January 27th, 2010

Sekolah Berharap, Museum Berucap

Teks oleh Ivy Sudjana, Foto Ilustrasi Amadeus Bonaventura Jr

Pagi tadi, saat para pegawai kantor seputaran Renon sedang tergesa menuju kantor, 30an anak 7 dan 8 tahun berseragam Pramuka tampak berjalan didampingi beberapa orang dewasa mengarah ke Monumen Bajra Sandhi, Renon. “Ini salah satu dari program outing kami. Mereka, kelas 1 dan 2 SD kali ini berkesempatan mengunjungi museum sebagai bagian dari proses pembelajaran,“ kata Wayan Dharsana, Kepala Sekolah Bali Public School.

“Pemberian teori-teori saja hanya akan membuat anak bosan dan kurang memahami secara mendalam apa yang dijelaskan guru” tambahnya.

Kunjungan ke museum sebagai salah satu tempat belajar, terutama pemberian informasi historis kepada masyarakat, memang sedang digalakkan pada tahun 2010 ini. Seperti termuat di Kompas.com awal Januari, Direktur Museum Intan Mardiana mengatakan, Tahun Kunjung Museum 2010 merupakan momentum awal memulai Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM) yang bertujuan mewujudkan museum Indonesia yang menarik dan informatif serta mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Pernyataan yang sungguh sejalan dengan harapan para guru untuk menggunakan informasi dari museum sebagai sarana pembelajaran.

Begitu pula dengan kunjungan oleh Bali Public School tadi pagi. Siswa langsung bersorak saat menaiki tangga monumen untuk masuk ke dalam ruang museum. Ruang berlangit-langit tinggi, kolam berisi banyak ikan koi, delapan buah tiang, serta tangga berputar menuju atap sebagai pusat, segera menyambut. Walau dalam monumen ada banyak ruang seperti ruang informasi, ruang keperpustakaan, ruang pameran, ruang pertemuan, dan ruang administrasi, siswa langsung diarahkan menuju ruang diorama. Riuh rendah suara siswa kemudian, nyaris menutupi penjelasan karyawan Bajra Sandhi untuk masing-masing diorama.

Sebanyak 33 diorama berbagai perjuangan rakyat  Bali dari masa ke masa dalam monumen ini memang meniru model diorama yang ada di Monumen Nasional (Monas) Jakarta. “Sayang, tidak ada sarana audio visual dengan tayangan dokumenter perjuangan rakyat Bali. Atau suara-suara yang melatarbelakangi cerita pada diorama tersebut.. Pasti akan lebih menarik dan bermanfaat,” tutur salah seorang ibu yang mendampingi anaknya.

Ia mencontohkan salah satu diorama di Monumen Nasional. Diorama teks proklamasi dengan rekaman suara pembacaan teks oleh Bung Karno menjadi lokasi wajib didatangi pengunjung. Contoh lain seperti pada Museum Bank Indonesia. Ada ruangan tayangan interaktif di mana pengunjung bisa menangkap uang-uang holografik yang berjatuhan. Ada juga ruang tayangan film bertema kebanksentralan. Tersedia juga film jenis animasi untuk anak-anak mengenai bank dan uang sebagai alat tukar pada masyarakat.

Sangat disayangkan, kurangnya fasilitas pembelajaran dalam bentuk tayangan audio visual akhirnya menjadi agenda nomor sekian dari revitalisasi monumen. Seperti banyak dilansir media, Monumen Bajra Sandhi lebih dinobatkan sebagai Monumen Perjuangan Rakyat Bali dan lambang persemaian pelestarian jiwa perjuangan dari generasi ke generasi. Banyaknya acara non pembelajaran di tempat ini lebih menekankan makna tersebut. Mulai dari demonstrasi sampai pembukaan Pesta Kesenian Bali beberapa tahun lalu, konser musik sampai pameran, garis start awal gerak jalan atau kumpul-kumpul kelompok tertentu.

Kembali pada keinginan untuk memenuhi kebutuhan akan sarana pembelajaran historis bagi masyarakat, ujilah jawaban anak-anak saat ditanya apa kesan mereka terhadap kunjungan ke monumen ini. ”Tadi ada adegan perang-perangan…” Lalu, “Seru…ada gedung kebakar….” Anak yang lain menjawab, “Ada senjata jaman dulu….keren!” Ada lagi yang bilang, “Ikan di kolamnya besar-besar…Trus kita beli deh makanan ikan buat disebar.” Sungguh jawaban yang jujur tentang apa yang mereka lihat, termasuk jujur mengungkapkan apa yang ada.

Jadi, sudahkah museum mampu menjadi sarana pembelajaran histories yang informatif, sehingga mampu menjembatani pihak sekolah dalam memberikan pengalaman belajar yang berbeda pada anak-anak? Sebelum menjawab dengan berbagai teori yang kita miliki, marilah kita menjadikan hal ini pekerjaan rumah bersama. Hingga akhirnya akan terwujud museum yang benar-benar ‘bicara’. Bicara tentang masa lalu yang perlu dipelajari sekaligus menarik untuk dipahami, oleh segala usia. [b]

Foto diambil dari sini.

Denpasar . Jalan-Jalan . Kabar Anyar . Pendidikan . Teknologi