February 9th, 2010

Mencari Kesejukan di Lapangan Puputan

Teks Made Nurbawa, Foto Anton Muhajir

Lapangan Puputan Badung Denpasar jadi pilihan keluarga ketika ruang terbuka hijau semakin langka.

Sebagai ruang terbuka hijau atau alun-alun kota yang pernah menjadi lokasi perang heroik rakyat Kerajaan Badung melawan bala tentara Belanda tahun 1906, hingga kini Lapangan Puputan Badung masih menyisakan kenangan dan cerita warga Pulau Dewata. Ada patung tiga orang, satu perempuan, satu laki-laki, dan satu anak di bagian utara lapangan ini sebagai penanda terjadinya perang besar tersebut.

Karena peristiwa itulah alun-alun ini di beri nama lapangan Puputan Badung. Puputan berarti perang habis-habisan. Konon saat perang puputan terjadi, di lokasi inilah ribuan manusia meregang nyawa, karena dentuman meriam Belanda  dan keangkuhan manusia.

Lapangan Puputan Badung berada di jantung kota Denpasar, bersebalahan dengan Museum Bali dan Pura Agung Jaganatha. Di tempat inilah terdapat tapal batas kota yang bertanda 0, nol. Artinya, di sinilah titik nol kota Denpasar, pusat Bali itu berada.

Kini, 102 tahun persitiwa itu sudah berlalu. Lapangan Puputan Badung seperti menjelma menjadi monument hijau kota. Ia abadi dan dicintai, karena masih menyisakan kesejukan dari  rimbun pepohonan dan hamparan rerumputan. Setiap harinya, ribuan orang berkunjung ke lapangan ini. Ada yang bermain atau sakedar duduk santai bersama keluarga, sambil menikmati hidangan khas Pulau Dewata, lumpia.

Bagi sebagian warga, Lapangan Puputan adalah tempat bersantai di tengah hiruknya kota. Denpasar, kota dengan luas 12.398 Ha dengan jumlah penduduk lebih dari 500 jiwa tahun 2008, kondisinya semakin sesak saja. Ruang terbuka hijau semakin langka. Beberapa alun-alun dan ruang terbuka  hijau telah menjelma menjadi pemukiman dan infrastruktur kota. Udara pun semakin panas. Kesejukan semakin mahal saja, karena hanya ada di mall-mall atau ruang ber AC.

Happy Susananingtiyas, 30 tahun, ibu rumah tangga muda yang rutin berkunjung ke lapangan Puputan Badung mengatakan sangat merasakan manfaat ruang terbuka kota. Ia bisa berjalan-jalan bersama keluarga. “Lapangan Puputan Badung sangat sejuk dan menyenangkan,” katanya. Happy datang kelapangan ini sedikitnya 2 kali sebulan.

Ungkapan yang sama juga disampaikan Ni Ketut Ariani, 47 tahun, pedagang asongan asal Karangasem yang dua tahun terakhir masih setia mengais rezeki di areal Lapangan Puputan Badung. Ariani berjualan pukul empat sore hingga malam. Ia mampu meraup untung minimal Rp 25.000 per hari. “Cukup untuk biaya makan keluarga,” katanya.

Di tengah isu pemanasan global saat ini, lapangan Puputan Badung  semestinya menjadi model yang ideal tata ruang kota. Memperbanyak ruang terbuka hijau di Denpasar adalah salah satu model yang relevan terkait isu-isu pemanasan global. Mitigasi pemanasan global adalah tangungjawab semua umat manusia.

Melihat jumlah penduduk  Denpasar yang cendrung bertambah, idealnya perlu ada 7 atau 10 ruang terbuka yang serupa. Terlebih lagi Denpasar adalah kota  pariwisata dan budaya. Ruang terbuka hijau bisa diwujudkan, tentu jika ada kesadaran dan komitmen sungguh-sungguh, dari pemangku kebijakan dan masyarakat kota. Semoga harapan ini tidak cerita belaka. Apalagi harus menunggu perang puputan yang kedua. :) [b]

Denpasar . Kabar Anyar . Lingkungan