut ini.

Teropong Museum Gunung Api Kintamani

Ada tiga teropong yang bisa dipakai pengunjung ini. Tiga teropong ini sehari-hari digunakan petugas untuk memantau gunung dan danau. Saya mencoba ketiga teropong tersebut. Tidak terlalu jelas sih apa yang saya lihat di sana. Cuma memang apa yang saya lihat di sana jauh lebih besar. Kali karena saya memang bukan ahli soal intip mengintip ini. :)

Teropong pemantauan ini menjadi bagian terakhir kami selama menikmati Museum Gunung Berapi. Beda aja sih rasanya bisa melihat gunung dan danau menggunakan teropong tersebut. Apalagi teropong pemantauan ini memang tak selalu terbuka untuk umum.

Usai meneropong, kami beranjak turun. Setelah melihat dari jauh, saatnya kami menikmati danau itu langsung di tempatnya..[b]

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi jadi tukang kompor. Bekerja di lembaga donor yang mendukung petani kecil sambil nyambi nulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas. Kuliner, jalan-jalan, isu LSM, HIV dan AIDS, pertanian berkelanjutan, dan kelompok terpinggirkan adalah isu yang membuatnya bersemangat 45 untuk menulis.

Related posts

4 Comments

  1. mirah anjani said:

    aku asli bali kampung qhu juga di sna wktu itu aku ksna tba” gunung nya meletus yg ke 15 kali nya

*

*

Top